OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
“Mulai hari ini, kamu akan mengikuti rapat direksi setiap bulan.”
Raka bahkan belum sempat duduk ketika ayahnya menyampaikan keputusan itu.
Di hadapannya, ruang rapat Adhitama Global tampak seperti gambaran sempurna tentang kekuasaan: meja panjang mengilap, dinding kaca yang menghadap gedung-gedung Jakarta, dan orang-orang berjas yang menunggu setiap keputusan dari ujung meja.
Raka membenci suasana semacam ini.
Bukan karena ia tidak memahaminya, melainkan karena semua orang di ruangan itu bertindak seolah masa depannya sudah menjadi milik mereka.
“Aku punya jadwal latihan,” jawabnya.
Surya, yang duduk di dekat pintu, menunduk untuk menyembunyikan ekspresinya.
Pria yang duduk di kepala meja tidak terlihat terhibur.
“Kamu bisa mengatur ulang jadwalmu.”
“Turnamen nasional dimulai minggu depan. Aku kapten tim. Aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja.”
“Kamu juga pewaris keluarga ini.”
Raka menarik kursi dan duduk.
“Nah, itu masalahnya. Ayah selalu menganggap kedua hal tersebut harus saling mengalahkan.”
“Karena salah satunya memang harus diprioritaskan.”
Raka menatap ayahnya, Adrian Adhitama, seorang pengusaha yang namanya sering muncul dalam berita ekonomi. Adrian terbiasa membuat keputusan dan mengharapkan orang lain mengikutinya tanpa perdebatan.
Sayangnya, putranya tidak mewarisi kebiasaan itu.
“Aku tidak pernah berjanji akan meninggalkan ASTRAL,” kata Raka.
“Dan aku tidak pernah menyetujui keputusanmu untuk menjadikan permainan sebagai karier.”
“Berarti kita sama-sama mengingat hal yang tidak menyenangkan.”
Beberapa anggota direksi saling melirik.
Adrian meletakkan pena di atas meja.
“Jaga ucapanmu.”
“Aku sedang menjawab pertanyaan Ayah.”
“Cukup.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Adrian membuka sebuah map dan mendorongnya ke arah putranya.
“Baca dokumen ini. Kita akan membahasnya pada pertemuan berikutnya. Aku ingin kamu memahami tanggung jawab yang menantimu.”
Raka tidak menyentuh map tersebut.
“Aku sudah memahami tanggung jawabku.”
“Kalau begitu, buktikan.”
Raka berdiri.
“Dengan senang hati. Aku akan membuktikannya di tempat yang kupilih sendiri.”
Ia meninggalkan ruang rapat sebelum ayahnya sempat memberikan perintah berikutnya.
Di dalam lift, Raka mengembuskan napas panjang.
Pertandingan esports setidaknya memiliki aturan yang jelas. Jika lawan menyerang, ia bisa bertahan atau membalas. Jika strategi gagal, ia bisa mencoba pendekatan lain.
Menghadapi keluarganya jauh lebih rumit.
Di sana, kemenangan selalu memiliki harga yang tidak pernah ia sepakati.
Di kantor redaksi, sebuah nama memenuhi layar komputer Nadira.
ADHITAMA GLOBAL.
Dimas telah memintanya menelusuri keterlibatan perusahaan-perusahaan besar dalam perkembangan esports Indonesia. Tugas itu seharusnya sederhana: memeriksa laporan publik, mencari investasi yang relevan, dan menghubungi pihak perusahaan untuk meminta konfirmasi.
Namun, semakin banyak dokumen yang dibacanya, semakin jelas bahwa Adhitama Global memiliki hubungan dengan industri teknologi dan hiburan digital yang jauh lebih luas daripada dugaannya.
Ada investasi pada perusahaan pengembang gim, dukungan terhadap sejumlah program teknologi, dan kemitraan dengan penyelenggara acara digital.
Belum ada bukti yang menghubungkan perusahaan itu secara langsung dengan ASTRAL.
Setidaknya, belum ada yang ia temukan.
