NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku

Ternyata Bukan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.

namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.

apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?

ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misya 19

Cekrek.

Foto itu tersimpan di galeri ponsel Merlyn. Tanpa ragu, ia membuka aplikasi WhatsApp, mengetuk fitur Status, lalu mengunggah foto tersebut dengan caption provokatif yang sengaja ditujukan untuk menyayat hati Misya:

“The real power couple is back. Cocok banget kan kalau kerja bareng begini? Makanya, kalau cuma numpang lewat dan nggak selevel... sadar diri aja, jalanan udah mau dibersihin dari penghalang. 😉🔥”

Merlyn menekan tombol kirim dengan senyuman puas. Ia tahu persis Misya menyimpan nomornya dan pasti akan melihat unggahan tersebut.

Suasana di dalam kamar tamu lantai bawah terasa begitu pengap dan sunyi. Setelah berjam-jam mendekam dalam tangis dan rasa sakit yang menghimpit dada, Misya akhirnya memutuskan untuk beranjak dari lantai dingin tempat ia bersimpuh.

Ia berjalan pelan menuju kamar mandi di dalam kamar tersebut untuk membasuh wajahnya yang sembab dan mendinginkan kepalanya yang terasa pening. Setelah selesai, Misya melangkah keluar dengan mengenakan kaus polos dan celana longgar yang nyaman, sementara rambut basahnya dibiarkan tergerai menutupi punggung.

Begitu keluar dari kamar mandi, matanya menangkap cahaya layar ponsel yang diletakkan di atas nakas. Benda pipih itu bergetar pelan, menandakan ada notifikasi baru yang masuk.

Misya meraih ponselnya dengan jemari yang masih sedikit gemetar. Ia membuka kunci layar, dan langsung mendapati dua notifikasi teratas.

Pesan pertama datang dari Mas Reyden, dikirimkan sekitar satu jam yang lalu:

“Misya, maafkan saya soal semalam. Kamu sudah sarapan? Tolong buka pintunya kalau saya pulang nanti...”

Melihat pesan itu, dada Misya kembali bergemuruh nyeri. Ada secercah kehangatan yang mencoba menyusup masuk, namun rasa tidak aman dan ketakutan telak langsung meredamnya. Ia tahu suaminya menyesal, namun bayang-bayang masa lalu masih terlalu pekat membayangi pikirannya.

Belum sempat Misya membalas atau meletakkan kembali ponselnya, layar kembali bergetar terang. Sebuah pesan baru masuk dari kontak asing atau lebih tepatnya, sebuah nama yang sangat dihindarinya di keluarga besar Reyden. Sherly, salah satu sepupu Reyden yang terkenal sekelompok dengan Merlyn.

Misya menelan ludah, lalu membuka pesan tersebut.

Sebuah tangkapan layar (screenshot) dikirimkan oleh Sherly, disertai dengan teks pendek yang terasa bagaikan tusukan belati beracun tepat di ulu hatinya:

“Kasihan ya... jadi istri perjodohan yang hanya jadi bayangan doang. Mending sadar diri deh, dari pada malu sendiri.”

Jantung Misya seolah berhenti berdetak. Jemarinya yang memegang ponsel mendadak kaku.

Dengan napas tertahan, Misya mengetuk gambar screenshot tersebut untuk memperbesarnya.

Pemandangan di layar ponselnya membuat dunia di sekelilingnya seketika runtuh. Itu adalah unggahan status WhatsApp terbaru dari Merlyn. Foto candid yang diambil diam-diam di ruang rapat tadi, menampilkan Reyden dan Aurelia yang duduk berdekatan dengan gestur tubuh seolah tengah berdiskusi mesra. Dan di bawah foto itu, tertera caption yang sangat keji:

“The real power couple is back. Cocok banget kan kalau kerja bareng begini? Makanya, kalau cuma numpang lewat dan nggak selevel... sadar diri aja, jalanan udah mau dibersihin dari penghalang. 😉🔥”

Penghalang...

Kata itu bergema keras di kepala Misya. Air mata yang tadinya sempat berhenti kini tumpah kembali dengan deras, membasahi pipinya tanpa bisa dicegah. Napas Misya memburu, dadanya sesak seolah kehabisan oksigen.

Jadi, semua penyesalan dan permohonan maaf yang dikirimkan Reyden lewat pesan tadi pagi hanyalah kebohongan? Di saat suaminya berpesan agar ia membukakan pintu, di waktu yang sama pria itu justru duduk berdampingan secara mesra dengan Aurelia di ruang rapat, membiarkan para sepupunya menginjak-injak harga dirinya sebagai istri sah?

"Jahat..." bisik Misya parau, suaranya pecah di tengah isakan tangis yang begitu menyayat hati. Ia mendekap ponselnya erat-erat ke dada, meringkuk kembali di tepi ranjang.

"Kalian semua... jahat banget sama aku..."

"Mas, jadi kamu ada kerjasama dengan Aurelia? Mantan pacar kamu? Kenapa kamu nggak bilang sama aku? Apa setidak pentingnya aku buat tahu?"

"Apa benar aku penghalang untuk hubungan kamu dan mantan pacar kamu, Mas? Lalu apa arti perhatian dan juga perlakuan baik kamu padaku?"

"Aku salah mengira, aku kira kamu mulai membuka hatimu untukku, atau aku yang terlalu percaya diri dengan sikap kamu, padaku..."

Misya menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Dia hanya mengira kalau Aurelia kembali ke negara ini saja dan bertemu dengan sepupu Rey. Namun rupanya, Aurelia ternyata sudah bertemu dengan Rey terlebih dahulu.

