NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Dokter
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak yang Berpacu dengan Kemeja Navy

​Bagi sebagian besar murid, hari Senin kerap kali menjadi momok yang memicu keluhan. Namun, tidak bagi Aira. Hari pertama dalam sepekan ini justru menjadi waktu yang paling dinantikannya di sekolah baru.

​Penyebabnya sederhana jadwal pelajaran seni dan olahraga dua mata pelajaran favorit yang tak pernah rela ia lewatkan jatuh pada hari Senin.

​Baginya, persetan dengan mata pelajaran lain yang kerap membuatnya harus mengikuti ujian remedial. Dalam urusan seni dan olahraga, nilai Aira selalu merajai peringkat teratas. Meskipun akumulasi nilai akhir belum mampu membawanya menembus peringkat lima besar paralel, Aira setidaknya selalu berhasil mengamankan posisi di sepuluh besar kelas.

​"Kita hari ini tidak ada upacara bendera?" tanya Aira memecah keheningan kelas.

​"Mana aku tahu. Tanya saja sendiri pada Ketua OSIS," sahut Zara tanpa menoleh, jemarinya sibuk merapikan letak kerudung segi empatnya di depan cermin kecil.

​Di sekolah baru Aira, peraturan mengenai atribut jilbab memang dibebaskan. Di dalam kelasnya, hanya ada sekitar lima siswi yang memilih mengenakan kerudung, dan salah satunya adalah Zara. Remaja putri yang menjadi teman sebangkunya itu telah menjelma menjadi sahabat terbaik Aira sejak hari pertama kepindahannya. Zara mengetahui masa lalu kelam Aira di sekolah lama, dan hal itulah yang membuatnya selalu pasang badan serta memberikan dukungan penuh untuk Aira.

​"Kamu ini sedang apa, sih? Dari tadi sibuk membetulkan kerudung terus. Perasaan bentuknya tidak berubah sejak tadi," komentar Aira jengah.

​Zara yang tengah menancapkan jarum pentul di bawah dagu hanya bisa meniup poni kerudungnya ke atas demi menghalau gerah. Namun, bukan Aira namanya jika tidak berulah jahil. Dengan gerakan secepat kilat, ia menarik ujung kerudung Zara ke depan hingga menutupi seluruh wajah sahabatnya.

​"Aira! Kurang ajar kamu, ya!" teriak Zara spontan, wajahnya memerah kesal.

​Aira tertawa terbahak-bahak tanpa rasa bersalah. "Tidak apa-apa kurang ajar, daripada kurang waras, itu jauh lebih berbahaya!"

​Zara yang terlanjur sebal memilih menyambar cerminnya dan melangkah keluar kelas. Ia memutuskan untuk merapikan penampilannya di toilet saja daripada terus-menerus menjadi korban kejahilan Aira.

​Meskipun tabiat Aira terkadang sangat menyebalkan, entah mengapa Zara justru merasa paling betah berteman dengannya. Di balik sifat usilnya, Aira adalah sosok yang tulus, pengertian, dan selalu apa adanya dalam segala hal sebuah ketulusan yang sulit Zara temukan pada murid lain.

​"Zara! Kamu mau ke mana? Tunggu aku!" teriak Aira berlari menyusul.

​Mendengar pekikan Aira, Zara mempercepat langkahnya hingga berlari kecil di sepanjang koridor, meskipun Aira tetap membuntutinya seperti bayangan.

​Sesampainya di toilet, Zara segera masuk untuk membetulkan hijabnya, sementara Aira memilih bersandar di dinding luar. Gadis itu mengunyah permen karet dengan santai, sesekali meletupkannya hingga menimbulkan suara berisik yang memantul di langit-langit lorong.

​Sambil melipat tangan di dada, mata bulat Aira bergerak mengamati interaksi murid-murid yang berlalu-lalang.

​Atensinya teralihkan saat rombongan Bayu dan kawan-kawannya melintas. Sudah menjadi rahasia umum jika anak-anak lelaki itu selalu pergi ke toilet dalam formasi lengkap, seolah enggan terpisahkan.

​"Woy, Bayu! Mau ke mana kalian?" seru Aira menghadang jalan mereka.

