NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 - MASA LALU SANG BAYANGAN

Hujan turun makin deras, menghantam kaca depan sedan abu-abu itu dengan suara berisik yang monoton. Wiper mobil bergerak ke kiri dan ke kanan, menyapu air yang menghalangi pandangan. Kael menyetir dengan sangat tenang menembus jalanan kota yang lengang di jam dua dini hari.

Dari arah bagasi di belakang, sayup-sayup masih terdengar suara rintihan tertahan dan bunyi benturan pelan. Leon rupanya udah sadar dari pingsannya dan sekarang lagi menggeliat-geliat panik di ruang sempit dan gelap itu. Kael sama sekali nggak peduli. Otaknya udah *setting* mode *mute* buat tikus pengkhianat itu.

Kael melirik sekilas ke arah tangan kirinya yang berada di atas setir. Ada bercak darah segar milik Leon yang menempel di sela-sela jarinya. Bau karat darah yang bercampur dengan udara dingin dari AC mobil tiba-tiba memicu sesuatu di dalam kepalanya. Sesuatu yang udah lama banget berlalu.

Udara dingin. Bau anyir darah. Dan rasa sakit yang meremukkan tulang.

Ingatan Kael terlempar mundur jauh ke sepuluh tahun yang lalu.

***

*Kilas Balik - Sepuluh Tahun Lalu.*

Arena pertarungan liar bawah tanah di sektor barat kota itu lebih mirip kayak neraka bocor daripada tempat judi. Asap rokok tebal, bau alkohol murahan, keringat, dan teriakan orang-orang gila yang haus darah memenuhi udara yang pengap.

Di tengah-tengah ring berpagar kawat besi, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun tergeletak tak berdaya di atas lantai kanvas yang bersimbah darah. Kael.

Napas Kael putus-putus. Dadanya naik turun dengan cepat, tapi setiap kali dia narik napas, rasa sakit yang luar biasa menusuk paru-parunya. Tiga tulang rusuknya patah, pelipisnya sobek parah, dan mata kirinya bengkak parah sampai nggak bisa dibuka. Dia baru aja menangin pertarungan brutal melawan tiga pria berbadan raksasa sekaligus. Promotor ring malam itu sengaja mencuranginya. Kael disuruh ngalah di ronde ketiga demi uang taruhan, tapi sifat keras kepalanya nolak. Dia malah menghabisi ketiga lawannya sampai sekarat.

Sebagai bayarannya, promotor itu ngirim puluhan anak buahnya buat mengeroyok Kael pakai tongkat bisbol dan rantai besi setelah penonton bubar. Kael ngelawan sekuat tenaga, mematahkan beberapa lengan dan kaki mereka, tapi pada akhirnya dia kalah jumlah.

Sekarang, Kael dibiarkan tergeletak begitu aja di tengah ring kotor, menunggu waktu sampai paru-parunya penuh oleh darahnya sendiri dan mati kelonjotan.

"Buang aja anak ini ke laut. Udah nggak ada gunanya," sayup-sayup Kael dengar suara si promotor dari luar ring.

Kael memejamkan mata kanannya yang masih berfungsi. Inikah akhirnya? Hidup sebagai anjing jalanan, mati sebagai sampah di tempat bau pesing ini. Nggak ada yang peduli, nggak ada yang bakal nangis.

*Tuk, tuk, tuk.*

Suara langkah sepatu yang sangat rapi dan elegan terdengar mendekat. Langkah itu berbeda dari suara sepatu *boots* kasar milik para preman di sana.

Tiba-tiba, bau amis di sekitar Kael tersapu oleh aroma parfum mewah. Wangi *vanilla* dan mawar yang lembut tapi punya karakter tegas.

Kael memaksa membuka mata kanannya yang berlumuran darah. Silau lampu gantung arena membuatnya mengernyit. Namun, di antara cahaya silau itu, dia melihat dua sosok berdiri di luar pagar kawat, tepat di depan tempatnya tergeletak.

Sosok pertama adalah seorang pria paruh baya dengan aura berkuasa yang sangat pekat. Mendiang ayah Valeria, bos besar klan saat itu. Dan di sebelahnya, berdiri seorang gadis remaja berusia belasan tahun.

Itu adalah pertama kalinya Kael melihat Valeria.

