Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Rahasia Yang Selama Ini Disembunyikan
Malam itu, udara di teras asrama terasa sejuk dan tenang. Mereka duduk melingkar sambil mengobrol santai, sampai Bayu tiba-tiba bertanya …
"Hei, kita semua sudah cerita kenapa kita dikirim ke sini tapi belum pernah dengar Zain bercerita. Kenapa sih kamu akhirnya ada di sini ?" Tanya Bayu
Zain terdiam seketika, senyum di wajahnya perlahan memudar. Ia menatap ke arah lampu taman yang remang, lalu menarik napas panjang.
"Ayah memang menyuruhku diam soal ini" Ucap Zain pelan.
"Tapi mungkin sudah saatnya aku bercerita" Tambah Zain sambil menari nafas
Semua menatapnya dengan penuh perhatian, Zain menelan ludah lalu mulai bercerita.
"Dari kecil aku tidak pernah benar-benar paham kenapa mama tidak ada di rumah, papa selalu bilang mama sedang pergi untuk sementara waktu. Tapi seiring aku tumbuh besar, aku mulai mendengar bisik-bisik dari orang-orang. Dan di sekolah lamaku, isu itu menyebar begitu saja katanya mama kabur dengan pria yang lebih muda, meninggalkan aku dan papa. Setiap kali mereka membicarakannya, rasanya seperti ada yang menyayat hati" Lanjut Zain
Flashback On
Itu terjadi tepat tiga bulan sebelum Zain dipindahkan, di sekolah lamanya Zain sebenarnya anak yang pendiam dan tertutup. Ia jarang berbicara soal keluarganya, terutama soal ibunya yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Suatu siang, saat jam istirahat Zain berjalan melewati sekelompok siswa yang sedang berkumpul di sudut koridor. Saat ia lewat, suara mereka tiba-tiba mengecil, lalu tertawa tertahan. Zain mencoba mengabaikannya dan terus berjalan. Namun kalimat yang terdengar jelas itu membuat langkah kakinya terhenti seketika.
"Itu anaknya perempuan yang kabur kan ? Katanya tinggalkan suami dan anaknya demi laki-laki muda, kasihan dia ditinggalkan ibunya sendiri"
Zain berbalik perlahan, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.
"KALIAN DIAM" Bentak Zain, suaranya bergetar menahan amarah.
Salah satu dari mereka tersenyum sinis.
"Kenapa marah ? Bukankah itu kenyataannya ? Ibumu tidak menginginkanmu, Zain. Kalau dia sayang, dia pasti tidak akan pergi begitu saja"
Kata-kata itu seperti api yang membakar kesabarannya, selama ini ia berusaha menutupi rasa sakitnya sendiri, berusaha terlihat kuat, tapi mendengar orang lain menghina ibunya di depannya, ia tidak bisa lagi menahan diri.
"Diam mulutmu!" Teriak Zain dan dalam sekejap ia sudah menerjang ke arah anak itu.
BUGH …
Pukulan pertamanya mendarat di pipi anak itu, dan sebelum teman-temannya sempat menahannya, Zain terus memukul dengan amarah yang meledak-ledak. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi setelah ini, ia hanya tahu bahwa siapa pun yang menghina ibunya harus berhenti saat itu juga.
BUGH …
BUGH …
BUGH …
BUGH …
Saat guru datang berlari memisahkan mereka, anak itu sudah terkulai di lantai, tidak sadarkan diri. Zain berdiri di sana terengah-engah, tangannya bergetar, matanya memerah. Anak itu segera dibawa bergegas ke rumah sakit dengan ambulans.
Siang itu juga, Zain dipanggil ke ruang kepala sekolah. Beliau menatapnya dengan wajah serius.
"Zain, besok pagi papamu harus datang ke sekolah. Untuk saat ini, kamu boleh pulang duluan. Tapi mulai sekarang, kamu tidak boleh masuk sekolah sampai ada keputusan resmi dari rapat dewan guru. Kamu dipulangkan hari ini" Ucap Kepala Sekolah dengan nada berat.
Sepanjang jalan pulang, Zain berjalan di belakang ayahnya tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun dan malam itu terasa panjang dan berat. Keesokan paginya, ayahnya berangkat sendirian ke sekolah. Zain menunggunya di rumah, duduk di tepi kasur, menunggu kabar yang ia tahu pasti tidak akan baik.
Ketika ayahnya pulang, beliau duduk di samping Zain. Tidak ada teriakan, tidak ada pukulan justru itu yang membuat hati Zain terasa semakin sakit.
"Ayah sudah bicara dengan kepala sekolah, Zain. Anak yang kamu pukul harus dirawat beberapa hari di rumah sakit, orang tuanya menuntut agar kamu dikeluarkan dari sekolah. Setelah banyak bicara dan memohon, akhirnya mereka memberi satu jalan keluar agar kamu pindah ke sekolah lain” Uja Danuel
“Aku akan pindah ke sekolah mana, pa ?” Tanya Zain
“Nanti, akan papa cari yang terbaik untuk kamu dan sementara waktu kamu jangan kemana-mana dulu” Jawab Danuel dan itu membuat Zain terdiam
“Kamu ngerti gak ?” Tanya Danuel karena tidak ada respon dari anaknya
“Iya pa” Jawab Zain
Siangnya Danuel mendapatkan sekolah yang menurutnya terbaik untuk Zain, kea rah yang lebih baik lagi yaitu asrama di pinggir kota tapi di kota yang sama. Dan sekarang Danuel dan sedang berada di kamar Zain untuk memberitahukannya.
“Papa sudah menemukan sekolah yang menurut papa baik untuk kamu, dan besok kamu akan pergi ke sana” Ucap Danuel
“Di sekolah mana, pa ?” Tanya Zain
“Sekolah berbasis asrama, namanya ‘SMA CAHAYA PELITA’ dan di sana kamu aka nada banyak teman” Jawab Danel
“Tapi aku gak mau di asrama pa, apa papa menghukum Zain ? dan sudah tidak mau merawat aku lagi ?, ini bukan salah aku. Tapi mereka mengolok-ngolok aku tentang mama, mereka bilang mama lebih mementingkan laki-laki brondong dari pada kita dan itu membuat aku tidak suka” Ujar Zain menolak
“Asrama ini bukan untuk menghukummu, nak. Papa mengirimmu ke sana, karena papa ingin kamu belajar menahan amarahmu. Belajar bahwa membela orang yang kamu sayangi tidak harus dengan pukulan." Jawab Danuel
Zain menunduk, air matanya jatuh membasahi pipi. Ia tahu ia salah, tapi ia tidak menyesal membela ibunya. Ia hanya berharap suatu hari nanti, ia akan cukup kuat untuk membicarakan ibunya tanpa harus meledak marah setiap kali orang menghinanya.
Flash Back Of
Zain menghela napas panjang, kembali ke masa kini di teras asrama. Matanya terlihat berkaca-kaca, namun ia berusaha tersenyum.
"Aku belum tahu ke mana mama sebenarnya" Akunya jujur.
"Tapi di sini aku belajar satu hal bahwa marah dan berkelahi, tidak akan membuat orang berhenti berbicara. Aku harus belajar kuat dari dalam diriku, bukan dengan kepalan tanganku." Lanjut Zain
Keira menyentuh punggung tangannya dengan lembut.
"Kamu sudah hebat berani bercerita, Zain. Itu jauh lebih berani daripada memukul seseorang." Ucap Keira
Zain tersenyum tulus untuk pertama kalinya sejak bercerita, beban yang selama ini ia pendam sendirian, terasa sedikit lebih ringan sekarang.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...