Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tap... tap... tap...
Suara langkah kaki yang mantap menuruni tangga pualam membuat Su Qingxue menoleh. Wanita itu sedang duduk anggun di sofa ruang tamu, baru saja hendak menyesap teh Earl Grey-nya.
Namun, begitu matanya menangkap sosok yang menuruni tangga, tangan Qingxue yang memegang cangkir porselen mendadak terhenti di udara.
Mata indahnya sedikit melebar. Napasnya tanpa sadar tertahan selama beberapa detik. Ia merasa ada sesuatu yang berubah drastis dari pria ini, namun akal sehatnya tidak bisa merumuskan di mana letak perbedaannya.
Postur pria itu terlihat lebih menjulang dan tegap. Kemeja kasual yang membalut tubuhnya kini tercetak sempurna oleh otot-otot dada dan bahu yang padat. Wajahnya yang tadinya kuyu kini memancarkan pesona maskulin yang begitu tajam dan bersih, seolah pria ini baru saja terlahir kembali menjadi dewa perang dari mitologi kuno.
"Tuan Jiang..." Suara Qingxue sedikit tercekat. Ia buru-buru berdeham pelan. "Anda terlihat... sangat menyegarkan."
"Hanya cuci muka."
Muchen menjawab santai, sama sekali tak menyadari badai hormon yang baru saja ia timbulkan. Ia duduk di sofa seberang, menyilangkan kakinya dengan gestur elegan yang mengintimidasi. "Tehnya enak?"
Trang.
Qingxue buru-buru meletakkan cangkirnya ke atas tatakan untuk menyembunyikan ujung jarinya yang mendadak gemetar gugup. "S-sangat enak."
"Aku memintamu menunggu karena aku butuh bantuanmu lagi, Manajer Su," ucap Muchen, langsung to the point. "Kau lahir dan besar di kota ini, kau pasti lebih paham dariku. Zihan dan Ziyue sudah waktunya masuk sekolah. Aku ingin mereka bersekolah di tempat terbaik yang ada di daratan Jiangcheng."
Muchen menatap Qingxue lekat-lekat. "Bukan sekadar fasilitas, tapi lingkungan sosial, sistem keamanan militer, dan kualitas edukasi. Apa kau punya rekomendasi?"
Mendengar pertanyaan serius itu, raut wajah Qingxue langsung kembali profesional. Ia memutar otaknya sejenak, menyeleksi ratusan institusi di kepalanya.
"Jika Anda mencari yang paling absolut, hanya ada satu pilihan mutlak di Jiangcheng, Tuan Jiang. TK Internasional Royal Bintang Lima," jawab Qingxue mantap. "Letaknya tepat di jantung distrik bisnis. Seluruh tenaga pengajarnya diekspor dari Eropa, dan sistem keamanannya setara dengan bunker petinggi negara. Yang terpenting, murid-murid di sana secara eksklusif hanyalah anak-anak dari lingkar terdalam elit politik, keluarga militer, dan konglomerat papan atas."
Qingxue memberi jeda sejenak. "Uang pendaftarannya memang tidak masuk akal, tapi rintangan utamanya bukan di situ. Mereka mewajibkan surat rekomendasi dari tokoh berpengaruh atau investigasi latar belakang keluarga yang sangat ketat."
Muchen bersandar dengan tenang. Untuk ukurannya saat ini, uang dan latar belakang tak lebih dari sekadar tumpukan kertas bekas.
"Bagus," putus Muchen singkat. "Urus pendaftaran untuk Zihan dan Ziyue secepatnya. Gunakan namamu sebagai pihak pemberi rekomendasi jika perlu, atau beli saja kursinya. Aku yang akan membereskan semua biaya dan sisanya. Pastikan si kembar sudah bisa mulai masuk sekolah Senin depan."
"Tentu, Tuan Jiang. Kebetulan saya memiliki relasi yang sangat baik dengan kepala sekolahnya. Saya akan mengatur pertemuan makan siang dengan beliau besok," sanggupi Qingxue cepat.
Membantu mengurus sekolah anak-anak pria ini sama saja dengan membangun jembatan emas anti-hancur menuju masa depannya sendiri. Qingxue jelas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Di sisi lain, ketika kedamaian dan kemewahan menyelimuti Vila Raja, sebuah badai kecil yang penuh kebodohan mulai terbentuk di seberang kota.
Di ruang keluarga utama kediaman raksasa Keluarga Zhao.
