Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Akar Dingin di Balik Kabut Beracun
Bagi para pencari herbal, Hutan Tulang Berduri adalah rahang kematian yang terus menganga. Miasma beracun melayang seperti hantu kelabu di antara pepohonan hitam yang tak berdaun, sementara binatang buas bermutasi bersembunyi di balik bayang-bayang.
Biasanya, Li Yun tidak pernah menginjakkan kakinya lebih jauh dari pinggiran hutan. Namun hari ini, ia terpaksa melanggar aturannya sendiri.
Di atas meja bedahnya di kamp, terbaring Ah San, seorang pemuda gesit yang merupakan penyetor "sampah herbal" paling andal bagi Li Yun. Lengan Ah San membengkak ungu kehitaman akibat gigitan Laba-laba Wajah Hantu. Racun laba-laba ini tidak bisa diusir dengan Pil Lumpur Spiritual buatan Li Yun maupun penawar racun biasa. Jika racun itu mencapai jantungnya dalam enam jam, Ah San akan meledak dari dalam. Satu-satunya penawar alami adalah Jamur Tengkorak Hijau segar yang tumbuh di area menengah hutan berduri itu.
Jika Ah San mati, Li Yun akan kehilangan mata dan telinganya di lapangan. Terlebih lagi, kematian berturut-turut dari pencari herbal yang masuk ke tendanya akan merusak statistiknya dan bisa memancing kembali perhatian Balai Penegak Hukum.
Dengan keranjang bambu di punggung dan jubah abu-abunya, Li Yun meluncur menembus kabut rawa.
Di tempat yang dipenuhi aura kematian ini, Sutra Pernapasan Kayu Mati bersinar dengan potensi sejatinya. Tubuh Li Yun tidak memancarkan hawa kehidupan sedikit pun. Ia tidak bernapas melalui hidung, melainkan membiarkan pori-pori kulitnya menyaring oksigen dan energi spiritual dari kabut beracun secara sangat lambat. Bahkan ketika seekor Macan Tutul Bayangan—binatang iblis tingkat dua—melompat melewatinya sejauh tiga langkah, monster itu sama sekali tidak menoleh. Di mata insting sang macan, Li Yun hanyalah sebatang kayu busuk.
Setelah dua jam menyusup dalam diam, Li Yun akhirnya tiba di sebuah lembah cekung yang sangat lembap. Di dasar lembah, di atas tumpukan tulang belulang binatang buas raksasa, tumbuh beberapa jamur berwarna hijau pucat yang memancarkan cahaya redup.
Dengan gerakan secepat kilat, Li Yun memotong dua batang Jamur Tengkorak Hijau menggunakan pisau kayunya—pisau besi akan merusak esensi jamur tersebut—lalu menyimpannya di dalam kotak kedap udara.
Tepat ketika ia bersiap untuk segera berbalik dan kembali ke kamp, langkahnya terhenti.
Ujung jarinya yang telah ditempa oleh kepekaan akupunktur menangkap sesuatu yang tidak wajar di udara. Di antara bau busuk bangkai dan asamnya miasma, ada sehelai tipis hawa dingin yang sangat murni. Itu adalah Yin-Dingin, jenis energi yang tidak mungkin dihasilkan oleh rawa beracun pembusuk ini.
Keingintahuan adalah musuh terbesar bagi umur panjang, namun insting Li Yun mengatakan bahwa hawa dingin ini adalah sebuah peluang.
Ia memusatkan fluktuasi Qi-nya, merendahkan tubuhnya hingga nyaris menempel ke tanah basah, dan merayap perlahan mengikuti jejak udara dingin tersebut. Sekitar lima ratus langkah dari tempat pemetikan jamur, ia menemukan sebuah pohon Beringin Besi raksasa yang batangnya telah berlubang.
Jejak hawa dingin itu berasal dari dalam lubang pohon.
Li Yun tidak langsung masuk. Ia mengambil sebongkah batu kerikil dan melemparkannya ke dalam. Tidak ada reaksi. Tidak ada formasi jebakan yang menyala, tidak ada binatang buas yang menerkam. Dengan sangat waspada, ia menyelinap masuk.
Bagian dalam pohon itu sangat luas, cukup untuk menampung lima orang dewasa, dan tampaknya baru saja digunakan sebagai tempat persembunyian sementara. Di tengah-tengah lantai kayu yang membusuk, terdapat sisa-sisa abu dari formasi penyembunyi aura tingkat menengah.
Namun, yang membuat pupil Li Yun menyusut adalah apa yang tergeletak di dekat abu tersebut.
