NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Srek srek srek.
Suara sapu lidi bergesekan dengan lantai semen terdengar sejak jam tiga sore.
Maya dengan semangat membersihkan debu-debu di teras depan kamar nomor satu.
Hari ini adalah hari ketiga Maya resmi menjabat sebagai asisten Kos Putra Putri Melati.
Gadis itu sangat bersyukur karena tugasnya ternyata jauh lebih ringan dari bayangannya.
Ceklek.
Pintu kamar nomor satu terbuka lebar dari luar.
Rahman baru saja kembali dari warung Mpok Siti membawa sekantong kecil kerupuk.
"Sudah selesai menyapunya, asisten?" tanya Rahman dengan nada bos besar.
"Sudah bersih mengkilap, Bos Rahman!" jawab Maya sambil hormat ala tentara.
"Tinggal merapikan meja kerja bapak di dalam, sesuai perintah tadi pagi."
"Ya sudah, kerjakan cepat."
"Jangan sentuh laci bawah, di situ tempat aku menyimpan dokumen penting."
Rahman memperingatkan sambil duduk di kursi terasnya untuk bersantai.
"Siap laksanakan!"
Maya segera masuk ke dalam kamar bapak kosnya itu dengan membawa kemoceng.
Kamar Rahman terlihat sangat sederhana untuk ukuran orang yang memiliki banyak properti.
Hanya ada satu ranjang besi tua, lemari kayu jati, dan sebuah meja kerja yang penuh tumpukan kertas.
Maya mulai mengibaskan kemocengnya ke sela-sela buku catatan di atas meja.
Tap tap tap.
Gerakan Maya yang terlalu bersemangat membuat sebuah kotak kayu kecil di sudut meja tersenggol.
Bruk.
Kotak kayu itu jatuh ke lantai dan isinya berhamburan keluar.
"Aduh, gawat!" gumam Maya panik.
Ia buru-buru berjongkok untuk memunguti barang-barang yang berserakan.
Di antara beberapa nota tua dan kuitansi pudar, mata Maya tertuju pada sebuah buku catatan kecil bersampul kulit kusam.
Buku itu terlihat sangat tua, bagian pinggir kertasnya sudah menguning dan sedikit rapuh.
Karena posisi jatuhnya terbuka, Maya tidak sengaja membaca tulisan tangan yang ada di halaman tersebut.
Tulisan itu menggunakan tinta biru yang sudah agak luntur.
"Hari ini aku menyerahkan seluruh tabungan usahaku kepada adikku, Hasan."
"Hasan bilang dia butuh modal tambahan untuk proyek besarnya di kota."
"Sebagai kakak, aku percaya padanya, uang bisa dicari lagi tapi keluarga adalah segalanya."
Mata Maya sedikit membelalak membaca kalimat tersebut.
"Keluarga adalah segalanya?" batin Maya tidak percaya.
Kalimat itu sangat bertolak belakang dengan sifat Pak Rahman yang sekarang sangat gila harta.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya.
Maya membalik ke halaman berikutnya yang bertanggal dua tahun setelah halaman pertama.
"Hasan menipuku."
"Semua uangku dibawa kabur untuk melunasi hutang judinya, bukan untuk proyek."
"Rumah orang tua kami disita bank karena dia menjadikannya jaminan diam-diam."
"Saat aku jatuh miskin dan sakit, tidak ada satu pun dari mereka yang mau menolongku."
Maya menutupi mulutnya dengan sebelah tangan.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak membaca rentetan kalimat bernada keputusasaan itu.
"Mulai hari ini, aku tidak akan pernah percaya lagi pada siapa pun."
"Hanya uang yang tidak akan pernah berkhianat."
"Aku akan merebut kembali semuanya, tidak peduli orang memanggilku lintah darat sekalipun."
Air mata menetes pelan dari sudut mata Maya.
Kini ia mengerti segalanya.
Sifat pelit dan kasar Pak Rahman bukanlah bawaan lahir, melainkan luka masa lalu akibat dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.
"Apa yang kamu baca itu, anak nakal?!"
Suara bentakan keras dari ambang pintu membuat Maya terlonjak kaget.
Sret.
