NovelToon NovelToon
ME | Possessive BadBoy

ME | Possessive BadBoy

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Fantasi Isekai / Nikahmuda
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Smarrr

Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.

Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Jay yang tak tahan lagi karena gemas, menarik badan Nadia dan menggelitikinya.

"Jay geli tahu, ha ha ha ha ha...." Nadia tertawa terbahak- bahak karena gelitikan yang Jay lakukan

"Siapa suruh mancing, udah di bilang laki lo ini buas sayang," Jay menggigit pipi Nadia.

"Astagaa.... gemesnya sama bocah ini," Jay juga menguyel nguyel pipi Nadia dengan kedua tanganya.

"Apaan sih bocah bocah, kita kan seumuran,"

"Kalau gue bilang gue lebih dewasa dari lo gimana?" Dan Nadia pun menyelidik ke wajah Jay yang emang terlihat lebih dewasa walau tampan,

"Iya sih, emang keliatan tua, soalnya udah ada kerutan,"

Sontak Jay kaget dan langsung berkaca untuk melihat apa yang di katakan Nadia apakah benar.

"Panik nggak panik nggak? paniklah masa engga," goda Nadia yang ternyata hanya mengerjai Jayden.

"Beneran gue makan lo ya!" tegas jay dan Nadia berlari keluar kamar menuju lantai bawah.

"Pokoknya gue makan di mana pun lo berada!"

"Stop!! gue laper, laper beneran," Nadia menarik ujung kaos yang Jay kenakan. saat sudah di lantai bawah dekat dapur.

"Mau makan gue atau makan nasi sayang? gue juga serius ini, keknya gue bisa gila kalau lo nggak ada Nad," desis Jay dan akan menyekop bi bir Nadia tapi di tahan oleh cewek itu.

"Makan nasi dulu, perut gue keroncongan."

"Mau jajan diluar nggak?"

Mendengar hal tersebut mata nadia berbinar, apa lagi saat ia mendengar kata 'jajan'. mood banget kan buat cewek.

"Mau," sahut Nadia dengan semangat.

"Pake jaket atau sweter, kita keluar sekarang,"

Nadia bergegas mengambil sweter lalu kembali menuruni anak tangga menuju Jay yang sduah menunggu dirinya di halaman rumah.

"Naik motor? tanya Nadia saat melihat motor besar di hadapanya.

"Heem... takut kamu bosen naik mobil terus," dengan senyum yang sumringah Nadia naik di jok belakang.

Jay mulai menghidupkan mesin dan mulai melajukan motornya dengan kecepaatan sedang, mencari makanan yang kira-kira akan Nadia suka.

"Pengen sate sama bakso deh," ser Nadia dari belakang.

"Oke."

Tak lama kemuddian motor Jay menepi dan berhenti di area tukang bakso di pinggir jalan.

"Kamu doyan kan?" tanya Nadia.

"Doyan dong, aa lagikalau makan kamu, doyan banget aku."

Nadia mencubit pingang Jay karena asal ceplos aja ngomongnya.

"Sakit sayang," seketika Nadia embungkam bibir Jay yang memanggilnya dengan sebutan sayang di depan umum. Nadia masih belum terbiasa, bukan dengan kata sayangnya, melainkan orang yag memanggilnya sayang.

"Sorry, gue nggak maksud, cuma gue belum terbiasa aja." lirihnya dan Jay mengerti.

Jay masuk kedalam kedai bakso tersebut dan memesa dua mangkok bakso dan dua air mineral botol.

"Pengen es teh manis jay." rengek Nadia.

"Air putih lebih bagus," Nadia hanya bisa manyun karena apa yang ia inginkan tidak keturutan.

Saat tuba bakso datang, keduanya menikmati makanan tersebut dengan lahap. eh. ralat, hanya Nadia yang begitu lahap, karena Jay tak begitu menyukai makanan tersebut.

"Lo nggak suka?kok makanya dikit?"

"Suka, tapi ggue nggak bisa makan kaya lahap kaya lo gitu," alasan Jay. dan Nadia hanya mengangguk mengiyakan.

