Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-5 Desakan Menikah Lagi
Damian keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, handuk melingkar di leher, dan kaus putih longgar menempel di tubuhnya. Udara dingin dari AC langsung menyambut kulitnya yang masih lembap.
Saat ia hendak duduk di tepi ranjang, ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur bergetar.
1 pesan dari Mama.
Damian menghela napas, sudah bisa menebak isinya sebelum membuka.
> Mama: Damian, kapan kamu mau menikah lagi?
Tebakan Damian benar.
Pria itu mengusap wajahnya dengan lelah. Sehari penuh menghadapi operasi darurat, lalu harus menyetir di malam hari sambil menolong gadis ceroboh yang bensinnya habis, dan sekarang diserang pertanyaan yang paling ia hindari.
Beberapa detik berlalu sebelum pesan lain masuk.
> Mama: Kamu sudah empat tahun menjanda, Nak. Masa masih betah sendirian?
Damian mendecak. Menjanda?
Ia tahu itu hanya candaan ibunya, tapi tetap saja menggelikan. Tangannya terulur, mengetik balasan singkat.
> Damian: Mama masih suka lebay, ya? Aku tidak menjanda, tapi duda.
Pesan terkirim, dan seperti yang diduga, balasan ibunya langsung datang.
> Mama: Ya ampun, Damian. Serius ini. Kamu itu sudah 35 tahun jalan 36 tahun, masa tidak kepikiran punya istri lagi?
Damian melempar ponselnya ke atas kasur, lalu menyandarkan tubuh ke kepala ranjang. Punya istri lagi?
Empat tahun berlalu sejak perceraiannya, dan selama itu pula ia tidak pernah benar-benar tertarik pada siapa pun. Luka dari pengkhianatan mantan istrinya masih tersisa, meskipun ia tidak lagi menyimpan dendam.
Dulu, ia mencintai wanita itu dengan sepenuh hati. Namun, saat ia sibuk bertugas di daerah konflik, menyelamatkan nyawa orang lain, wanita yang ia cintai justru menyelamatkan diri ke pelukan pria lain. Hingga menghasilkan seorang anak.
Ironis.
Damian mengusap wajahnya. Untuk apa menikah lagi kalau akhirnya berujung seperti itu?
Ponselnya kembali bergetar.
> Mama: Besok malam Mama ke rumah. Jangan kabur!
Damian mendesah. Mamanya memang tidak ada tandingannya. Tanpa membalas pesan itu, ia meraih remote AC, menurunkan suhu ruangan, lalu merebahkan diri di kasur.
Setidaknya, tidur bisa membuatnya lupa sejenak dari pertanyaan yang selalu sama.
**********
Amora membuka matanya perlahan, masih mengantuk dan malas beranjak dari kasur. Tapi begitu melihat sinar matahari sudah masuk dari celah jendela, otaknya langsung memproses satu hal—telat!
Ia buru-buru bangkit dan berjalan menuju lemari untuk mengambil seragam kerjanya.
Namun begitu ia membuka pintu lemari…
Berserakan. Berantakan. Kacau.
Amora mengerutkan kening. Pakaian yang biasanya ia lipat rapi kini acak-acakan, beberapa bahkan terlempar ke lantai. Jantungnya mulai berdebar tidak enak. Dengan gerakan cepat, ia merogoh laci di bagian bawah.
Kosong.
Tabungannya raib.
Sial!
“Enggak… enggak mungkin…” Amora berbisik, jari-jarinya gemetar saat mengaduk-aduk laci, berharap ada satu-dua lembar uang tersisa. Tapi tidak ada. Semua tabungan hasil kerja kerasnya hilang begitu saja.
Ia menggigit bibir, menahan air mata yang mulai menggenang. Jangan bilang…
Dengan napas memburu, ia keluar dari kamar dan menuju ruang tengah. Rumah sepi.
"Ayah?" panggilnya, meskipun dalam hati ia sudah tahu jawaban yang akan ia dapatkan.
Tidak ada sahutan. Tidak ada siapa-siapa.
Ayahnya menghilang lagi.
Amora mengepalkan tangan, marah, kecewa, ingin menangis, tapi tidak ada gunanya.
Sudah kesekian kalinya ini terjadi. Ayahnya selalu pulang hanya untuk mengambil uang, lalu pergi lagi entah ke mana. Ketika uangnya habis, barulah ia akan kembali dalam keadaan mengenaskan—mabuk, meminta belas kasihan, lalu mengulangi siklus yang sama.
