NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL24. Pulang ke Rumah

Sejak pesan pertama itu masuk, Qiera mulai terbiasa memeriksa ponselnya dengan perasaan was-was.

Awalnya, ia berusaha menganggapnya sebagai lelucon buruk dari seseorang yang tidak memiliki kerjaan lain. Namun, pesan-pesan berikutnya membuatnya sulit terus berpura-pura tidak peduli.

Nomor tak dikenal itu kembali mengirimkan kalimat singkat pada jam-jam yang tidak menentu, terkadang ketika Qiera sedang berada di kampus, terkadang saat ia baru selesai rapat BEM, bahkan sekali ketika ia sedang berjalan bersama Nisa menuju perpustakaan.

📲Rahasiamu tidak akan bertahan selamanya.

Pesan lain menyusul beberapa jam kemudian.

📲Berapa lama lagi kamu akan berpura-pura menjadi mahasiswi biasa di hadapan suamimu sendiri?

Qiera membaca kalimat itu dengan dahi berkerut. Jarinya sempat bergerak untuk membalas, tetapi ia mengurungkan niat. Ia sudah belajar bahwa menanggapi pesan semacam itu hanya akan memberi pengirimnya kesempatan untuk terus mengusik. Sebagai gantinya, ia menyimpan tangkapan layar dan mencatat waktu pesan tersebut diterima.

Ia belum menceritakannya kepada Ravi.

Bukan karena tidak percaya kepada suaminya, melainkan karena ia belum tahu bagaimana memulai percakapan itu tanpa membuat Ravi kembali mengkhawatirkannya.

Kondisi punggung pria itu memang semakin membaik, tetapi Qiera masih ingat bagaimana wajah Ravi berubah serius ketika mereka membicarakan pesan sebelumnya. Ia tidak ingin menambah beban pikirannya sebelum mereka mengetahui siapa pengirimnya.

Setidaknya, itulah alasan yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.

Padahal, ada bagian kecil dalam dirinya yang takut jika pertanyaan tentang masa lalu itu benar-benar memiliki jawaban yang tidak pernah ia bayangkan.

Sembilan tahun lalu.

Apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu?

Dan mengapa seseorang begitu ingin ia mengetahuinya?

“Qiera!”

Panggilan Nisa membuatnya tersentak. Ia buru-buru mematikan layar ponsel, lalu menoleh kepada sahabatnya yang berdiri di samping meja kantin dengan dua gelas minuman.

“Kamu melamun lagi,” kata Nisa sambil meletakkan salah satu gelas di hadapannya. “Belakangan ini kamu aneh. Kalau bukan karena tugas, pasti karena ponsel.”

Qiera menerima minuman itu. “Aku sedang banyak pikiran.”

“Masalah BEM?”

“Sedikit.”

“Sedikit atau banyak?”

“Kenapa, sih, kamu seperti dosen yang sedang menginterogasiku?”

Nisa mendengus. “Karena kalau ditanya baik-baik, kamu selalu mengelak. Aku jadi harus meningkatkan metode pemeriksaan.”

Qiera tertawa kecil, meskipun kegelisahan di dadanya belum benar-benar hilang. Ia bersyukur Nisa tidak memaksa lebih jauh. Mereka kemudian membicarakan jadwal kegiatan fakultas, tugas yang harus dikumpulkan minggu depan, dan rencana menghabiskan akhir pekan dengan tidur seharian.

Sayangnya, rencana terakhir itu tidak berlaku bagi Qiera.

Begitu tiba di apartemen pada Jumat sore, ia mendapati Ravi sedang berbicara dengan Mamanya melalui panggilan video. Pria itu duduk di sofa dengan pakaian rumah, sementara laptopnya terbuka di meja. Melihat Qiera masuk, ia memberi isyarat agar istrinya mendekat.

“Lily, Mama ingin bicara.”

Senyum langsung mengembang di wajah Qiera, Ia pun langsung menghampiri Ravi. “Halo, Ma!”

Wajah Mama muncul di layar dengan senyum lebar. “Nah, ini anak Mama baru pulang? Sudah makan belum, Nak?”

“Belum, Ma. Tadi masih ada urusan di kampus.”

