NovelToon NovelToon
Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: jingrd24

"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.

Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!

Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Jatuh yang Memalukan

Hup!

Begitu melompat dari dinding tinggi itu, Kate tidak merasakan kerasnya tanah, tidak pula merasakan rasa nyeri akibat tubuhnya bertabrakan dengan lantai beton. Alih-alih rasa sakit, Kate justru merasakan sensasi lain.

Ia tidak jatuh terlentang ataupun meringkuk. Pinggulnya tidak menghantam tanah, melainkan mendarat di atas tumpuan yang tidak asing. Tangan?

Sensasi dinginnya udara malam yang membentur wajah Kate mendadak terhenti. Tubuhnya yang seharusnya meluncur bebas menghantam kerasnya jalanan batu cadas di luar dinding, kini justru mengambang rileks di udara.

Tidak ada rasa nyeri di pergelangan kaki. Tidak ada rintihan kesakitan akibat benturan. Yang ada hanyalah sebuah dekapan kokoh yang menangkap pinggang dan punggungnya dengan sangat presisi—seolah-olah Kate baru saja melompat dari ketinggian tiga meter khusus untuk mendarat di atas bantal empuk berbahan kargo militer.

Kate mengerjapkan mata berkali-kali dalam kegelapan. Sensasi hangat yang janggal langsung merayap menembus gaun tidur tipisnya.

Dua lengan kekar yang menopang dirinya... sensasi ini...

Ia mendongak pelan, sangat perlahan, seolah lehernya mendadak berkarat. Di bawah pendar cahaya rembulan yang samar-samar, sebuah garis rahang yang sangat tegas dan familier berdiri tegak tepat di atas wajahnya. Mata elang yang tajam itu menatapnya lurus-lurus, dipadu dengan helai rambut hitam yang sedikit berantakan tertiup angin malam.

Salvatore Ardan.

Pria itu berdiri di sana, di luar dinding cadas, menangkap Kate yang baru saja melakukan aksi pelarian akrobatik ala buronan kelas atas. Salvatore bahkan tidak terlihat terengah-engah sedikit pun, seolah-olah menangkap seorang putri Duke yang melompat dari atas dinding adalah rutinitas pemanasan malam harinya sebelum tidur.

Keheningan melanda di antara mereka selama sepuluh detik penuh. Hanya ada suara jangkrik di kejauhan dan usapan angin malam yang menerpa gaun tidur Kate yang masih tersingkap, memperlihatkan celana panjangnya secara tidak elegan.

"Jadi..."

Suara Salvatore memecah malam. Nada baritonnya yang berat, rendah, dan begitu dalam terdengar sangat dekat di telinga Kate—begitu dekat hingga getaran suara dari dada tegap Salvatore merembet langsung ke tubuh Kate yang masih melayang dalam dekapannya.

"...apakah ini yang Anda sebut dengan 'berhasil kabur', Putri?"

Jantung Kate mendadak melompat ke tenggorokan.

Bukan hanya karena syok mendapati rencananya gagal total untuk kesekian kali, tetapi karena suara rendah Salvatore yang terngiang begitu dekat memberikan sengatan aneh yang membuat dadanya berdesir hebat. Deg-degan setengah mati!

Sialan! Kenapa jantungku harus berdetak seperti genderang perang begini? Ini pasti karena adrenalin melompat dinding, bukan karena pria batu ini! Pasti! batin Kate berteriak histeris, berusaha menolak kenyataan bahwa wajah Salvatore yang berjarak tidak sampai sepuluh sentimeter dari mukanya benar-benar mengikis kewarasannya.

Wajah Kate langsung memerah padam. Rasa malu yang amat sangat dahsyat membakar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya. Ya Tuhan! Ini adalah momen paling memalukan dalam dua puluh tahun sejarah hidupnya sebagai seorang bangsawan!

"K-kau... kenapa kau bisa ada di sini?" sembur Kate dengan suara melengking kaku, tangannya bergerak panik mencengkeram bahu kokoh Salvatore demi menjaga keseimbangan.

"Turunkan aku! Turunkan aku sekarang juga!"

Salvatore tidak langsung menurunkan Kate. Pria itu justru sengaja membiarkan posisi mereka tetap seperti itu selama beberapa detik, menatap wajah istrinya yang merona hebat dengan sudut bibir terangkat amat sangat tipis—sebuah senyuman samar yang hampir tak terlihat, namun sukses membuat Kate ingin menghilang dari muka bumi.

"Aku ada di sini karena suamimu ini adalah seorang Jenderal Besar," jawab Salvatore santai, namun suaranya tetap rendah dan memikat. "Apakah Anda benar-benar berpikir seorang prajurit veteran yang terbiasa tidur di tengah medan perang tidak akan menyadari saat kasurnya mendadak seringan kapas karena istrinya berjinjit kabur?"

Kate tertegun. Mulutnya ternganga lebar.

Ah... benar juga.

Logika sederhana itu mendadak menghantam kesadaran Kate dengan keras. Bagaimana bisa ia melupakan fakta paling mendasar di dunia ini? Salvatore Ardan adalah pria yang memimpin ribuan pasukan di perbatasan! Pria yang sanggup mendengar pergerakan musuh dari jarak berjam-jam perjalanan!

