Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Mobil melaju pelan melewati jalan yang mulai terang oleh warna fajar. Elang duduk di kursi belakang dengan ponsel di pangkuan, layarnya menampilkan foto anak lima tahun dengan layang-layang di tangan. Ia sudah memandang gambar itu sejak mobil meninggalkan gang, dan belum menemukan apa pun selain sepasang mata besar yang terlalu serius untuk anak seusia itu.
"Tuan mau langsung pulang?" tanya sopirnya dari depan.
"Pulang." Elang tidak mengangkat kepala. "Pelan saja. Aku sedang berpikir."
Sopir itu tidak bertanya lagi. Di luar jendela, penjual sayur mulai mendorong gerobak, dan beberapa toko menaikkan rolling door dengan bunyi nyaring yang memantul di sepanjang jalan.
'Rayan.' Elang mengulang nama itu dalam hati. 'Cucu? Anak tetangga? Atau hanya foto yang kebetulan disimpan.'
Ia tidak suka menebak. Tebakan tanpa data hanya menyisakan ruang bagi orang lain untuk menanamkan jawabannya sendiri.
Ponselnya bergetar di telapak tangan.
Layar menampilkan deretan angka tanpa nama. Elang menatapnya sebentar, lalu membuka kaca partisi dan mengetuk bahu sopirnya dua kali. "Hentikan mobilnya di depan. Kau boleh turun sebentar dan beli sarapan."
Mobil menepi di depan warung bubur. Sopir itu turun tanpa menoleh ke belakang. Elang menunggu sampai pintunya tertutup, baru menggeser ikon hijau di layar dan menempelkan ponsel ke telinga.
"Siapa ini?"
Sunyi sebentar. Hanya napas, teratur dan pelan, seperti orang yang sedang menikmati secangkir teh di tempat yang tidak tergesa.
"Selamat pagi, Elang Nugroho." Suara itu laki-laki, dalam, dan tenang sekali. "Kau bangun lebih awal dari yang kuduga."
"Aku belum tidur." Elang menyandarkan kepala ke kaca jendela. "Kau tahu itu. Kau yang membuatku keluar rumah."
"Lelaki tua itu bukan pilihanku." Ada jeda yang terdengar seperti senyum. "Tapi aku senang kau datang melihatnya. Itu berarti kau memang punya rasa ingin tahu."
Tengkuk Elang tidak menegang. Ia hanya membuka satu tangan di atas paha dan menutupnya lagi. "Langsung saja. Apa maumu?"
"Kau cepat sekali." Suara itu terdengar puas. "Baik. Aku tidak suka berbasa-basi dengan orang yang sudah tahu siapa aku."
"Aku tahu apa yang kau pegang. Siapa kau sebenarnya."
"Itu tidak penting untuk percakapan ini." Suara di seberang merendah sedikit. "Aku hanya ingin satu hal darimu. Sarung tanganmu. Yang kanan."
Elang tidak menjawab.
"Sepasang artefak itu tidak seharusnya terpisah." Nada bicara si penelepon berubah lebih hangat, seperti seorang guru yang menjelaskan pelajaran pada murid yang baru belajar. "Satu mengambil, satu memberi. Kalau keduanya bersatu, tidak ada sistem lain yang bisa menandinginya. Aku tidak menginginkan uangmu atau perusahaanmu. Aku hanya menginginkan yang menjadi hakku sejak awal. Dengan itu aku bisa menguasai dunia ini."
Elang diam sekitar tiga detik. Lalu bahunya mulai bergetar pelan, dan tawanya keluar tanpa suara besar, hanya embusan napas yang berat dan geli.
"Kau tertawa?"
"Maaf." Elang menegakkan badan dan menyeka sudut matanya dengan ibu jari. "Aku hanya teringat keponakan teman ayahku. Umurnya lima tahun. Dia bilang kalau besar nanti dia mau jadi raja seluruh planet, dan semua orang harus memanggilnya Yang Mulia."
"Elang." Suara itu terdengar lebih rendah.
"Mimpimu sama persis dengan mimpi anak itu." Elang menaruh ponselnya di sandaran tangan dengan mode pengeras suara, dan nadanya hampir ramah. "Bedanya, dia masih lucu. Kau tidak."
"Hati-hati dengan mulutmu."
"Aku selalu hati-hati." Elang mengangkat bahu sendirian di kursi belakang. "Itu sebabnya aku masih punya sarung tanganku, dan kau masih harus meminjam ponsel orang tua untuk bicara padaku."
Tidak ada jawaban. Elang menunggu, dan di seberang terdengar sesuatu yang berbunyi pelan, seperti jari yang mengetuk meja sekali, dua kali, dan berhenti.
"Kau pikir kau menang karena satu malam, Kanan?" Suara itu tidak lagi hangat. "Kau baru menyentuh pinggirannya saja."
"Mungkin." Elang tersenyum tipis. "Tapi dari pinggiran saja aku sudah bisa melihat betapa kecil tempatmu berdiri. Kalau kau mau sarung tanganku, datanglah sendiri. Jangan kirim orang lagi. Mereka terlalu mahal untuk kau habiskan."
Hening cukup lama. Elang mendengar napas orang itu menjadi lebih cepat dan lebih berat, seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu yang hampir pecah.
"Kanan sialan." Suaranya bergetar di antara gigi yang terkatup. "Lihat saja kau."
Sambungan terputus.
Elang menurunkan ponselnya perlahan dan menatap layar yang kembali gelap. Senyumnya bertahan sebentar, kemudian hilang. Ia tidak tahu siapa pria itu, tetapi sekarang ia tahu satu hal yang belum ia tahu sebelumnya. Orang itu tidak marah karena ditolak. Ia marah karena ditertawakan, dan orang yang marah karena ditertawakan biasanya melakukan sesuatu yang bodoh.
Pintu mobil terbuka. Sopirnya masuk dengan sebungkus bubur dan sendok plastik di tangan. "Tuan mau sarapan?"
"Nanti." Elang menutup matanya. "Jalan saja."