Amora ingin berteriak. Ia sudah bekerja mati-matian, menabung sedikit demi sedikit, tapi semuanya lenyap dalam semalam.
“Brengsek…” gumamnya dengan suara tercekat.
Tiba-tiba ada suara kursi roda di belakangnya. Amora menoleh dan melihat Azka duduk di ambang pintu kamarnya, menatapnya dengan wajah muram.
"Kak… uangnya diambil Ayah, ya?" tanya Azka pelan.
Amora tersenyum tipis, menahan emosinya agar tidak meledak di depan adiknya. "Tidak apa-apa. Kakak masih bisa cari lagi."
Azka terdiam, lalu menunduk. "Maaf…"
Amora langsung berjalan mendekat dan berjongkok di depan adiknya. "Hei, kamu tidak perlu minta maaf, Azka. Ini bukan salah kamu, kok."
Azka mengangkat kepalanya, mata beningnya menatap Amora dengan penuh kesedihan.
"Ayah bakal balik lagi?" tanyanya ragu.
Amora menarik napas dalam. "Iya… kalau duitnya udah habis."
Seketika Azka tertawa kecil. Amora ikut terkekeh, meskipun di dalam hatinya ada kepahitan yang sulit dijelaskan.
Ia menatap wajah adiknya lama-lama, lalu dalam hati berjanji satu hal—ia tidak akan membiarkan Azka tumbuh dalam penderitaan selamanya.
Bagaimanapun caranya, ia harus keluar dari kehidupan menyedihkan ini.
*********
Amora menghela napas panjang, menghapus sisa air mata yang hampir jatuh. Tidak ada waktu untuk menangis.
Dengan cepat, ia beranjak ke dapur dan membuka kulkas. Isinya nyaris kosong—hanya ada beberapa butir telur, sebungkus roti tawar yang mulai mengering, dan sebotol air mineral.
Ya Tuhan, ini sarapan macam apa?
Tapi Amora tidak punya pilihan. Dengan cepat, ia mengocok telur, menambahkan sedikit garam, lalu menggorengnya jadi orak-arik. Sederhana, tapi setidaknya cukup untuk Azka.
Sementara itu, Azka sudah duduk di meja makan, memperhatikannya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Tidak usah dipikirkan, Kak," kata bocah itu pelan.
Amora menoleh, lalu tersenyum kecil. "Apanya yang tidak usah dipikirkan?"
"Uang kakak yang diambil Ayah," jawab Azka sambil mengangkat sendoknya. "Kakak pasti kesal, kan?"
Amora tidak langsung menjawab. Ia hanya meletakkan piring berisi orak-arik telur dan roti di hadapan Azka, lalu duduk di sampingnya.
"Kesal sih, iya," akunya. "Tapi lebih kesal kalau lihat kamu tidak makan."
Azka mendengus pelan, lalu mulai makan. Amora menatapnya sebentar, memastikan adiknya menghabiskan sarapannya. Anak ini sudah cukup menderita, ia tidak boleh menambah bebannya lagi.
Setelah Azka selesai makan, Amora segera membantunya bersiap ke sekolah. Dengan penuh kesabaran, ia membantu Azka memakai seragam, menyisir rambutnya, dan menyiapkan tasnya.
"Kak, aku bisa jalan sendiri kok," protes Azka ketika Amora hendak membantunya berdiri.
"Tahu," sahut Amora ringan. "Tapi aku kan tetap kakak kamu. Lagian, kalau bukan aku, siapa lagi?"
Azka hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya berdiri, meski tubuhnya agak goyah. Ia memang masih bisa berjalan, tapi tidak sepenuhnya tegak.
Dengan sigap, Amora meraih tasnya dan menggandeng tangan adiknya.
"Hari ini ada pelajaran apa?" tanyanya sambil berjalan keluar rumah.
Azka berpikir sejenak. "Kayaknya ada olahraga."
"Olahraga? Wah, seru dong."
Azka meliriknya dengan ekspresi bosan. "Kakak pikir aku bisa lari-lari kayak orang normal?"
Amora terdiam sesaat, lalu menyeringai. "Ya enggak. Tapi setidaknya, kamu masih bisa tendang bola ke arah guru olahraga. Pura-pura nggak sengaja, terus bilang ke beliau, 'Ups, refleks!'"
