"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang tua baru
"Oek... Oek... Oek..."
Tangisan bayi Riyanti terdengar begitu kencang hingga sepasang suami istri yang sedang beristirahat di pinggir jalan merasa ketakutan karena mengira tempat mereka beristirahat adalah tempat yang angker.
Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah seminar, sang suami adalah seorang dosen dan pernikahan mereka sama sekali tidak di karuniai anak setelah sang suami di nyatakan mandul, tapi si istri dengan setia tetap berada di samping suaminya meskipun banyak anggota keluarga yang menentang.
"Mas, jangan jangan di tempat ini banyak hantunya, aku takut karena tadi kata kepala desa di sini kampung ini angker kecuali di area pesantren Miftahul Huda" bisik si istri yang bernama Rebecca.
"Kamu jangan menakut nakuti aku dong Eca, nanti bagaimana kalau ternyata hantunya ke sini" keluh si suami yang bernama Andar
"Tapi mas, itu suara tangisan bayinya kencang sekali"
"Oek.."
"Tuh mas, suaranya di semak semak itu mas"
"Biar aku lihat dulu, mungkin ada yang buang bayi"
Andar berjalan perlahan, tempat itu begitu sepi karena di kampung Ciremai jarak antar kampung cukup jauh dan di pisahkan oleh hutan di setiap satu kilometer jalan aspal di snaa. Andar juga mengarahkan senter yang dia bawa karena hari sudah mulai gelap hampir memasuki waktu suruf.
Srak.
"Astagfirullah!" kaget Andar saat melihat seekor tikus besar keluar dari balik semak semak.
"Oek... Oek..."
"Suaranya melemah, apa itu hantu ya" gumam Andar kembali melihat sekeliling hingga dia melihat pergerakan sebuah kain yang membungkus tubuh bayi Riyanti, membuatnya terbelalak dan langsung berlari untuk mengambil bayi Itu.
"Innalillahi nak... kamu tidak apa apa, siapa yang sudah membuang kamu bahkan tali pusar kamu belum terlepas" ucap Andar khawatir.
Dia segera membawa bayi itu ke arah Rebecca yang juga terkejut ternyata suara yang mereka dengan benar benar suara seorang bayi kecil yang sudah di kerubuti semut, Sanca sampai menahan dirinya untuk tidak menolong bayi Riyanti karena dia ingin bayi itu di rawat oleh Andar dan Rebecca yang dia tahu sebagai manusia yang baik.
"Nak, aku sudah mengikuti pasangan ini sejak tiga hari, mereka cocok untuk menjadi orang tua baru kamu, aku juga akan tetap mendampingi kamu, menjadi pelindung kamu agar ibumu tidak khawatir di alam sana" ungkap Sanca
"Mas, ini benar benar bayi, Ya Allah kasihan sekali dia mas, cepat bawa ke dalam mobil, aku akan bersihkan tubuhnya dengan air yang kita bawa"
"Iya Eca, aku akan buang semut semut di kain bedong ini, sepertinya kain ini juga sudah kotor sekali"
"Ada selimut di jok belakang mas, gunakan itu saja nanti setelah kita sampai di rumah sakit baru kita periksa bayinya"
"Dia bayi perempuan mas, cantik sekali, tega sekali orang yang sudah membuangnya" lirih Rebecca mengusap pipi bayi Riyanti.
Andar menatap Rebecca yang terlihat khawatir, dia melihat sekeliling yang begitu sepi dan dia yakin bayi itu di buang, melihat istrinya yang begitu mengkhawatirkan bayi itu, Andar tanpa pikir panjang langsung membawa bayi itu pulang dan akan menjadikan bayi itu anaknya dan Rebecca.
"Eca, ini rahasia kita, bayi ini adalah anak kita sekarang, keluarga kita tidak pernah lagi berkunjung ke tempat kita sejak bertahun-tahun yang lalu, dan mereka tidak akan tahu" ucap Andar menatap dalam Rebecca.
