NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Rahasia Jiwa di Balik Paras Pewaris Jinyowon

"Tubuhnya sudah membatu sepenuhnya. Kulitnya mengeras menjadi batuan hitam akibat efek samping dari pemindahan jiwa yang lepas kendali. Secara medis, dia sudah mati. Namun, keajaiban spiritual yang tersisa di dalam sukmanya membuat Nara entah bagaimana masih hidup dan menolak untuk pergi."

Jin Hwa Young mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca mengingat momen kritis tersebut. "Saat itu aku tahu, hanya kau satu-satunya penyihir di negeri ini yang bisa membantuku, Master. Tubuh putri sulungku yang asli, Jin So Hwa, sudah lama sekarat dan jiwanya hampir padam di dalam paviliun. Sementara tubuh Nara membatu namun jiwanya sangat kuat. Karena itulah aku memohon bantuanmu."

Lantas, dengan level ilmu sihirnya yang sudah mencapai tingkatan tertinggi—Hwansu—Master Lee melakukan sebuah ritual sihir terlarang yang teramat sakral untuk menyelamatkan nyawa tersebut. Namun, sihir tingkat Hwansu selalu menuntut bayaran yang setimpal.

"Kau ingat konsekuensi yang kukatakan malam itu, Hwa Young?" tanya Master Lee dengan nada memperingatkan. "Untuk menghidupkan kembali tubuh itu dengan batu es dan energi spiritual murni, jiwa Jin So Hwa yang asli—yang saat itu hanya menyisakan sedikit ruang kecil di dalam tubuhnya—harus dilenyapkan sepenuhnya agar tidak terjadi benturan dua jiwa di dalam satu raga. Kita harus merelakan putri kandungmu pergi ke alam baka."

Jin Hwa Young memejamkan matanya rapat-rapat, menahan setitik air mata yang jatuh. "Aku tahu. Dan aku tidak menyesalinya. Demi Jinyowon, aku harus memiliki pewaris yang kuat."

Alhasil, melalui ritual mistis Hwansu yang rumit itu, tubuh Jin So Hwa berhasil diselamatkan dengan jiwa Nara yang kini berkuasa penuh atas seluruh raga tersebut. Namun, hal unik dan ajaib terjadi seiring berjalannya waktu.

Meski raga luar itu awalnya adalah milik Jin So Hwa, perlahan-lahan energi spiritual dari jiwa Nara yang teramat masif mulai memengaruhi struktur fisik tubuh tersebut. Lambat laun, wajah dan postur tubuh itu bermutasi, merubahnya kembali menjadi bentuk dan rupa fisik Nara yang dahulu kala—gadis yang cantik dan dicintai Han Seol.

"Efek samping dari penyembuhan sihir Hwansu itu teramat besar," lanjut Master Lee, menatap Jin Hwa Young dengan serius. "Energi murni yang meluap membuat seluruh kekuatan sihir dan ingatan masa lalu Nara menguap tanpa bekas. Ia terbangun seperti bayi yang baru lahir di dalam tubuh yang asing."

"Benar," sahut Jin Hwa Young dengan senyum getir. "Karena ingatan dan kekuatannya hilang total, dengan mudah aku mengelabuhinya saat ia pertama kali membuka mata. Aku mengaku sebagai ibu kandungnya, menyakinkan dirinya bahwa ia adalah Jin So Hwa yang selama ini sakit-sakiran di dalam kamar. Dan karena ia tidak memiliki memori lain, ia memercayaiku sepenuhnya. Ia menerima Jinyowon sebagai rumahnya, dan menerimaku sebagai ibunya tanpa sedikit pun kesulitan."

Namun, Master Lee segera menegakkan tubuhnya. Sorot matanya berubah menjadi teramat dingin, mengingatkan Jin Hwa Young akan sebuah sumpah dan peringatan yang pernah ia ucapkan tiga tahun yang lalu di ruangan yang sama.

"Jangan lengah, Jin Hwa Young. Ingat apa yang kukatakan padamu saat ritual itu selesai tiga tahun lalu," ucap Master Lee dengan suara rendah namun penuh penekanan.

"Jiwa Nara hanya tertidur di balik amnesia. Jika suatu saat nanti kekuatan sihir spiritualnya yang agung itu kembali bangkit, maka kemungkinan besar... seluruh ingatan masa lalunya sebagai Seol Ah dan kekasih Han Seol juga akan kembali mendera benaknya. Tabir kebohongan yang kau bangun akan runtuh dalam sekejap."

Mendengar penuturan ulang dari Master Lee, tubuh Jin Hwa Young gemetar kecil. Pikirannya langsung terhubung dengan laporan para pengawalnya semalam mengenai hilangnya So Hwa yang teramat mistis—perahu yang tiba-kira lenyap ditelan air yang meninggi, serta gelang pelacak yang hancur seketika.

Pada saat ini, di hadapan Master Lee, muncullah spekulasi kuat di dalam benak Jin Hwa Young yang membuatnya dicekam ketakutan luar biasa.

