"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17 - Kakek Masuk Rumah Sakit
Safira sedang memilih warna cat untuk ruko baru ketika telepon dari rumah Santoso masuk.
Nama Kevin muncul di layar.
Itu saja sudah cukup membuatnya curiga. Adiknya hampir tidak pernah menelepon kecuali butuh uang, butuh dibuatkan surat, atau butuh seseorang disalahkan.
Safira mengangkat.
"Kenapa, Vin?"
"Kak, Kakek jatuh."
Kaleng cat kecil di tangan Safira hampir lepas.
"Apa?"
"Kakek jatuh di kamar mandi. Mama panik. Papa lagi di luar. Kak Rania tidak bisa pulang. Aku juga ada kelas."
Safira sudah mengambil tas. "Kakek sekarang di mana?"
"Di rumah."
"Kenapa belum dibawa ke rumah sakit?"
"Mama bingung. Katanya tunggu Papa."
Darah Safira naik ke kepala. "Kevin, panggil ambulans sekarang."
"Kak, aku tidak tahu nomornya."
"Cari di Google!"
"Aku lagi di kampus."
Safira berhenti di pintu ruko, napasnya memburu.
Arga yang sedang bicara dengan tukang cat langsung menoleh. "Ada apa?"
"Kakek jatuh."
Wajah Arga berubah. Ia mengambil kunci mobil tanpa bertanya lagi.
Di perjalanan ke rumah Santoso, Safira terus menelepon Ratna. Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua baru tersambung.
"Ma, Kakek bagaimana?"
Suara Ratna panik bercampur kesal. "Kamu di mana? Dari tadi Mama telepon Kevin, dia malah telepon kamu. Kakek jatuh, kepalanya terbentur sedikit. Mama takut salah angkat."
"Sudah panggil ambulans?"
"Belum. Mama tunggu Papa."
"Ma, ini bukan tunggu rapat keluarga!"
"Jangan bentak Mama!"
Safira menutup mata. "Aku sedang ke sana. Jangan pindahkan Kakek kalau tidak tahu caranya. Pastikan dia tetap sadar. Kalau muntah atau mengantuk, bilang aku."
Arga mengemudi lebih cepat, tetapi tetap terkendali.
"Saya sudah hubungi ambulans rumah sakit terdekat," katanya.
Safira menoleh. "Kamu tahu alamat rumahku?"
"Saya pernah mengantar."
"Kamu tahu rumah sakit mana yang..."
"Safa, nanti."
Ia menggigit bibir. Benar. Nanti.
Saat mereka tiba, ambulans juga baru masuk halaman. Ratna berdiri di depan pintu dengan wajah pucat. Kakek Hadi terbaring di lantai kamar, selimut digulung di bawah kepalanya. Ada memar di pelipis.
"Kek," Safira berlutut di sisinya.
Mata Kakek terbuka samar. "Safa?"
"Iya, Kek. Aku di sini. Kita ke rumah sakit, ya."
"Jangan marahi Mama kamu."
Kalimat itu hampir membuat Safira menangis.
Bahkan dalam keadaan sakit, Kakek masih memikirkan orang lain.
Petugas ambulans memeriksa kondisi Kakek, lalu memindahkannya ke tandu. Ratna mengikuti sambil menangis dan terus berkata ia tadi hanya sebentar ke dapur. Safira tidak menjawab. Ia tahu kalau mulai bicara, kemarahannya akan keluar semua.
Di rumah sakit swasta, proses berjalan cepat. Terlalu cepat.
Safira bahkan belum selesai mengisi formulir ketika dokter sudah meminta CT scan. Arga berdiri di sebelahnya, menyerahkan kartu identitas Kakek yang ia ambil dari Ratna, membantu administrasi, dan bicara dengan petugas dengan nada tenang.
"Keluarga perlu membayar deposit dulu," kata petugas kasir.
Ratna langsung menatap Safira.
Safira merasakan tatapan itu seperti tangan yang mendorong punggungnya.
"Berapa?"
Petugas menyebut angka.
Ratna menutup mulut. "Sebanyak itu? Baru masuk saja?"
"Itu deposit tindakan awal, Bu."
"Kita tunggu Bambang dulu."
Safira mengeluarkan dompet, tetapi Arga lebih dulu menyerahkan kartu.
"Pakai ini."
Safira menahan tangannya. "Mas."
"Nyawa Kakek lebih penting dari diskusi."
Petugas mengambil kartu itu.
Ratna tidak protes. Tentu saja tidak. Ia hanya lega ada yang membayar.
Safira melihat itu dan merasa sesuatu di dalam dirinya makin dingin.
Setelah Kakek dibawa untuk pemeriksaan, mereka menunggu di ruang tunggu. Ratna duduk sambil menelepon Bambang, suaranya berubah-ubah antara menangis dan menyalahkan. Kevin mengirim pesan bahwa ia mungkin datang malam. Rania berkata ia sedang fitting baju untuk acara penting dan akan menyusul kalau sempat.
Kalau sempat.
Safira membaca pesan itu di layar Ratna tanpa sengaja.
Ia mengepalkan tangan.
Arga duduk di sampingnya. "Makan?"
"Tidak lapar."
"Kamu belum makan siang."
"Mas Arga, Kakek di dalam."
"Justru karena itu kamu perlu makan. Menunggu dengan tubuh lemas tidak membantu."
Safira ingin marah, tetapi ia tahu Arga benar. Ia menerima roti yang dibelikan Bima entah kapan. Bima muncul di rumah sakit membawa tas berisi air mineral, roti, tisu basah, charger, dan selimut kecil.