Valeria remaja memakai *dress* selutut berwarna hitam dengan mantel mahal yang menutupi bahunya. Wajahnya cantik luar biasa, tapi matanya... mata gadis itu sedingin es abadi. Nggak ada rasa takut, jijik, atau kasihan melihat Kael yang udah kayak daging cincang.

"Ini petarung yang Papa bilang paling buas itu? Yang nggak pernah kalah?" tanya Valeria remaja dengan suara yang tenang, memiringkan kepalanya sedikit menatap Kael.

"Benar. Tapi lupakan saja, Val. Anak ini sudah hancur. Tulangnya remuk semua. Dia nggak akan bertahan sampai besok pagi. Papa akan carikan anjing penjaga lain yang lebih terlatih buatmu," jawab ayahnya datar, siap berbalik pergi.

"Tunggu, Pa," tahan Valeria pelan.

Gadis itu melangkah lebih dekat ke kawat besi. Dia berjongkok perlahan agar wajahnya sejajar dengan Kael yang terkapar di lantai ring.

Mata elang Kael yang biasanya beringas dan siap menerkam siapa aja, entah kenapa terpaku menatap mata Valeria. Ada sesuatu dari tatapan gadis ini yang bikin insting buas Kael terdiam. Valeria nggak ngeliat Kael sebagai monster yang harus ditakuti, dan juga nggak ngeliat Kael sebagai orang cacat yang harus dikasihani. Valeria menatapnya layaknya melihat sebuah pedang tajam yang tergeletak di lumpur. Pedang yang belum selesai ditempa.

"Matanya belum mati, Pa. Coba lihat," ucap Valeria tanpa menoleh ke ayahnya. "Dia masih mau gigit orang yang ngerendahin dia. Aku mau yang ini."

Ayahnya cuma menghela napas pasrah, udah hafal sama sifat keras kepala putri tunggalnya.

Valeria menyodorkan wajahnya lebih dekat ke sela-sela kawat besi.

"Namamu siapa?" tanya Valeria langsung.

Kael membuka mulutnya, tapi yang keluar cuma darah kental. Dia terbatuk pelan, menahan rasa sakit yang merobek dadanya. "K-Kael..."

"Dengerin baik-baik, Kael," ucap Valeria tegas, sama sekali nggak ada nada gemetar di suaranya. "Kamu punya dua pilihan malam ini. Pilihan pertama, kamu nyerah, mati pelan-pelan di lantai bau pesing ini, dan besok pagi mayatmu dilupain begitu aja sama orang-orang yang udah nginjek-nginjek harga dirimu."

Valeria menjeda kalimatnya, membiarkan ancaman kematian itu meresap ke otak Kael. Gadis itu lalu merogoh saku mantelnya, mengeluarkan sebuah sapu tangan sutra berwarna putih bersih, lalu menyelipkannya melewati kawat besi hingga jatuh tepat di samping wajah Kael.

"Pilihan kedua," lanjut Valeria dengan senyum tipis yang mematikan. "Kamu bangun, ikut aku keluar dari tempat sampah ini, dan aku janjiin kamu sebuah tempat di mana nggak ada satu pun orang yang berani natap kamu rendah lagi. Tapi syaratnya berat. Mulai detik ini, nyawamu bukan milikmu lagi. Nyawamu milikku. Kamu bakal jadi bayanganku, pedangku, dan tamengku. Kamu bakal hidup cuma buat aku."

Kael tertegun. Di saat seluruh dunia membuangnya layaknya barang rongsokan, gadis remaja di depannya ini menawarinya sebuah tujuan. Sebuah alasan mutlak untuk terus bernapas.

Darah di tubuh Kael seolah mendidih kembali, menolak untuk berhenti mengalir. Adrenalin aneh memompa jantungnya yang nyaris mati.

Dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, dan rasa sakit yang bikin matanya berkunang-kunang, Kael memaksa tangannya bertumpu pada lantai kanvas. Otot-ototnya menjerit, tapi dia terus mendorong tubuhnya naik. Perlahan-lahan, Kael bangkit ke posisi berlutut dengan satu kaki. Napasnya terengah-engah parah, darah menetes dari pelipisnya membasahi lantai.

Kael meraih sapu tangan sutra putih itu dengan tangannya yang gemetar, menggenggamnya erat-erat seolah itu adalah jimat penyelamat nyawa.