"Apa karena kedatangan dia yang membuat sikap kamu berubah semalam? Pantas saja aku merasa ada seuatu yang aneh dengan sikap kamu, Mas. Dan ternyata aku tak salah dengan keputusan aku untuk pisah kamar. Ya Allah sakit banget..."

Misya meremas ponsel di genggamannya erat-erat. Layar yang menampilkan foto Reyden dan Aurelia bersanding mesra serta pesan kejam dari Sherly itu kini dipeluknya di dada, seolah tiap piksel gambarnya adalah duri yang menusuk jantungnya secara langsung.

"Jadi... karena ini Mas Rey berubah?" bisik Misya parau, suaranya gemetar menahan benturan emosi yang teramat dahsyat. Air mata terus menetes tanpa henti, membasahi kaus yang dikenakannya.

"Kenapa Mas nggak jujur dari awal? Kenapa harus ditutupi kalau memang kalian harus ketemu lagi karena urusan pekerjaan?"

Misya tertawa kecil, sebuah tawa getir yang pecah oleh isakan.

"Atau... kamu emang nggak pernah nganggap aku cukup penting buat tahu urusan kamu, Mas? Aku ini siapa? Cuma cewek yang dijodohkan sama kamu, kan? Sementara dia... wanita berpendidikan, kariernya hebat, dan punya tempat spesial yang nggak pernah tersentuh di hati kamu..."

Ia membenamkan wajahnya di antara kedua lutut yang terlipat, membiarkan tubuhnya terguncang oleh raungan tangis yang tak sanggup lagi ia tahan. Dadanya terasa begitu sesak, seperti diikat rantai besi yang ditarik kencang.

"Dua tahun, Mas... Dua tahun aku berusaha jadi istri yang baik. Aku belajar masak makanan kesukaan kamu, aku nungguin kamu pulang tiap malam, aku seneng tiap kali kamu mau dipeluk pas tidur... Aku pikir hangatnya sikap kamu belakangan ini artinya hati kamu mulai terbuka buat aku..."

Misya menepuk-nepuk dadanya yang terasa begitu perih, bernapas terengah-engah di antara sisa-sisa air matanya.

"Ternyata aku yang terlalu percaya diri. Aku yang kebingungan sendiri... Sementara buat sepupu-sepupu kamu, aku cuma 'penghalang' yang harus sadar diri dan tahu tempat..."

Sementara itu di luar kamar, Mbak Atin yang tadinya hendak melintas membawa kain pel mendadak menghentikan langkahnya di lorong lantai bawah. Suara isakan pilu dan keputusasaan dari balik pintu kamar tamu terdengar begitu jelas dan memilukan.

Mbak Atin menutupi mulutnya dengan kedua tangan, ikut merasa teriris mendengar rintihan majikannya yang selama ini selalu bersikap lembut dan ceria itu.

"Ya Allah... Ibu Misya..." bisik Mbak Atin cemas.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Mbak Atin bergegas merogoh kantong celemeknya, mengambil ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia langsung mencari kontak majikannya dan mengetik pesan balasan dengan terburu-buru:

“Pak Rey, tolong secepatnya pulang, Pak! Ibu Misya nangis sesenggukan di dalam kamar tamu, suaranya pilu banget, Pak... Ibu terus-terusan nyebut nama Bapak sama Mbak Aurelia sambil bilang mau menyerah. Pintu kamarnya masih dikunci dari dalam, Mbak Atin takut Ibu kenapa-kenapa, Pak!”

Tombol kirim ditekan.

1
Susan Paulina
Lanjut lagi Thor, ditunggu ya 👍
Ambu Rinddiany Thea
untung mertua s misya tidak seperti emaknya s abi hadeeeeh amsiong we lmn kitu mah ..🤭
Sri Angga
good job reyden.
ryuka
xiihhh gila ni cewe.. dia yg ninggalin dia yg ga terima pas udah ga di pikirin
Oma Gavin
ulet bulu gatel aurela ngga kapok juga sudah di cuekin sudah di bentak ngga di anggap kok masih saja menggatal
ryuka
haduhhh ada ulet keket gabtau diri muncul
ryuka
untung bapak ibu mertua nya baik ya misya
Oma Gavin
ulet bulu gatel mulai menggatal
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Heni Setiyaningsih
bersyukur Misya punya mertua yg selalu menyayangi dan melindungi
nining cahyaningrum
bagus
Lembang Azam
bagus Rey sebelum trlambat, untung kamu cpt menyadarinya dan bergerak cp, klw enggak kamu yg tak ulek JD bergedel🤣
Oma Gavin
akhirnya reydhan tegas juga itu semua orang kenapa berkomplot musuhi misya dan bela aurelia
ryuka
diiihh dasar cewe cewe gila.. 🔥🔥🔥🔥🔥
nely_48
ku pegang kata² mu ya rey,,,
nely_48
hmmmm tunggu hukuman mu merlyn,, sok anggun sok merasa tinggi setinggi langit kau aurelia, gataunya cewe arogan n egois, pantas az bunda nya Rey lbh memilih menjodohkan dgn misya
Sri Angga
jgn cm dg kata tp buktikan
Ambu Rinddiany Thea
sok buktikan ters rey sm s misya kalo cinta kamu hanya buat ambu seorang eh salah , buat misya seorang maksdnya 🤭
Susan Paulina: Di tunggu Up selanjutnya Thor, tambah seruu 👍
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuut maak
Ambu Rinddiany Thea
kenapa sih ga apada terbuka aja 2 2 nya , s rey masih mendem soal s aurelia s misya masih mendem soal sepupu dajalna nu ngirim2 foto te bermerk , maenya ambu kudu turu gunung ie teh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!