Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10: Bukti yang Tak Bisa Dibantah
____🌺
Lantai ruang kerja itu, terasa sangat dingin saat telapak tangan Nayara menyentuhnya. Dengan jari-jari yang masih gemetar, ia memungut ponselnya yang terjatuh.
Layar pelindungnya sedikit retak di bagian sudut, namun gambar yang terpampang di layar itu.
Nayara meletakkan ponsel itu di atas meja kerjanya. Ia duduk kembali di kursi, lalu menempelkan kedua ibu jarinya di atas layar, memperbesar foto kiriman Maya.
Ia memperbesar bagian wajah pria itu. Postur tubuhnya, potongan rambutnya, rahangnya yang tegas, hingga jam tangan kulit berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam tangan itu adalah hadiah ulang tahun dari Nayara tahun lalu. Pria itu memakai hadiah dari istrinya saat mencium perempuan lain di lobi hotel.
Nayara menggeser layar ke sisi kanan, memperbesar wajah perempuan bergaun hitam tersebut.
Selena. Perempuan itu sedikit mendongak, memegang bahu Adrian, merespons ciuman itu dengan sangat nyaman. Di tangan kiri Selena yang bertumpu pada lengan Adrian, terlihat sebuah buket bunga mawar merah berukuran besar. Bunga itu dibungkus dengan kertas matte berwarna hitam pekat dan diikat oleh pita berwarna emas.
Sangat elegan. Sangat mahal.
Napas Nayara memburu. Ia menyentuh ikon informasi di pojok kanan atas foto tersebut untuk melihat detail berkasnya. Deretan angka dan huruf muncul menutupi sebagian gambar.
Tanggal Pengambilan: 08 Oktober.
Waktu: 19.45 WIB.
Mata Nayara terpaku pada deretan angka penunjuk waktu itu. Pukul tujuh empat puluh lima malam.
Dada Nayara mendadak terasa nyeri yang luar biasa, seolah ada jarum panjang yang menusuk jantungnya. Ia mengingat dengan sangat jelas apa yang sedang ia lakukan pada menit dan detik itu dua hari yang lalu.
Tepat pukul tujuh empat puluh lima malam, Nayara sedang berdiri di ruang makan rumah mereka. Ia baru saja menyalakan dua batang lilin di atas kue tar bersalut cokelat. Ia memakai gaun terbaiknya, menyemprotkan parfum yang paling disukai Adrian, dan menatap ke arah pintu depan setiap kali mendengar suara mesin mobil melintas di depan rumah mereka.
Di saat ia berdiri menjaga lilin itu agar tidak padam tertiup angin dari pendingin ruangan, suaminya justru sedang berdiri di lobi hotel bintang lima, memeluk pinggang Selena dan mencium bibir perempuan itu.
Ponsel di atas meja kembali bergetar nyaring. Nama Maya muncul di layar. Panggilan mereka tadi terputus saat ponsel Nayara terjatuh.
Nayara menggeser tombol hijau perlahan, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Nay? Halo? Kamu masih di sana?" Suara Maya terdengar sangat panik dari seberang telepon.
"Masih, May," jawab Nayara.
Anehnya, suaranya kini terdengar sangat datar dan tenang. Air matanya sudah berhenti menetes. Rasa sedih yang sejak semalam menguasainya kini menguap, digantikan oleh kekecewaan.
"Syukurlah. Aku panik dari tadi panggilanku masuk ke kotak suara. Kamu tidak apa-apa, Nay? Tolong jangan diam saja. Kalau kamu mau nangis, nangis aja sekarang."
"Aku tidak nangis, May." Nayara bersandar pada punggung kursi, menatap lurus ke arah jendela. "Kamu tahu jam berapa foto ini diambil?"
"Dita bilang sehabis magrib. Kenapa, Nay?"
"Jam tujuh empat puluh lima malam, May."
Terdengar suara tarikan napas tertahan dari seberang sana. Maya tahu persis jadwal rencana kejutan Nayara malam itu.
"Pada jam itu, aku sedang merapikan meja makan, May. Aku baru saja menyalakan lilin dan menyiapkan piring untuknya," ucap Nayara pelan, matanya tidak berkedip. "Sementara suamiku ada di sana. Bersama perempuan itu."
"Brengsek!" umpat Maya keras, suaranya bergetar menahan amarah. "Adrian benar-benar sudah kelewatan, Nay. Dia bohongi kamu mentah-mentah. Kamu harus bertindak. Kamu tidak boleh diam saja melihat kelakuan bajingan ini!"
"Apa yang harus aku lakukan, May?" tanya Nayara lemah.
"Kamu kumpulkan semua bukti itu! Simpan kuitansi hotelnya di tempat yang aman. Simpan tangkapan layar pesan Selena semalam, foto dari Dita, dan bukti pemesanan meja restoran di email itu. Kirimkan semuanya ke email pribadi kamu sekarang juga. Jangan sampai Adrian curiga dan menghapus semuanya dari tablet di rumah!" instruksi Maya dengan tegas.
"Setelah itu?"
"Setelah itu, kamu cecar dia! Tunjukkan semua buktinya di depan wajahnya. Biar dia tidak bisa lagi mengelak dan menuduh kamu curigaan!"
Nayara menunduk, menatap jari manis tangan kirinya yang dihiasi cincin pernikahan. Cincin yang dipakaikan Adrian dengan janji suci di depan semua keluarga mereka.