Bagaimana mungkin seorang Jenderal perang bertelinga tajam tidak sadar saat ada wanita yang grasa-grusu mengikat selimut, memanjat balkon, menyeberangi lapangan rumput, hingga memanjat dinding batu raksasa?

Selama ini... Salvatore tidak sedang tertidur nyenyak. Pria ini hanya sedang menonton pertunjukan komedi amatir yang disajikan secara gratis oleh istrinya sendiri!

Salvatore pasti sengaja membiarkan Kate kepayahan memanjat dinding batu yang berdebu itu, lalu berjalan santai ke luar gerbang hanya untuk berdiri di bawah dinding dan menunggunya melompat tepat ke dalam pelukannya!

"K-kau..." Kate memelototkan matanya yang bulat, rasa malunya kini berganti menjadi kejengkelan yang luar biasa. "Kau sengaja mempermainkanku, ya, Jenderal Tembok?"

"Aku tidak mempermainkanmu, Kate," ujar Salvatore tenang. Dengan gerakan yang sangat perlahan dan hati-hati, pria itu akhirnya menurunkan tubuh Kate, membiarkan kaki telanjang wanita itu kembali menyentuh jalanan cadas yang dingin. "Aku hanya memastikan agar istriku tidak patah tulang saat mendarat di tanah."

Tangan Salvatore yang hangat sempat bertahan sejenak di pinggang Kate sebelum akhirnya terlepas sepenuhnya. Kehilangan kehangatan mendadak dari tangan Salvatore justru membuat Kate merasa sedikit aneh—perasaan canggung yang makin membuatnya ingin menenggelamkan diri ke dalam lumpur.

Kate cepat-cepat menarik turun gaun tidurnya yang terlipat, merapikan pakaiannya dengan gerakan serba kaku. Pipinya masih terasa sepanas kompor yang menyala.

"Lagipula," Salvatore menatap celana panjang yang menyembul di balik gaun tidur Kate dengan alis terangkat sebelah. "Persiapanmu malam ini cukup mengagumkan. Memakai celana di balik gaun tidur... taktik yang sangat fleksibel untuk memanjat dinding."

"Bicara satu kata lagi soal celanaku, dan aku akan meretas matamu!" ancam Kate sambil bersedekap, mencoba mengumpulkan sisa-sisa martabatnya yang sudah hancur berkeping-keping di atas tanah.

Salvatore terkekeh pelan. Suara terkekehnya yang renyah namun rendah itu kembali membuat dada Kate berdesir aneh. Sialan, kenapa pria batu ini harus memiliki suara dan reaksi seanggun ini saat memergoki istrinya kabur? Harusnya ia marah! Harusnya ia memanggil pengawal dan berteriak bahwa Kate adalah istri yang liar!

"Baiklah, aku tidak akan bicara soal celanamu," kata Salvatore lembut, lalu melepas jubah tipis yang sempat ia gantungkan di bahunya sebelum keluar rumah, kemudian menyelimutkannya ke tubuh Kate yang mulai menggigil karena angin malam. "Sekarang, mari kita pulang. Angin di luar dinding sangat tidak bagus untuk kesehatanmu."

Kate merapatkan jubah yang beraroma kayu cendana khas Salvatore itu di dadanya. Aroma tubuh Salvatore yang menyengat halus di jubah itu malah makin membuat jantungnya berdegup tidak karuan.

"Aku bisa berjalan sendiri! Tidak usah dipegangi!" gerutu Kate sinis saat Salvatore mengulurkan tangan untuk menuntunnya kembali melewati gerbang utama kediaman.

"Tentu," sahut Salvatore acuh tak acuh, berjalan tepat di sebelah Kate dengan jarak sangat dekat, menjaga agar wanita itu tidak tiba-tiba berniat memanjat pohon terdekat. "Tapi kalau Anda berniat memanjat dinding lagi besok malam, tolong beri tahu aku satu jam sebelumnya agar aku bisa menyiapkan matras yang lebih empuk di bawah."

Kate mendelik tajam, menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal. "Salvatore Ardan! Kau ini benar-benar menyebalkan, tahu tidak?"

"Aku tahu," jawab Salvatore datar tanpa beban, membuka pintu gerbang kayu yang besar untuk istrinya. "Tapi setidaknya, Jenderal yang menyebalkan ini selalu ada di bawah setiap kali Anda melompat."

Kate membuang mukanya cepat-cepat ke arah lain, berusaha menyembunyikan senyuman pasrah yang mendadak ingin terukir di bibirnya. Perang pelarian malam ini resmi dimenangkan oleh Jenderal Tembok dengan skor telak, sementara Kate hanya bisa berjalan gontai masuk ke dalam kamar.

Kate membuang mukanya cepat-cepat ke arah lain, berusaha menyembunyikan senyuman pasrah sekaligus rona merah yang mendadak ingin terukir di pipinya. Perang pelarian malam ini resmi dimenangkan oleh Jenderal Tembok dengan skor telak, sementara Kate hanya bisa berjalan gontai masuk kembali ke dalam kediaman.

