"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Jantung Luna serasa berhenti berdetak saat mendengar suara ibunya dari balik pintu. Rania langsung menepuk pelan paha sahabatnya, memberikan isyarat agar Luna tidak panik.
"Ssshh, tenang, Lun. Hapus air mata lu sekarang," bisik Rania cepat, merapikan rambut Luna. "Dengerin saran gue."
"G-gue harus gimana, Ran?" bisik Luna terbata, mengusap pipinya yang basah.
"Sikap lu harus berubah seratus delapan puluh derajat mulai detik ini," Rania menatap mata Luna tajam. "Lu mau Pak Marko ngeliat lu kayak cewek manja yang lagi patah hati? Nggak kan? Tunjukin kalau ucapan dia tadi malam nggak ngefek sama sekali ke lu. Bersikap biasa aja, profesional, jual mahal. Bikin dia penasaran dan mikir kalau lu udah nggak ngejar-ngejar dia lagi."
Luna menarik napas dalam-dalam, mencerna perkataan Rania. Sebuah ketegangan baru muncul di dadanya. "Lu bener. Gue nggak boleh kelihatan lemah di depan dia."
"Nah, gitu dong! Ayo, turun," dorong Rania pelan.
Luna membuka pintu kamar, mendapati ibunya tersenyum di koridor. "Iya, Ma. Berkasnya ada di tas. Luna turun sekarang."
Di ruang tamu, Marko berdiri tegap dengan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi. Raut wajahnya kaku, ada guratan cemas tipis yang tersembunyi di balik tatapan dinginnya. Namun, begitu melihat Luna turun dengan langkah tenang dan ekspresi wajah yang datar tanpa emosi, Marko sedikit tertegun.
"Selamat malam, Pak Marko. Ini berkas yang ketinggalan," ujar Luna dengan suara yang teramat formal, menyodorkan map tanpa menatap mata Marko terlalu lama.
Marko menerima map itu. Jemarinya sempat bersentuhan dengan jemari Luna, namun gadis itu dengan cepat menarik tangannya kembali seolah tersengat listrik.
"Terima kasih, Aluna. Sori mengganggu malam-malam," balas Marko pelan, matanya mencari-cari raut patah hati atau kekesalan di wajah Luna, tapi yang ia temukan hanyalah dinding dingin.
"Sama-sama, Pak. Kalau sudah tidak ada hal lain, saya permisi ke atas. Mau lanjut belajar," pamit Luna anggun, membungkuk kecil lalu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban Marko.
Marko berdiri mematung di ruang tamu, menatap punggung Luna yang menjauh. Ada rasa janggal dan kehilangan yang tiba-tiba berdesir halus di dadanya saat mendapati perubahan sikap gadis itu yang mendadak tak tersentuh.
Keesokan harinya, penderitaan Luna di kantor berlanjut. Maya kembali memanfaatkan posisinya untuk menumpukkan pekerjaan ekstra di meja Luna.
"Aluna! Ini laporan audit operasional lima cabang. Rekap ulang ke sistem sebelum jam istirahat selesai," perintah Maya tanpa merasa bersalah, menumpukkan map baru di meja Luna.
"Mbak Maya, laporan ini kan jatah kerjaan tim senior? Kenapa semuanya dilempar ke saya?" tanya Luna tegas, berusaha menatap Maya tanpa rasa takut.
Maya tersenyum meremehkan. "Kan kamu staf magang yang katanya mau belajar banyak? Kalau nggak sanggup, bilang dari awal. Biar saya laporkan ke Pak Doni kalau kamu cuma mau makan gaji buta di sini."
Luna mengepalkan tangannya di bawah meja. "Baik, Mbak. Saya kerjakan."
Saat jam istirahat siang tiba, Luna dan Rania akhirnya bisa melarikan diri ke kantin utama gedung Janitra Group yang cukup luas. Luna membawa nampan berisi porsi makan siang yang dua kali lipat lebih banyak dari biasanya: piring nasi penuh, dua potong ayam goreng, mie goreng, serta mangkuk es campur besar.
"Gila lu, Lun! Itu perut apa gentong? Lu mau makan apa mau syukuran?" celetuk Rania kaget melihat isi nampan sahabatnya saat mereka duduk di sudut kantin.
"Gue gedeg banget sama si Maya dower itu, Ran!" omel Luna emosi, langsung menjejalkan sepotong ayam ke mulutnya dan mengunyahnya kasar. "Sumpah ya! Muka aja yang sok anggun, tapi kelakuan kayak nenek lampir! Semua berkas ribet dilempar ke gue! Nanti kalau gue udah jadi bos, gue pecat tuh orang pertama kali!"
Rania tertawa terbahak-bahak melihat cara Luna meluapkan kekesalannya. "Bagus, pelampiasan yang sangat positif. Makan yang banyak biar lu kuat ngadain perlawanan!"
"Beneran deh, kalau bukan demi nyari pengalaman dan..." Luna menghentikan kalimatnya, menelan makanannya pelan. "Ah, tau ah!"
"Ssshh, inget strategi kita semalam," bisik Rania mengingatkan. "Lu harus tetep elegan."
Namun, ketenangan singkat itu mendadak buyar saat suasana kantin dan lobi utama yang terlihat dari dinding kaca transparan menjadi heboh. Beberapa karyawan di meja sebelah mulai berbisik-bisik heboh.
"Eh, liat deh! Itu Pak Marko kan?"
"Iya! Sama Mbak Jessi lagi! Ya ampun, Mbak Jessi gandeng tangan Pak Marko terang-terangan gitu di lobi!"
