Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 — Zero yang Terbaca Aktif
"𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯 𝘕𝘰𝘪𝘳? 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘯𝘪."
Suara petugas perempuan itu menembus dengung mesin yang memenuhi ruang verifikasi CORE.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat wajah.
Di tengah ruangan berdiri sebuah perangkat pemindai berbentuk silinder dengan panel transparan dan deretan sensor yang tersambung ke komputer pengawas. Dua petugas teknis duduk di balik meja, sementara seorang pengawas berdiri sedikit di belakang mereka, mengamati jalannya pemeriksaan.
Beberapa peserta kelompok tujuh masih menunggu giliran di sepanjang dinding.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik napas, lalu melangkah maju.
"𝘛𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯." Petugas perempuan itu tidak mengalihkan mata dari layarnya. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘪𝘥𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘰𝘯𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪, 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘳𝘶𝘬𝘴𝘪."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menempelkan kartunya.
Bip!
[IDENTITAS PESERTA TERVERIFIKASI]
Nama: 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿
Status: Calon Peserta Seleksi Hunter
Kelompok: 07
Pintu perangkat bergeser terbuka.
Namun, sebelum 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sempat melangkah masuk, petugas laki-laki di sebelahnya mengangkat tangan.
"𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳."
Jarinya bergerak cepat di atas papan ketik. Ia membaca sesuatu di layar, lalu menyenggol lengan rekannya.
"𝘙𝘪𝘸𝘢𝘺𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘢𝘭𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘯𝘦𝘩. 𝘊𝘰𝘣𝘢 𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢."
Petugas perempuan itu menggeser kursinya mendekat.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak bisa melihat seluruh layar dari tempatnya berdiri, tetapi dua baris di bagian atas langsung menangkap matanya.
Compatibility: 99%
Installation: 0% — Riwayat Pemeriksaan
Dadanya terasa sesak.
Angka itu.
Angka yang selama bertahun-tahun seolah menjadi vonis bagi seluruh impiannya.
Sembilan puluh sembilan persen kompatibilitas. Nol persen instalasi.
Ia masih ingat wajah para petugas ketika pemeriksaan pertamanya dinyatakan gagal. Pemeriksaan ulang demi pemeriksaan ulang, angka itu tidak pernah bergeser.
Sejak saat itulah julukan Zero melekat padanya.
"𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯 𝘕𝘰𝘪𝘳?"
Suara petugas laki-laki itu menariknya kembali ke ruangan.
"𝘐𝘺𝘢, 𝘗𝘢𝘬."
"𝘋𝘪 𝘢𝘳𝘴𝘪𝘱, 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘢𝘵𝘪𝘣𝘪𝘭𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪." Petugas itu mengetuk layar dengan ujung pena. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘢𝘭𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭. 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨?"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggeleng.
"𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘪 𝘧𝘢𝘴𝘪𝘭𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘳𝘦𝘴𝘮𝘪 𝘞.𝘏.𝘖, 𝘗𝘢𝘬." Ia berhenti sebentar, memilih kata. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳."
Petugas itu menatapnya sedikit lebih lama daripada yang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sukai.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘚𝘪𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melangkah ke dalam perangkat. Pintu transparan menutup perlahan di belakangnya.
"𝘉𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘨𝘢𝘬. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪."
Cahaya kebiruan menyala dari bagian atas perangkat. Sebuah cincin pemindai turun perlahan, melewati kepala, bahu, dada, hingga kakinya.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bisa mendengar dengung halus yang mengitari tubuhnya.
Beberapa detik berlalu.
Bip!
Petugas laki-laki itu memperhatikan layar komputernya. Keningnya berkerut.
"𝘏𝘮?"
"𝘈𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘗𝘢𝘬?"
Pertanyaan itu keluar lewat pengeras suara sebelum 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sempat menahannya.
"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩." Petugas itu tidak mengangkat kepala. "𝘚𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘤𝘰𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘪𝘸𝘢𝘺𝘢𝘵𝘮𝘶. 𝘚𝘦𝘭𝘪𝘴𝘪𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘫𝘢𝘶𝘩, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘪 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪𝘮𝘶."