Saat sedang asik makan bakso, tiba-tiba netra Nadia meliha sekeibatan bayangan Kevin

"Nadia!" seru Kevin yang benar langsung menghampiri Nadia tanpa takut, padahal terakhir kali Jay membuat Kevin babak belur.

"Kevin." Nadia kaget dan netranya langsung menuju ke arah Jay yang sudah memperlihatkan ekspresi wajah yang tak suka.

"Kamu udah pulang sekolah?" tanya Nadia dengan lembut, bahkan telinga Jay serasa panas saat mendengar Nadia dengan menggunakan kata aku kamu dengan Kevin.

"Pulang!" tegas Jay menarik lengan Nadia dan meningalkan selembar uang merah di meja.

"Jangan kasar kalau sama cewek!" Kevin seolah menantang lagi dan tak kapok dengan apa yang sudah Jay lakukan padanya.

"Siapa lo berani nyuruh gue?" desis Jay dengan mengintimidasi.

"Gue pacar Nadia! kenapa? nggak terima? Karena pada dasarnya gue masih cowok Nadia, dan lo! nggak berhak ngelarang gue deket sama Nadia!" tegas Kevin dan dia mulai panik. Karena Kevin tak tau hal yang sebennarnya.

"Kev, nanti gue jelasin semuanya, tapi please sekarang lo emnding pergi aja deh," Nadia tahu betapa menyeramkanya Jay ketika marah.

"Nggak bisa nad, kita belum putus, dan cowok ini tiba - tiba datang di hubungan kita dan buat kita berdua jauh, masa gue harus diem aja, siapa dia emagnya? mentang - menntang donatur besar di sekolah terus dia bisa seenaknya aja sama kita?"

"Kev please udah, nanti gue jelasin semuanya," pekik Nadia yang mencoa mengalihkan perasaa Kevin yang terus menyerang Jayden.

"kalau lo udah tahu posisi lo siapa? seharusnya lo jauh-jauh dari kehidupan Nadia sallo tahu! gue bukan penganggu karena gue adalah." ucapan Jay terhenti karena Nadia membungkan mulut Jay karena Nadia masih tak ingin jika hubungan mereka sebagai suami istri diketahui banyak pihak, apa lagi dari kalangan sekolah.

"Jay please," mohon Nadia dan Jay menurut

Jay menarik lengan Nadia untuk pergi dari kedai bakso tersebut, tapi sayangnya saat jay baru saja akan menaiki motor besarnya tiba-tiba Kevin menyerangnya dengan sebuah benda yang ia lemparkan ke arah Jay.

Bugh!

Tepat berada di punggung Jay yang masih terluka, Jay menoleh dengan tatapa yang ajam, sedangkan Nadia benar-benar cemas dengan sosok dua cowok di haadapanya itu.

Tanpa peduli dengan Nadia yang mencoba menahanya, Jay menepis tangan nadia dengan Kasar dan mulai menghampiri Kevin.

Membalas apa yang Kevin lakukan padanya, Jay mem ukul Kevin dengan kepalan tanganya dan keras dan tanpa henti.

Bahkan Kevin tak membalas sama sekali pelakuan Jay yang seolah membabi buta itu.

"jay...!!!!! udah please, kenpaa sh lo? bisa nggak sih tahan emosi dikit aja? jangan apa- apa langsung pu kul, kalau dia kenapa - kenapa gimana? bia lo tanggung jawab?" teriak Nadia menghampiri Kevin yang sudah tak berdaya.

Sementara Jay menarik nafasnya dalam- dalam dan menatap Nadia nanar, "Dia itu manipulatif Nad, lo cuma di bohongin sama dia, dia cuma cowok mokondo yang pengen manfaatin lo!" Jay tak kalah berteriak saat menyahut. " Pulang ikut gue sekarang!" imbuh Jay menarik lengan Nadia, tapi cewek itu menghempaskanya.

