FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikut Aku ke Kamar
Raina mengerutkan dahinya tipis. Pekerjaan menyusun baju berdasarkan gradasi warna dan memoles sepatu padahal baru saja dikerjakan Mbok Sri kemarin lusa. Raina tahu betul, ini adalah cara Noah untuk memeras tenaganya dan menguji sejauh mana kesabarannya bisa bertahan.
^^^Raina: [Ada lagi, Tuan Muda?] tanya Raina tenang, berusaha tidak menunjukkan sedikit pun kekesalan di suaranya.^^^
Di seberang sana, Noah terdengar terkekeh sinis yaitu sebuah tawa kecil yang dingin.
Noah: [Kenapa? Kamu merasa keberatan, Raina? Atau tugas dari majikanmu ini terlalu berat untuk ukuran mantan mahasiswi arsitektur sepertimu?]
Raina mengepalkan tangannya yang menggenggam pulpen hingga buku-buku jarinya memutih. Sindiran itu tepat menusuk lukanya, namun Raina menahan napas dan meredam emosinya.
^^^Raina: [Tidak, Tuan Muda. Saya tidak keberatan,] jawab Raina mantap dan tegas.^^^
^^^[Semua instruksi Tuan akan saya kerjakan sampai selesai sebelum sore.]^^^
Noah: [Bagus,] potong Noah dingin.
[Ingat, aku akan memeriksa sendiri hasilnya. Kalau ada satu baju yang salah posisi gradasinya atau ada debu tersisa di lemari arsip, kamu tahu konsekuensinya. Mengerti?]
^^^Raina: [Saya mengerti, Tuan Noah.]^^^
Tut... tut... tut...
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Noah tanpa salam penutup.
Raina menurunkan gagang interkom perlahan. Dia menghembuskan napas panjang, menatap daftar tugas di papannya.
'Baiklah, Noah. Kalau ini permainan kekuasaan yang ingin kamu mainkan, aku akan ladeni.' gumamnya dalam hati.
Selama tiga jam berikutnya, Raina bekerja tanpa henti. Dia membuka lemari arsip besar di ruang kerja Noah, memilah puluhan bundel berkas tebal yang berat, menyusunnya sesuai petunjuk warna dan tanggal dengan sangat teliti. Tangannya yang halus menata ulang folder demi folder hingga tersusun rapi sempurna.
Setelah ruang kerja selesai, Raina melangkah ke kamar pribadi Noah. Dia membuka lemari pakaian jati raksasa dan mulai memindahkan puluhan kemeja, jas, dan kaus premium milik Noah.
Dengan ketelitian mata seorang mantan mahasiswi desain dan arsitektur, Raina memisahkan gradasi warna pakaian tersebut mulai dari hitam pekat, charcoal, biru dongker, abu-abu tua, abu-abu muda, hingga putih bersih.
Tak berhenti di situ, Raina berlutut di atas karpet tebal, meraih rak sepatu kayu di bagian bawah lemari, dan mulai memoles lima pasang sepatu kulit eksklusif milik Noah hingga mengilap bagaikan cermin.
Keringat menetes dari pelipis Raina, membasahi beberapa helai rambutnya yang lepas dari ikatan. Pinggangnya terasa pegal luar biasa karena terus membungkuk dan berdiri berulang kali. Namun, tidak ada sepatah kata keluhan pun yang keluar dari bibirnya. Setiap kali rasa lelah menyergap, bayangan wajah Lio di paviliun menjadi bahan bakar utama yang membakar semangatnya.
Pukul tiga sore, seluruh tugas berat itu selesai dikerjakan dengan sangat sempurna.
Raina berdiri menyapu pandangannya ke sekeliling kamar Noah. Semuanya tertata sangat simetris, bersih, dan harum.
"Sudah selesai..." bisik Raina lega.
Namun, tepat saat Raina hendak meraih troli pembersihnya untuk turun ke lantai satu, suara deru mesin mobil yang amat dikenal terdengar memasuki pelataran halaman depan.
Raina tersentak, melangkah mendekati jendela kaca besar. Dari balik tirai, dia melihat mobil Mercedes-Benz hitam milik Noah terparkir di dekat air mancur. Pintu mobil terbuka, dan Noah Raja Rajendra melangkah keluar dengan jas yang tersampir di lengannya.
Raina terbelalak kaget.