“Nad, kamu sudah makan?” tanya Keisha melalui panggilan video.
Nadira melirik kotak makan siangnya yang masih tertutup.
“Sudah.”
“Kamu bohong.”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Karena setiap kali kamu bilang sudah makan dengan suara seperti itu, biasanya kamu baru minum kopi tiga kali.”
Nadira tertawa kecil, lalu membuka kotak makan siangnya.
“Puas?”
“Lumayan. Kamu sedang menyelidiki apa?”
“Investasi perusahaan besar di industri esports.”
Keisha mendekatkan wajahnya ke kamera.
“Serius sekali. Ada pemain tampan yang terlibat?”
“Kenapa kamu selalu menghubungkan semua hal dengan pria?”
“Karena kamu selalu menyangkalnya dengan cara yang mencurigakan.”
Nadira menggeleng.
“Aku sedang membicarakan perusahaan, bukan Raka.”
Keisha langsung tersenyum lebar.
“Aku bahkan tidak menyebut nama Raka.”
Nadira menatap layar tanpa ekspresi.
“Panggilan selesai.”
“Jangan! Aku belum selesai—”
Nadira mematikan panggilan.
Ia kembali menatap dokumen di layar, berusaha mengabaikan kenyataan bahwa sahabatnya memang sangat menyebalkan.
Namun, sebelum melanjutkan pekerjaannya, ia berhenti pada sebuah artikel lama mengenai keluarga Adhitama.
Artikel itu membahas Adrian Adhitama dan rencana suksesi perusahaan. Beberapa paragraf menyinggung putra tunggal Adrian, tetapi tidak ada foto terbaru atau keterangan terperinci mengenai pekerjaannya.
Nadira membaca bagian tersebut sekali lagi.
Putra tunggal.
Usianya tidak disebutkan secara pasti, tetapi beberapa informasi mengindikasikan bahwa ia sudah cukup dewasa untuk terlibat dalam pengelolaan perusahaan.
Nadira mengerutkan kening.
Kemudian ia menutup artikel itu.
Tidak ada alasan untuk menghubungkannya dengan Raka hanya karena mereka memiliki nama belakang yang sama.
Ia tidak akan membuat kesimpulan berdasarkan kebetulan.
Itulah prinsip yang selalu ia pegang sebagai jurnalis.
Dan untuk saat ini, ia belum memiliki alasan untuk melanggarnya.
Sore harinya, Raka kembali ke markas ASTRAL dengan suasana hati yang jauh dari menyenangkan.
Bima langsung menyadarinya ketika kapten mereka memasuki ruang latihan.
“Wah. Siapa yang membuatmu ingin membunuh seseorang?”
“Kalau kamu tidak berhenti bicara, kamu akan menjadi kandidat pertama.”
Bima menutup mulut dengan kedua tangan.
Dua detik kemudian, ia kembali berbicara.
“Jadi, masalah keluarga?”
Raka menoleh tajam.
Bima mengangkat bahu.
“Gue sudah mengenal lo bertahun-tahun. Kalau masalahnya tentang permainan, lo biasanya langsung mengajak kami latihan tambahan. Kalau masalahnya keluarga, lo terlihat seperti ingin menghancurkan meja.”
Raka menarik kursi.
“Latihan dimulai lima menit lagi.”
“Berarti benar masalah keluarga.”
“Empat menit.”
Bima segera berlari menuju mejanya.
Raka hampir tersenyum, tetapi ponselnya kembali bergetar.
Pesan dari ayahnya.
Saya berharap kamu tidak melupakan siapa dirimu sebenarnya.
Raka membaca kalimat itu dengan rahang mengeras.
Siapa dirinya sebenarnya?
Apakah ia seorang pewaris yang harus mengikuti rencana keluarga?
Seorang pemain profesional yang memimpin empat orang lainnya di medan pertandingan?
Atau seseorang yang ingin menjalani hidup tanpa harus menjelaskan setiap keputusannya kepada orang lain?
Ia belum menemukan jawaban yang memuaskan.