Cahaya pemindai kembali bergerak.
Kali ini 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak memperhatikan peralatan di sekelilingnya. Pandangannya tertahan pada pantulan wajahnya sendiri di permukaan transparan.
𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘯𝘰𝘭?
Pikiran itu muncul begitu saja.
Atau lebih buruk lagi: angka yang terlalu aneh untuk bisa ia jelaskan.
Beberapa minggu terakhir, tubuhnya berubah. Tenaganya meningkat, lukanya pulih terlalu cepat, dan ia masih hidup setelah berhadapan dengan BETA.
Semua itu seharusnya sudah cukup menjadi bukti.
Tetapi setelah bertahun-tahun gagal, sebagian kecil dirinya masih takut melihat angka yang sama.
Bip!
Pemindaian kedua selesai.
Di balik meja, kedua petugas membandingkan hasilnya.
"𝘗𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘤𝘰𝘤𝘰𝘬," kata petugas perempuan itu.
"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪?"
"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢. 𝘐𝘥𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘊𝘖𝘙𝘌 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘰𝘯𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪, 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘢𝘭𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩."
Petugas laki-laki itu menggulir layar ke riwayat lama, lalu kembali ke hasil terbaru. Ia tidak berkomentar lagi. Jarinya menekan tombol konfirmasi.
Layar di hadapan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berganti.
W.H.O — CORE VERIFICATION RESULT
CORE Compatibility: 99%
CORE Installation: 100%
CORE Condition: ACTIVE
Verifikasi CORE berhasil.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam.
Tidak ada ledakan energi. Tidak ada fenomena luar biasa yang membuat seluruh ruangan bergetar.
Hanya beberapa baris tulisan di layar.
Namun, bagi 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, angka itu jauh lebih berat daripada yang mungkin dibayangkan siapa pun di ruangan ini.
Seratus persen.
CORE yang bertahun-tahun dinyatakan gagal kini benar-benar aktif.
"𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵, 𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯 𝘕𝘰𝘪𝘳." Nada petugas laki-laki itu tetap datar, seperti sudah mengucapkannya puluhan kali hari ini. "𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧, 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘢𝘭𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menundukkan kepala sedikit.
"𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩, 𝘗𝘢𝘬."
Suaranya keluar lebih pelan daripada yang ia harapkan.
"𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘰𝘭𝘰𝘴 𝘷𝘦𝘳𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘊𝘖𝘙𝘌." Petugas itu sudah mulai membuka data peserta berikutnya. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘚𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘮𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘭𝘶𝘴. 𝘍𝘪𝘴𝘪𝘬, 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangguk, meskipun petugas itu sudah tidak lagi melihat ke arahnya.
Pintu perangkat terbuka. 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melangkah keluar.
Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi kartu peserta di tangannya.
𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘳𝘦𝘴𝘮𝘪.
Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Ia teringat 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 yang selalu mencemaskannya, 𝗔𝗺𝗺𝘆 yang tidak pernah bosan mengingatkannya agar tidak bertindak ceroboh, juga 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 yang menghabiskan waktunya untuk melatihnya.
Seandainya mereka ada di sini, ia ingin memperlihatkan hasil itu kepada mereka.
"𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯!"
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 melambaikan tangan dari sisi ruang tunggu.
"𝘓𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮," katanya begitu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendekat. Ia mendorong kacamatanya ke atas. "𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘮𝘶?"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggeleng.
"𝘙𝘪𝘸𝘢𝘺𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘢𝘭𝘢𝘴𝘪𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴."
"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧?"
"𝘈𝘬𝘵𝘪𝘧." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 diam sebentar, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, "𝘚𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯."
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mengembuskan napas, seolah dirinya sendiri yang baru lolos.
"𝘚𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳𝘭𝘢𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘨𝘪, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘒𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memasukkan kartu peserta ke saku.
"𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪."
Ternyata percakapan mereka tidak hanya didengar berdua.
"𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘡𝘦𝘳𝘰 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘊𝘖𝘙𝘌 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧?"
"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘰𝘳 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘥𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳?"
"𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘢𝘭𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪? 𝘓𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯."
Bisik-bisik itu menyebar di antara peserta kelompok tujuh.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendengar semuanya.
Namun, sebelum ia sempat bereaksi, seseorang sudah berjalan mendekat.
𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗣𝗿𝗮𝗱𝗶𝗽𝘁𝗮.
Pemuda itu melirik perangkat pemindai di belakang mereka, lalu memandang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dengan senyum mengejek.
"𝘓𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘴𝘪𝘯 𝘞.𝘏.𝘖 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘮𝘶." Ia memiringkan kepala. "𝘒𝘶𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪."
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mendengus.
"𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘏𝘢𝘴𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘯? 𝘈𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯?"
𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 hanya meliriknya sekilas.
"𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶. 𝘓𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘶𝘭𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘴𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩." Ia kembali memusatkan perhatian pada 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. "𝘔𝘦𝘴𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘶𝘫𝘪 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘴𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak langsung menjawab.
"𝘚𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘚𝘋, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶𝘢𝘴𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳," lanjut 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮. "𝘗𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢, 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯, 𝘴𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘴𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈. 𝘉𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯." Ia mengangkat sebelah alis. "𝘒𝘢𝘶? 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢? 𝘚𝘦𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯?"
"𝘒𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩."
"𝘒𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩." 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 mengulanginya pelan, seolah jawaban itu lucu. "𝘋𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯?"
Pertanyaan itu jelas dimaksudkan sebagai ejekan.
Tetapi 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 justru memikirkannya dengan serius.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 pernah mengatakan hal yang mirip. Perkembangan fisik yang cepat tidak akan menggantikan pengalaman bertarung.
Bahkan setelah dua minggu latihan intensif bersama sahabatnya itu, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 masih kewalahan setiap kali 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengubah tempo di tengah sparring.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 akhirnya.
Senyum 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 sedikit menipis.
"𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘪."
"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membalas tatapannya. "𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘢𝘱𝘢."
𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 mendengus.
"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪."
Ia berbalik dan kembali ke kelompoknya.
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menatap punggung 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 dengan wajah masam.
"𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘧𝘪𝘨𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat bahu.
"𝘚𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭."
"𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯."
"𝘉𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘛𝘢𝘩𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬. 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘴 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪."
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 memperhatikannya beberapa saat, lalu tertawa kecil.
"𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak menjawab.
Ia hanya teringat betapa sering 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memaksanya mengulang latihan guard setiap kali emosinya membuat gerakannya berantakan.
Kesabaran itu tidak datang begitu saja.
Pemeriksaan medis berlangsung di ruangan sebelah.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 duduk di hadapan seorang dokter W.H.O setelah menyelesaikan pemeriksaan tekanan darah, kondisi pernapasan, serta beberapa uji fisik dasar.
Dokter itu membaca hasilnya dari layar.
"𝘒𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘶𝘮𝘶𝘮 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘙𝘦𝘴𝘱𝘰𝘯𝘴 𝘴𝘢𝘳𝘢𝘧 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘰𝘳𝘥𝘪𝘯𝘢𝘴𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩." Ia menggulir layar ke bawah, lalu berhenti. "𝘋𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘤𝘦𝘥𝘦𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴. 𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘺𝘢?"
"𝘐𝘺𝘢, 𝘋𝘰𝘬. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘥𝘶𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵."
"𝘉𝘢𝘩𝘶𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘷𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵? 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯?"
"𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘋𝘰𝘬. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘯𝘴𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘵𝘶𝘳."
Dokter itu memintanya memutar kedua bahu, mengangkat lengan, lalu menekan beberapa titik di sekitar sendinya. 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menunggu rasa nyeri yang tidak kunjung datang.
"𝘗𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘔𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘪𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘥𝘦𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢." Dokter itu kembali menatap layar. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hampir tersenyum. Kalimat itu terdengar persis seperti sesuatu yang akan diucapkan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
"𝘗𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘋𝘰𝘬. 𝘏𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪."