Hiks... hiks... uhuuu...
Nyonya Ma duduk bersandar di sofa kulit buaya sambil menangis tersedu-sedu. Tangannya yang dipenuhi perhiasan norak sibuk meremas sapu tangan sutra, mengusap air mata yang membuat riasan tebal di wajahnya luntur dan berantakan seperti badut.
Di seberangnya, Zhao Qiming duduk bersandar santai. Tangannya memutar-mutar segelas anggur merah Bordeaux. Di samping pria buncit itu, Lin Yueran duduk diam merapatkan pahanya, mendengarkan rengekan Nyonya Ma dengan kening berkerut.
"Qiming! Kau harus membalas dendam untuk bibimu ini!" jerit Nyonya Ma histeris, membuat Qiming meringis ngilu mendengar suaranya yang melengking. "Direktur Wang dari Dragon Bay itu benar-benar keparat kurang ajar! Dia membatalkan transaksiku sepihak, menyeretku keluar di depan umum, dan yang paling parah... dia berani memasukkan seluruh nama Keluarga Zhao ke dalam daftar hitam propertinya!"
Nyonya Ma memukul-mukul bantalan sofa. "Dia bahkan terang-terangan bilang tidak peduli walau ayahmu sendiri yang berlutut di depannya!"
"Bibi, tenanglah sedikit. Telingaku bisa berdengung," tegur Qiming kesal, menyesap anggurnya. "Direktur Wang itu memang anjing penjilat yang kebetulan punya sedikit koneksi dengan wali kota. Makanya dia berani bertingkah. Tapi... memboikot Keluarga Zhao? Itu murni tindakan bunuh diri. Memangnya pejabat pusat mana yang sedang dia lindungi sampai berani melakukan langkah sebodoh itu?"
"Itu dia yang membuatku mau mati rasanya!" Nyonya Ma menunjuk-nunjuk udara dengan frustrasi. "Dia tidak sedang melindungi pejabat! Dia melindungi seekor gelandangan!"
Qiming menghentikan ayunan gelasnya. "Gelandangan?"
"Benar! Pria itu datang membawa dua anak kembar. Pakaiannya murah tanpa merek, kusam! Tapi tiba-tiba dia mengeluarkan kartu hitam mainan dan membeli Vila Raja seharga seratus lima puluh juta Yuan secara tunai! Dan si bodoh Wang itu langsung berlutut padanya seperti anjing!"
Qiming menyipitkan mata. Seratus lima puluh juta Yuan tunai? Kartu hitam? Di kota ini, orang yang mampu membuang uang tunai sebanyak itu tanpa mengedipkan mata bisa dihitung dengan jari satu tangan.
"Siapa nama gelandangan itu? Bagaimana ciri-cirinya?" desak Qiming penasaran.
Nyonya Ma memeras otaknya. "Aku tidak tahu namanya! Yang jelas dia tinggi, wajahnya... ya, lumayan tampan tapi auranya melarat! Anak kembarnya satu laki-laki dan satu perempuan, usianya sekitar empat tahun! Berani-beraninya bocah haram itu mengataiku jelek!"
Prang!!
Gelas kristal di tangan Lin Yueran terlepas begitu saja, menghantam meja marmer dan pecah berkeping-keping. Cairan anggur merah merembes ke atas karpet bulu putih layaknya genangan darah segar.
"Yueran! Ada apa denganmu?!" bentak Qiming marah, menatap tajam karpet favoritnya yang kini ternoda.
"T-tidak mungkin..." bibir Yueran pucat pasi, bergetar hebat. "C-ciri-ciri itu... pria tinggi, pakaian lusuh... anak kembar empat tahun, laki-laki dan perempuan..."
"Yueran." Suara Qiming mendadak berat dan mengancam. "Jangan bilang kau mengenal bajingan ini?"
Yueran menelan ludah kasarnya yang terasa seperti pasir.
"I-itu... deskripsi itu terdengar persis seperti mantan suamiku, Qiming. Jiang Muchen," cicit Yueran panik. "T-tapi itu sangat tidak masuk akal! Semalam dia baru saja kuusir ke jalanan! Dia bangkrut total! Perusahaannya hancur disita bank! Dia bahkan menunggak uang sewa kontrakan kumuhnya selama tiga bulan! T-tidak mungkin dia punya seratus lima puluh juta Yuan! Apalagi kartu hitam elit!"
