CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUARA YANG MENGHANYUTKAN
Awen masih termenung di kamarnya. Rasa penasarannya terhadap Ling Ling belum juga hilang. Dia bahkan sempat memeriksa balik pintu, mengintip ke balik lemari, hingga mengangkat selimut dan melongok ke bawah tempat tidur.
Namun, peri itu benar-benar sudah menghilang.
Awen mengembuskan napas panjang. Dia kecewa karena pertanyaan terakhirnya belum terjawab.
“Jadi, sebenarnya siapa yang dituliskan oleh Ratu Peri untuk menjadi jodoh cinta gue?”
Karena tak kunjung menemukan Ling Ling, Awen memutuskan menenangkan diri dengan mandi. Dia mengambil handuk, menyampirkannya di bahu kiri, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Namun, sebelum sampai di sana, Afu keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana pendek tanpa baju. Sambil berjalan, dia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
Langkah Awen mendadak terhenti.
Matanya mengikuti gerakan Afu. Tubuh saudara kembarnya itu terlihat semakin berotot, dengan dada bidang dan otot perut yang terbentuk jelas.
Tanpa sadar, Awen tersenyum sendiri.
Ketika Afu melewatinya, dia menyadari tatapan aneh itu. Afu pun mengibaskan handuk ke arah wajah Awen.
“Alu, ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu? Bukannya setiap hari juga udah lihat? Kenapa sampai bengong?”
Awen tersentak. Dia buru-buru menyembunyikan senyumnya, lalu berjalan cepat memasuki kamar mandi tanpa menjawab.
Begitu pintu tertutup, dia menyandarkan punggungnya di sana. Senyumnya kembali merekah, sementara kedua pipinya terasa panas.
“Ya ampun, Afu keren banget, sih, sekarang!”
Awen langsung menutup mulutnya sendiri.
“Eh, tunggu! Kenapa gue jadi aneh begini? Dia itu saudara kembar gue sendiri. Nggak boleh! Gue nggak boleh mikir yang aneh-aneh tentang dia!”
Dia menggelengkan kepala, berusaha mengusir bayangan tubuh Afu dari pikirannya.
Sayangnya, semakin berusaha melupakan, semakin jelas pula bayangan itu muncul.
Awen mengusap wajahnya, kemudian melangkah menuju pancuran. Dia menekan tombol shower dan memejamkan mata, menunggu air hangat membasahi kepala.
Namun, beberapa detik berlalu tanpa setetes air pun keluar.
Awen membuka mata.
“Lho, kok nggak keluar?”
Dia menekan tombol beberapa kali, kemudian mencoba memutar keran. Hasilnya tetap sama.
Awen mendongak, berusaha menjangkau kepala shower untuk memeriksanya. Dia bahkan melompat beberapa kali, tetapi tangannya tetap tak sampai.
“Gila! Kenapa badan gue jadi pendek begini?”
Dia kembali mencoba menjangkau pipa, lalu memukulnya pelan dengan tangan. Bukannya berhasil memperbaiki shower, tangannya justru terasa nyeri.
“Aduh!”
Awen mengusap tangannya yang mulai memerah. Dia menatap kulitnya yang halus dengan ekspresi tak percaya.
“Ke mana perginya otot-otot lengan gue? Baru mukul pipa sedikit aja udah sakit!”
Setelah mencoba berbagai cara dan tetap gagal, Awen akhirnya menyerah. Dia berdiri di tengah kamar mandi dengan tubuh mulai berkeringat karena kepanasan.
“Ini gimana, sih? Gue mau mandi, malah begini!”
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak memanggil saudara kembarnya.
“Afu! Bantuin gue!”
Namun, begitu suara itu keluar, Awen sendiri terkejut.
Suara yang terdengar begitu lembut dan merdu, jauh berbeda dari suaranya dulu yang berat dan lantang.
Dia berdeham, kemudian mencoba berteriak lagi.
“AFU!”
Tetap saja, suaranya terdengar lembut.
Awen memegang lehernya sendiri.
“Ya ampun! Apa gue sakit tenggorokan? Gue kan udah nggak merokok lagi. Kenapa suara gue jadi begini?”
Dia kembali memanggil Afu sekuat tenaga.
Dari luar, terdengar jawaban dengan nada kesal.
“Ngapain sih lo teriak-teriak? Mandi, ya mandi aja!”
“Afu, tolongin gue! Shower-nya mati!”
“Mati apanya? Gue aja baru selesai mandi. Lagian, benerin sendiri aja. Biasanya juga begitu, kan?”
“Afu, please! Gue nggak bisa benerinnya!”
Terdengar langkah kaki mendekat, disusul omelan Afu.