"Master Lee..." bisik Jin Hwa Young dengan wajah pucat. "Jika gelang pelacak itu bisa hancur, dan jika ia bisa meloloskan diri dari kamar pelindung spiritual yang kubuat... apakah itu berarti ikatan Nara telah kembali? Apakah kekuatannya telah bangkit, dan ingatannya tentang masa lalu bersama Han Seol mulai terbuka?"

Master Lee tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap keluar jendela, ke arah Danau Cheon Gi yang berkilau di bawah sisa cahaya bulan.

"Air danau mulai bergolak, Hwa Young. Takdir yang kau ikat dengan paksa tiga tahun lalu... kini tampaknya mulai mencari jalannya sendiri untuk kembali pulang."

****

Sementara itu, di kediaman keluarga Han yang sunyi, fajar baru saja menyingsing, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah jendela kamar.

Jin So Hwa perlahan membuka sepasang matanya. Kepalanya terasa teramat berat dan sekujur tubuhnya masih menyisakan rasa dingin yang janggal. Namun, hal pertama yang ditangkap oleh pandangannya adalah sesosok jubah hitam yang duduk bersandar di kursi tepat di samping ranjangnya.

Han Seol. Pemuda itu menutup matanya dengan tangan bersedekap di dada, tampak tertidur dalam posisi berjaga. Selimut tebal berlapis-lapis membungkus tubuh So Hwa dengan rapi, melindunginya dari sisa-sisa hawa terkutuk roh danau semalam.

So Hwa bergerak sedikit, memicu suara gesekan kain yang halus. Detik itu juga, sepasang mata dingin Han Seol terbuka lebar. Refleksnya sebagai penyihir terkuat tidak pernah pudar. Ia langsung menatap So Hwa dengan pandangan tajam yang menyelidik.

"Kau sudah bangun?" tanya Han Seol datar, suaranya terdengar sedikit serak karena terjaga semalaman.

So Hwa berusaha mendudukkan tubuhnya, memegangi kepalanya yang pening. "Han Seol... apa yang terjadi semalam? Makhluk di kolam itu..."

"Roh jahat dari Danau Cheon Gi," potong Han Seol, bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati jendela untuk menyibak tirai.

"Makhluk itu mengincar Batu Es di dalam diriku. Kau bertindak bodoh dengan melemparkan gelangmu dan menantangnya. Jika aku terlambat satu menit saja, jiwamu sudah dihisap habis dan kau akan menjadi mayat kering di dasar kolamku."

Meskipun kata-kata Han Seol terdengar ketus dan dingin, So Hwa melihat ke arah selimut tebal yang melindunginya, lalu menatap punggung Han Seol. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang manis.

"Kau menjagaku semalaman, bukan?" tanya So Hwa dengan nada menggoda, mencoba mencairkan suasana.

"Penyihir Agung yang ditakuti seluruh negeri, ternyata rela melewatkan waktu tidurnya demi memastikan seorang gadis pelarian tidak mati kedinginan."

Han Seol membalikkan tubuhnya, menatap So Hwa dengan pandangan lurus tanpa ekspresi. "Aku hanya tidak ingin ada mayat di rumahku. Hal itu akan merepotkan Bibi Myung Ja yang saat ini sedang memulihkan diri di kamar sebelah akibat ulah makhluk itu."

Han Seol melangkah mendekati tepi ranjang, menatap lekat-lekat ke dalam mata So Hwa. Rasa penasaran tentang identitas gadis yang dikabarkan sudah mati ini masih mengusik benaknya, terlebih setelah melihat bagaimana energi roh danau bereaksi di sekitarnya semalam.

"Kau bilang kau kehilangan ingatanmu," ucap Han Seol serius. "Tapi semalam, kau bisa melihat roh itu sebelum ia menyerang. Kekuatan spiritualmu tidak sepenuhnya hilang, Jin So Hwa. Itu mengalir di bawah kulitmu, hanya saja kau tidak tahu cara mengendalikannya."

So Hwa menyentuh dadanya sendiri, merasakan getaran aneh yang perlahan mulai berdenyut di dalam nadinya sejak ia tenggelam di kolam semalam. Sebuah kilasan memori samar tentang air yang dalam, rasa sakit yang membakar, dan suara tangisan seseorang sempat melintas di mimpinya saat pingsan, namun ia belum bisa menyusun potongan gambar tersebut.

"Aku tidak tahu, Han Seol," bisik So Hwa menatap tangannya. "Tapi satu hal yang pasti... takdirku telah membawaku kepadamu. Dan aku tidak akan kembali ke Jinyowon."

Han Seol terdiam sejenak, menatap gadis di depannya yang memiliki sepasang mata yang teramat familier—sepasang mata yang selalu mengingatkannya pada luka abadi di dadanya.

Tanpa disadari oleh keduanya, benang merah takdir yang sempat terputus di dasar Danau Cheon Gi tiga tahun lalu, kini mulai terajut kembali di dalam kesunyian kamar tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!