Pria itu mendongak, menatap Valeria dengan mata kanannya yang menyala penuh pengabdian mutlak. Topeng monster liarnya hancur malam itu, digantikan oleh kesetiaan anjing penjaga yang nggak akan pernah luntur sampai kiamat.

"Nyawaku... milikmu," sumpah Kael serak.

Valeria tersenyum puas. Gadis itu berdiri, menoleh ke arah ayahnya. "Bawa dia ke rumah, Pa. Panggilkan dokter terbaik. Mulai besok, dia bayanganku."

***

*Kembali ke masa sekarang.*

Guncangan ringan saat mobil melewati polisi tidur mengembalikan kesadaran Kael sepenuhnya.

Sedan abu-abu itu berbelok masuk ke pelataran *basement* VIP gedung utama klan. Suasana *basement* sangat sepi, penjagaan di pintu masuk sudah dikoordinasikan oleh Bastian sehingga Kael bisa masuk tanpa harus melewati banyak pemeriksaan mencolok.

Kael memarkirkan mobilnya di dekat lift pribadi Valeria, mematikan mesin, dan diam sejenak di balik kemudi. Dia menarik napas panjang. Ingatan masa lalu itu selalu bikin Kael sadar kenapa dia mau ngelakuin semua hal gila ini. Nggak peduli disuruh bunuh orang, nahan peluru *sniper*, atau mengubur perasaannya sendiri dalam-dalam.

Selama Valeria masih duduk di atas takhta, Kael akan terus menjadi bayangan yang sempurna. Sesuai janjinya sepuluh tahun lalu.

Kael membuka pintu mobil dan keluar. Hawa dingin *basement* menyambutnya. Pria itu berjalan memutari mobil menuju bagasi belakang. Tangannya dengan santai menekan tombol pembuka bagasi.

*Klik.*

Pintu bagasi terbuka ke atas. Leon langsung menyipitkan mata karena silau lampu *basement*. Pria itu terbaring meringkuk dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Jas mahalnya kotor berlumuran noda darah, telapak tangan kanannya yang tadi ditusuk pisau dibalut asal-asalan pakai robekan kain kemejanya sendiri. Wajah Leon pucat pasi penuh keringat dingin.

"K-Kael... ampun, Kael..." rintih Leon, tubuhnya bergetar hebat saat melihat bayangan Kael yang menjulang di depannya.

"Berdiri," perintah Kael dingin tanpa basa-basi.

"T-tangan gue sakit banget... gue nggak bisa bangun," tangis Leon memelas, berharap ada sedikit simpati dari monster di depannya.

Kael sama sekali nggak tergerak. Dengan wajah datar, tangan kiri Kael menjulur masuk ke dalam bagasi, mencengkeram kerah kemeja Leon dengan kuat, lalu menarik pria buncit itu keluar dengan satu sentakan kasar.

"GAAH!" Leon berteriak tertahan saat tubuhnya terseret dan jatuh berdebum ke lantai beton *basement*. Rasa ngilu dari tangannya yang bolong langsung menyebar ke seluruh tubuh.

"Nyonya benci orang yang lambat. Jalan sendiri ke lift, atau saya seret kamu dari rambutmu," ancam Kael berdiri menjulang di atas Leon. Matanya menatap jijik ke arah pengkhianat itu.

Leon buru-buru mengangguk panik. Dengan susah payah dan napas terengah-engah, dia memaksa dirinya berdiri. Tubuhnya agak limbung, tapi tatapan maut Kael memaksanya untuk terus melangkah menuju lift pribadi.

Kael berjalan tepat di belakang Leon, menempelkan kartu aksesnya di panel lift, lalu menekan tombol lantai 50.

Pintu lift tertutup. Suasana di dalam kotak baja itu terasa sangat mencekam. Leon menyudutkan dirinya di pojokan, nggak berani menatap mata Kael. Dia tahu persis reputasi kekejaman Valeria dalam menyiksa pengkhianat. Dan sekarang, dia lagi diantar langsung oleh algojo andalan sang ratu.

Saat angka di atas pintu lift menunjukkan lantai 50, Kael merapikan kerah jaket kulitnya sebentar.

*Ting.*

Pintu lift terbuka, langsung terhubung dengan lorong yang menuju ruang kerja Valeria.

Kael mendorong punggung Leon dengan kasar, memaksa pria itu melangkah keluar dari lift. "Waktunya menghadap Ratumu, pengkhianat."

1
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!