"Kalau aku tunjukkan sekarang, dia pasti akan mencari alasan lain, May. Dia akan bilang itu khilaf, atau dia akan menyalahkan keadaan lagi."
"Terus kamu mau diam saja, Nay? Kamu mau pura-pura tidak tahu dan melayani dia seperti biasa di rumah?" Nada suara Maya meninggi karena gemas.
"Tidak. Aku enggak akan pura-pura, tidak tahu." Nayara menarik napas panjang. "Aku akan kumpulkan buktinya, seperti saran kamu. Tapi aku tidak mau gegabah, May. Aku mau lihat sampai sejauh mana dia berani membohongiku."
"Nayara, kamu serius? Kamu sanggup menahan emosi, kamu satu rumah sama dia?"
"Aku harus sanggup," jawab Nayara mantap. "Terima kasih, May. Terima kasih sudah membantuku hari ini."
"Kabari aku terus, Nay. Kalau dia macam-macam, aku langsung jemput kamu dari sana."
"iya."
Tut!
Nayara menutup sambungan telepon.
Ia langsung mengikuti saran Maya. Lalu meneruskan email pemesanan restoran dari akun Adrian ke akun pribadinya, menyalin foto tersebut, lalu mengunci layar tablet rapat-rapat.
Kuitansi dari saku jas Adrian ia lipat kembali dan ia simpan di bagian dalam tas.
____🌺
Waktu berlalu dengan sangat lambat.
Sore berganti menjadi malam.
Pukul enam lewat tiga puluh menit, suara mesin mobil memasuki pelataran garasi.
Nayara sedang duduk di ruang tengah, menonton televisi yang suaranya sengaja ia kecilkan. Biasanya, Adrian baru pulang di atas jam delapan malam. Kali ini pria itu pulang jauh lebih cepat.
Ceklek.
Suara pintu depan dibuka.
Tak! Tak! Tak!
Terdengar langkah kaki Adrian memasuki rumah.
"Nay? Aku pulang," sapa Adrian dari arah pintu depan.
Suaranya terdengar sangat riang dan bersemangat. Sangat bertolak belakang dengan nada bicaranya yang penuh amarah dan keluhan tadi pagi.
Nayara berdiri dari sofa. Ia merapikan pakaiannya, menata ekspresi wajahnya setenang mungkin, lalu berjalan menghampiri suaminya di ruang tamu.
Adrian berdiri di sana dengan senyum lebar di wajahnya. Pria itu tampak sangat rapi. Jasnya disampirkan di lengan kiri, sementara tangan kanannya disembunyikan di balik punggungnya.
"Tumben Mas. Kamu sudah pulang jam segini?" tanya Nayara pelan, matanya menatap tajam wajah pria di depannya.
"Sengaja dong. Aku sengaja membatalkan dua rapat terakhirku sore ini demi istriku," jawab Adrian manis.
Ia melangkah mendekati Nayara.
Adrian mengeluarkan tangan kanannya dari balik punggung. "Ini buat kamu, Nay."
Pria itu menyodorkan sebuah buket bunga mawar merah yang berukuran cukup besar.
Nayara menatap bunga itu. Pandangannya tidak beralih sedikit pun.
"Mas, minta maaf soal pertengkaran kita dua hari ini. Aku tahu aku salah karena terlalu sibuk dan lupa hari peringatan pernikahan kita," ucap Adrian dengan nada penyesalan yang terdengar sangat meyakinkan.
"Aku juga minta maaf karena marah-marah tadi pagi. Kerjaan ku, memang sedang berat, tapi tidak seharusnya aku melampiaskannya, sama kamu."
Nayara tidak langsung menerima buket bunga itu. Matanya menyapu keseluruhan bentuk hadiah dari suaminya.
Bunga mawar merah yang sangat segar.
Dibungkus dengan kertas matte berwarna hitam pekat.
Diikat kuat oleh pita berwarna emas di bagian bawahnya.
Bentuk, warna, bungkus, hingga jenis pitanya ... sama persis. Sama persis dengan bunga yang dipegang Selena di lobi Hotel A, dua malam yang lalu.
Pikiran wanita itu kosong. Dia hanya diam tak bergeming.
"Nay? Kok diam saja? Kamu tidak suka bunganya?" tanya Adrian lembut.
Pria itu sedikit memiringkan kepalanya. Ia meraih tangan kanan Nayara dan meletakkan buket bunga itu ke pelukan istrinya.
"Malam ini kita makan di luar, ya? Kamu mau makan apa saja, bebas. Aku temani kamu sampai malam."
Nayara memegang buket bunga itu. Kertas pembungkusnya. Aroma mawar menyeruak masuk ke hidungnya, namun alih-alih wangi yang romantis, aroma itu justru membuat perut Nayara terasa mual.
"Bunganya bagus sekali, Mas," balas Nayara pelan.
Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Adrian. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Bunganya ... sangat indah."
"Syukurlah kalau kamu suka." Adrian tersenyum lega, lalu menepuk puncak kepala Nayara dengan sayang. "Ya sudah, aku mandi dulu, ya. Kamu bersiap-siap. Kita berangkat setengah jam lagi."
Adrian berjalan melewati Nayara dengan langkah ringan, menuju kamar utama sambil bersenandung pelan.
Ceklek!
Begitu pintu kamar tertutup, Nayara menundukkan kepalanya, menatap buket mawar merah bersampul hitam di pelukannya. Tangannya mencengkeram pita emas itu dengan sangat kuat.
Melihat secara langsung kebohongan suaminya sendiri.
emang lu doang yang bisa 🤣🤣