"Mereka mau makan siang bareng ya? Cocok banget sih, yang satu CEO tampan matang, yang satu model papan atas. Serasi banget!"
Luna refleks menoleh ke arah lobi. Di sana, melalui dinding kaca, tampak Marko sedang berjalan bersama Jessi. Wanita bergaun ketat itu tanpa ragu melingkarkan tangannya di lengan kekar Marko. Marko memang tidak merangkul balik, namun pria itu juga tidak menepis tangan Jessi saat mereka berjalan bersama keluar gedung menuju mobil.
"Tuh kan! Gosip di lantai lima beneran berarti!" bisik salah satu staf wanita di sebelah meja Luna. "Katanya Pak Marko sama Mbak Jessi udah dekat dari bulan lalu. Malah ada yang bilang Mbak Jessi sering nungguin Pak Marko di ruangan sampai malam."
Crak!
Luna tanpa sadar mematahkan kerupuk di tangannya hingga hancur berkeping-keping. Matanya menatap tajam ke arah dua insan yang baru saja menghilang di balik pintu kaca lobi.
"Lun... Lun, tenang, Lun. Kerupuknya nggak salah apa-apa," bisik Rania panik, memegang tangan Luna yang gemetaran menahan emosi.
"Dua kali, Ran," panggil Luna, suaranya terdengar begitu dingin dan bergetar. "Dua kali gue liat wanita itu nempel-nempel ke dia di depan mata gue sendiri."
"Lun, dengerin gue," Rania menepuk-nepuk punggung tangan Luna berusaha menenangkan. "Itu cuma gosip orang-orang kantor. Lu tahu sendiri kan netizen kantor sukanya goreng berita? Jangan kepancing emosi, nanti strategi lu buyar!"
"Tapi dada gue rasanya mau meledak, Ran," bisik Luna lirih, matanya memerah menahan panas. Kekesalan pada Maya yang menumpuk ditambah cemburu berlipat-lipat membuat pertahanannya runtuh seketika.
"Oke, oke. Habisin es campur lu, terus kita balik ke ruangan. Jangan kasih liat ke siapa pun kalau lu terpengaruh sama gosip murahan itu," bujuk Rania lembut.
Luna menghembuskan napas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. Ia meminum es campurnya cepat, berusaha menelan bulat-bulat rasa pahit di hatinya.
Pukul lima sore, jam kerja berakhir. Seluruh staf divisi analisis data mulai merapikan meja mereka dan bersiap pulang. Maya menyambar tas mewahnya, lalu melintas di depan meja Luna sambil tersenyum mengejek.
"Makasih ya, Aluna. Laporannya udah selesai kan? Selamat lembur kalau belum," sindir Maya penuh kemenangan sebelum melangkah pergi.
Luna hanya mengabaikannya, terus mengetik keyboard komputernya dengan cepat.
Suasana kantor perlahan makin sepi hingga tersisa Luna sendirian di ruangan luas itu. Pukul setengah tujuh malam, laporan bernomor rumit itu akhirnya selesai diisi. Luna meregangkan otot lehernya yang kaku, menghela napas lega.
Saat Luna berjalan menuju lift membawa berkas fisik yang sudah dicetak untuk diletakkan di meja supervisor, suasana koridor lantai atas sudah sangat lengang. Lights di beberapa sudut bahkan sudah diredupkan.
Namun, saat Luna melewati koridor dekat ruangan CEO, pintu ruangan itu mendadak terbuka.
Marko melangkah keluar membawa jas di lengannya. Pria itu tampak lelah, namun begitu matanya menangkap sosok Luna yang berdiri di koridor sepi membawa tumpukan berkas, langkah kakinya terhenti.
"Aluna? Kamu belum pulang?" tanya Marko dengan nada terkejut yang tak bisa disembunyikan.
Luna menghentikan langkahnya, menatap Marko dengan raut wajah yang kembali datar dan formal. "Belum, Pak. Saya baru selesai mengerjakan laporan tambahan dari Mbak Maya."
Marko berkerut dahi. "Laporan tambahan? Jam segini? Itu bukan tugas staf magang."
"Nggak apa-apa, Pak Marko. Saya di sini kan memang untuk kerja keras, bukan untuk main-main," sahut Luna menyindir halus ucapan Marko tempo hari. "Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat malam, Pak."
Luna berbalik hendak melangkah menuju lift. Namun, Marko yang merasakan ada kecanggungan luar biasa dan nada bicara yang begitu asing dari Luna, refleks menyusul dan memegang pergelangan tangan gadis itu dari belakang.
"Aluna, tunggu," panggil Marko rendah.
Luna terhenti, namun kali ini ia tidak menepis tangan Marko. Gadis itu perlahan memutar tubuhnya, menatap lurus ke mata Marko dengan pandangan dingin yang kosong.
"Ada hal lain yang perlu diselesaikan secara profesional, Pak Marko?" tanya Luna datar.
Marko menatap wajah pucat Luna, lalu pandangannya turun ke pergelangan tangan Luna yang terasa dingin di genggamannya. "Soal... gosip di kantor tadi siang. Soal saya dan Jessi—"
"Pak Marko nggak perlu repot-repot menjelaskan," potong Luna cepat dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Bukan urusan saya Pak Marko mau makan siang atau berhubungan sama siapa pun. Pak Marko tenang aja, saya udah paham batasan saya sekarang."
Marko membeku. Perkataan Luna yang begitu tenang namun dingin justru menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada saat gadis itu marah atau cemburu.