NovelToon NovelToon
Pacar Kontrak Sang Ketua Geng

Pacar Kontrak Sang Ketua Geng

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Bad Boy
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love

Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.

Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.

Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.

Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.

Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Urusan Lo

Nadine baru saja meletakkan payung hitam di samping tasnya ketika sekotak susu mendarat di atas meja.

Ia mendongak. Axel berdiri di samping bangkunya, sementara Dimas mengintip dari belakang dengan senyum yang mencurigakan.

“Buat gue?” Nadine menunjuk susu itu.

“Buat meja lo,” jawab Axel santai. “Katanya meja lo kelihatan kehausan.”

Nadine menatapnya datar. “Kalau meja gue sakit perut gara-gara susu yang salah, lo tanggung jawab?”

Dimas langsung tertawa.

“Gue suka perkembangan ini. Ketua kita sekarang perhatian sama perabotan.”

“Berisik, Dim.”

Nadine mendorong kotak susu itu sedikit ke arah Axel.

“Makasih. Tapi lain kali tanya dulu sebelum membelikan sesuatu.”

Axel melirik susu itu, kemudian kembali menatap Nadine.

“Cuma susu.”

“Dan gue cuma minta ditanya.”

Sesaat, Axel tampak hendak membalas. Namun, ia akhirnya mengangguk.

“Oke. Lain kali gue tanya.”

Ia kembali ke bangkunya tanpa memperpanjang perdebatan.

Nadine memperhatikan kotak susu tersebut sebentar sebelum menyimpannya di tas. Ia tidak ingin membesar-besarkan perhatian kecil, tetapi ia juga tidak mau membiasakan diri menerima sesuatu hanya karena pemberinya Axel.

Belum sempat ia membuka buku, Raka menghampirinya.

“Din, gue dapat informasi tentang sesi beasiswa di universitas yang lo incar.” Raka menunjukkan layar ponselnya. “Sabtu ini ada pertemuan dengan mahasiswa penerima beasiswa. Kita bisa tanya langsung soal proses seleksi.”

Nadine segera membaca informasi tersebut.

“Pukul sepuluh pagi?”

“Iya. Gue juga mau cari informasi tentang jurusan yang gue pertimbangkan.”

“Gue mau ikut. Nanti gue atur jadwal kerja dulu.”

Raka mengirimkan alamat acara kepadanya.

“Kalau ada yang perlu disiapkan, gue kabarin.”

“Siap. Makasih, Rak.”

Percakapan mereka singkat. Namun, dari seberang kelas, Axel sempat menangkap nama universitas dan rencana mereka untuk hari Sabtu.

Ia tidak mendekat.

Ia juga tidak bertanya kepada Dimas seperti yang mungkin dilakukannya beberapa hari lalu.

Akan tetapi, sepanjang pelajaran berikutnya, kata Sabtu terus terlintas di kepalanya.

---

Saat istirahat, Nadine duduk di perpustakaan untuk memeriksa daftar dokumen beasiswanya. Ia sedang mencatat tenggat pengumpulan ketika kursi di hadapannya ditarik.

Axel duduk tanpa banyak basa-basi.

“Sabtu lo mau ke acara beasiswa?” tanyanya.

Nadine menutup pulpen.

“Iya. Lo tahu dari mana?”

“Tadi dengar lo ngomong sama Raka.”

“Oke. Terus?”

Axel sedikit mengernyit. “Gue cuma mau tahu acaranya tentang apa.”

“Informasi beasiswa. Gue mau tanya soal pendaftaran dan persyaratan yang belum gue pahami.”

“Kenapa nggak ikut sesi daring saja? Lebih praktis.”

Nadine menatapnya beberapa saat.

“Karena gue ingin bertanya langsung.”

“Gue cuma menyarankan.”

“Dan gue cuma menjawab.”

Axel menyandarkan punggungnya ke kursi. Jarinya mengetuk meja sekali, kebiasaan yang muncul ketika ia mulai kehilangan kesabaran.