"𝘗𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳." Dokter itu mulai mengetik. "𝘉𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘤𝘢𝘭𝘰𝘯 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧. 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘨𝘢𝘮𝘦𝘯 𝘳𝘰𝘣𝘦𝘬. 𝘊𝘦𝘥𝘦𝘳𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘰𝘭 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨."
Ia menandai sesuatu di layar.
"𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘯𝘺𝘦𝘳𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘢𝘯𝘦𝘩, 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳 𝘬𝘦 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯."
"𝘉𝘢𝘪𝘬, 𝘋𝘰𝘬. 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerima kembali kartu pesertanya.
Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, ia melihat beberapa peserta sedang membicarakan hasil verifikasi mereka. Sebagian tampak santai. Beberapa bahkan sudah sibuk menyusun strategi untuk tes fisik.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan cara mereka berdiri, bergerak, dan berbicara.
Mereka terlihat terbiasa dengan tempat seperti ini.
Sementara dirinya masih harus mengingat koreksi 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 satu per satu setiap kali memasang stance.
Perasaan tertinggal itu kembali muncul.
Namun, kali ini ia tidak berusaha menyangkalnya.
"𝘚𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴, 𝘴𝘪𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬!"
Suara pengawas menggema dari pengeras suara.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dan 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 bergabung dengan peserta lain.
Tidak jauh dari mereka, 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 berbincang dengan beberapa orang yang tampaknya sudah ia kenal. Tawanya terdengar paling keras di antara mereka.
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mengembuskan napas panjang.
"𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘦𝘴 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 '𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬𝘶𝘳 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩'. 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵."
"𝘒𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘧𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢?"
"𝘚𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘦𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘯." 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menggaruk tengkuknya. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘵𝘦𝘰𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘥𝘢."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memahami maksudnya, mungkin lebih baik daripada yang 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 kira.
Sebulan sebelumnya, ia juga pernah mengira tubuh yang kuat sudah cukup untuk menghadapi BETA.
Sampai seekor BETA tipe Beast hampir merenggut nyawanya.
Pengawas kembali berbicara.
"𝘗𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯! 𝘝𝘦𝘳𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘊𝘖𝘙𝘌 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪. 𝘗𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘶𝘩𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢."
Pintu besar di depan mereka perlahan terbuka.
Di baliknya terbentang arena pengujian dengan berbagai perangkat latihan fisik, lintasan, dan peralatan pengukur kemampuan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengamati semuanya dengan saksama.
Pemeriksaan CORE tadi hanya memintanya berdiri diam dan menunggu hasil mesin.
Di tempat ini, tidak akan ada angka instalasi yang bisa menggantikan kemampuan tubuhnya.
𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 berjalan melewatinya tanpa menoleh.
"𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯, 𝘺𝘢?" gumamnya, cukup keras untuk didengar. "𝘊𝘰𝘣𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢𝘮𝘶."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak membalas.
Ia justru teringat kalimat yang pernah diucapkan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 di sela latihan.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘝𝘢𝘯. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengepalkan tangan, kemudian melemaskannya kembali.
CORE-nya memang telah diakui aktif.
Namun, impiannya menjadi Hunter belum benar-benar berada dalam genggaman.
Pengawas berdiri di depan pintu arena.
"𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘊𝘖𝘙𝘌 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘦𝘧𝘦𝘬𝘵𝘪𝘧, 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘴𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘢𝘭𝘰𝘯 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳."
Ia mengangkat papan datanya.
"𝘒𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱. 𝘛𝘦𝘴 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨!"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melangkah masuk bersama peserta lainnya.
Hari ini, angka nol pada CORE-nya telah berubah menjadi seratus.
Tetapi di arena ini, ia harus menghadapi sesuatu yang tidak bisa diubah hanya dengan sebuah angka: jarak pengalaman antara dirinya dan mereka yang sudah berlatih selama bertahun-tahun.
Dan sebentar lagi, ia akan tahu seberapa jauh jarak itu sebenarnya.
---
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