NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Sabtu malam Adrian tidak langsung pulang ke apartemen. Setelah Alina keluar dari Menara, ia naik ke lantai 32 dan duduk di ruang kerjanya sampai gedung mulai sepi. Lampu koridor dipadamkan sebagian. Dari jendelanya, Sudirman masih bergerak, tapi lantai ini tidak. Map abu-abu masih di meja. Catatan Dimas tentang tiga transaksi dan dua tambahan sudah ia baca berkali-kali. Angka itu tidak bohong. Seseorang telah menggeser, dan Lazuardi masih menunggu.

Ia membuka laci kredensa data room di kepalanya, lalu teringat kunci yang masih di saku. Ponsel Alina belum ia buka. Ia mengeluarkan kunci itu, meletakkannya di meja, dan tidak turun ke lantai 28. Ia tidak ingin membuka. Bukan karena menghormati privasi, tapi karena sekali ia melihat isinya, ia harus memutuskan apakah akan memakai apa yang ia temukan atau tidak. Foto, nama kontak, pesan yang bisa jadi alat. Atau tidak ada sama sekali, dan ia tetap harus hidup dengan keputusan sudah mengintip. Ia memilih menunda.

Kunci ia masukkan kembali ke saku. Jam di meja melewati sebelas. Resepsionis malam sudah tidak mengirim laporan yang perlu ditandatangani.

Menjelang tengah malam ia pulang ke Senopati. Apartemen itu tenang, terlalu tenang. Sepatu ia letakkan di rak. Jas ia gantung. Di ruang kerja kecil di sudut, ada lemari yang jarang ia buka. Kuncinya tergantung di dalam laci meja, bukan di gantungan bersama kunci kantor. Di dalamnya tersimpan map-map pribadi ayahnya, Darmawan Mahendra. Sebagian sudah ia urus setelah kematian stroke 2019. Sebagian ia biarkan karena dinasihati bahwa isinya urusan harta, bukan operasi. Penasihat itu sudah tidak ia pakai. Map-mapnya tetap di situ.

Malam itu, tanpa alasan yang sepenuhnya ia pahami, ia membuka lemari itu. Engselnya berat. Bau kertas lama keluar lebih dulu daripada warna map. Ia mencari map yang berlabel operasi lama, menggeser yang bertuliskan tanah dan yang bertuliskan rumah. Di antara tumpukan, ada satu map cokelat tebal dengan tulisan tangan ayahnya di sampul: "Koridor Timur - jangan diarsipkan biasa."

Adrian menatap tulisan itu cukup lama. Tinta hitamnya sudah agak cokelat di tepi huruf. Ia tidak langsung membuka. Ia meletakkan map di meja, menyalakan lampu baca, lalu duduk. Jari-jarinya menelusuri tepi kertas yang sudah menguning sedikit. Debu menempel di ujung jarinya. Ia membukanya dengan ibu jari, pelan, supaya kertas yang sudah kaku tidak robek di lipatan.

Isinya bukan laporan formal. Ada catatan tangan, beberapa print-out transaksi, dan satu amplop kecil yang belum terbuka. Amplop itu dijepit di bagian belakang dengan klip yang sudah berkarat di ujungnya. Ia tidak membuka amplop itu malam ini. Jari-jarinya sempat berada di klip, lalu ia lepaskan. Ia hanya membaca catatan di halaman depan: daftar vendor, tanggal, dan beberapa nama yang sudah tidak aktif. Di salah satu baris, nama Lazuardi muncul dengan coretan pensil di sampingnya. Bukan coretan yang mencoret nama itu habis. Hanya tanda, seolah seseorang berhenti di situ dan belum memutuskan mau menulis apa.

Adrian menutup map. Ia tidak membaca lebih jauh. Halaman kedua sempat terlihat sepintas, lalu ia tutup sebelum matanya mengikuti barisnya. Ia tahu kalau ia membuka semuanya sekarang, tidur tidak akan datang. Dan besok ada pertemuan yang tidak boleh ia hadiri dengan mata yang belum selesai bertengkar dengan kertas ayahnya.

Ia memasukkan map ke dalam tas kerja, bukan mengembalikannya ke lemari. Pintu lemari ia kunci lagi. Besok, setelah pertemuan dengan perempuan itu, ia akan memutuskan apakah akan membacanya penuh atau tidak.