“Lo akhir-akhir ini sibuk banget. Sekolah, kerja, ngurus berkas. Gue pikir mungkin lo bisa menghemat waktu.”

“Gue sudah menghitung waktunya.”

“Gue tahu lo bisa mengatur diri sendiri.”

“Kalau lo tahu, kenapa lo malah menyarankan gue mengubah rencana sebelum bertanya apa yang gue butuhkan?”

Axel terdiam.

Nadine merapikan ujung mapnya. Ia tidak sedang mencari pertengkaran, tetapi ia juga tidak ingin membiarkan percakapan itu berakhir dengan dirinya merasa bersalah karena mengejar kesempatan yang memang ia butuhkan.

“Kalau masalahnya karena Raka ikut, bilang saja,” lanjutnya. “Gue lebih menghargai kejujuran daripada pertanyaan yang seolah-olah cuma tentang jadwal.”

Rahang Axel mengeras.

“Jadi sekarang gue bahkan nggak boleh bertanya?”

“Boleh. Gue nggak pernah melarang lo bertanya.”

“Terus masalahnya apa?”

“Cara lo bertanya membuat gue merasa harus menjelaskan keputusan gue sampai lo puas.”

Suara Nadine tetap rendah. Beberapa siswa sedang membaca di meja lain, dan ia tidak berniat menjadikan perpustakaan tempat mereka berdebat.

“Gue sudah bilang dari awal kalau gue tetap punya kehidupan sendiri, Axel. Gue bisa berteman dengan siapa saja. Gue juga bisa menentukan kegiatan yang penting buat masa depan gue.”

“Gue nggak pernah bilang lo nggak boleh.”

“Lo nggak harus mengatakannya secara langsung supaya gue merasa sedang dibatasi.”

Kalimat itu membuat Axel kehilangan jawaban.

Ia ingin menyangkalnya. Ingin mengatakan bahwa Nadine salah memahami maksudnya. Namun, jika ia jujur, ia memang tidak suka membayangkan Nadine menghabiskan waktu bersama Raka tanpa dirinya.

Perasaan itu mengganggunya.

Lebih mengganggu lagi karena ia tahu Nadine tidak melakukan kesalahan apa pun.

“Ya sudah,” katanya akhirnya. “Terserah lo.”

Nada suaranya berubah dingin.

Nadine menatapnya tanpa berkedip.

“Kalau lo kecewa, itu urusan lo. Tapi jangan membuat gue merasa bersalah karena melakukan sesuatu yang bahkan sudah gue jelaskan sejak awal.”

Axel berdiri.

“Gue ada urusan.”

“Silakan.”

Ia pergi tanpa menoleh.

Nadine kembali membuka mapnya, tetapi tidak langsung melanjutkan catatan. Ada rasa kesal yang tertinggal, bercampur lelah karena persoalan yang seharusnya sederhana kembali menjadi sesuatu yang harus ia jelaskan.

Ia tidak meminta Axel menyukai semua keputusannya.

Ia hanya ingin laki-laki itu memahami bahwa tidak semua keputusan Nadine perlu melewati dirinya terlebih dahulu.

---

Axel menemukan Dimas di dekat tangga menuju lapangan belakang.

Temannya itu sedang memeriksa jadwal pertandingan antarkelas ketika Axel berhenti di sampingnya.

“Kenapa muka lo?” tanya Dimas.

“Muka gue kenapa?”

“Kayak orang yang kalah debat, tapi masih merasa benar.”

Axel mendecakkan lidah. “Lo bisa nggak sehari saja nggak ikut campur?”

“Bisa. Kalau lo sehari saja nggak bikin masalah yang gampang ditebak.”

Axel bersandar pada dinding.

“Gue cuma tanya soal acara beasiswa yang mau dia datangi.”

“Terus lo menyarankan dia ikut daring?”

Axel menoleh cepat. “Kok lo tahu?”

“Gue nggak tahu. Tapi kalau lihat pola lo belakangan ini, tebakan gue masuk akal.”