“Makanya, jangan terlalu sibuk. Kamu itu baru menikah, harus tetap menjaga kesehatan.”

Qiera melirik Ravi, yang tampak berusaha menyembunyikan senyum. “Iya, Ma. Aku baik-baik saja.”

“Kalau begitu, akhir pekan ini kalian menginap di rumah, ya. Papa juga sudah bertanya kapan kalian mau datang. Rumah sepi sekali sejak kamu pindah.”

Kalimat itu membuat ekspresi Qiera langsung berubah cerah. “Serius, Ma?”

“Tentu saja. Mama kangen. Papa juga, meskipun gengsi mengatakannya sendiri.”

Dari kejauhan, terdengar suara Papa yang menyanggah, membuat Mama tertawa. Qiera ikut tertawa, dan untuk pertama kalinya sepanjang hari, pikirannya terasa sedikit lebih ringan.

“Mas, kita menginap di rumah Papa Mama, ya?” tanyanya kepada Ravi setelah panggilan berakhir.

Ravi menutup laptop. “Tentu. Kalau kamu ingin pulang, kita berangkat besok pagi.”

Qiera menatapnya dengan senyum lebar. “Aku ingin sekarang!”

“Sekarang?”

“Iya. Aku kangen Mama Papa.”

Ravi mengamati wajah istrinya yang mendadak bersemangat. “Baiklah. Beri saya waktu untuk merapikan barang.”

Qiera langsung berlari menuju kamar untuk menyiapkan tas, meninggalkan Ravi yang hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.

Ada sesuatu yang selalu terasa berbeda setiap kali Qiera membicarakan rumah orang tuanya. Perempuan itu menjadi lebih ceria, lebih banyak bicara, dan tidak ragu menunjukkan sisi manjanya.

Dan Ravi menyukai sisi itu. Ia hanya berharap suatu hari nanti Qiera juga bisa merasa sebebas itu di rumah mereka sendiri.

...🌵🌵🌵...

Rumah orang tua Qiera menyambut mereka dengan aroma masakan yang memenuhi ruang makan. Mama langsung memeluk putrinya begitu mereka tiba, sementara Papa menyambut Ravi dengan jabat tangan hangat dan tepukan ringan di bahu.

“Bagaimana keadaanmu sekarang, Ravi?” tanya Papa. “Sudah benar-benar pulih?”

“Sudah jauh lebih baik, Pa. Saya masih harus berhati-hati, tetapi dokter mengatakan pemulihannya berjalan baik.”

Papa mengangguk lega. “Syukurlah. Kami masih merasa tidak enak karena kamu sampai terluka saat melindungi Qiera.”

Ravi menggeleng. “Papa tidak perlu merasa begitu. Saya tidak ingin Qiera kenapa-kenapa.”

Papa menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum tulus. “Terima kasih sudah menjaga putri kami.”

Ucapan itu membuat Ravi terdiam sejenak. Ia kemudian mengangguk dengan sopan, menyimpan kehangatan yang muncul di dadanya.

Selama ini, ia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Qiera tanpa mengharapkan pujian. Namun, mendengar kepercayaan dari orang tua perempuan itu membuatnya merasa bahwa tanggung jawabnya sebagai suami bukan sekadar status di atas kertas.

Di sisi lain, Mama sudah menggandeng Qiera menuju dapur, menanyakan banyak hal tentang kehidupan mereka di apartemen.

Qiera menjawab dengan riang, meskipun ia sengaja melewatkan beberapa bagian yang terlalu memalukan untuk diceritakan, termasuk kejadian kecupan yang salah sasaran dan ritual mencukur wajah Ravi yang berakhir dengan luka kecil di dagunya.

“Ravi itu bagaimana di rumah?” tanya Mama sambil mengaduk masakan.

Qiera berpikir sebentar. “Menyebalkan.”

Mama langsung tertawa. “Masa, sih?”

“Benar! Dia suka sekali menggodaku. Terus kalau aku menyuruhnya istirahat, dia malah membuka laptop. Kalau aku melarang, dia punya seribu alasan.”

“Kalau begitu, kamu harus sabar. Dari dulu Ravi memang terbiasa mengurus dirinya sendiri.”

Qiera terdiam sejenak. “Tapi sekarang ada aku, Ma.”