​Bayu menghentikan langkahnya, menatap Aira dengan malas. "Ngapain bertanya? Kau mau ikut masuk ke dalam?"

​"Dih, najis! Siapa juga yang mau ikut? Aku hanya ingin bertanya, hari ini upacara dibatalkan atau bagaimana? Ini sudah hampir jam delapan," cecar Aira.

​"Mana aku tahu. Tanya saja pada guru di kantor sana," jawab Bayu cuek, bersiap melanjutkan langkah bersama komplotannya.

​Aira mendengus, matanya menyipit jenaka. "Eh, kalian ini mau ke toilet saja harus berombongan begitu? Sudah seperti mau tawuran antar-pelajar tahu tidak?"

​"Kenapa? Kau iri? Bilang saja, Bos!" sahut Panji, salah satu teman dekat Bayu, dengan nada menantang.

​Aira menaikkan sebelah alisnya, lalu menyeringai nakal. "Dih, buat apa iri? Paling-paling burung kalian langsung mendadak insecure kalau sampai aku lihat."

​Kalimat vulgar yang meluncur mulus tanpa rem dari bibir Aira seketika membuat langkah kelompok itu terkunci.

​"Anjir! Aira, kau bicara apa barusan?!" seru Bayu berbalik dengan wajah tegang bercampur syok.

​Menyadari sinyal bahaya dan ancaman dari kepungan anak-anak lelaki itu, Aira bergerak cepat. Tepat saat pintu toilet terbuka menampilkan Zara yang baru saja selesai, Aira langsung menyambar pergelangan tangan sahabatnya itu kuat-kuat.

​"Kabur, Zara!" teriak Aira menarik Zara berlari kencang menuju kelas mereka.

​"Woy, Aira! Awas kau, ya! Utangmu belum lunas!" teriakan kesal Bayu menggema di koridor, namun Aira hanya membalasnya dengan tawa kemenangan yang menjauh.

◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳

​Matahari telah merangkak naik, memancarkan terik yang membakar lapangan sekolah. Jam pelajaran olahraga telah dimulai sejak tiga puluh menit lalu. Namun, tidak seperti biasanya, Aira sama sekali tidak menunjukkan energinya. Tubuhnya terasa lemas, dan sebuah rasa nyeri yang familier mulai mencengkeram perut bagian bawahnya sejak jam istirahat pertama tadi tamu bulanannya baru saja tiba.

​Materi olahraga hari ini adalah praktik lari jarak jauh. Aira sebenarnya ingin sekali menyerah dan meminta izin ke ruang UKS. Namun, mengingat nilai praktik ini akan diambil sebagai komponen kelulusan semester akhir, ia memaksakan diri untuk bertahan. Sialnya lagi, karena nama depannya diawali dengan huruf abjad pertama, ia langsung masuk ke dalam kelompok terbang pertama.

​"Aira, kamu yakin mau tetap ikut praktik ini? Wajahmu sudah pucat pasi begitu," bisik Zara cemas, matanya memperhatikan jemari Aira yang meremas kaos olahraganya sendiri demi menahan sakit.

​"Tidak apa-apa, Zara. Aku tidak mau absen. Nilai olahraga ku tidak boleh cacat di semester ini," jawab Aira bersikeras dengan napas yang mulai berat.

​"Kalau begitu, aku juga akan meminta izin pada Pak Al agar kita bisa ikut praktik susulan bersama nanti."

​Aira menggeleng cepat, menolak usulan sahabatnya. Ia menyerahkan karet gelang di tangannya kepada Zara, meminta bantuan gadis itu untuk menguncir rambut sebahunya agar tidak mengganggu pergerakannya.

​"Ardelia Aira Safira, Adrian Bayu Aditya, Bella Cinta, Citra Arista, Calvin Alexander. Nama-nama yang Bapak panggil, silakan mengambil posisi di garis start untuk gelombang pertama!" seru Pak Alvian, sang guru olahraga, dari pinggir lapangan sambil memegang papan nilai.