“Lo menyebalkan.”

“Dan lo gampang dibaca.”

Dimas melipat kertas jadwalnya.

“Axel, lo boleh cemburu. Tapi jangan bungkus kecemburuan lo sebagai perhatian, lalu berharap Nadine menganggapnya sebagai hal yang manis.”

Axel tidak menjawab.

“Dia sudah punya cukup banyak hal yang harus dipikirkan. Kalau setiap kali dia mau melakukan sesuatu lo membuatnya harus menjelaskan diri, lama-lama dia bakal capek.”

“Gue nggak pernah melarang dia pergi.”

“Belum. Tapi lo terus mencoba mengubah keputusan yang nggak lo sukai.”

Axel mengalihkan pandangan ke lapangan. Beberapa siswa sedang berlatih untuk pertandingan minggu depan.

Ia teringat percakapan di perpustakaan, terutama saat Nadine mengatakan bahwa ia merasa harus menjelaskan keputusannya sampai Axel puas.

Itu bukan sesuatu yang ingin ia dengar.

Namun, ketidaksukaannya tidak membuat kalimat itu menjadi salah.

“Gue tahu gue salah,” gumamnya.

Dimas mengangkat alis.

“Bagus. Sekarang tinggal dibuktikan.”

“Lo pikir gampang?”

“Nggak. Makanya gue bilang dibuktikan, bukan dipikirkan.”

Axel menatap temannya, lalu mendorong bahunya pelan.

“Bacot.”

Dimas terkekeh. “Setidaknya lo masih bisa mengakui gue benar.”

Axel meninggalkannya tanpa membalas.

Ia tidak akan meminta Nadine membatalkan acara itu. Ia juga tidak akan mengirim pesan kepada Raka untuk mencari tahu lebih jauh.

Keputusan tersebut terasa sederhana ketika ia mengucapkannya dalam hati.

Ia belum tahu apakah dirinya mampu mempertahankannya ketika ada sesuatu yang benar-benar menguji kesabarannya.

---

Sore harinya, Nadine datang ke tempat fotokopi Pak Udin. Ia meletakkan tas di ruang belakang, mengganti posisi beberapa tumpukan kertas, lalu menghampiri pemilik toko yang sedang memeriksa pesanan.

“Pak, saya mau tanya. Sabtu nanti saya ada acara informasi beasiswa pukul sepuluh pagi. Boleh saya masuk setelah acara selesai?”

Pak Udin membuka buku jadwal.

“Pesanan yang harus selesai hari Sabtu sudah kamu periksa?”

“Sudah, Pak. Sebagian besar bisa saya siapkan Jumat sore. Kalau ada tambahan, saya kabari lebih awal.”

Pak Udin mempertimbangkannya sebentar.

“Baik. Kamu datang setelah acara, tapi jangan lupa kabari kalau jadwalnya berubah.”

Nadine tersenyum lega.

“Terima kasih, Pak.”

“Dan jangan memaksakan diri. Kalau memang perlu waktu untuk mengurus pendidikan, bicarakan saja baik-baik.”

Nadine mengangguk sebelum kembali bekerja.

Ia senang bisa mengikuti acara tersebut tanpa harus mengorbankan pekerjaannya. Setidaknya, satu hal berjalan sesuai rencana.

Menjelang malam, setelah menyelesaikan pesanan terakhir, ia memeriksa pesan dari Raka. Ada alamat lengkap, jadwal kegiatan, dan daftar beberapa pertanyaan yang disarankan untuk ditanyakan kepada mahasiswa penerima beasiswa.

Nadine membalas dengan ucapan terima kasih, kemudian memasukkan ponsel ke tas.

Ketika ia sedang berjalan pulang, sebuah pesan dari Axel muncul di layar.

Axel: Sabtu jadi ikut acara beasiswa?

Nadine: Jadi. Gue sudah atur jadwal kerja.

Balasan Axel datang beberapa saat kemudian.