"Mbak, ini buat jaga-jaga."
Safira menatapnya. "Mas Bima, kamu malaikat logistik?"
"Saya lebih suka disebut divisi penyelamat situasi."
Arga berkata datar, "Jangan berlebihan."
Bima langsung diam.
Dokter keluar satu jam kemudian. Kakek mengalami benturan kepala dan perlu observasi. Ada risiko pendarahan kecil yang harus dipantau. Usia dan kondisi kesehatannya membuat semua harus hati-hati.
"Kami sarankan rawat inap," kata dokter.
Safira langsung mengangguk. "Rawat inap, Dok."
Ratna menyela, "Dok, kalau observasi di rumah bisa?"
Safira menoleh tajam.
Dokter menjelaskan dengan sabar bahwa rumah sakit lebih aman. Ratna masih ragu-ragu sampai Arga berkata, "Rawat inap. Semua biaya awal saya tanggung dulu."
Ratna langsung diam.
Safira menatap suaminya.
"Dulu," kata Arga pelan kepadanya. "Nanti kita hitung."
Ia tahu apa yang Safira khawatirkan.
Safira menunduk.
Kakek dipindahkan ke kamar perawatan. Ratna masuk sebentar, lalu keluar karena katanya pusing melihat alat medis. Safira duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Kakek.
"Safa," gumam Kakek.
"Iya, Kek."
"Kamu sudah makan?"
Safira tertawa kecil, air matanya jatuh. "Kakek yang sakit masih tanya aku makan."
"Kamu kurus."
"Aku makan, Kek. Mas Arga belikan roti."
Kakek menggerakkan mata ke arah Arga yang berdiri di dekat pintu.
"Arga?"
Arga mendekat. "Iya, Kek."
"Jaga Safa."
Suara Kakek lemah, tetapi jelas.
Arga menunduk sedikit. "Insya Allah, Kek."
Safira menggigit bibir.
Di ruang rumah sakit yang berbau antiseptik, dengan suara alat monitor yang pelan, janji itu terdengar lebih nyata daripada semua ucapan selamat di hari akad.
Malamnya, Ratna berkata ia harus pulang karena kepala sakit. Bambang baru datang sebentar, lalu menerima telepon pekerjaan. Rania mengirim bunga lewat kurir. Kevin hanya bertanya apakah Kakek sadar.
Safira tidak terkejut.
Tetap saja, rasa sepi datang.
Arga membawa kursi ke sisi ranjang.
"Saya temani."
"Kamu besok kerja."
"Saya bisa bekerja dari sini."
"Direksi proyekmu tidak marah?"
Arga menatapnya.
Safira sadar ia masih menyimpan pertanyaan, tetapi malam ini bukan waktu yang tepat.
"Tidur sebentar," kata Arga. "Saya jaga."
"Aku tidak bisa."
"Bersandar saja."
Safira akhirnya duduk di sofa kecil, memeluk tas. Arga mengambil selimut dari Bima dan menaruhnya di bahu Safira.
Ia tidak tidur.
Tapi untuk pertama kalinya saat menghadapi keluarga Santoso, ia tidak merasa sendirian.
Menjelang subuh, Safira terbangun karena suara azan dari masjid dekat rumah sakit. Lehernya sakit karena tidur setengah duduk. Selimut masih menutupi bahunya. Arga duduk di kursi dekat ranjang Kakek, laptop terbuka di pangkuan, tetapi matanya tertuju pada monitor detak jantung.
"Kamu tidak tidur?" bisik Safira.
"Sebentar."
"Sebentar versi kamu itu berapa menit?"
"Cukup."
Safira berjalan mendekat ke ranjang Kakek. Lelaki tua itu tidur lebih tenang. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya teratur.
"Aku dulu sering tidur di kursi seperti itu," kata Safira pelan. "Waktu Kakek mulai sering bingung malam-malam. Mama bilang aku lebih sabar, jadi aku yang menemani."
Arga menutup laptop.
"Berapa umurmu waktu itu?"
"Tujuh belas."
"Masih sekolah."
"Iya. Aku sering mengerjakan tugas di lantai kamar Kakek."
"Tidak ada yang menggantikan?"
Safira tersenyum tipis. "Katanya aku paling dekat dengan Kakek."
Arga mengerti sekarang. Kalimat `paling dekat` di keluarga itu sering berarti `paling mudah dibebani`.
Safira menatap Kakek. "Tapi aku tidak menyesal menjaga Kakek. Aku hanya menyesal pernah berpikir itu berarti aku tidak boleh lelah."
Arga berdiri di sampingnya.
"Sekarang boleh."
Safira menoleh.
"Kalau lelah, bilang. Kalau marah, bilang. Kalau butuh digantikan, bilang."
Safira mengangguk pelan.
Di luar jendela, langit mulai biru pucat.
Hari baru datang, dan kali ini Safira tidak harus menyambutnya sendirian.
Ketika perawat masuk untuk mengecek infus, Safira mundur ke dekat pintu. Arga menyerahkan kopi hangat yang entah kapan ia beli.
"Kamu tahu aku minum kopi pagi?"
"Saya tahu kamu akan menolak sarapan kalau langsung diberi makanan."
"Jadi kopi ini jebakan?"
"Pembuka negosiasi."
Safira menerima gelas itu, terlalu lelah untuk berdebat.
"Setelah kopi, bubur," kata Arga.
"Kamu sudah seperti perawat kedua."
"Lebih mahal?"
Safira tertawa pelan. Suara itu kecil, tetapi cukup membuat ruang rumah sakit terasa tidak terlalu dingin.