'Noah pulang jam tiga sore?! Padahal biasanya dia baru pulang jam delapan malam!' tanyanya dalam hati dengan heran.
Jantung Raina berdebar kencang. Dia menyadari satu hal yaitu Noah sengaja pulang lebih awal untuk mendadak memeriksa pekerjaannya, berharap menemukan celah kesalahan agar bisa memojokkannya lagi.
Raina bergegas merapikan apron abu-abunya, menyapu peluh di wajahnya, dan berdiri kaku di tengah koridor lantai dua, menunggu sang pemilik rumah naik.
Langkah kaki tegap dan berat membentur anak tangga kayu jati. Noah melangkah naik dengan raut wajah yang dingin dan angkuh. Dasi hitamnya sudah dilepas, dua kancing kemeja atasnya terbuka, mempertegas aura ketampanan yang berbahaya dan mengintimidasi.
Saat Noah tiba di puncak tangga dan melihat Raina berdiri menunggunya, mata elangnya menyipit tajam.
"Tuan Muda," sapa Raina membungkukkan badannya hormat. "Selamat sore. Tugas-tugas yang Tuan Muda perintahkan via telepon tadi siang sudah selesai saya kerjakan seluruhnya."
Noah melangkah mendekati Raina, menghentikan langkahnya hanya sejengkal di depan gadis itu. Hawa dingin dari tubuh Noah menyergap indera Raina.
"Sudah selesai?" tanya Noah dengan nada suara meragukan, menaikkan sebelah alisnya. "Perasaanmu saja atau memang kamu kerjakan asal-asalan?" tuduh Noah.
"Saya kerjakan sesuai instruksi Tuan Muda dengan teliti," jawab Raina tegar, memberanikan diri menatap mata elang Noah. "Tuan Muda bisa memeriksanya sendiri sekarang."
Noah terkekeh sinis. "Tentu. Aku memang datang untuk memeriksa kejujuranmu."
Noah melangkah melewatkannya, berjalan masuk ke dalam ruang kerja pribadinya terlebih dahulu. Raina mengekor pelan di belakangnya, berdiri di dekat pintu.
Noah menghampiri lemari arsip di sudut ruangan. Jemari tangannya yang panjang dan bersih menyusuri deretan folder merah dan biru. Dia menarik beberapa berkas secara acak, memeriksa tanggal dokumen di dalamnya, lalu menatap urutan warna folder tersebut. Tidak ada satu pun yang salah. Semuanya tertata sangat rapi berdasarkan kronologi tahun dan kode warna.
Noah mengepalkan tangannya tipis, raut wajahnya menunjukkan sedikit rasa ketidaksukaan karena tidak menemukan kesalahan di sana.
"Ikut aku ke kamar," perintah Noah dingin seraya melangkah keluar menuju kamar tidurnya.
Di dalam kamar, Noah berjalan lurus ke arah lemari pakaian raksasa dan membuka pintunya lebar-lebar. Mata elangnya memindai deretan kemeja dan jas yang menggantung.
Gradasi warnanya begitu halus dan sempurna yaitu peralihan dari warna paling gelap di sebelah kiri hingga putih bersih di sebelah kanan tertata dengan presisi yang luar biasa.
Noah lalu menunduk, menatap rak sepatu di bagian bawah. Lima pasang sepatu kulitnya mengilap sempurna tanpa ada goresan atau noda debu sekecil apa pun.
Kamar itu begitu rapi, bersih, dan harum. Tidak ada celah sedikit pun untuk mencela pekerjaan Raina, tapi entah apa lagi yang akan dilakukan oleh Noah.
Noah berdiri tegap kembali, membalikkan badannya menatap Raina yang masih berdiri tenang di dekat pintu. Ada gejolak kekesalan dan kehampaan yang aneh bercampur aduk di dalam dada Noah.
Pria itu berharap melihat Raina menyerah, menangis, atau mengeluh memohon ampun padanya. Namun yang didapatkannya adalah sosok gadis yang tetap berdiri tegap, anggun, dan tak tergoyahkan di balik seragam pembantunya.
"Bagaimana, Tuan Muda?" tanya Raina dengan suara halus namun sarat akan ketegaran.
"Apakah ada posisi baju yang salah? Atau ada sepatu yang kurang bersih?" tanya Raina dengan sopan memposisikan dirinya sebagai pembantu.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
makanya jadi orang jangan digedein s gengsinya...
makan tu gengsi
semangat author yah