​Aira bangkit berdiri dengan bertumpu pada lututnya. Pandangannya sempat memburuk sesaat, namun ia mencoba menguasai diri dan melangkah ke tengah lapangan. Sudah beberapa bulan terakhir ini, setiap kali siklus menstruasinya datang, rasa sakitnya selalu menjalar hingga ke pinggang bagian belakang. Biasanya, ia akan meminum ramuan jamu kunyit asam buatan Bu Windy di rumah untuk meredakannya, namun hari ini ia benar-benar tidak bersiap.

​"Aku pasti akan mengalahkanmu kali ini, Alien!" bisik Bayu yang mendadak sudah berdiri di posisi trek sebelah kiri Aira.

​Aira menoleh, memberikan tatapan tajam yang layu. "Ini praktik olahraga, Bayu, bukan ajang balap liar."

​Bayu hanya mengedikkan bahunya acuh, menyisir rambut depannya ke belakang menggunakan jemari dengan gaya sok keren.

​Pak Alvian mengangkat tangannya yang memegang peluit.

PRITTT!!!!

​Bunyi nyaring itu menandakan ujian dimulai. Aira mulai menggerakkan kakinya, berlari dengan ritme yang sangat lambat karena setiap hentakan kakinya memicu rasa linu yang hebat di pinggang. Di sisi lain, Bayu yang memimpin di depan tampak melesat cepat. Namun, setelah melewati satu putaran, cowok itu sengaja menoleh ke belakang dan mendapati Aira tertinggal jauh di posisi paling buncit.

​"Woy, Alien! Kau lari atau merangkak? Lambat sekali seperti siput!" teriak Bayu memprovokasi.

​Aira mengabaikan seruan itu, fokusnya kini hanya terarah pada garis finis yang terasa bermil-mil jauhnya.

​"Adrian Bayu! Lari yang benar! Jangan menengok ke belakang!" tegur Pak Alvian keras dari tepi lapangan.

​Mendengar teguran itu, Bayu kembali memacu larinya. Namun, rasa penasarannya perlahan muncul saat menyadari ritme lari Aira semakin kacau. Ia sengaja memperlambat kecepatannya sendiri, membiarkan tubuhnya terkejar hingga kini ia berlari berdampingan dengan gadis itu.

​"Tumben sekali. Biasanya kamu paling bersemangat kalau urusan fisik. Kenapa sekarang loyo?" tanya Bayu dengan volume suara yang direndahkan.

​Aira yang terlanjur kesal menyentakkan bahunya, menyenggol lengan Bayu demi mengusir cowok itu sebelum ia kembali memaksakan diri melangkah lebih cepat.

​Namun, tepat di titik tengah lapangan pada putaran ketiga, langkah Aira mendadak terkunci. Napasnya terengah-engah, memburu dengan kasat mata. Kedua telapak tangannya bertumpu pada lutut, tubuhnya membungkuk dalam. Beberapa murid yang menonton dari pinggir lapangan mulai berbisik bingung melihat sang juara kelas olahraga mendadak mogok di tengah jalan.

​Bayu yang menyadari musuh bebuyutannya berhenti total segera memutar arah langkahnya. Ia menghampiri Aira yang masih bergeming.

​"Kenapa berhenti? Waktumu terus berjalan," ucap Bayu.

​Aira mendongak perlahan. Detik itu juga, Bayu terkesiap. Wajah gadis di hadapannya telah kehilangan seluruh rona alaminya pucat pasi bagaikan kertas, dengan butiran keringat dingin yang membanjiri dahi. Aira merasakan perutnya seperti diaduk-aduk, kepalanya berputar hebat, dan pandangan matanya perlahan mulai menggelap diselimuti kabut hitam.

​"Aira... wajahmu menyeramkan sekali. Hei, jangan mati di lapangan sekolahku!" seru Bayu panik, tangannya bergerak ragu hendak menyentuh bahu Aira.

​Aira membuka mulutnya, berniat memaki kalimat asal Bayu, namun kesadarannya telah mencapai batas. Tubuhnya mendadak lunglai dan ambruk begitu saja ke atas tanah lapangan.

​"Aira!!!" Pekikan histeris dari Zara dan Bayu berpadu dengan teriakan Pak Alvian yang langsung berlari kencang membelah lapangan.

◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳

​Aroma minyak kayu putih yang menyengat menjadi hal pertama yang merangsang indra penciuman Aira saat ia perlahan membuka kelopak matanya. Kepalanya masih menyisakan rasa pening yang berdenyut lambat. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan yang temaram akibat tirai yang tertutup.

​Hal pertama yang tertangkap oleh retinanya adalah siluet seorang pria bertubuh tegap yang tengah berdiri membelakanginya di dalam ruangan bernuansa putih itu.

​"Akhirnya kamu sadar juga. Sekarang, cobalah untuk duduk perlahan," ucap pria itu tanpa berbalik, suaranya terdengar berat dan bariton.

​Aira menuruti perintah itu, bangkit dibantu oleh siku tangannya. Ia menatap sekeliling dan menyadari dirinya kini terbaring di atas brankar ruang UKS sekolah. Namun, keterkejutan melanda hatinya saat pria itu memutar tubuh.

​"K-Kak Arkan?" tanya Aira sangsi, mengosok matanya takut-takut jika ia hanya sedang berhalusinasi akibat pingsan.

​Arkan melangkah mendekat, seulas senyum tipis yang sarat akan wibawa terukir di wajahnya. Ia meraih alat tensimeter digital dari atas meja. "Menurutmu siapa?"

​"Kenapa Dokter tampan bisa ada di ruang UKS sekolahku?" cerocos Aira, rasa pusingnya menguap seketika digantikan oleh binar antusias.

​Arkan tidak menyahut, ia meminta izin dengan isyarat tangan lalu melingkarkan manset tensimeter pada lengan kiri Aira untuk memeriksa tekanan darahnya. "Tekanan darahmu cukup rendah. Kamu tidak sarapan tadi pagi?"

​Aira menyengir kuda, menggelengkan kepalanya perlahan. Sejak pagi perutnya sudah terasa tidak nyaman, membuat seleranya makannya hilang sepenuhnya. "Kak Arkan belum menjawab pertanyaanku. Kenapa bisa ada di sini?"

​Arkan menarik sebuah kursi kerja, mendudukinya di sisi brankar Aira sembari menunggu mesin tensi bekerja. "Kebetulan saya ada urusan dinas medis berkala dengan kepala sekolahmu hari ini. Dan tepat saat saya selesai, saya melihatmu digotong masuk ke mari dalam keadaan pingsan."

​Mendengar penjelasan itu, lengkungan senyum manis yang cenderung terlihat mengerikan karena wajahnya yang masih pucat terukir di bibir Aira. Ia menggerakkan jari telunjuknya, menoel lengan Arkan dengan berani.

​"Ciye... Kak Arkan diam-diam mengkhawatirkan Aira, ya? Makanya langsung datang ke UKS," goda Aira menaikkan alisnya turun naik.

​Arkan mengembuskan napas pendek, menyingkirkan tangan jahil Aira dari lengannya dengan gerakan halus. "Saya ke sini karena diminta oleh guru olahragamu. Dokter jaga sekolah sedang ada keperluan di luar, jadi saya hanya menjalankan kewajiban medis."

​"Lalu kenapa Kakak masih menungguku di sini sampai terbangun? Pasti ada alasan khusus, kan?" kejar Aira pantang menyerah.

​Arkan melipat tangan di dada, menatap gadis remaja di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan, namun sudut bibirnya berkedut menahan tawa. "Tugas saya di sini sudah selesai, dan saya hanya sedang merapikan barang bawaan saya saat kamu mendadak sadar. Jangan terlalu banyak percaya diri, Aira."

​"Ah, Kak Arkan ini tipe pria pemalu rupanya. Bilang saja kalau sambil mengambil barang, mata Kakak sekalian melirik ke arah brankar Aira untuk memastikan kondisi Aira. Mengaku saja, Kak," goda Aira lagi.

​Arkan hanya bisa menggelengkan kepala pasrah atas tingkat kepercayaan diri adik ipar Dinda yang berada di luar nalar ini. Ia bangkit berdiri, lalu menarik tirai pembatas di sebelah kanan brankar.