Namun, ia tahu satu hal: semakin lama ia menunda pembicaraan tentang masa depannya, semakin besar kemungkinan orang lain akan menentukan semuanya untuknya.
Termasuk siapa yang boleh berada di dekatnya.
Pikiran itu membuatnya teringat pada Nadira.
Perempuan itu tidak pernah memperlakukannya seperti seseorang yang perlu dikagumi. Ia mengkritiknya ketika salah, mengakuinya ketika benar, dan tidak menuntut penjelasan ketika ia memilih diam.
Raka menyukai hal tersebut.
Dan ia mulai menyadari bahwa menyukai seseorang bisa menjadi masalah ketika hidupnya sendiri bahkan belum sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Malam itu, sebuah pesan masuk ketika Nadira baru saja menyelesaikan draf artikelnya.
Raka: Sudah selesai bekerja?
Nadira: Pertanyaan yang mencurigakan dari seseorang yang biasanya menganggap jam kerja jurnalis tidak mengenal akhir.
Raka: Aku hanya bertanya.
Nadira: Dan aku hanya menjawab. Ada apa?
Raka menatap layar cukup lama sebelum mengetik.
Raka: Pernah nggak kamu merasa orang lain sudah menentukan siapa kamu sebelum mereka benar-benar mengenalmu?
Nadira membaca pesan itu dengan serius.
Kali ini, ia tidak langsung membalas menggunakan lelucon.
Nadira: Pernah. Biasanya orang lebih suka mempercayai asumsi mereka daripada mendengarkan penjelasan kita.
Raka membaca jawabannya.
Raka: Lalu apa yang kamu lakukan?
Nadira: Aku membiarkan mereka berpikir sesuka hati. Aku nggak bisa mengendalikan pendapat semua orang. Tapi aku bisa memilih siapa yang pantas mendapat penjelasan dariku.
Raka terdiam.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi justru itulah yang selama ini sulit ia lakukan.
Ia terlalu sibuk berusaha membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pewaris keluarga Adhitama, sampai terkadang ia lupa bahwa ia tidak wajib membuktikan apa pun kepada semua orang.
Raka: Kedengarannya mudah kalau kamu yang bilang.
Nadira: Aku nggak bilang itu mudah. Aku cuma bilang kamu punya pilihan.
Raka tersenyum tipis.
Raka: Kamu selalu punya jawaban untuk semuanya?
Nadira: Tidak. Tapi aku selalu punya pendapat.
Raka: Aku sudah menyadarinya.
Nadira: Bagus. Berarti reputasiku terjaga.
Raka tertawa kecil di tengah kamarnya yang sunyi.
Ia hampir menceritakan semuanya kepada Nadira. Tentang rapat direksi, ayahnya, dan masa depan yang terus dipaksakan kepadanya.
Namun, jarinya berhenti di atas layar.
Belum sekarang.
Ia belum siap menghadapi pertanyaan yang mungkin muncul setelahnya.
Raka: Terima kasih sudah mendengarkan.
Nadira: Sama-sama. Dan Raka?
Raka: Ya?
Nadira: Kamu nggak harus menjawab semua pertanyaan malam ini. Tapi jangan sampai kamu terus menyembunyikan sesuatu hanya karena takut orang lain akan mengubah cara mereka melihatmu.
Raka menatap pesan itu lama-lama.
Ia tidak tahu apakah Nadira sengaja menyentuh persoalan yang sedang dihadapinya atau hanya mengatakan sesuatu berdasarkan pengalamannya sendiri.
Yang jelas, kalimat itu membuatnya merasa seolah perempuan tersebut berdiri sedikit lebih dekat dengan rahasia yang selama ini ia jaga.
Raka meletakkan ponselnya.
Nama Adhitama masih melekat padanya. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi konsekuensinya.
Dan jika hari itu tiba, Nadira mungkin akan menjadi orang pertama yang menanyakan hal-hal yang tidak berani ditanyakan orang lain.
Masalahnya, Raka belum tahu apakah ia akan cukup berani untuk menjawabnya.