Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.
Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!
Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedamaian di Bawah Rembulan
Malam makin menua, membungkus Kota Besar Teratai Hitam dalam selimut kegelapan yang dihiasi pendar ribuan lentera.
Di dalam kamar penginapan yang sunyi di sudut utara kota, Hu Jin duduk bersila di atas pembaringan batu. Di dalam Dantian-nya, kristal Inti Jiwa (Soul Core) berbentuk naga es berwarna emas berputar halus, memancarkan getaran Qi murni yang menstabilkan seluruh rute meridian. Energi terobosan dari Lembah Kematian Naga yang sempat bergejolak kini sepenuhnya telah melebur murni ke dalam jiwanya.
Hu Jin mengembuskan napas es tipis yang perlahan menguap di udara malam. Ia membuka mata, merasakan kesegaran yang mengalir di seujung jemarinya.
Enggan terus mengurung diri di kamar sempit, Hu Jin merapikan jubah abu-abunya, membenahi letak Pedang Hitam Kuno di punggung, lalu mengenakan topi jerami. Ia melangkah menuruni tangga kayu penginapan dan berjalan keluar menuju alun-alun kota demi menghirup udara segar.
Angin malam yang dingin berembus lembut, membawa aroma kayu bakar dan keharuman masakan dari kedai-kedai pinggir jalan.
Alun-alun Kota Teratai Hitam di malam hari terasa berbeda ketimbang siang hari. Riuh tawar-menawar yang menegangkan telah berganti dengan suasana yang lebih rileks. Lampion-lampion merah dan kuning tergantung rapi di sepanjang jalanan batu, memancarkan cahaya hangat yang menerangi wajah-wajah ramah warga sipil.
Hu Jin berjalan santai di tepi alun-alun, menikmati setiap jengkal kedamaian sederhana tersebut.
Melihat kehidupan masyarakat bebas di tempat ini, pikiran Hu Jin mendadak melayang membandingkannya dengan suasana di Kota Kerajaan Timur. Hatinya berdesir oleh rasa prihatin yang mendalam. Kehidupan bebas di luar sini terasa jauh lebih berharga ketimbang kehidupan di balik dinding istana yang megah namun dingin dan dipenuhi intrik busuk.
Di dalam Istana Kerajaan Timur, yang ada hanyalah perebutan kekuasaan, keserakahan para pejabat korup di bawah naungan Zhao Feng, dan penderitaan rakyat kecil yang diperas pajaknya hingga tak bersisa. Lingkungan beracun itu telah menghancurkan kebahagiaan ayahnya, membantai mereka yang setia, dan membuat seluruh tanah kelahiran Hu Jin merana dalam ketakutan.
Mengingat kekejaman faksi pengkhianat itu, jemari Hu Jin di balik lengan jubahnya mengepal erat. Kilatan cahaya keemasan Tulang Kaisar menyala tipis di dalam manik matanya.
Istana yang megah tidak ada artinya jika dibangun di atas tangisan dan darah rakyatnya sendiri, batin Hu Jin dingin. Zhao Feng dan para pejabat korup itu telah mengubah tanah kelahiranku menjadi neraka bagi orang-orang tak berdosa.
Hu Jin menatap lurus ke arah langit malam yang bertabur bintang. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah tekad baja yang teramat suci makin membara dan memadat.
Ia berjanji pada dirinya sendiri, pada bayangan almarhum ibunya, dan pada rakyat Kerajaan Timur: ia bukan sekadar ingin merebut kembali takhta kekaisaran demi gelar atau kehormatan nama keluarga. Ia akan merebut kembali Kerajaan Timur untuk meruntuhkan seluruh kezaliman Zhao Feng, menyapu bersih para pejabat korup, dan mengembalikan kedamaian serta keadilan yang sejati bagi seluruh rakyatnya.
Di tengah gejolak tekad di dadanya, tatapan mata Hu Jin terhenti pada sebuah pelataran kecil di samping air mancur alun-alun.
Di sana, sekelompok anak kecil dari keluarga pedagang sipil sedang berlari-lari riang, saling mengejar sambil tertawa lepas tanpa beban. Gelak tawa anak-anak itu bergema hangat, memecah keheningan malam.