Kalimat itu keluar begitu saja, membuat Mama menoleh kepadanya dengan senyum lembut. Qiera baru menyadari apa yang dikatakannya setelah beberapa detik berlalu. Ia buru-buru kembali mengaduk masakan, berpura-pura sangat sibuk.

Mama tidak menggoda. Ia hanya mengusap lengan putrinya dengan lembut.

“Iya, Qie. Sekarang ada kamu.”

Dan entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat hati Qiera terasa hangat.

...🌖🌖🌖...

Malam semakin larut ketika Papa dan Mama akhirnya masuk ke kamar mereka. Setelah membantu membereskan ruang makan, Qiera mengantar Ravi menuju kamar lamanya di lantai atas.

Kamar itu masih menyimpan banyak kenangan masa kecilnya, rak buku yang dipenuhi novel, meja belajar dengan beberapa bekas coretan kecil, serta boneka lama yang masih duduk di atas lemari.

Ravi berdiri di ambang pintu, memperhatikan ruangan itu dengan senyum tipis. “Jadi, ini tempat kamu menghabiskan masa kecil?”

Qiera mengangguk bangga. “Iya. Dulu aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sini.”

“Pantas kamu masih suka menyimpan banyak barang.”

Qiera langsung menoleh. “Mas menyindir?”

“Saya hanya menyampaikan pengamatan.”

“Mas itu kalau bicara memang tidak pernah bisa menyenangkan orang?”

“Bisa. Tergantung orangnya.”

Qiera menyipitkan mata. “Maksudnya?”

Ravi mengangkat bahu, lalu berjalan masuk. “Tidak ada.”

Qiera mendengus dan meletakkan tasnya di dekat lemari. Ia kemudian menoleh ke arah ranjang kecil yang menempati sebagian besar ruangan.

Kasur itu masih sama seperti ketika ia tinggal di rumah tersebut, cukup untuk satu orang tidur dengan nyaman, tetapi jelas bukan pilihan ideal untuk dua orang dewasa.

Senyum Qiera perlahan menghilang.

“Mas,” panggilnya.

“Ya?”

“Sepertinya kita harus mencari cara supaya bisa tidur.”

Ravi mengikuti arah pandangannya. Ia mengamati ranjang itu beberapa saat, lalu menoleh kepada Qiera.

“Saya bisa tidur di sofa ruang tengah.”

Qiera langsung mengerutkan kening. “Sofa?”

“Ya. Saya tidak ingin membuat kamu kesulitan tidur.”

“Tapi punggung Mas belum sepenuhnya pulih.”

“Saya bisa mencari posisi yang nyaman.”

Qiera memandangnya ragu. Ia tahu Ravi tidak ingin merepotkannya, tetapi membayangkan pria itu tidur di sofa dengan kondisi punggung yang masih dalam masa pemulihan membuatnya tidak tenang.

“Mas, jangan keras kepala.”

Ravi tersenyum kecil. “Saya belum melakukan apa-apa.”

“Justru karena itu. Mas selalu bilang baik-baik saja, padahal belum tentu.”

Ia terdiam sebentar, lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan, “Tidur di sini saja. Kita berbagi ranjang.”

Ravi menatapnya.

Qiera langsung merasa wajahnya menghangat. “Maksudku, daripada Mas tidur di sofa dan punggungnya sakit lagi. Lagipula, kita sudah pernah tidur seranjang di apartemen.”

“Benar,” jawab Ravi tenang. “Kalau kamu tidak keberatan.”

“Aku tidak keberatan.”

Jawaban itu keluar terlalu cepat dari bibirnya.

Ravi mengangkat alis, tetapi tidak berkomentar. Ia hanya mengangguk dan mulai bersiap untuk tidur, sementara Qiera sibuk mengatur bantal dan selimut dengan keseriusan yang tidak diperlukan.

Malam itu, mereka kembali akan tidur di ranjang yang sama.

Hanya saja, kali ini, ruangan tersebut adalah kamar masa kecil Qiera, tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan sebelum Ravi menjadi bagian dari hidupnya. Dan entah mengapa, pemikiran itu membuat Qiera merasa sedikit gugup.

.

.

To be continued

See you 🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!