NovelToon NovelToon
Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Status: tamat
Genre:Mafia / Rumah Tangga-Anak Genius / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Afrodite 18

Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.

Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.

Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.

Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.

Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Pagi di properti keluarga dimulai lebih awal. Sementara matahari menerangi taman, Drilon sudah siap berangkat. Dengan setelan gelap, ia memeriksa beberapa pesan di ponsel yang berkaitan dengan urusan organisasi.

Di dapur, Nadira menghabiskan kopinya sebelum berangkat untuk satu hari lagi bekerja di rumah sakit. Sejak kembali berpraktik, ia seperti orang lain. Binar di matanya telah kembali, dan jas dokter lagi-lagi jadi bagian rutinitasnya.

Bintang, duduk di kursi makan bayi, memukul-mukulkan sendok ke nampan dan tertawa sendiri. Drilon mendekati putrinya.

"Papa harus mengurus beberapa hal."

Bintang langsung tersenyum, dan Drilon mengecup dahinya dengan sayang.

"Jadi anak baik untuk Mama dan Nenek Hana, ya."

Si kecil menjawab dengan celoteh riang. Nadira tersenyum.

"Seharian dia akan dimanjakan."

"Memangnya kenapa?" sahut Hana.

Semua tertawa. Drilon menoleh pada Nadira.

"Aku seharusnya pulang sebelum makan malam."

"Baik."

"Jadwal di rumah sakit bagaimana?"

"Padat sekali."

"Jangan kerja terlalu keras."

"Aku janji berusaha."

Ia tersenyum dan mengecup pipinya dengan sopan.

"Sampai nanti."

"Sampai nanti."

Beberapa menit kemudian, Drilon meninggalkan properti ditemani beberapa pengawal.

Hari di rumah sakit sibuk. Nadira menghabiskan pagi memeriksa pasien, mendampingi pemeriksaan, dan membantu dalam sebuah operasi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa telah memulihkan satu bagian penting dari dirinya.

Ketika jam makan siang tiba, ia masuk ke ruang istirahat dokter, mengambil ponsel, dan tersenyum.

Sudah beberapa hari ia ingin menyampaikan kabar itu. Ia mencari kontak ibunya dan menekan panggil.

Beberapa detik kemudian, ia mendengar suara yang sangat ia kenal.

#TELEPON MULAI#

"Nadira!"

"Halo, Ma."

"Mama kangen sekali pada putriku."

"Aku juga kangen setengah mati."

"Kamu bagaimana?"

"Baik sekali. Aku sudah bekerja lagi, Drilon mengizinkan."

"Bagus sekali."

Nadira tersenyum otomatis.

"Semuanya luar biasa. Hari ini aku bahkan ikut operasi."

"Mama tahu kamu pasti rindu dunia kedokteran."

"Sangat."

"Kamu betah di rumah sakitnya?"

"Sangat. Modern, peralatannya lengkap, orang-orangnya menyambutku dengan baik, dan lagi aku benar-benar bisa menolong."

"Mama senang sekali mendengarnya."

Nadira menarik napas dalam.

"Tapi aku menelepon karena ada kabar."

"Mama mendengarkan."

"Aku dan Drilon akan menikah."

Di seberang sana ada hening sejenak.

"Sudah ditentukan tanggalnya?"

"Belum, ibunya yang mengatur semuanya."

"Kapan kira-kira?"

"Beberapa hari lagi dia akan menetapkan tanggalnya. Begitu semuanya siap, Drilon akan menjemput kalian."

"Kami?"

"Ya."

"Mama, Papa, Angga, dan Dimas."

"Kita ke Albania?"

"Iya."

"Ya Tuhan..." Suaranya terdengar haru. "Putri Mama akan menikah dengan seorang mafioso."

"Iya."

"Kamu bahagia?"

Nadira diam beberapa saat. Ia teringat semua yang telah dijalani beberapa bulan terakhir.

Cara Drilon merawat Bintang, rasa hormat yang selalu ia tunjukkan, kesempatan bekerja lagi.

"Iya, kurasa aku menemukan kedamaian."

Ratna menghela napas lega.

"Itu yang Mama ingin dengar."

"Papa ada di rumah?"

"Lagi kerja di ruang kerjanya."

"Ceritakan padanya."

"Pasti."

"Dan kabari Angga dan Dimas juga."

"Beres."

"Aku ingin kalian bersamaku di hari itu."

"Mama tak akan melewatkannya demi apa pun di dunia ini."

"Aku kangen."

"Kami juga."

"Sebentar lagi kita bersama."

"Sebentar lagi."

Keduanya masih mengobrol beberapa menit, mengenang cerita keluarga dan membicarakan Bintang.

#TELEPON SELESAI#

Setelah telepon berakhir, Nadira kembali bekerja dengan senyum yang bertahan di wajahnya sepanjang sisa hari.

Menjelang sore ia pulang dan menemukan Intan duduk di beranda, memperhatikan Bintang bermain di atas karpet, dikelilingi mainan. Si kecil tersenyum begitu melihat ibunya.

"Halo, Sayang."

Bintang merentangkan lengan mungilnya, dan Nadira menggendongnya serta menghujaninya dengan kecupan.

"Sepertinya ada yang kangen kamu," kata Intan.

"Aku juga kangen dia."

Bintang menangkup wajah ibunya dan terkikik. Nadira duduk di samping Intan dengan putrinya di pangkuan.

"Kerjaan bagaimana?"

"Sibuk."

"Bagus."

"Sangat." Ia tersenyum. "Hari ini aku menelepon Mama."

"Cerita soal pernikahan?"

"Cerita."

"Reaksinya?"

"Baik, cuma khawatir."

"Bisa kubayangkan."

"Mereka akan datang ke upacara."

"Seru sekali punya keluargamu di sini."

"Iya."

Intan memandang Bintang, yang bermain dengan kalung ibunya.

"Dia makin pintar saja."

"Dan makin nakal."

Keduanya tertawa.

"Ngomong-ngomong soal perubahan..." Ia tersenyum. "Besnik terus mengejutkanku."

"Masih?"

"Masih."

"Dia bikin ulah apa lagi?"

"Tidak ada."

Ia tertawa.

"Itu justru intinya."

"Berarti dia sedang belajar."

"Sepertinya begitu."

"Drilon juga."

"Kelihatan sekali."

"Dia tetap tegas kalau mengurusi organisasi, tapi di rumah..." Ia memandang Bintang. "Seperti orang lain."

"Besnik masih jauh dari itu."

"Tapi sudah membaik."

"Banyak."

"Mungkin mereka sedang belajar bahwa rasa hormat lebih berharga daripada paksaan."

"Semoga mereka tak pernah melupakan pelajaran itu."

Keduanya tersenyum sementara Bintang bertepuk tangan tak mengerti percakapan mereka. Suasana ringan yang kini menyelimuti rumah itu seolah menegaskan bahwa, pelan-pelan, bukan hanya Nadira dan Intan yang sedang membangun ulang hidup mereka, tetapi Drilon dan Besnik juga sedang belajar mencintai dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang mereka kenal seumur hidup di mafia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!