Melihat pemandangan polos tersebut, amarah dan ketegangan di dada Hu Jin perlahan luluh. Sebuah senyuman tipis yang tulus terukir di bibirnya dari balik bayang-bayang topi jerami.
Bagi Hu Jin, ketenangan hatinya yang paling sejati bukan didapat dari pujian orang-orang atas kekuatannya, melainkan saat melihat anak-anak kecil bisa berlari riang dengan aman tanpa harus takut pada ancaman prajurit penindas atau kejamnya dunia persilatan.
Hu Jin melangkah mendekati sudut alun-alun tempat para pedagang kecil dan orang-orang tua sedang duduk beristirahat di depan lapak mereka yang mulai sepi.
Melihat seorang nenek tua yang kesulitan mengangkat keranjang kayu berisi sisa buah-buahan dagangannya, Hu Jin tanpa ragu melangkah mendekat. "Nenek, biar kubantu," ujar Hu Jin ramah dan sopan.
Dengan mudah dan hati-hati, Hu Jin mengangkat keranjang kayu yang berat itu dan meletakkannya di atas gerobak dorong sang nenek.
Nenek tua itu tersentak kaget, lalu menatap Hu Jin dengan senyuman penuh terima kasih yang mendalam. "Ah, terima kasih banyak, Pendekar Muda yang baik hati. Semoga Langit selalu memberkahimu."
Tidak berhenti di situ, Hu Jin kemudian menghampiri sebuah lapak kakek tua penjual teh di sudut air mancur. Ia membeli beberapa cangkir teh hangat dan membagikannya kepada para kakek dan nenek penjual jasa yang tampak kelelahan di sekitar alun-alun.
Tindakan sederhana dan kebaikan hati pemuda bertopi jerami itu membawa kehangatan yang luar biasa di sudut alun-alun. Gelak tawa dan doa-doa tulus mengalir dari mulut para orang tua dan pedagang kecil tersebut. Mereka merasa senang, dihormati, dan bahagia oleh kehadiran pemuda asing yang tidak memandang rendah rakyat biasa.
"Pendekar Muda, anak muda zaman sekarang jarang sekali ada yang memiliki hati sesuci dan sesabar dirimu," puji kakek penjual teh sambil terkekeh hangat. "Di saat para murid sekte besar berlalu dengan kepala terangkat sombong, kau justru sudi duduk di sini dan berbagi teh bersama kami."
Hu Jin tersenyum tipis, menyesap teh hangatnya perlahan bersama para pedagang tua itu. "Kekuatan sejati seorang pendekar bukan diukur dari seberapa tinggi tempat ia berdiri, Kakek... melainkan dari seberapa banyak kehangatan yang bisa ia bagikan kepada orang-orang di sekitarnya."
Para kakek dan nenek di sekitar alun-alun tertegun mendengar ucapan bijak pemuda berusia lima belas tahun itu. Mereka menatap Hu Jin dengan rasa kagum dan kasih sayang yang mendalam, mendoakan keselamatan perjalanan pemuda tersebut.
Waktu berlalu tanpa terasa, hingga pelataran alun-alun mulai sepi dan lampu-lampu lampion satu per satu dipadamkan.
Hu Jin pamit secara sopan kepada para orang tua dan pedagang kecil, lalu melangkah kembali menyusuri jalanan batu yang sunyi menuju penginapannya.
Langkahnya terasa sangat ringan, hatinya dipenuhi oleh kedamaian dan kepuasan batin. Momen sederhana malam ini makin menguatkan prinsip hidupnya.
Ia tahu, pertempuran Ujian Tiga Sekte Besar yang akan dimulai beberapa hari lagi akan dipenuhi oleh keangkuhan para jenius, intrik politik para tetua, dan pertumpahan darah yang tak terelakkan. Namun, dengan hati yang telah mantap dan tekad yang dilandasi oleh keinginan melindungi kebenaran, sang pangeran terbuang tidak akan pernah tergoyahkan.
Hu Jin mendorong pintu kamar penginapannya, merebahkan tubuh di atas pembaringan batu, dan memejamkan mata dalam keheningan malam Kota Teratai Hitam—siap menyambut fajar baru dan perjuangan agung yang menunggunya!