Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERUANG BAJA VS NAGA HITAM 3
Di tengah arena pertarungan, ketegangan memuncak hingga menyentuh langit.
Ivan Si Naga Hitam terus menyerang tanpa henti! Sudah sembilan ratus sembilan puluh delapan kali tendangan berturut-turut, napasnya tak memburu sedikitpun. Ia kembali mundur, menghentakkan kakinya ke tanah lalu melesat ke udara... namun kali ini bukan tendangan yang dilontarkannya.
ROAAAAARR..!!!
Ivan melayang di udara, tubuhnya berputar kencang bagaikan tornado hidup. Di puncak putarannya, ia menekuk lengan kanannya dan mengepalkan tangan kirinya erat. Seluruh tenaga berkumpul di satu titik — siku kanannya menyala samar seakan membara. Lalu ia meluncur deras ke bawah menghantam kepala Renzo.
WHUSSSHH!!!
Udara berdesir mencekam. Kekuatan serangan itu tak sekadar pukulan — bagaikan gunung batu yang runtuh menimpa satu orang.
DUMM!!!
Renzo menyilangkan kedua lengannya di depan wajah, jari-jarinya saling bertaut kuat menahan benturan dahsyat itu. Tanah di bawah kakinya berderet retak menjalar ke segala penjuru, perlahan amblas menelan kakinya hingga terbenam setinggi lutut.
Wuaaaahhh...!!!! Ribuan penonton terpekik serempak. Para penguasa di tribun ikut berdiri tak sadar. "Siku Penguasa!" gumam mereka tak percaya — salah satu dari 72 gerakan pamungkas Kung Fu Shaolin, yang nyaris tak ada penguasanya di zaman ini.
Gluk! Dua ribu narapidana dan seluruh sipir menelan ludah bersamaan. Darah terasa membeku di pembuluh nadi. Kekuatan yang mengerikan! Bela diri yang begitu indah sekaligus mematikan! Hati mereka bergetar hebat menyaksikan keagungan sekaligus kengerian seni bela diri kuno itu.
Semenjak pertarungan dimulai, Ivan terus menyerang habis-habisan, mempertaruhkan nyawa di setiap ayunan kakinya tanpa ragu sedikitpun. "Naga Hitam" — gelar itu ternyata masih terlalu kecil untuk menampung keperkasaannya.
Namun Renzo... semenjak awal ia hanya bertahan. Menangkis. Menghindar. Serangannya pelan, pasif, seakan masih mengukur seberapa jauh batas kemampuan lawannya.
Hingga detik itu... mata semua orang membelalak bulat.
WHUSSSS!!!!
Kedua kakinya tertanam kuat di tanah, puluhan luka memar menghiasi tubuhnya, darah merembes dari pelipis — namun tak satu pun menghalanginya. Renzo bergerak secepat kilat, kedua tangannya mencengkram siku Ivan yang menindihnya ke bawah.
CREEEKK!!!
Saking kuatnya cengkeramannya, kuku tajam Renzo menembus pakaian dan kulit hingga tertanam dalam daging Ivan. Bagaikan cakar elang mencengkeram mangsa tak bernyawa.
ROOOOOAAAAARRR!!!! Ivan meraung kesakitan sekaligus ngeri, meronta sekuat tenaga namun cengkeraman itu tak bergeser sehelai rambutpun.
Renzo perlahan mengangkat sudut bibirnya. Tatapannya dingin tepat menembus manik mata Ivan. Lalu — tiba-tiba ia melepaskan cengkeramannya.
Syuit! Syuit! Syuit! Darah menyembur melesat ke udara dari luka di siku Ivan, menciptakan jejak merah mengerikan di tanah. Renzo tak memberi waktu bernapas, kepalan tangan kanannya sudah melesat sekuat tenaga menuju bahu Ivan.
BAMMMM!!! Dentuman keras bergema menembus ke segala penjuru penjara. Daging dan tulang bahu Ivan terkoyak dalam sekejap, darah memancar deras ke udara bagai air mancur. Tubuh kekarnya berguncang hebat lalu terjerembab jatuh menghantam tanah berdebu.
Belum sempat debu tertiup angin, Renzo memanfaatkan momentum untuk melenting ke udara, tubuhnya berputar sempurna 360 derajat, tumit kanannya menghantam punggung Ivan tepat saat ia hendak bangkit.
SWOUUUSSSHHH!!!