​Di balik tirai tersebut, Aira terkesiap mendapati sesosok cowok yang tengah tertidur pulas di atas kursi kayu dengan posisi tangan melipat di dada dan seragam olahraga yang kotor oleh tanah.

​"Itu pacarmu? Dialah yang menggendongmu berlari dari tengah lapangan sampai ke ruang UKS ini dengan wajah panik," ujar Arkan melirik ke arah Bayu.

​"Hah? Pacar? Enak saja!" sanggah Aira secepat kilat, wajahnya menunjukkan ekspresi horor. "Calon pacar Aira itu dari awal kenal sampai masa depan hanya ada satu nama Dokter Arkanza Dirgantara. Tidak ada kuota untuk alien seperti dia."

​Arkan hanya tersenyum tipis, menganggap kalimat itu tak lebih dari sekadar bualan anak sekolah. Ia menyambar tas kerjanya di atas meja. "Kondisimu sudah membaik. Saya permisi dulu karena harus kembali ke rumah sakit."

​Melihat Arkan melangkah keluar, Aira panik. Ia langsung menurunkan kedua kakinya dari brankar, bersiap menyusul. Namun, gerakan hebohnya membuat Bayu tersentak kaget dan terbangun dari tidurnya.

​"Eh, kau sudah sadar, Alien?" tanya Bayu dengan suara khas orang bangun tidur.

​Aira berhenti di dekat pintu UKS, menatap Bayu dengan pandangan menuduh. "Bayu! Kau bicara apa saja pada Kak Arkan tadi? Kamu tidak mengaku-ngaku sebagai pacarku di depan dia, kan?!"

​Bayu mengernyitkan dahi dalam-dalam, menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Pacar? Apa-apaan sih otakmu itu? Jangan-jangan kepalamu sempat terbentur batu saat jatuh tadi sampai amnesia dan berhalusinasi begini?"

​"Ih, gara-gara kau, calon suamiku jadi salah paham tahu tidak!" seru Aira kesal, lalu segera berlari keluar pintu mengabaikan Bayu.

​Bayu yang ditinggal sendiri di dalam UKS hanya bisa melongo bingung. "Calon suami? Salah paham? Fix, otak si Aira bergeser setelah pingsan tadi," gumamnya tak habis pikir.

◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳

​Sementara itu, Aira mengabaikan rasa nyeri yang tersisa di perutnya. Ia berlari kecil di sepanjang koridor sekolah demi mengejar langkah lebar Arkan yang sudah berjalan jauh di depan menuju area parkir.

​"Kak Arkan! Tunggu Aira!" teriaknya memecah keheningan lorong.

​Arkan mendengar teriakan itu, namun ia memilih untuk terus melangkah maju tanpa menoleh. Ia tahu, meladeni gadis itu di lingkungan sekolah hanya akan memperpanjang waktu kepulangannya. Namun, setelah beberapa saat berjalan, suara teriakan dan derap langkah kaki di belakangnya mendadak lenyap.

​Rasa penasaran mengalahkan logikanya. Arkan menghentikan langkah tepat di dekat mobilnya, lalu membalikkan badan. Di ujung jalan setapak, ia melihat Aira tengah berjongkok di bawah pohon, kedua tangannya memeluk perut dengan kepala tertunduk dalam.

​Arkan mengembuskan napas panjang ke udara. 'Kenapa hidupku harus dihadapkan dengan ujian sejenis ini?' batinnya pasrah seraya melangkah kembali menghampiri gadis itu.

​Arkan berdiri di hadapan Aira yang masih berjongkok dengan wajah memerah menahan linu. "Ada apa lagi?" tanya Arkan datar.

​"Kak Arkan jalannya cepat sekali seperti dikejar hantu... Aira tidak kuat mengejar," keluh Aira mendongak dengan mata berkaca-kaca.

​"Saya tidak pernah memintamu untuk mengejar saya, Aira. Saya harus segera pulang karena jadwal jaga malam," sahut Arkan ketus.

​"Tapi perut Aira sakit sekali, Kak..."

​"Lebih baik kamu pulang dan beristirahat di rumah. Temanmu tadi bilang kalau kamu sedang berada di hari pertama siklus menstruasimu, bukan?" ujar Arkan berbalik badan, berniat pergi.