Rahman dengan cepat merebut buku harian tua itu dari tangan Maya.
Wajah pria tua itu memerah menahan marah, matanya menatap Maya dengan sangat tajam.
"M-maaf Pak Rahman, tadi kotaknya tidak sengaja jatuh."
"Saya tidak bermaksud mengintip barang pribadi bapak," ucap Maya ketakutan sambil menunduk.
"Sudah kubilang jangan sentuh barang-barangku sembarangan!"
"Keluar kamu sekarang juga, tugasku hari ini sudah selesai!" usir Rahman sambil menunjuk ke arah pintu.
Maya segera berdiri dan berjalan keluar kamar dengan langkah gontai.
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak."
"Tapi sekarang saya tahu, bapak sebenarnya orang yang sangat baik," ucap Maya pelan sebelum benar-benar keluar.
Mendengar ucapan itu, tangan Rahman yang memegang buku harian sedikit bergetar.
Brak!
Ia menutup pintunya dengan keras dan menguncinya dari dalam.
Rahman menyandarkan punggungnya ke pintu sambil memeluk buku tua itu.
"Gadis bodoh, sok tahu sekali dia menilai masa laluku," gumam Rahman pelan.
Di luar, Maya baru saja meletakkan sapunya ketika sebuah mobil sedan hitam mengkilap masuk ke halaman kontrakan.
Brummm.
Suara mesin mobil mewah itu memecah keheningan sore.
Beberapa penyewa yang sedang bersantai di luar kamar langsung menoleh penasaran.
Budi yang baru pulang kerja juga ikut berhenti di dekat gerbang.
Pintu kemudi terbuka, menampilkan seorang pria paruh baya berpakaian rapi dengan jas mahal.
Pria itu memakai kacamata hitam dan menyisir rambutnya dengan klimis.
Wajahnya memiliki sedikit kemiripan dengan Pak Rahman, namun terlihat lebih muda dan sangat arogan.
"Permisi, paman saya yang tua bangka itu ada di dalam?" tanya pria itu kepada Maya.
Maya mengerutkan keningnya, merasa tidak suka dengan nada bicara pria tersebut.
"Paman? Bapak ini siapa ya?"
Pria itu melepas kacamata hitamnya dengan gaya sombong.
"Saya Hendra, keponakan dari Rahman Affandi si pemilik tempat rongsokan ini."
"Panggil dia keluar sekarang, saya tidak punya banyak waktu!" perintah Hendra ketus.
Mendengar nama Hendra, Maya langsung teringat pada suara di telepon saat di rumah sakit tempo hari.
Inilah pria yang menyumpahi Pak Rahman agar cepat mati.
Darah Maya mendidih seketika melihat wajah sombong di depannya ini.
"Oh, jadi Anda keponakan yang menolak datang saat Pak Rahman kritis kemarin?" sindir Maya tajam.
Hendra tersenyum sinis dan melipat tangannya di dada.
"Bukan urusanmu, gadis miskin."
"Minggir, biar saya sendiri yang masuk ke kandangnya."
Ceklek.
Pintu kamar nomor satu terbuka sebelum Hendra sempat melangkah maju.
Rahman keluar dengan wajah yang sangat dingin, Aura Tuan Tanahnya langsung memancar kuat.
"Mau apa kau datang ke sini, Hendra?"
"Bukankah kau bilang tidak sudi menginjakkan kaki di tanah milikku?" sambut Rahman tanpa basa-basi.
Hendra sedikit tersentak merasakan aura intimidasi dari pamannya itu.
Namun ia berusaha menutupi kegugupannya dengan tawa palsu.
"Hahaha, Paman Rahman ternyata masih hidup ya."
"Saya dengar paman masuk rumah sakit gara-gara serangan jantung."
"Saya datang ke sini murni karena peduli pada kondisi paman," ucap Hendra penuh kepalsuan.
"Simpan omong kosongmu itu untuk rekan bisnismu."
"Katakan apa maumu lalu cepat pergi dari sini!" usir Rahman tegas.
Hendra mendecak kesal, merasa basa-basinya tidak berguna.
"Baiklah kalau paman mau langsung ke intinya."
"Saya datang untuk meminta sertifikat asli tanah kontrakan ini."
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...