Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Lilin yang menyala dengan angka --27 di atas kue tart cokelat itu mulai meleleh.
Lelehan lilin bening perlahan menetes, merusak mulusnya dekorasi krim vanila di bawahnya.
Gladys menatap lelehan itu tanpa kedip. Jemarinya melingkar dingin di sekitar pinggiran meja kayu kafe.
Pandangannya berulang kali terlempar ke arah pintu kaca utama, berharap sosok wanita berambut sebahu dengan senyum hangatnya muncul memecah kebisingan ruangan.
Dewi, kamu ke mana sih? bisik Gladys dalam hati. Ini sudah pukul delapan malam.
Dewi bukan tipe orang yang membiarkan sahabatnya menunggu di hari ulang tahun, apalagi janji ini sudah dibuat sejak minggu lalu.
"Gladys, ayo buruan tiup lilinya! Keburu habis lilin nya nanti," seloroh Maya, salah satu teman kantornya, memecah ketegangan.
"Iya, Gladys! Keburu dingin juga nih kopi kita. Doa dulu, terus potong kuenya!" timpal Dion sambil tertawa kecil.
Atmosfer kafe kecil tempat mereka berkumpul sebenarnya terasa begitu hangat dan riuh oleh gelak tawa teman-teman kerjanya.
Musik akustik bernuansa jazz mengalun pelan di latar belakang, memeluk malam yang gerimis di luar.
Namun bagi Gladys, ada ruang kosong besar di hatinya yang hanya bisa diisi oleh kehadiran Dewi, sahabat sejati yang telah mendampinginya melewati berbagai pasang surut kehidupan sejak bangku SMA.
Menyadari teman-temannya sudah tak sabar, Gladys memaksakan sebuah senyum tipis.
Ia menghela napas panjang, menunduk, lalu memejamkan mata di hadapan nyala api yang kian mengecil.
Ya Tuhan, semoga di usiaku yang ke-27 tahun ini, berikanlah aku kesehatan, rezeki yang berkecukupan, dan jika Engkau berkenan pertemukan lah aku dengan jodoh yang tepat, lelaki yang bisa membimbing dan mencintaiku dengan tulus.
Gladys membuka mata, lalu meniup lilin tersebut hingga asap tipis membubung perlahan, membawa serta doa-doa yang baru saja ia layangkan.
Tepuk tangan dan seruan riah dari teman-temannya menyambut momen itu.
Gladys mulai memegang pisau kue, memotong bagian pertama dengan cermat, lalu membagikannya ke piring-piring kecil yang sudah disiapkan.
Baru saja ia menyerahkan potongan kue ketiga kepada Dion, gemerincing bel di atas pintu kaca kafe berdenting nyaring.
Sosok wanita melangkah masuk dengan napas terengah-engah.
Rambutnya agak berantakan terkena cipratan air hujan, dan wajahnya pucat pasi.
Gladys langsung meletakkan pisau kuenya saat melihat Sari yang tak lain saudara sepupu Dewi.
Senyum yang sempat terukir di bibirnya perlahan memudar melihat raut wajah Sari yang penuh kekhawatiran.
Ceklek!
Pintu kafe menutup kembali, namun atmosfer hangat di meja Gladys mendadak menguap, berganti dengan kecanggungan yang mencekam.
"Gladys, ada berita buruk," ucap Sari dengan suara bergetar, bahkan sebelum ia sempat menyapu sisa air hujan di lengan bajunya.
Gladys mengerutkan kening. Dada terasa berdesir aneh dimana sebuah firasat buruk mendadak merayapi tengkuknya.
"Ada apa, Sar? Berita buruk apa? Kok kamu sendirian? Mana Dewi?"
Sari melangkah mendekat, matanya mulai berkaca-kaca.
"Dewi, sekarang di rumah sakit. Dia sekarat, Gladys. Dia, terus memanggil nama kamu dan ingin bertemu sekarang juga."
Kata 'sekarat' menusuk pendengaran Gladys bagai jarum es.