​"Aira tidak bisa berjalan ke gerbang depan, Kak..." lirih Aira menahan langkah pria itu.

​Arkan menoleh kembali, menaikkan sebelah alisnya. "Lalu? Kamu mau meminta saya untuk menggendongmu di tengah sekolah yang ramai ini?"

​Mendengar kalimat itu, binar jenaka kembali muncul di mata Aira. Ia tersenyum manis menatap Arkan. "Kalau Kak Arkan sendiri yang menawarkan dengan sukarela, Aira tentu tidak akan menolak."

​Arkan mengabaikan godaan itu, ia melangkah satu langkah maju. Namun kalimat Aira berikutnya sukses menghentikan seluruh pergerakannya.

​"Celana olahraga Aira tembus, Kak..." gumam Aira dengan suara super pelan, wajahnya memerah padam karena rasa malu yang akhirnya muncul juga.

​Arkan tertegun sejenak. Ia melirik posisi duduk Aira dan menyadari situasi darurat yang tengah dihadapi gadis remaja itu. Berada di lingkungan sekolah pada jam pulang yang sebentar lagi tiba tentu akan menjadi bencana sosial bagi Aira jika ada murid lain yang melihat noda darah di celananya.

​Meskipun ingin menghindari interaksi lebih jauh, nurani medis dan sisi protektifnya sebagai seorang pria dewasa menolak untuk membiarkan Aira terlantar di sana.

​Tanpa banyak bicara, Arkan meletakkan tasnya disamping Aira. Jemarinya bergerak gesit membuka kancing kemeja lengan panjang berwarna navy yang ia kenakan di luar kaos dalam hitamnya pagi ini.

​Melihat Arkan yang tiba-tiba menanggalkan kemejanya, Aira langsung memekik pelan dan menutup kedua matanya dengan telapak tangan. "Eh! Kak Arkan mau lepas baju di tempat terbuka?! Jangan, Kak! Aira masih di bawah umur, belum siap mental melihat tubuh atletis Kakak!"

​Arkan memutar bola matanya jengah atas pikiran mesum gadis di hadapannya. Ia menyodorkan kemeja navy miliknya yang beraroma parfum maskulin ke depan wajah Aira. "Buka matamu. Ambil kemeja ini dan ikatkan di pinggangmu untuk menutupi bagian belakang celanamu."

​Aira membuka matanya perlahan, mengerjap menatap kemeja yang kini berpindah ke tangannya. Dengan cepat, ia justru memasukkan kedua tangannya ke dalam lengan kemeja besar itu, memakainya seperti jaket biasa yang kedodoran di tubuh mungilnya.

​"Saya menyuruhmu mengikatnya di pinggang untuk menyamarkan noda, Aira. Bukan untuk dipakai seperti itu," koreksi Arkan datar.

​"Oh... iya, Aira lupa," sahut Aira tersenyum kikuk. Ia segera melepas kemeja itu kembali dan mengikatkan kedua lengannya erat-erat di sekeliling pinggangnya.

​"Jangan mengikatnya terlalu kencang, itu bisa mengganggu sirkulasi darah di perutmu yang sedang kram," peringat Arkan dengan nada suara dokter yang tegas.

​Aira mengangguk patuh, melonggarkan sedikit ikatan kemeja tersebut. "Kak Arkan mau langsung pulang setelah ini?"

​"Saya harus pamit ke ruang kepala sekolah sebentar."

​"Aira... boleh ikut menumpang pulang di mobil Kakak tidak? Kepala Aira masih sedikit pusing, dan perut Aira rasanya seperti diremas-remas," pinta Aira memasang wajah paling melas yang ia miliki.

​Arkan melirik jam tangan peraknya. "Jam pelajaranmu belum selesai, kan?"

​"Sebentar lagi bel pulang berbunyi, Kak. Karena kondisi saya sakit, saya bisa meminta izin pulang duluan ke guruku," jawab Aira taktis.

​"Ya sudah. Temui gurumu dan urus surat izinmu sekarang," putus Arkan akhirnya mengalah.

