Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20: Otot Jendral dan tusukan cinta
Long Tianxu terpaku di tempatnya berdiri. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah Shen Ruozi dengan kilatan tidak percaya. Telinganya tidak salah dengar, kan? Gadis sekurus triplek ini baru saja menyuruhnya seorang Jenderal Besar dan Dewa Perang yang ditakuti seluruh kekaisaran untuk menanggalkan pakaian di depannya dengan begitu santai?
"Kenapa diam saja? Cepat buka jubahmu. Jangan bilang kamu mendadak amnesia atau mau kabur dari kesepakatan?" desak Ruozi sambil sibuk menata belasan jarum perak panjang dan cangkir-cangkir bambu kecil di atas nampan kayu.
"Lancang. Menanggalkan jubah di depan wanita yang belum sah... itu menyalahi aturan tata krama," sahut Tianxu dengan suara baritonnya yang terdengar semakin berat dan kaku. Wajah papan tripleksnya memang terlihat datar, namun jika Ruozi jeli, ada semburat merah tipis yang mulai menjalar di ujung telinga sang Jenderal Besar.
Ruozi langsung memutar bola matanya malas. Ia berbalik dan berkacak pinggang di depan Tianxu. "Aduh, Mas Jenderal, tolong ya. Di depan dokter itu tidak ada gender, yang ada cuma pasien. Lagipula, siapa juga yang mau mengambil kesempatan dalam kesempitan dari tubuh kekar penuh bekas luka kamu itu? Aku ini murni mau mengobati jalur meridianmu yang tersumbat racun kronis!" cerocos Ruozi blak-blakan tanpa saringan. "Kalau tidak dibuka, bagaimana aku bisa menusuk titik saraf di punggungmu? Mau ditusuk tembus jubah sutra mahalmu ini, hmm?"
Mendengar omelan super judes dari Ruozi yang tidak ada habisnya, ketahanan mental Tianxu lagi-lagi runtuh. Dengan helaan napas panjang yang penuh kepasrahan, tangan kekarnya mulai bergerak melepas sabuk giok naga, lalu menanggalkan jubah hitam luarnya hingga menyisakan kain putih tipis bagian dalam. Sesuai perintah Ruozi, ia kemudian berbaring telungkup di atas ranjang kayu yang sudah disiapkan.
Saat kain putih itu disibak sedikit ke atas, pemandangan punggung tegap Long Tianxu langsung terpampang nyata. Otot-otot punggungnya yang kokoh berpadu dengan beberapa bekas luka guratan pedang masa lalu, memberikan kesan maskulin yang sangat pekat.
Ruozi sempat tertegun sesaat selama beberapa detik. "Gila, ini sih proporsi tubuh cowok fiksi di komik-komik modern yang sering dibaca temanku dulu," batin Ruozi kagum. Namun, jiwa medisnya langsung mengambil alih begitu melihat warna kulit di sekitar tulang belikat Tianxu yang tampak agak kebiruan akibat endapan racun.
Ruozi mengambil korek api kuno dan sejumput kapas beralkohol herbal yang sudah ia distilasi sendiri di lantai tiga. Dengan gerakan cepat dan sangat lihai, ia menyalakan api di dalam cangkir bambu, menciptakan tekanan hampa udara, lalu menempelkannya satu per satu ke punggung Tianxu.
PLEK! PLEK! PLEK!
"Ugh..." Tianxu mengerang pelan, tubuhnya mendadak menegang hebat begitu merasakan kulit punggungnya seperti disedot dengan kencang oleh benda asing hangat. Seluruh ototnya secara refleks mengeras bagaikan batu, siap untuk melakukan perlawanan khas seorang prajurit.
"Jangan tegang! Rileks, Mas Jenderal! Kalau ototmu keras begini, darah kotor dan racunnya tidak bisa keluar dengan maksimal," tegur Ruozi sambil menepuk pundak kekar Tianxu dengan cukup keras agar pria itu menurunkan kewaspadaannya. Sentuhan tangan kecil Ruozi yang hangat di kulit telanjangnya seketika mengirimkan sengatan aneh yang membuat jantung Tianxu berdegup dua kali lebih cepat.
"Metode pengobatan macam apa ini... rasanya sangat aneh," bisik Tianxu dengan wajah yang terbenam di bantal kain, mencoba menahan rasa tidak nyaman sekaligus debaran aneh di dadanya.