Begitu sampai di dalam kamar utama, Kate tidak membuang waktu. Ia langsung melepaskan jubah milik Salvatore, melemparkannya secara acak ke atas kursi, lalu melompat ke atas ranjang dan menggulung seluruh tubuhnya ke dalam selimut tebal bagaikan kepompong raksasa.

Ia menolak menatap Salvatore. Ia menolak berbicara. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyembunyikan wajahnya yang masih terasa sehangat tungku pembakaran di balik selimut.

Dari balik kegelapan selimut, Kate bisa mendengar suara langkah kaki Salvatore yang mendekat pelan. Bunyi jubah yang dirapikan, lalu ketukan halus di samping tempat tidur.

"Kate," panggil Salvatore lembut, suaranya terdengar sangat dekat.

"Pergi! Jangan bicara padaku! Aku sudah tidur!" seru Kate dari dalam gulungan selimut dengan suara yang teredam.

Di luar selimut, Salvatore terkekeh pelan—sebuah helaan napas geli yang begitu hangat. Tanpa memaksakan Kate keluar dari tempat persembunyiannya, Salvatore hanya menarik selimut itu sedikit agar bagian atas kepala Kate mendapatkan ventilasi udara yang cukup.

"Selamat tidur, Putri Pemanjat Dinding," bisik Salvatore pelan, mengusap puncak kepala Kate yang tertutup selimut dengan sangat lembut sebelum akhirnya melangkah menuju sisi ranjangnya sendiri.

Di dalam gulungan selimut, jantung Kate kembali berdegup kencang tak beraturan. Sentuhan singkat di kepalanya tadi terasa seperti sengatan listrik yang membuat seluruh tubuhnya meremang.

Sialan kau, Salvatore Ardan! batin Kate sambil menggigit bibirnya erat-erat, mengepalkan tangan di dalam kegelapan selimut dengan tekad membara. Nikmati kemenanganmu malam ini! Karena besok pagi, aku akan membalasmu dengan rencana yang jauh lebih gila! Lihat saja!

1
Iluvmacha
ga sabar Kate notice Sonia🤭
jinggaarundari: waduh bener lagi, tungguin bab selanjutnya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
btw, semangat kaka authorr💪💪 lanjut terus
jinggaarundari: 😍😍makasi banyak kaa, makin semangat disemangati kakakk
total 1 replies
otter_orange
Menunggu reaksi Kate kalau suaminya deket sama wanita lain🤣
jinggaarundari: sipp, tunggu update bab nya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
apaan sii, dia yg nunggu dia jg yg gengsi😭😭
jinggaarundari: emang kadang kidding🫣
total 1 replies
otter_orange
Akhirnya yg ditunggu-tunggu Kate kena karma kan, dibilang suaminya perfect gitu😭
La Vanya
waduhh, siapa tuh Sonia🤔
jinggaarundari: siapa ya🤔🤔, tunggu bab selanjutnya besok kaa😍😍
total 1 replies
La Vanya
katanya pemandangan merusak, tp kok ditungguin🤭
jinggaarundari: kalo ga gengsi bukan Kate namany🤭
total 1 replies
La Vanya
RHEA APRESIASI SETINGGI-TINGGINYA BUAT KMU WKWKWK😭😭😭
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jinggaarundari: hahaha, bener banget ka, emang orang kaya Kate butuh dayang kaya Rhea 😭😭
total 1 replies
Mommy Inci
plis Thor lngsung kebagian menyerah and falling in love ke jendral biar ga monoton...
jinggaarundari: siap kaa, pas banget besok bab 23 memang udh masuk Kate Denial suka suaminya, makasi kaa supportnya 😍😍
total 1 replies
lynn.flow
udah mampir nihh, ternyata seru juga, ga expect kalau si putri seberani itu😭😭
Vy
Seru ceritanya thorr😍
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗
jinggaarundari
baik kaa, cuma agak tsundere aja🫣
Putry Chan
nih prmepuan keras lumayan sulit sih di bikin Lulu semoga nanti bisa ya
Putry Chan
hmmm tapi jasa juga ke kejuaraan lumayan besar
Putry Chan
owh jadi nih putri trlalu tinggi derajatnya dan sulit di atur
Putry Chan
owh hadiahnya trlalu besar nya mknya sulit dia kan seorang putri
Putry Chan
beh 100 tahun coy
Putry Chan
apakah dia orang baik
La Vanya
kaa lanjuttt💪💪
otter_orange
SERU BANGET ANJIRRR!! 😭😭 Kakinya Kate ga bisa diem banget pas nyusun rencana kabur tapi malah bikin makin nempel aama suaminya wkwkw! Salvatore ganteng banget tapi lempengnya minta ampun 😭 Pokoknya wajib baca guyss, ceritanya seger, komedinya banyak, cocok buat dibac selepas kerja atau sekolah yang penat. Lanjut part 22 thorr fast update!!!💙💙💙
jinggaarundari: waa, senang kalau kakak sukaa. makasi suportnya kaa😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!