“Alu, sejak kapan sih lo jadi serepot ini? Ngeselin banget. Cuma ngurusin shower aja nggak bisa!”
Pintu kamar mandi terbuka.
Namun, begitu masuk, Afu langsung terdiam.
Di hadapannya berdiri seorang wanita cantik yang hanya mengenakan handuk untuk membalut tubuhnya. Rambutnya sedikit basah, sementara leher, pipi, dan bagian atas dadanya tampak berkeringat akibat berkali-kali mencoba memperbaiki shower.
Afu terpaku selama beberapa detik.
Dia hampir lupa bahwa sosok di hadapannya itu adalah saudara kembarnya sendiri yang kini memiliki tubuh Awen.
“Afu, tolongin gue, dong!” Awen menunjuk kepala shower. “Gue nggak nyampe buat meraihnya. Airnya juga nggak mau keluar!”
Suara lembut itu membuat Afu merinding.
Entah kenapa, dia merasa ada sesuatu yang berbeda ketika mendengar suara tersebut dari jarak sedekat ini.
Afu buru-buru mengalihkan pandangan dan mendekati keran.
“Coba gue periksa.”
Dia menekan tombol shower beberapa kali, memutar keran, lalu memeriksa salurannya. Namun, air tetap tidak mengalir.
Afu mendongak, memperhatikan kepala shower dan pipa di atasnya.
Sementara itu, Awen berdiri di sampingnya sambil mengipas-ngipaskan tangan ke tubuhnya.
“Afu, gimana, dong? Badan gue udah terlanjur keringetan. Gerah banget! Mau mandi malah airnya mati.”
Afu tak langsung menjawab.
Suara lembut itu terdengar lagi, kali ini begitu dekat dengan telinganya. Dia menelan ludah, lalu berusaha memusatkan perhatian pada shower.
Namun, semakin dia mencoba bersikap biasa, semakin sulit pula dia mengabaikan keberadaan Awen di sampingnya.
Tiba-tiba, Awen menyentuh pundaknya.
“Afu?”
Afu tersentak dan menoleh.
Jarak wajah mereka ternyata sangat dekat.
Afu terdiam. Tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan mata Awen yang sedang menunggu jawaban. Untuk sesaat, dia lupa apa yang hendak dikatakannya.
“Ada apa?” tanyanya, sedikit gugup.
“Shower-nya bisa dibenerin, nggak?”
Afu belum sempat menjawab ketika tiba-tiba air menyembur deras dari kepala shower.
Byur!
Keduanya langsung basah kuyup.
Awen terkejut dan spontan memeluk tubuh Afu. Kedua tangannya melingkar erat, seolah-olah mencari perlindungan dari semburan air yang mendadak itu.
Afu membeku.
Dia bisa merasakan tubuh Awen yang menempel padanya, sementara kedua tangannya masih menggantung kaku di sisi tubuh.
Perlahan, Awen mengangkat wajah.
Mata mereka kembali bertemu.
Tak ada yang berbicara.
Air terus mengalir membasahi rambut dan tubuh mereka, tetapi keduanya justru terpaku dalam kecanggungan yang sulit dijelaskan.
Wajah Awen mulai memerah. Dia segera menyadari bahwa dirinya masih memeluk Afu, lalu perlahan melepaskan pelukannya.
Afu pun tersadar.
Dia buru-buru mundur selangkah, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
“Ternyata shower-nya nggak rusak,” katanya dengan suara sedikit bergetar. “Mungkin tadi memang airnya sempat Mati dari pusat.”
Awen mengangguk kecil. Dia menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan senyum yang terus muncul di bibirnya.
“Terima kasih, Afu. Maaf udah ngerepotin lo.”
Afu tidak menjawab. Dia segera meninggalkan kamar mandi sambil mengibaskan tangan untuk mengurangi air yang menetes dari tubuhnya.
Namun, ketika berjalan menjauh, tanpa sadar dia tersenyum tipis.
Dia sendiri tidak tahu mengapa kejadian sederhana tadi membuat jantungnya berdebar.
Sementara itu, Awen masih berdiri di tempatnya.
Dia menyentuh dadanya, lalu lehernya, seolah-olah masih bisa merasakan sisa pelukan Afu.
Senyumnya perlahan merekah kembali.
“Ya ampun, kenapa jantung gue jadi begini, sih?”
Dia menggelengkan kepala, tetapi senyum itu tak juga menghilang.
Akhirnya, Awen mengambil handuk dan mengeringkan rambutnya. Setelah itu, dia segera meninggalkan kamar mandi untuk berganti pakaian.
Di luar, matahari telah tenggelam di balik cakrawala Kota Hong Kong. Lampu-lampu taman dan gedung mulai menyala satu demi satu, menerangi kota yang perlahan menyambut malam.