NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Srek srek srek.

Suara sapu lidi bergesekan dengan lantai semen terdengar sejak jam tiga sore.

Maya dengan semangat membersihkan debu-debu di teras depan kamar nomor satu.

Hari ini adalah hari ketiga Maya resmi menjabat sebagai asisten Kos Putra Putri Melati.

Gadis itu sangat bersyukur karena tugasnya ternyata jauh lebih ringan dari bayangannya.

Ceklek.

Pintu kamar nomor satu terbuka lebar dari luar.

Rahman baru saja kembali dari warung Mpok Siti membawa sekantong kecil kerupuk.

"Sudah selesai menyapunya, asisten?" tanya Rahman dengan nada bos besar.

"Sudah bersih mengkilap, Bos Rahman!" jawab Maya sambil hormat ala tentara.

"Tinggal merapikan meja kerja bapak di dalam, sesuai perintah tadi pagi."

"Ya sudah, kerjakan cepat."

"Jangan sentuh laci bawah, di situ tempat aku menyimpan dokumen penting."

Rahman memperingatkan sambil duduk di kursi terasnya untuk bersantai.

"Siap laksanakan!"

Maya segera masuk ke dalam kamar bapak kosnya itu dengan membawa kemoceng.

Kamar Rahman terlihat sangat sederhana untuk ukuran orang yang memiliki banyak properti.

Hanya ada satu ranjang besi tua, lemari kayu jati, dan sebuah meja kerja yang penuh tumpukan kertas.

Maya mulai mengibaskan kemocengnya ke sela-sela buku catatan di atas meja.

Tap tap tap.

Gerakan Maya yang terlalu bersemangat membuat sebuah kotak kayu kecil di sudut meja tersenggol.

Bruk.

Kotak kayu itu jatuh ke lantai dan isinya berhamburan keluar.

"Aduh, gawat!" gumam Maya panik.

Ia buru-buru berjongkok untuk memunguti barang-barang yang berserakan.

Di antara beberapa nota tua dan kuitansi pudar, mata Maya tertuju pada sebuah buku catatan kecil bersampul kulit kusam.

Buku itu terlihat sangat tua, bagian pinggir kertasnya sudah menguning dan sedikit rapuh.

Karena posisi jatuhnya terbuka, Maya tidak sengaja membaca tulisan tangan yang ada di halaman tersebut.

Tulisan itu menggunakan tinta biru yang sudah agak luntur.

"Hari ini aku menyerahkan seluruh tabungan usahaku kepada adikku, Hasan."

"Hasan bilang dia butuh modal tambahan untuk proyek besarnya di kota."

"Sebagai kakak, aku percaya padanya, uang bisa dicari lagi tapi keluarga adalah segalanya."

Mata Maya sedikit membelalak membaca kalimat tersebut.

"Keluarga adalah segalanya?" batin Maya tidak percaya.

Kalimat itu sangat bertolak belakang dengan sifat Pak Rahman yang sekarang sangat gila harta.

Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya.

Maya membalik ke halaman berikutnya yang bertanggal dua tahun setelah halaman pertama.

"Hasan menipuku."

"Semua uangku dibawa kabur untuk melunasi hutang judinya, bukan untuk proyek."

"Rumah orang tua kami disita bank karena dia menjadikannya jaminan diam-diam."

"Saat aku jatuh miskin dan sakit, tidak ada satu pun dari mereka yang mau menolongku."

Maya menutupi mulutnya dengan sebelah tangan.

Dadanya tiba-tiba terasa sesak membaca rentetan kalimat bernada keputusasaan itu.

"Mulai hari ini, aku tidak akan pernah percaya lagi pada siapa pun."

"Hanya uang yang tidak akan pernah berkhianat."

"Aku akan merebut kembali semuanya, tidak peduli orang memanggilku lintah darat sekalipun."

Air mata menetes pelan dari sudut mata Maya.

Kini ia mengerti segalanya.

Sifat pelit dan kasar Pak Rahman bukanlah bawaan lahir, melainkan luka masa lalu akibat dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.

"Apa yang kamu baca itu, anak nakal?!"

Suara bentakan keras dari ambang pintu membuat Maya terlonjak kaget.

Sret.