Azka terkekeh. "Kakak jahat banget."
"Realistis aja."
Percakapan kecil itu membuat suasana hatinya sedikit lebih baik. Saat ia mengantar Azka ke sekolah luar biasa (SLB) tempat adiknya belajar, Amora merasa hatinya sedikit lebih tenang.
Ia harus kuat untuk Azka.
Tak peduli betapa sulit hidupnya, betapa ia ingin menyerah, ia tidak boleh jatuh. Karena kalau ia menyerah… siapa yang akan menjaga Azka?
Begitu tiba di kafe, Amora langsung disambut oleh tatapan tajam Anggi.
"Lo habis nangis?" tanya Anggi tanpa basa-basi.
Amora yang sedang melepas tasnya langsung mengelak dengan gaya lebay. "Hah? Nangis? Gue? Nggak ada dalam kamus hidup gue!"
"Tuh, mata lo sembab," tunjuk Anggi curiga.
Amora langsung meraih sendok yang ada di meja, menjadikannya cermin dadakan. Begitu melihat matanya yang agak bengkak, ia langsung mencari alasan.
"Ah, ini sih gara-gara gue habis nonton drama Korea," katanya sambil berusaha terdengar santai. "Duh, sumpah, dramanya sedih banget! Tokoh utamanya ditinggal pacarnya, terus dia jatuh miskin, terus—"
"Boong," potong Anggi.
Amora tersenyum lebar. "Masa sih?"
Anggi menyilangkan tangan di dada. "Udah, cerita aja. Gue tahu lo tuh kalau makin lebay, berarti makin nyembunyiin sesuatu."
Amora menghela napas panjang. Ketahuan juga.
Ia akhirnya menarik kursi dan duduk di hadapan Anggi. "Oke, oke. Gue nyerah. Jadi… uang tabungan gue diembat Ayah."
Anggi terbelalak. "Hah?! Yang lo kumpulin buat Azka?!"
Amora mengangguk santai, padahal dalam hati masih mendidih. "Yap. Bangun-bangun, lemari berantakan, duit lenyap, dan Ayah sudah pergi seperti ninja."
"Astaga, Amora! Kok lo santai banget sih?!"
"Santai gimana? Gue panik kok, tapi kan kalau gue nangis-nangis terus, nggak bakal ngembaliin uangnya juga."
Anggi menghela napas frustasi. "Terus sekarang gimana? Lo masih ada simpanan lain nggak?"
Amora tertawa kecil. "Simpenan? Aduh, Nggi, gue aja kalau habis gajian langsung ke Alfamart buat beli mie instan sama telur, tahu nggak?"
Anggi menatapnya dengan iba. "Kamu nggak marah?"
Amora menoleh, lalu tersenyum lebar sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Gue mah sudah kebal, bestie!" serunya dramatis. "Dulu gue masih nangis kalau Ayah nyolong duit. Sekarang? Gue malah tepuk tangan sambil bilang, 'Mantap, Yah, next level!'"
Anggi mencibir. "Ya ampun, Mor. Lo tuh bisa banget bikin tragedi jadi komedi."
Amora mengangkat bahu. "Hidup udah cukup menyedihkan. Kalau gue nggak bisa ketawa, bisa gila, Nggi."
Padahal dalam hatinya… ia ingin menjerit.
Tabungannya bukan cuma uang biasa.
Itu uang yang ia kumpulkan untuk pengobatan Azka—untuk terapi, untuk obat-obatan, untuk semua hal yang membuat adiknya bisa tetap berdiri dan berbicara lebih jelas. Cerebral palsy bukan penyakit murah. Setiap terapi butuh biaya besar, setiap obat harus ditebus dengan harga tinggi.
Selama ini, Amora bekerja mati-matian bukan buat dirinya sendiri. Ia rela tidak pernah membeli baju baru, tidak pernah nongkrong mewah seperti gadis-gadis lain seusianya. Karena buatnya, Azka jauh lebih penting.
Dan kini… semua usahanya dirampas begitu saja oleh orang yang seharusnya melindunginya.
Sial. Sakit banget rasanya.
Tapi Amora tetap tersenyum. Tetap bercanda. Tetap berpura-pura tidak apa-apa.
Karena kalau ia sampai jatuh… siapa yang akan menjaga Azka?