"Ini namanya terapi bekam, ilmu kuno tingkat tinggi untuk mengeluarkan angin dan darah kotor yang terkontaminasi racun di dalam tubuhmu," jelas Ruozi sambil tersenyum puas melihat punggung sang Dewa Perang kini dipenuhi tonjolan-tonjolan cangkir bambu bulat. Sambil menunggu proses bekam selesai, Ruozi mulai mengambil jarum-jarum perak tipisnya. Waktunya masuk ke sesi akupunktur ekstrem untuk menembus sumbatan tenaga dalam.
Ruozi membungkuk sedikit lebih rendah, memfokuskan pandangannya pada titik saraf di dekat tengkuk Tianxu. Jarak di antara wajah mereka kini menjadi sangat dekat, hingga embusan napas hangat Ruozi bisa dirasakan dengan jelas oleh Tianxu di leher kirinya. Suasana di dalam ruangan lantai tiga itu mendadak berubah menjadi sangat intim di bawah temaram cahaya lilin malam.
"Sekarang diam ya, aku mau menusuk titik krusial. Mungkin akan sedikit perih, jadi jangan coba-coba menendangku," bisik Ruozi dengan nada yang tiba-tiba melunak, fokus pada jarum di tangannya.
Tianxu memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram pinggiran ranjang kayu hingga jarinya memutih. Rasa perih dari tusukan jarum perak itu memang ada, namun anehnya, rasa perih itu langsung diikuti oleh sensasi aliran hangat yang sangat menyejukkan, perlahan-lahan mengikis rasa sesak yang selama lima tahun ini selalu menyiksa dadanya setiap malam.
Di tengah rasa lega fisik yang luar biasa itu, kesadaran Tianxu justru sepenuhnya terikat pada aroma wangi herbal bercampur aroma tubuh alami gadis aneh di atasnya yang terus merawatnya dengan telaten.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh dengan pertumpahan darah di medan perang, sang Dewa Perang merasakan secercah ketenangan yang begitu nyata di tangan seorang wanita.
Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan yang intim, Ruozi mulai mencabut jarum-jarum perak serta melepas cangkir-cangkir bambu dari punggung kekar Tianxu dengan gerakan yang terampil.
Begitu semua alat lepas, warna kebiruan di kulit sang Jenderal kini telah berubah menjadi bulatan-bulatan merah pekat yang sangat kentara. Ruozi mengangguk puas melihat hasilnya. "Selesai! Nah, sekarang coba bangun secara perlahan dan rasakan perbedaannya. Dijamin napas kamu tidak akan putus-putus lagi seperti mesin rusak," ucap Ruozi sambil membereskan peralatan medisnya ke dalam baskom air.
Tianxu bangkit dari ranjang, mengenakan kembali kain putih tipisnya dan langsung memusatkan perhatian pada aliran hawa murni di dalam tubuhnya. Begitu ia mengalirkan sedikit tenaga dalam, matanya seketika melebar. Rasa nyeri menusuk yang biasanya mengintai di balik ulu hatinya benar-benar hilang tanpa bekas, digantikan oleh kehangatan yang mengalir lancar dari tulang belakang hingga ke ujung jari-jarinya.
Kemampuan medis gadis ini benar-benar di luar nalar, melampaui semua ramuan obat yang pernah diberikan oleh seluruh tabib istana di kekaisaran.
"Bagaimana? Manjur, kan? Makanya jangan meragukan kemampuan Shen Ruozi," sahut Ruozi percaya diri sambil menepuk-nepuk tangannya yang bersih.
Namun, matanya yang jeli mendadak melirik ke arah punggung Tianxu yang sekilas masih terlihat dari balik celah kain putihnya yang agak longgar. Ruozi langsung menahan tawa setengah mati begitu membayangkan bagaimana rupa sang Dewa Perang yang ditakuti musuh jika orang-orang melihat punggungnya dipenuhi totol-totol merah bulat mirip macan tutul akibat bekas bekam tadi.
Tianxu yang menangkap kilatan aneh dan senyuman tertahan di wajah Ruozi langsung menyipitkan mata penuh waspada. Ia segera merapikan seluruh pakaiannya dan mengikat kembali sabuk giok naganya dengan erat. "Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan punggungku?" tanya Tianxu dengan suara baritonnya yang kembali dingin dan berwibawa.
Ruozi hanya menggeleng cepat dengan wajah yang memerah karena menahan tawa, siap membiarkan Wakil Jenderal Lei Jin yang besok pagi terkejut sendiri melihat penampilan baru atasannya.