"Nggak mau! gimana gue saat nanti di rumah? serumah sama cowok kasar dan egois kaya lo? HAH?? gue nggak mau pulang sama lo! gue mau ngobatin Kevin sampai dia sembuh, dan awas aja kalau lo berani ngedeketin gue selama gue ngobatin Kevin, gue bakal ngadu ke papa Jodi dan papa gue sendiri!"

Jay tersenyum miris, ia menertawakan dirinya sendiri karena begitu bodoh bisa menyukai seoarang cewek yang jelas- jelas tak bisa menyukainya.

"Oke, sekarang terserah lo sayang, gue pergi."

Jay menaiki motornya dengan peasaan yang kesal dan emosi, dan ia juga terpkasa memninggalkan Nadia seorang diri di sana bersama kekasihnya yang jelas - jelas hanya memanfaakan Nadia.

Dengan kecepatan tinggi, Jayden menggeber motornya sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu.

"Bubar bubar...!!! ini bukan tontonan!" teriak Nadia karena banyak orang yang mengerumuni mereka.

Nadia memapah bada Kevin dan membawa Kevin ke rumah sakit untuk mengobati luka cwok itu.

.

.

.

.

"AAAARRGGGHHHH!!!!! GUE YANG PERJUANGIN LO NAD!! TAPI KENAPA GUE NGGAK PERNAH LO LIRIK AJA SEDIKIT! LO MALAH MILIH SAMA COWOK MOKONDO KAYA GITU YANG JELAS- JELAS CUMA MANFAATIN LO DOANG! ANJ IIIIIIING! APA KURANGNYA GUE SIH?'" teriak Jayden dan cowok itu bahkan melemparkan beberaa barang di kamanya hingga pecah dan berantakan.

Jay bahkan tak peduli lagi dengan luka di punggngnya yang belum sembuh dan mulai meneteskan da rah lagi.

Sampai beberapa pelayan di rumah Jayden merasa takut, karena Jayden tak pernah marah seperti saat ini sebelumnya.

"Si Aden kenapa? ko marah sampai segitunya? terus non Nadia kemana? bukanya tadi mereka keluar bareng ya?"

"Nggak tahu mungkin mereka berdua lagi berantem, udah ahh kita jangan gosip, nanti Den Jayden dengar malah kita yang kena imbasnyalagi."

"Iya, hayuk kita kerja lagi aja yang bener, dari pada di pecat gara-gara ikut campur urusan Bos kan."

Jay. Begitulah percakapan para pelayan di rumah

Tak lama kemudian seoarag pria dengan setelan jas datang bersama seoarang dokter ke kediaman Jayden.

Arnoldo Renof. ya dia adalah sahabat sekaligus asisten Jayden di perusahaan yang Jayden dirikan sendiri tanpa bantuan keluargaya.

"Batu banget sih lo jadi orang gue bilag juga udah mending fokus sama perusahaan aja, kalau lo makin sukses juga nanti cewek itu pasti ngejar lo anjir," kata Arnold kesal dan juga sedih karena luka di punggung jay yang hampir sembuh kini harus terlka parah lagi karena lah cowok yang mash remaja.

"Jodi masih ska mukul?" tanya dokter Arga yang tak lain juga sahabat sekaligus dokter keluarga Jayden.

"Gue pastiin ini yang terakhir," sahut Jayden.

"Dari dulu juga ngomongnya yang terakhir," cibir Arnold an langsung mendapatkan lemparan bantal oleh Jay.

"Gue pecat lo ya!"

"Sorry ya bro, lo nggak bisa pecat gue karena kita terlibat perjanjian dengan lo sendiri yang tanda tangan nggak akan pernah memecat gue sebagai asisten lo!"

"Cih, nyesel gue tanda tangan."

Arga menarik sudut bibirnya dan mengerjai Jay degan menekan bagian yang luka.

"AWWWW!!! lo mau matiin gue apa?" ketus jay meringis kesakitan. "Punya temen nggak ada yang bener perasaan," imbuh Jay kesal.