Senyum canggung Gladys terkembang, berusaha menolak kenyataan yang baru saja dilemparkan padanya.
"Sekarat?" Gladys tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dipaksakan dan bergetar.
"Sari, ini nggak lucu ya. Kamu sama Dewi sengaja kan mau bikin kejutan prank ulang tahun buat aku? Dewi itu sehat-sehat aja! Kemarin lusa dia masih chat aku, bercanda soal kue ulang tahunku."
"Gladys, aku nggak bercanda!" potong Sari, suaranya pecah oleh tangis.
Sari merengkuh dan menggenggam erat kedua tangan Gladys yang kini terasa sedingin es.
Genggaman itu begitu kencang, seolah menyalurkan rasa ketakutan dan keputusasaan yang nyata.
"Kankernya menyebar cepat, Gladys. Selama ini Dewi menyembunyikan semuanya dari kamu karena dia nggak mau bikin kamu khawatir. Tapi, malam ini fisiknya drop parah. Dokter bilang waktunya nggak banyak lagi."
Dunia Gladys seolah berhenti berputar. Kebisingan suara kafe, tawa teman-temannya, dan denting alat makan mendadak lenyap, berganti dengan suara dengungan nyaring di telinganya.
Tatapan matanya kosong mendapati kebenaran pahit di dalam iris mata Sari.
Tanpa memedulikan potongan kue yang belum selesai dibagikan kepada teman-temannya.
Sari menggenggam tangan Gladys dan segera mengajaknya ke rumah sakit Husada.
Mobil yang dikendarai Sari melaju kencang menerobos hujan.
Sampai dua puluh menit kemudian Sari memarkirkan mobilnya di pelataran Rumah Sakit Husada.
Suara ban berdecit di atas aspal basah menandakan betapa terburu-burunya mereka.
Tanpa membuang waktu, Sari menarik tangan Gladys, menuntunnya setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit yang dingin, steril, dan berbau antiseptik yang menyengat.
Langkah kaki mereka bergema ketakutan, melintasi lorong-lorong putih hingga sampai di depan pintu tebal bertuliskan Intensive Care Unit (ICU).
Di luar ruangan yang mencekam itu, berdiri seorang pria berpostur tinggi tegap.
Wajahnya yang sangat tampan, namun guratan keletihan mendalam dan jejak air mata mengikis ketegasannya.
Pakaian kerjanya tampak agak kusut, mencerminkan kepanikan yang teramat sangat.
Pria itu adalah Raka, suami Dewi yang selama ini hanya pernah Gladys dengar namanya, seorang pengusaha yang kerap menghabiskan waktunya di luar negeri hingga tak pernah sekalipun Gladys temui secara langsung.
"Raka, bagaimana keadaan Dewi?" tanya Sari dengan suara bergetar dan napas terengah-engah.
Raka tidak langsung menjawab pertanyaan Sari yang ada di hadapannya.
Ia menarik napas panjang yang terasa begitu berat, seolah udara di sekitarnya mendadak menjadi racun.
Matanya yang merah menatap Gladys sejenak, meluapkan keputusasaan yang tak terucapkan.
"Aku dan Gladys masuk ke dalam dulu," ujar Raka lirih, hampir berupa bisikan.
Sebelum melangkah melewati batas steril, seorang perawat mengarahkan Raka dan Gladys untuk mengenakan pakaian khusus ICU—skort medis tertutup lengkap dengan masker dan penutup kepala.
Setiap gerakan terasa begitu lambat dan menyiksa bagi Gladys, dadanya gemetar hebat ditindih ketakutan yang kian nyata.
Ketika pintu otomatis ICU bergeser dan terbuka, pemandangan di dalamnya menghantam dada Gladys.
Di atas bangsal dingin, tubuh Dewi yang dahulu ceria dan penuh energi kini terbaring lemah.
Berbagai selang dan kabel rumit menempel di tubuhnya, tersambung ke mesin monitor yang berbunyi teratur namun menyiksakan. Wajah Dewi pucat pasi, bibirnya yang sudah sangat pucat.