"Iya mas, bayi ini anak kita, anak tunggal kita" jawab Rebecca mengangguk yakin.
Semua jejak keberadaan bayi itu mereka ambil termasuk kain bedong lusuh yang menjadi pembungkus tubuh bayi Riyanti, mereka tidak akan membiarkan ada bukti ataupun saksi karena mulai saat itu, bayi Riyanti adalah bayi mereka.
"Nanti kita carikan nama yang bagus ya mas" ucap Rebecca mendekap erat bayi yang sekarang tertidur nyenyak itu.
"Kita cari yang paling bagus" jawab Andar terlihat bahagia
•••••••••••
Di rumah Raditya.
"Ma, berikan air ini pada mas Raditya, ini air dari dukun Tarman dan di jamin bisa menundukkan mas Raditya, sudah tiga hari dia bersikap acuh bahkan tidak mau makan, Eva sudah bosan ma" ucap Eva menyodorkan satu gelas air berwarna hitam yang sudah di berikan guna guna penunduk oleh dukun langganan Eva.
Eva tertarik pada Raditya setelah Raditya menolongnya dari beberapa preman di pasar, tapi dia harus kecewa karena ternyata Raditya sudah punya istri dan begitu setia pada istrinya. Hingga berita tentang Riyanti yang di culik genderuwo dia dengar dan dia gunakan kesempatan itu untuk membuat Raditya merasa Riyanti yang hamil membawa sial untuknya.
Ya, kesialan yang di alami Raditya adalah ulah Eva, dia membuat pekerjaan Raditya tidak berjalan lancar dengan cara menyogok beberapa karyawan pabrik untuk membuat Raditya di marahi bosnya, hingga Eva menawarkan modal membuat pabrik roti pada Raditya yang juga pintar membuat kue dan roti.
Raditya menerima bantuan itu meskipun dia juga masih bekerja di pabrik karena pabrik roti miliknya belum berdiri. Tapi Hilda yang sudah terhasut mulut manis Eva jadi semakin membenci Riyanti, dan dia tidak mengijinkan Raditya untuk bersama Riyanti, bahkan memaksa Raditya untuk menikahi Eva dan menggunakan uang perusahaan untuk membiayai pernikahan mereka hingga dia di pecat karena Eva menginginkan pernikahan yang mewah.
"Baiklah mama akan berikan ini untuk dia" jawab Hilda
"Mas Radit harus segera mengurus kembali pabrik roti milik kita ma, pabrik itu sudah banyak pelanggan bahkan Eva berniat untuk membuka toko roti dan kue di dekat pesantren" ucap Eva
"Mama senang dengan kamu sayang, kamu lebih bisa di andalkan daripada si Riyanti itu" ucap Hilda
"Apa ada yang menanyakan Riyanti dan anaknya ma?" tanya Eva
"Banyak, tapi mama mengatakan kalau Riyanti dan anaknya meninggal setelah melahirkan dan di bawa keluarganya" jawab Hilda dan Eva puas dengan jawaban Hilda.
Hilda pergi ke arah depan tempat Raditya duduk termenung karena dia masih begitu sedih Riyanti tidak lagi bersamanya, Hilda bahkan memaksa Raditya meminum air yang rasanya pahit itu meskipun Raditya menolaknya. Hingga beberapa detik setelah air itu habis, Raditya pingsan dan tiba tiba tubuhnya di masuki banyak asap hitam.
"Astaga Raditya! Eva!" panggil Hilda
"Tenang ma, ini memang efeknya jadi mama jangan khawatir, ayo bantu Eva membawa mas Raditya ke dalam, besok mas Raditya yang baru akan muncul ma, dan kita akan pastikan mas Raditya ada dalam kendali kita" ucap Eva menyeringai.
Keduanya membawa Raditya ke dalam rumah, ada seorang tetangga yang mendengar ucapan Eva dan dia merinding karena ternyata Eva begitu jahat dan menggunakan ilmu hitam untuk menundukkan Raditya.
"Aku harus hati hati dengan orang itu"