​"Siap, Kapten! Tunggu Aira di parkiran ya, Kak! Jangan ditinggal!" seru Aira bersemangat, mengabaikan rasa sakitnya demi berlari cepat menuju kelas untuk mengambil tas dan mengurus administrasi izinnya.

◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳◰◲◱◳

​Sepuluh menit kemudian, Arkan yang tengah menyandarkan tubuh di pintu mobil sambil memeriksa ponselnya melihat siluet Aira yang berlarian keluar dari gedung sekolah. Gadis itu melambaikan tangannya tinggi-tinggi di udara dengan senyum lebar yang cerah.

​"Kak Arkan! I'm coming!" pekiknya riang dari kejauhan.

​Arkan tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis yang sangat samar melihat tingkah kekanak-kanakan gadis itu, sebelum ia kembali mengubah ekspresinya menjadi datar saat Aira tiba di depannya dengan napas terengah-engah.

​"Ayo, Kak, kita berangkat!" ujar Aira bersiap membuka pintu penumpang depan. Namun, tangannya mendadak menggantung di udara, keraguan tampak jelas di raut wajahnya.

​"Kenapa diam saja? Tidak jadi pulang bersama saya?" tanya Arkan heran melihat perubahan sikap Aira.

​"Itu... Kak... celana Aira kan sedang tembus darah. Kalau Aira duduk di dalam mobil Kakak, nanti jok mobilnya kotor terkena darah bagaimana?" tanya Aira ragu, merasa tidak enak hati karena ia tahu mobil Arkan pastilah mobil mewah yang dirawat bersih.

​Arkan menunjuk ke arah dasbor bagian dalam melalui kaca mobil. "Ada tisu basah dan cairan pembersih di sana. Kamu bisa menggunakannya nanti saat turun. Masuklah."

​"Tapi... Kak Arkan tidak merasa jijik?" tanya Aira memastikan.

​Arkan menatap Aira dengan pandangan dingin yang menuntut. "Jika saya adalah tipe pria yang mudah merasa jijik pada darah atau cairan tubuh manusia, saya tidak akan pernah memilih profesi sebagai seorang dokter, Aira. Sekarang, pilihannya hanya dua kamu masuk ke dalam mobil sekarang, atau saya tinggal di parkiran ini?"

​"Eh, iya! Masuk, Kak, masuk!" sahut Aira panik, langsung membuka pintu dan mendudukkan dirinya di atas kursi penumpang depan yang empuk.

​Arkan masuk ke kursi kemudi, memutar kunci kontak, dan perlahan membawa mobilnya membelah area parkir menuju jalan raya.

​Suasana di dalam kabin mobil yang hening membuat Aira kembali membuka suara untuk mencairkan atmosfer. "Benar juga, ya. Kak Arkan kan sudah terbiasa melihat hal-hal ekstrem. Berarti Kakak sudah sering melihat darah dalam jumlah banyak?"

​"Menurutmu bagaimana? Jangan menanyakan hal yang jawabannya sudah terpampang jelas di depan matamu," jawab Arkan tetap fokus pada jalanan di depannya.

​"Iya, Kak, Aira kan hanya mencoba membuka obrolan agar tidak canggung," gumam Aira mengerucutkan bibirnya sebal.

​Arkan melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya yang kini menunduk lesu menatap sepatunya. Entah mengapa, ada dorongan di dalam dirinya untuk menanggapi kalimat gadis itu.

​"Lagi pula... mobil ini bukan pertama kalinya bersentuhan dengan darah," ucap Arkan tiba-tiba.

​Aira mendongak cepat, matanya membulat sempurna karena rasa penasaran yang membuncah. "Hah? Maksud Kakak bagaimana? Mobil ini pernah dipakai untuk mengangkut korban kecelakaan?"

​"Bukan. Mobil ini pernah digunakan sebagai ruang persalinan darurat."

​"Apa?! Serius, Kak? Ada wanita yang melahirkan di dalam mobil keren ini?!" tanya Aira dengan nada suara yang naik satu oktaf karena terkejut.

​"Kejadiannya baru sekitar satu bulan yang lalu."

​"Bagaimana bisa? Memangnya Kak Arkan membuka jasa ambulans dadakan di luar jam kantor?" cecar Aira tidak percaya.