Yueran menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mati-matian menolak realita yang mengancam kewarasannya. "Dia pasti penipu! Ya, dia pasti sedang menipu pihak Dragon Bay!"
"Hahaha!"
Tiba-tiba, Qiming meledak dalam tawa yang sangat keras, menggemakan kesombongan murni di seluruh ruangan.
"Jadi, si tua bangka Direktur Wang itu baru saja ditipu mentah-mentah oleh seorang pengemis bangkrut? Kartu hitam apanya?! Paling-paling itu cuma trik peretasan mesin EDC murahan, atau sindikat pencucian uang skala kecil yang kebetulan berhasil membodohi si idiot Wang!"
"Qiming, kau harus memberinya pelajaran! Harga diri Bibi sudah diinjak-injak!" rengek Nyonya Ma tak mau kalah.
"Tentu saja, Bibi." Qiming berdiri, berjalan ke arah jendela raksasa sambil menatap pantulan dirinya dengan seringai meremehkan. "Tidak ada satu pun manusia di Jiangcheng yang boleh menginjak nama Keluarga Zhao dan tetap bernapas dengan tenang."
Qiming mendengus sinis. "Lagipula, aku baru saja mendapat kabar kalau perusahaan ritel cabang utara kita yang mendadak diakuisisi sepihak tadi pagi, proses legalitasnya masih nyangkut di notaris. Aku sedang pusing mengurus itu. Jadi... bermain-main dengan mantan suamimu ini sepertinya bisa jadi hiburan yang menarik."
Qiming menoleh, menatap Yueran dengan sorot mata psikopat. "Mantan suamimu itu sedang bermain api, Yueran. Dia pikir dia bisa menipu Dragon Bay dan hidup tenang selamanya? Aku akan menyuruh orang mencari tahu di lubang mana tikus itu bersembunyi. Dan saat aku menemukannya..."
Qiming meninju telapak tangannya sendiri.
"...aku akan mematahkan kedua kakinya, lalu memaksanya memakan sisa makanan anjingku hidup-hidup tepat di depan mata si kembar itu."
Mendengar ancaman sadis itu, Yueran hanya diam menelan ludah. Namun anehnya, ada secercah rasa lega yang menjijikkan mekar di sudut hatinya.
'Benar. Muchen pasti sedang menipu,' batin Yueran meyakinkan dirinya sendiri. 'Pria sampah tak berguna itu tidak mungkin kaya dalam semalam. Jika penipuannya terbongkar nanti, dia akan membusuk di penjara, dan dua anak sialan itu akan dilempar ke panti asuhan.'
Senyum tipis dan kejam perlahan terukir di wajah cantik Yueran. Keputusannya melacurkan diri pada Qiming terbukti seratus persen benar.
Di saat tikus-tikus selokan itu sedang berencana, di puncak Dragon Bay, udara malam berhembus menyejukkan.
Muchen sedang berdiri dalam diam di balkon lantai tiga Vila Raja. Sepasang lengan kokohnya bertumpu santai di pagar kaca. Matanya menatap lurus ke bawah, mengamati hamparan kelap-kelip lampu Kota Jiangcheng yang mulai menyala seiring turunnya senja, bagaikan lautan bintang di bawah kakinya.
Di dalam ruangan yang hangat di belakangnya, Zihan dan Ziyue sedang duduk manis di atas karpet tebal ruang baca. Seorang pelayan wanita khusus bersertifikat nanny sedang membacakan buku cerita bergambar dengan suara lembut, sesekali memancing tawa riang dari si kembar.
Angin malam membelai wajah tampan Muchen.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa Keluarga Zhao mulai merencanakan sesuatu yang konyol terhadapnya. Dan sungguh... meskipun ia tahu, ia tidak akan sudi membuang satu detik pun waktunya untuk peduli. Bagi Sang Naga yang baru saja terbangun dari tidurnya, intrik murahan dari sekumpulan belatung tidak pantas mendapat perhatian.
'Satu hari telah berlalu,' batin Muchen.
Ia mengangkat gelas kristalnya, menyesap air putih dingin dengan perlahan.
'Ini baru permulaan. Aku akan membiarkan anak-anak ini bermain menikmati khayalan mereka sedikit lebih lama... sebelum aku menghancurkan fondasi mereka sampai ke akar-akarnya.'
Sepasang mata Muchen memantulkan pantulan cahaya kota. Gelap, sedingin es, dan mematikan.