Itu adalah sisa-sisa akar halus dan serabut tanah yang membeku. Hawa dingin murni menguar dari serabut-serabut tersebut, mengubah embun di sekitarnya menjadi kristal es kecil.
Ginseng Giok Bulan.
Li Yun hampir menahan napasnya. Si pencuri tidak segera melarikan diri dari wilayah ini, melainkan bersembunyi di sini untuk menelan bagian utama dari ginseng tersebut secara langsung! Mencerna ginseng tingkat menengah murni tanpa kuali alkimia adalah tindakan gila yang bisa membekukan meridian. Namun si pencuri membuang serabut akar dan kulit luarnya untuk mengurangi efek mematikan itu.
Bagi sang pencuri, serabut ini adalah ampas. Namun bagi Li Yun, serabut bermuatan energi bulan ini cukup untuk menembusnya ke Lapis Kelima, bahkan Keenam Pengumpulan Qi!
Ia segera mengeluarkan kantong kulit berlapis timah dan meraup serabut beku itu dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada hawa dingin yang bocor.
Saat ia memungut serabut terakhir, matanya menangkap sesuatu yang terjepit di celah akar pohon. Sebuah benda kecil yang tampaknya terlepas secara tidak sengaja saat si pencuri sedang menahan rasa sakit dari proses pencernaan ginseng.
Li Yun menggunakan ujung belatinya untuk mencongkel benda itu.
Itu adalah sebuah kancing. Bukan kancing tulang murahan milik pencari herbal, bukan pula kancing perak milik Balai Penegak Hukum. Itu adalah kancing logam tembaga yang dibungkus dengan benang sutra abu-abu. Jahitannya membentuk pola melingkar dengan satu daun kecil di tengahnya.
Jantung Li Yun berdetak lebih cepat, meski wajahnya tetap datar bak pahatan batu.
Ia mengenali kancing ini. Ia melihatnya dengan sangat jelas berbulan-bulan lalu saat ia mendaftar di pos perekrutan. Ini adalah kancing jubah lengan panjang milik Diakon Fang, sang pengawas logistik yang terlihat malas, sombong, dan stagnan di Lapis Kelima.
Potongan teka-teki itu seketika menyatu di kepala Li Yun dengan kejernihan yang mengerikan.
Pantas saja Inspektur Zhao Yan yang jenius itu tidak menemukan apa-apa di kamp. Diakon Fang, sebagai kepala logistik Sektor Ketiga, memiliki akses jadwal rute kereta pengiriman sekte. Ia sengaja mengarahkan kecurigaan Zhao Yan kepada para budak dan tabib kamp, sementara ia sendiri bersembunyi di Hutan Tulang Berduri untuk menelan ginseng curian itu demi menembus kemacetan kultivasinya.
Pria gemuk dan malas itu selama ini menggunakan citranya yang tidak berguna sebagai kedok keserakahan yang mematikan.
"Serigala berbulu babi hutan," bisik Li Yun dingin.
Mengetahui kebenaran ini tidak membuatnya merasa ingin menegakkan keadilan atau melapor pada sekte. Sebaliknya, informasi ini adalah bom waktu. Jika Diakon Fang tahu ada yang memegang kancingnya, seluruh Sektor Ketiga akan dibantai dalam semalam atas nama "wabah".
Tanpa meninggalkan jejak sidik jari atau fluktuasi Qi sekecil apa pun, Li Yun menghaluskan kembali tanah di dalam pohon beringin itu, menghilangkan jejak kakinya seolah tempat itu tak pernah didatangi siapa pun. Ia tidak membawa kancing itu. Benda itu terlalu berbahaya. Ia membiarkannya terkubur dalam-dalam di bawah abu formasi.
Membawa hadiah terbesarnya—serabut Ginseng Giok Bulan—Li Yun segera kembali ke kamp secepat hantu.
Hari itu, Ah San selamat dari kematian berkat racikan sup Jamur Tengkorak Hijau. Diakon Fang masih duduk di posisinya, minum anggur dan membentak para budak seolah ia adalah pejabat sekte paling setia yang tidak berdosa.
Namun di dalam tenda medisnya yang reyot, Li Yun memulai persiapannya dengan mata yang bersinar lebih dingin dari sebelumnya. Malam ini, tungku tanah liatnya tidak akan merebus rumput liar. Ia akan mengekstrak serabut rembulan, mendorong kultivasinya, dan bersiap menghadapi badai yang akan pecah ketika Diakon Fang akhirnya menyelesaikan terobosannya.