Di Tebet, Alina tidak tidur nyenyak. Ia berbaring di kasur tipis, menatap langit-langit, memikirkan pertemuan besok. Nama asli. Alasan. Di kepalanya kalimat itu sudah disusun, lalu ia bongkar, lalu ia susun lagi lebih pendek. Ia sudah mempersiapkan kalimat, tapi ia tahu Adrian bukan orang yang mudah puas dengan kalimat yang disiapkan. Kalimat yang rapi biasanya terdengar seperti yang dilatih. Adrian akan mendengar bagian yang dilatih itu lebih dulu.

Mei sempat mengirim pesan lewat laptop: "Jangan pergi sendirian kalau bisa. Tapi saya tahu kau akan pergi."

Pesan itu masuk setelah jaringan sempat putus dua kali. Alina membaca sambil duduk, kaki masih di lantai, tidak berbaring lagi.

Alina membalas singkat: "Tempat netral. Dimas ikut. Saya akan kembali."

Ia menunggu tanda terkirim. Baru setelah itu ia menutup laptop. Lampu meja tetap menyala. Ia tidak mematikannya.

Pagi Minggu, Dimas sudah berada di kafe kecil di Menteng satu jam sebelum waktu yang ditentukan. Tempat itu dipilih karena tidak ramai di siang hari, memiliki meja di sudut yang cukup jauh dari jendela depan, dan pemiliknya tidak punya hubungan dengan Mahendra maupun Kusuma. Dimas sudah mengecek itu semalam: nama usaha, nama di balik sewa, dan tidak ada vendor yang menempel di dinding. Ia memesan kopi dan duduk menghadap pintu. Cangkirnya ia letakkan di sisi kiri, supaya sisi kanan meja kosong.

Pelayan bertanya apakah ia menunggu orang. Dimas bilang dua orang, dan mereka tidak perlu menu dulu.

Adrian datang tepat waktu. Jas gelap, tanpa dasi. Ia melihat sudut itu tanpa harus mencari. Tas kerjanya ia letakkan di kaki kursi, bukan di meja. Di dalam tas itu ada map cokelat yang semalam tidak ia baca habis. Ia duduk di seberang Dimas. "Dia belum?"

"Belum. Masih sepuluh menit."

"Tempat ini bersih?"

"Tidak ada nama kita di sini. Tidak ada nama mereka juga."

Mereka tidak banyak bicara. Dimas memegang laptop yang berisi foto 2019 di folder terenkripsi. Laptop itu tertutup. Ia belum memutuskan apakah akan menunjukkannya hari ini. Kalau ia membuka terlalu cepat, pengakuan perempuan itu akan kalah oleh foto. Kalau ia tidak membuka sama sekali, ia tetap memegang sesuatu yang Adrian nanti bisa anggap disembunyikan.

Adrian memesan air putih. Kopi Dimas sudah dingin di tepinya. Ia tidak memesannya ulang.

Alina datang dua menit sebelum jam. Pintu kafe berbunyi pelan. Ia memakai kemeja putih dan celana gelap, rambut diikat rendah seperti biasa. Ia tidak membawa tas besar. Hanya dompet dan selembar kertas yang sudah dilipat. Matanya menemukan meja sudut tanpa bertanya ke pelayan. Ia duduk di kursi kosong tanpa menunggu diundang.

Adrian menatapnya. "Sesuai kesepakatan. Identitas."

Alina meletakkan kertas di meja. Lipatannya dibuka dengan dua jari, lalu diratakan supaya hurufnya tidak patah di tengah. "Alina Prameswari. Anak Baskara Prameswari. Saya masuk karena saya yakin ada yang digeser dari laporan yang membuat nama ayah saya jadi pencuri. Saya tidak dikirim siapa-siapa. Saya bekerja sendiri."

Ruangan seolah menyusut. Suara penggiling kopi di belakang tetap ada, tapi meja ini tidak mendengarnya. Dimas tidak bergerak. Adrian menatap nama di kertas, lalu menatap wajah Alina. Ia tidak mengambil kertas itu. Ia membacanya dari tempatnya.

"Anda sudah menolak mengaku di ruang sekuriti," kata Adrian. "Sekarang Anda mengaku di sini."

"Karena di sini tidak ada kamera yang merekam untuk laporan internal."