Tubuh Ivan meluncur deras di atas permukaan tanah bagaikan batu lemparan, tak berdaya mengendalikan arah, menuju batang pohon besar yang menjulang di pinggir lapangan.
Belum sempat semua penonton bereaksi sosok Renzo sudah berada di dekat pohon itu.
WHUSSS!!!
Tangan kanannya mencengkram kerah Ivan di tengah udara sebelum menghantam batang pohon, lalu berbalik membantingnya ke tanah dengan sekuat tenaga.
DUUGGG!!! Bumi bergetar, bunyi benturan itu bagai petir menyambar tanah. Tulang-tulang di tubuh Ivan berderit berderak ngeri saat menghantam bebatuan.
Setengah tubuhnya remuk, darah mengalir deras membasahi tanah — namun insting bertahan hidupnya belum padam. Dalam keadaan setengah sadar pendengarannya masih tajam, menangkap setiap getaran udara yang digerakkan Renzo.
WHUSSS..!!! Bayangan melayang di atasnya. Renzo melompat tinggi, ia kembali melesatkan tendangan kakinya yang setara palu raksasa.
Ivan mengerang tertahan, kedua lengannya disilangkan di dada sekuat tenaga menahan tekanan maut itu.
BAAAAMMMM!!!!! Ledakan udara terperas keluar dari benturan itu. Ribuan mata terbelalak menahan napas.
KRAKK!!! KRAAKK!!! Bunyi tulang patah terdengar nyaris beriringan. Kedua lengan Ivan tak kuat lagi menahan beban maut itu
Lengannya pun terekuk ke belakang di sudut yang tak seharusnya, sendi terlepas, tulang patah menembus daging.
Namun Renzo belum selesai. Ia menginjak perut Ivan memantul kembali ke udara, tinju kanannya terkumpulkan seluruh amarah dan kekuatan, meluncur ke bawah bagai palu godam menghantam dada kanan Ivan tepat di atas paru-paru.
BAAAMMM!!!!
Tubuh Ivan terangkat melayang sebelum jatuh terguling jauh bagai boneka kain. Renzo mendarat ringan seakan tak menumpahkan tenaga, lalu kembali melesat — secepat kilat, tanpa jeda, tanpa belas kasihan.
SWUSSSSHHH!!! Kakinya mencambuk ke arah kepala Ivan. Ivan menggulingkan tubuhnya nyaris mustahil di detik terakhir — tendangan itu melesat menghantam pohon di belakangnya.
BRAAAKKK!!! Batang pohon besar seukuran orang dewasa patah dua bagian ambruk berdebun.
SSSSHHHHPPP!!! Para penonton ternganga tak bernapas. Para sipir menelan ludah kering lalu diam-diam mulai mencatat — Renzo bukan manusia. Dia adalah maut yang berjalan.
Namun pemandangan berikutnya membuat mereka melupakan cara bernapas.
Ivan bangkit perlahan. Kedua lengannya tertekuk aneh, tulang menonjol di balik kulit, darah menetes ke tanah tiap detik. Ia berjalan terhuyung-huyung menuju batang pohon di dekatnya, lalu — menghantamkan tubuhnya ke sana.
DUAKK! Kepala dan dada membentur kayu keras. Orang-orang menahan napas ngeri tak mengerti maksudnya.
Namun detik berikutnya... kraaakk... bunyi sendi bergeser kasar. Lengan kanan Ivan terangkat sendiri perlahan, tulang yang patah menyatu kembali tepat ke tempatnya semula. Ia meringis menahan sakit tak bersuara, lalu memutar lengan kirinya sendiri — kraaakk... lengan kiriny kembali utuh.
Keheningan mencekam menyelimuti arena. Darah membeku di pembuluh darah ribuan orang.
Ivan menjilat darah di sudut bibirnya perlahan, senyum liar merekah di wajahnya berlumuran merah. Gigi-giginya tajam menyala di bawah cahaya matahari. Ia merobek sisa bajunya hingga terbuka tubuh bagian atasnya memperlihatkan setiap lekuk ototnya penuh bekas luka lama, parut di atas parut. Luka-luka di tubuhnya seolah bukti bahwa ia adalah petarung sejati yang lahir dari pertarungan tiada henti.
"Beruang Baja..." suaranya menggelegar meski napasnya memburu, matanya menyala tak pernah seriang itu sebelumnya, "lumayan juga... kau berhasil memaksaku untuk serius!" Ia merenggangkan bahu hingga berbunyi nyaring. "Baiklah... saatnya kau lihat siapa aku sebenarnya!"