​Arkan tersenyum tipis, gurat kelelahan di wajahnya seolah tersamarkan oleh kilas balik ingatan malam itu. "Waktu itu saya baru saja menyelesaikan sift malam di rumah sakit. Di tengah jalan, saya melihat sepasang suami-istri yang tampak sangat panik di pinggir jalan. Sang istri sudah dalam tahap pembukaan akhir dan mereka kesulitan mendapatkan taksi. Jadi, saya menawarkan tumpangan."

​"Lalu? Bagaimana kelanjutannya sampai bisa melahirkan di sini?" tanya Aira semakin condong ke arah Arkan, menyimak dengan saksama.

​"Jalanan kota malam itu macet total akibat kecelakaan di lampu merah depan. Karena kondisi sang ibu sudah tidak memungkinkan untuk menahan lebih lama, proses persalinan terpaksa dilakukan di atas kursi yang sedang kamu duduki sekarang. Beruntung, saya selalu membawa tas medis darurat di bagasi belakang. Prosesnya berjalan lancar, dan setelah bayi lahir, saya langsung mengevakuasi mereka ke rumah sakit terdekat," tutur Arkan panjang lebar.

​Aira menatap Arkan dengan binar kekaguman yang luar biasa terpancar dari kedua matanya. "Wah... Kak Arkan keren sekali! Sudah tampan, berhati mulia, suka menolong, dan bisa diandalkan dalam situasi darurat. Karakter seperti ini benar-benar sangat cocok untuk menjadi calon suami masa depan Aira kelak, hahaha!" seru Aira diakhiri tawa riang.

​Arkan memberikan tatapan aneh bin ajaib ke arah gadis di sebelahnya. "Tidak ada korelasi logis antara menolong persalinan darurat dengan kualifikasi menjadi suamimu, Aira."

​"Tentu saja ada hubungannya! Aira mematok standar tinggi untuk calon pendamping hidup. Harus pria baik hati dan suka tolong menolong seperti Kak Arkan," sahut Aira mulai melantur dengan penuh keyakinan.

​"Kamu itu masih mengenakan seragam sekolah menengah, tapi jalan pikiranmu sudah melompat jauh membahas urusan pernikahan," cibir Arkan dengan nada suara dingin yang khas, mencoba mengerem fantasi remaja di sampingnya.

​"Oh, tentu saja. Mencari calon suami terbaik itu harus dilakukan sejak dini, Kak, agar tidak salah pilih dan menyesal di kemudian hari," balas Aira enteng tanpa ada rasa malu sedikit pun.

​Arkan memilih untuk menutup mulutnya kembali, menggelengkan kepala melihat kelihaian Aira yang selalu menemukan celah untuk membalikkan setiap argumennya.

​"Kak Arkan..." panggil Aira setelah keheningan melanda selama beberapa menit. Ia menoleh sepenuhnya menghadap Arkan. "Kakak jangan menikah dulu dengan wanita lain, ya? Tunggu Aira menyelesaikan kuliah beberapa tahun lagi. Setelah Aira lulus, kita bisa langsung mengurus pernikahan kita."

​Kalimat berani yang meluncur dari mulut Aira seketika membuat fokus Arkan terpecah. Karena terkejut, refleks kakinya menginjak pedal rem dengan cukup dalam, membuat ban mobil berdecit pelan di atas aspal dan tubuh mereka terdorong ke depan. Beruntung, sabuk pengaman berfungsi dengan baik menahan tubuh mereka.

​"Kak Arkan! Kakak mau membuat calon istri Kakak ini mati muda, ya?! Nanti kalau Aira tidak ada, Kakak mau menikah dengan siapa?!" omel Aira panik sambil mengelus dadanya yang berdebar kencang akibat syok.

​Sementara itu, Arkan masih terpaku memegang kemudi. Pria dewasa itu menarik napas dalam-dalam, menetralkan keterkejutannya sebelum kembali menginjak pedal gas dan melanjutkan perjalanan mereka dalam keheningan yang sarat akan getaran aneh di sudut hatinya.

​Bersambung__

_____

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!