Adrian menarik napas. "Baskara Prameswari. Mantan Direktur Keuangan. Skandal Koridor Timur. Anda masuk ke data room perusahaan yang Anda yakini menghancurkan ayah Anda, memakai nama belakangnya, menolak disebut utusan Kusuma, dan sekarang mengakui darah."

"Saya mengakui karena angka yang saya temukan tidak cocok dengan cerita resmi. Bukan karena saya ingin Anda merasa kasihan."

"Kasihan tidak mengubah laporan."

"Makanya saya tidak memintanya."

Dimas membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Laptop di pangkuannya terasa lebih berat. Ia tidak mengeluarkan foto itu. Belum. Di foto itu ada wajah yang sekarang duduk di kursinya, lebih muda, di baris belakang. Mengeluarkannya hari ini akan membuat meja ini bicara soal darah sebelum bicara soal selisih. Ia memilih menelan kalimat yang sudah sampai di ujung lidah.

Adrian mengetuk meja sekali. "Ponsel Anda akan dikembalikan hari ini. Tapi akses ke draf berhenti. Mulai sekarang, setiap pertemuan harus melalui Dimas. Tidak ada masuk tanpa izin. Tidak ada celah kurir. Tidak ada data room."

"Dan angka itu?"

"Saya yang akan periksa. Bukan Anda."

Alina tidak berdiri. Tangannya tetap di tepi kertas, menahannya supaya tidak tergulung kembali. "Kalau Anda memeriksa sendirian, jejaknya bisa hilang sebelum saya melihat hasilnya."

"Itu risiko yang Anda ambil saat masuk dua kali tanpa izin." Adrian berdiri. Tasnya ia angkat. "Dimas akan mengantar ponsel Anda ke tempat ini dalam satu jam. Setelah itu, Anda bebas pergi. Kalau Anda mencoba masuk lagi tanpa kesepakatan baru, saya tidak akan menahan laporan."

"Satu jam. Di sini."

"Di sini."

Ia keluar lebih dulu. Pintu berbunyi lagi. Dimas tinggal sejenak, menatap Alina. Kopi di mejanya tidak ia habiskan. Ia mencondongkan badan sedikit, cukup supaya pelayan tidak perlu mendengar.

"Saya tahu," kata Dimas pelan. "Dari foto lama. Saya belum bilang ke dia semua."

Alina menatapnya. "Kenapa?"

"Karena sekali nama itu jadi fakta di mejanya, semuanya berubah. Saya ingin angka dulu yang berbicara."

"Angka sudah berbicara di ruang baca."

"Di ruang baca Anda masih nama di buku tamu. Hari ini baru jadi nama yang bisa ia bawa pulang." Dimas menutup laptop lebih rapat. "Saya tidak menolong Anda. Saya menahan supaya meja itu tidak langsung berubah jadi meja keluarga."

Alina tidak mengucapkan terima kasih. Ucapan itu akan membuat kalimat Dimas terdengar seperti pihak. Mereka belum di pihak yang sama.

Dimas berdiri dan pergi. Alina tinggal sendirian di meja sudut, menatap kertas namanya yang masih terbuka. Pelayan mendekat, melihat dua kursi kosong, lalu bertanya apakah ia mau memesan. Alina menggeleng. Pelayan tidak memaksa. Satu jam terasa panjang di kafe yang tidak ramai. Ia tidak membuka dompet untuk melakukan apa pun selain memastikan kertas itu bukan satu-satunya yang ia bawa. Kartu identitas ada di dalam. Ia tidak meletakkannya di meja. Kertas yang sudah dibaca Adrian cukup untuk hari ini.

Satu jam kemudian Dimas kembali dengan ponsel yang sudah dipegangnya. Ia tidak duduk. Ia meletakkannya di meja tanpa banyak kata, layar menghadap ke bawah, lalu pergi lagi. "Baterainya mungkin habis. Saya tidak menyalakan."

"Baik."

Alina memegang ponsel itu. Plastiknya dingin. Layar masih gelap. Ia tidak langsung menyalakannya. Ia hanya duduk di kafe yang semakin sepi, memikirkan bahwa identitasnya sudah terbuka, ponsel sudah kembali, dan akses sudah ditutup. Kemenangan kecil yang terasa seperti kekalahan yang ditunda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!