"G-Gladys," suara Dewi terdengar amat sangat pelan, patah-patah di balik masker oksigen.
"Happy... birthday. M-maaf,aku tidak sempat datang ke ulang tahunmu,"
Gladys melangkah mendekat dengan lutut yang goyah.
Air matanya menetes deras tanpa sanggup ia tahan, napasnya tertahan oleh tangis sesenggukan.
Ia menggenggam jemari sahabatnya yang terasa sedingin es.
"Tidak apa-apa, Dewi. Sekarang jangan banyak bicara dulu, ya. Kamu harus istirahat," bisik Gladys lirih.
Dewi menggelengkan kepalanya pelan dan menggunakan sisa-sisa tenaganya ia kerahkan untuk menahan pergerakan Gladys.
Matanya menatap Gladys penuh rasa permohonan yang mendalam.
"Gladys, a-aku mempunyai permintaan terakhir." ucap Dewi dengan suara terbata-bata.
"Dewi, cukup. Sudah, jangan bicara dulu," potong Gladys lagi, menggeleng keras.
Ia tidak sanggup mendengar kata 'terakhir' keluar dari bibir sahabatnya.
"G-Gladys, menikahlah dengan Mas Raka."
Deg!
Gladys langsung mematung saat mendengar perkataan dari sahabatnya.
Kata-kata itu meluncur bagai petir di siang bolong, menghantam seluruh kesadarannya.
Ia menggelengkan kepala berulang kali, mundur setengah langkah karena syok.
"Tidak! Aku tidak mau! Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku yakin kamu bisa sembuh, Dewi! Kamu harus sembuh!" ucap Gladys dengan tangisan histeris sampai air matanya tak bisa ia bendung lagi.
Dengan sisa kekuatan yang hampir habis, Dewi menggenggam erat tangan Gladys.
Tatapannya beralih menatap Raka yang berdiri kaku di sisi lain bangsal, menahan badai emosi di dadanya.
Dewi memberikan isyarat kecil pada suaminya untuk mendekat.
"M-Mas, tolong nikahi Gladys, ya? A-aku mohon. Aku sayang kalian berdua. bisik Dewi dengan mata ber-air, memohon keikhlasan dari dua orang yang paling ia cintai di dunia.
Raka melangkah mendekat ke arah istrinya. Ia berlutut di samping bangsal, menggenggam jemari Dewi yang kian melemah, lalu mengecupnya penuh kepasrahan. Air mata pria itu menetes menimpa seprai medis.
"Sayang, aku akan menikahinya," ucap Raka lirih, memenuhkan janji demi menenangkan detik-detik terakhir wanita yang amat dicintainya.
Mendengar jawaban itu, sebuah senyum tipis dan lega terukir di bibir pucat Dewi.
Matanya perlahan terpejam saat napasnya semakin terengah dan berat.
"Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullaah." bisik Dewi pelan, menuntun napas terakhirnya.
TIT.............................
Garis pada monitor EKG mendadak berubah lurus. Bunyi nyaring yang melengking panjang memecahkan kesunyian ruangan steril itu.
Suara yang paling ditakuti kini bergema, menandakan detik jantung Dewi telah berhenti berdetak untuk selamanya.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un." gumam Raka
"DEWI!!!" jerit Gladys melengking.
Dunia di sekitarnya mendadak berputar hebat. Rasa sakit yang teramat sangat menghantam kesadarannya hingga pandangannya berubah gelap gulita.
Tubuh Gladys langsung ambruk dan roboh ke lantai dingin ICU.
"Suster! Tolong bantu dia!" teriak dokter yang bergegas mendekat.
Dokter dan perawat dengan sigap mengangkat tubuh Gladys yang tak berdaya untuk dipindahkan ke ruang penanganan.
Sementara itu, di samping bangsal yang kini sunyi, Raka tersungkur.
Pria itu mengguncang pelan tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa, lalu merengkuh dan memeluk erat tubuh kaku Dewi.
Terdengar suara tangisan yang menyayat hati dimana duka mendalam dari seorang suami yang baru saja kehilangan separuh jiwanya.