Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipanggil ke Polda.
Setelah Ardi duduk menjauh dari Ani, Edwin melanjutkan pembicaraan dengan Ani. Edwin mengatakan bahwa pemanggilan Ani bukan hanya untuk memberikan keterangan kasus kecelakaan Fardan, tetapi ia juga meminta keterangan kepada Ani mengapa Nadira berada di dalam mobil Fardan saat terjadi kecelakaan.
“Saya tidak mengenal siapa Ibu Nadira Naviza. Saya baru mendengar namanya dari Pak Edwin,” jawab Ani.
“Mungkin Pak Fardan pernah bercerita memiliki teman kuliah atau teman sekolahnya dulu?” tanya Edwin sambil mengetik di laptop.
“Saya tidak pernah mendengar suami saya menyebut nama Ibu Nadira Naviza,” jawab Ani sambil meremas jemari tangannya. Ia sedikit gugup menjawab pertanyaan Edwin karena ia tidak tahu apa pun mengenai Nadira. Edwin menghela napas mendengar jawaban Ani, Ani terliha tidak mengetahui siapa Nadira.
“Maaf Pak Edwin. Mengapa dari tadi Bapak menanyakan Ibu Nadira ke saya? Mengapa tidak tanya ke Pak Ardi langsung?” Dada Ani berdetak kencang. Ia takut suaminya terlibat sebuah kasus.
Edwin berhenti mengetik lalu menatap Ani. “Menurut Pak Ardi, beberapa hari sebelum terjadi kecelakaan, Ibu Nadira pamit pergi ke Wonosobo untuk menghadiri reuni dengan teman-teman kuliah. Ia pergi dengan dijemput oleh teman wanita,” jawab Edwin.
“Kenapa tidak Pak Edwin tanyakan ke teman-teman Ibu Nadira? Mengapa harus tanya ke saya?” tanya Ani dengan polos.
“Karena dia ada di mobil suami kamu, bodoh!” sahut Ardi dari belakang.
Ani menoleh ke belakang. Ia menatap ke arah Ardi. “Mengapa Pak Ardi tidak tanyakan langsung ke suami saya? Mengapa harus bertanya kepada saya?” tanya Ani dengan polos.
“Kalau dia tidak koma, sudah saya tanyakan langsung ke suami kamu. Kalau perlu saya pukul dia hingga babak belur. Beruntung dia dalam keadaan koma, saya tidak perlu menghajar sampai babak belur!” seru Ardi dengan kesal.
Pandangan Ani kembali kepada Edwin. “Sebetulnya apa yang terjadi, Pak? Apa Pak Edwin mencurigai suami saya?” tanya Ani dengan pandangan curiga.
“Kami belum bisa mengatakan apa-apa, karena kasus ini masih dalam tahap penyelidikan,” jawab Edwin lalu kembali mengetik. Edwin melanjutkan pertanyaan. Di luar dugaan, ternyata hanya menjawab pertanyaan memakan waktu yang lama. Edwin mengajukan pertanyaan secara detail. Ani hanya menjawab yang ia tahu.
Proses tanya jawab baru selesai pukul tiga sore. Selama itu pula Ardi berada di ruangan itu mendengarkan jawaban Ani. Setelah pulang dari Polrestabes Ani tidak kembali ke rumah sakit. Ia memutuskan pulang ke rumah untuk beristirahat. Ia bukan hanya lelah menjawab pertanyaan Edwin, Ia juga merasa lelah mendengar perkataan Ardi yang terdengar kasar di telingannya.
Ani baru saja selesai sholat ashar, telepon seluler miliknya berdering. Ani bangun dari sajadah mengambil telepon seluler yang berada di atas nakas. Ia melihat di layar telepon seluler ‘Mama Nita menelepon.’ Ani menjawab telepon Nita. “Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Bagaimana, Ni. Sudah ke Polrestabes?” Terdengar suara Nita di seberang sana.
“Sudah, Ma,” jawab Ani.
“Kamu ditanya apa saja?” tanya Nita. Ani menceritakan semua pertanyaan yang ditanyakan oleh pihak kepolisian. Termasuk tentang adanya seorang wanita bernama Nadira Naviza di mobil Fardan ketika kecelakaan terjadi. Ani juga menceritakan kalau Nadira bukan lah rekan sekantor Fardan. Sekarang pihak kepolisian sedang menyelidiki kasus ini.
Nita seketika diam mendengar yang dikatakan Ani. Sampai akhirnya Ani selesai menceritakan semuanya. “Ya sudah, kita tunggu jawaban dari kepolisian,” ujar Nita.
“Sekarang Ani istirahat. Ani pasti cape setelah seharian di sana. Assalamualaikum.” Nita mengakhiri pembicaraannya. Ani meletakkan telepon seluler di atas nakas. Ia kembali dzikir.
.
.
Seminggu kemudian Ani kembali di panggil ke kepolisian. Kali ini ia bukan dipanggil ke Polrestabes Bandung, tetapi ia dipanggil ke Polda Jabar. Kedua orang tua Fardan ikut bersama Ani. Mereka ingin mengetahui penyebab kecelakaan Fardan.
Ketika Ani sampai di depan ruang rapat, ia melihat Ardi bersama dengan pria dan wanita yang sudah lanjut usia. Seperti biasa Ardi menatap tajam dan memasang wajah yang tidak ramah ketika bertemu dengan Ani.
Mereka belum diperbolehkan masuk ke ruang rapat. Mereka dipersilahkan duduk di luar ruang rapat. Edwin datang menghampiri Ardi. Ia mengatakan sesuatu kepada Ardi. Entah apa yang Edwin katakan kepada Ardi sehingga membuat Ardi menghela napas panjang.
Setelah itu Edwin menghampiri Ani. “Ibu Ani, sebelum pembacaan hasil penyelidikan alangkah baiknya yang hadir dari pihak keluarga hanya Ibu saja. Demi menjaga kerahasiaan hasil penyelidikan. Karena ini menyangkut internal rumah tangga Ibu Ani,” ucap Edwin.
Ani terkejut mendengar ucapan Edwin. Ia menjadi tanda tanya mengapa keluarga lain tidak dianjurkan untuk ikut? “Tapi mereka orang tua Mas Fardan. Mereka ingin mendengar langsung penyebab kecelakaan Mas Fardan,” ujar Ani.
“Baiklah kalau itu yang Ibu inginkan.” Edwin pun berlalu dari hadapan Ani.
Akhirnya nama Ani di panggil ke ruangan rapat. Ani beserta kedua orang tua Fardan memasuki ruang rapat. Di dalam ruang rapat hanya ada beberapa orang polisi termasuk Edwin diantaranya.
“Silahkan duduk Pak, Bu.” Salah satu polisi menunjuk ke kursi kosong. Ani dan kedua orang tua Fardan duduk di kursi tersebut. Tidak lama kemudian Ardi masuk ke dalam ruangan bersama pria dan wanita yang berusia setengah baya. Mereka duduk di sebelah kursi Ani.