Rahman dengan cepat merebut buku harian tua itu dari tangan Maya.

Wajah pria tua itu memerah menahan marah, matanya menatap Maya dengan sangat tajam.

"M-maaf Pak Rahman, tadi kotaknya tidak sengaja jatuh."

"Saya tidak bermaksud mengintip barang pribadi bapak," ucap Maya ketakutan sambil menunduk.

"Sudah kubilang jangan sentuh barang-barangku sembarangan!"

"Keluar kamu sekarang juga, tugasku hari ini sudah selesai!" usir Rahman sambil menunjuk ke arah pintu.

Maya segera berdiri dan berjalan keluar kamar dengan langkah gontai.

"Sekali lagi saya minta maaf, Pak."

"Tapi sekarang saya tahu, bapak sebenarnya orang yang sangat baik," ucap Maya pelan sebelum benar-benar keluar.

Mendengar ucapan itu, tangan Rahman yang memegang buku harian sedikit bergetar.

Brak!

Ia menutup pintunya dengan keras dan menguncinya dari dalam.

Rahman menyandarkan punggungnya ke pintu sambil memeluk buku tua itu.

"Gadis bodoh, sok tahu sekali dia menilai masa laluku," gumam Rahman pelan.

Di luar, Maya baru saja meletakkan sapunya ketika sebuah mobil sedan hitam mengkilap masuk ke halaman kontrakan.

Brummm.

Suara mesin mobil mewah itu memecah keheningan sore.

Beberapa penyewa yang sedang bersantai di luar kamar langsung menoleh penasaran.

Budi yang baru pulang kerja juga ikut berhenti di dekat gerbang.

Pintu kemudi terbuka, menampilkan seorang pria paruh baya berpakaian rapi dengan jas mahal.

Pria itu memakai kacamata hitam dan menyisir rambutnya dengan klimis.

Wajahnya memiliki sedikit kemiripan dengan Pak Rahman, namun terlihat lebih muda dan sangat arogan.

"Permisi, paman saya yang tua bangka itu ada di dalam?" tanya pria itu kepada Maya.

Maya mengerutkan keningnya, merasa tidak suka dengan nada bicara pria tersebut.

"Paman? Bapak ini siapa ya?"

Pria itu melepas kacamata hitamnya dengan gaya sombong.

"Saya Hendra, keponakan dari Rahman Affandi si pemilik tempat rongsokan ini."

"Panggil dia keluar sekarang, saya tidak punya banyak waktu!" perintah Hendra ketus.

Mendengar nama Hendra, Maya langsung teringat pada suara di telepon saat di rumah sakit tempo hari.

Inilah pria yang menyumpahi Pak Rahman agar cepat mati.

Darah Maya mendidih seketika melihat wajah sombong di depannya ini.

"Oh, jadi Anda keponakan yang menolak datang saat Pak Rahman kritis kemarin?" sindir Maya tajam.

Hendra tersenyum sinis dan melipat tangannya di dada.

"Bukan urusanmu, gadis miskin."

"Minggir, biar saya sendiri yang masuk ke kandangnya."

Ceklek.

Pintu kamar nomor satu terbuka sebelum Hendra sempat melangkah maju.

Rahman keluar dengan wajah yang sangat dingin, Aura Tuan Tanahnya langsung memancar kuat.

"Mau apa kau datang ke sini, Hendra?"

"Bukankah kau bilang tidak sudi menginjakkan kaki di tanah milikku?" sambut Rahman tanpa basa-basi.

Hendra sedikit tersentak merasakan aura intimidasi dari pamannya itu.

Namun ia berusaha menutupi kegugupannya dengan tawa palsu.

"Hahaha, Paman Rahman ternyata masih hidup ya."

"Saya dengar paman masuk rumah sakit gara-gara serangan jantung."

"Saya datang ke sini murni karena peduli pada kondisi paman," ucap Hendra penuh kepalsuan.

"Simpan omong kosongmu itu untuk rekan bisnismu."

"Katakan apa maumu lalu cepat pergi dari sini!" usir Rahman tegas.

Hendra mendecak kesal, merasa basa-basinya tidak berguna.

"Baiklah kalau paman mau langsung ke intinya."

"Saya datang untuk meminta sertifikat asli tanah kontrakan ini."

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!