Axel: Oke. Semoga acaranya membantu.

Nadine membaca pesan itu dua kali.

Tidak ada pertanyaan tentang Raka. Tidak ada saran untuk membatalkan acara. Tidak ada nada dingin yang harus ia tafsirkan.

Nadine: Makasih.

Percakapan berakhir di sana.

Nadine memasukkan ponsel ke tas dan melanjutkan perjalanan. Ia tidak tahu apakah Axel benar-benar sudah memahami batas mereka atau hanya sedang berusaha menahan diri.

Untuk saat ini, ia memilih tidak menebak-nebak.

---

Di rumah Pratama, Axel duduk di depan meja belajarnya dengan buku catatan arsitektur terbuka.

Ia berniat menyelesaikan satu sketsa sebelum makan malam, tetapi perhatiannya terus teralih pada ponsel yang tergeletak di samping buku.

Ia membuka percakapan dengan Nadine sekali lagi.

Semoga acaranya membantu.

Kalimat itu terdengar biasa. Setidaknya, ia tidak membuat masalah kali ini.

Axel mengunci layar, lalu mengambil pensil.

Ia baru saja menggambar beberapa garis ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tersimpan di kontaknya.

Arman Pratama.

Pesannya singkat.

Ayah: Besok malam ada pertemuan dengan keluarga Mahendra. Kamu harus hadir. Kita akan membicarakan kelanjutan rencana yang kemarin.

Axel membaca pesan itu tanpa segera membalas.

Ia tahu apa yang dimaksud ayahnya. Makan malam sebelumnya tidak menyelesaikan apa pun. Bagi Arman, kehadiran Nadine mungkin hanya gangguan sementara dalam rencana yang sudah disusun bertahun-tahun.

Axel mengetik balasan.

Axel: Kalau ini tentang masa depan gue, gue mau ikut menentukan apa yang dibicarakan.

Balasan ayahnya datang cepat.

Arman: Kamu boleh menyampaikan pendapat. Tetapi jangan membuat keputusan yang merugikan keluarga hanya karena hubungan yang belum tentu serius.

Axel menatap layar.

Ia ingin membalas bahwa Nadine bukan alat untuk melawan keluarganya. Ia juga ingin mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan ayahnya menentukan seluruh hidupnya.

Namun, sebuah pikiran lain menyela.

Jika ia kembali berdebat dengan ayahnya, apakah ia akan menggunakan Nadine lagi sebagai bukti bahwa ia sudah memiliki pilihan sendiri?

Apakah ia akan meminta Nadine datang, bukan karena gadis itu bersedia, melainkan karena kehadirannya akan membuat posisi Axel lebih kuat?

Ia meletakkan ponsel di meja.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa menghormati pilihan Nadine bukan hanya soal membiarkannya pergi bersama Raka atau mengikuti acara beasiswa.

Ia juga harus berhenti menjadikan hubungan mereka sebagai senjata dalam pertarungannya sendiri.

Axel belum menemukan cara untuk menghadapi ayahnya. Namun, ia tahu satu hal: ia tidak boleh memutuskan kehadiran Nadine dalam pertemuan besok tanpa berbicara dengannya terlebih dahulu.

Ia membuka ruang percakapan mereka, berniat mengirim pesan.

Jarinya berhenti di atas layar.

Belum. Ia bahkan belum tahu bagaimana menjelaskan situasinya tanpa membuat Nadine merasa berkewajiban membantunya.

Axel menutup ponsel dan kembali menatap sketsa bangunan di depannya.

Besok, ia harus berbicara dengan ayahnya.

Dan sebelum itu, ia harus memutuskan apakah ia benar-benar ingin Nadine berdiri di sisinya—atau hanya ingin menggunakan kehadiran gadis itu agar ia tidak perlu menghadapi keluarganya sendirian.

Untuk pertama kalinya, pertanyaan itu terasa lebih sulit daripada sekadar mengakui bahwa ia cemburu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!