"Lo yang nggak bener!" Cibir Arga dana Arnold secara bersamaan.

Setelah mendapatkan perban baru atas pengobatan lukanya, Jay kembali mengambil kaos dari lemari dan memakainya.

"Jadi gimana? Balik ke perusahaan kan?" Tanya Arnold.

"Iya, bawel banget lo jadi cowok!"

"Anggep aja ini juga pelajaran buat Nadia, biar dia tahu sendiri kenyataannya. Karena percuma, lo mau ngomong sampe berbusa juga nggak akn di denger sama Nadia. Karena dia masih punya perasaan sama cowok itu, yang ada malah posisi lo yang maoin jelek di mata Nadia," tukas dokter Arga menasehati.

"Tumben banget bijak," cibir Jay.

"Anjir, dari dulu kali, kalau nggak? Gimana gue bisa jadi dokter?"

"Au ahh, laper gue nih, ambilin gue makan dong," titah Jay pada Arga atau Arnold dengan entengnya.

"Iya tuan muda," walaupun begitu Arnorld memgambilkan makan untuk Jayden.

Pria itu menuruni anak tangga dan menuju dapur, dasarnya Arnold adalah pria yang genit, melihat pelayan yang benng sedikit saja bbisa di sikat olehnya.

Klaim

"Hai... kamu baru ya disini? kok aku baru lia sih?" tanya Arnold pada pelayan yang masi terlhat muda itu.

"Iya pak, saya baru satu minggu di sini,"

jawabnya dengan sopan.

"Nama kamu siapa?" Kan! bukanya ngambilin makan, Arnold malah menggoda pelayan itu.

"Nama saya Astri pak."

"waah... kayaknya kita berjodoh deh, nama kamu Astri, nama aku Arnold. Sama - sama inisial A kan?" godanya lagi dan membuat mba Astri tersipu.

"Bapak bisa saja," sahut mba Astri malu-malu.

Plak!

"Di suruh ngambilin makan malah godain pelayan gue, potong gaji!" tegas Jay yang langsung duduk di meja makan bersama Arga.

"Namanya juga usaha Jay, boleh kali, pelayan lo sih cantik- cantik, kan gue jadi kegoda."

"Dasar lo-nya aja yang gatel, nggak bisa liat yang bening dikit."

Arga hanya bisa tertawa saat satu sahabatnya itu mendpaatlan omelan dari Jay, karena sifat plaboynya itu.

Dan pada akhirnya mereka bertiga makan di meja makan sebelum Arga kembali ke rumah sakit lagi untuk bertugas.

Sementara Arnold masih berada di rmah Jayden untuk membahas urusan bisnisdi perusahaanya yang sudah klama Jay tinggalkan hanya untuk demi Nadia.

"Gimana Pak?" tanya Khawatir Nadia pada dokter yang menangani keadaan Kevin.

"Tidak terjadi hal yang serius pada pasien, hanya saja memulihkan waktu yang lumayan untuk lebab di wajahnya, harap kompres saja dengan air dingin, nanti anda tinggakl tebus obat yang sudah saya buatkan resepnya," ucap sang dokter.

"Baik dok, terimakasih sebelumnya," Nadia bergegas menebus resep obat yang dokter berikan padanya tadi.

Setelah itu Nadia kembali ke kamar di mana Kevin masih terbarng di atas brankar.

"Masih sakit?" tanya Nadia ada Kevin.

Kevin mengangguk pelan, wajahnya yang lebab membuat cowok itu tak bisa bergegrak bebas.

"Aku baru aja habis nebis obat, kita minu obatnya nanti kalau lamu udah sampai di rumah ya, kita pulang sekarang," kata Nadia dengan lembut.

Sekilas Nadia mengingat bagian punggung Jay yang dengan noda merah menjeplak di bagian kaos yang Jay pakai sore tadi.

"Dia udah ke dokter belum ya?'' gumam Nadia yang diam-diam juga masih mengkhawatirkan Jayden.

1
S.Marrr
Halloweeww gGuysss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!