Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Pertama Kalinya
Kendra terdiam.
Ini adalah pertama kalinya ia berhadapan sebagai dua orang yang akan terikat dalam sebuah pernikahan.
Tatapan Kendra mengamati Kirana dengan serius, menyadari bahwa kecantikan gadis itu sama sekali tidak mengurangi kesan berbahaya yang terpancar dari sorot matanya.
“Baiklah,” ujar Kendra akhirnya. “Sebutkan kesepakatannya.”
Kirana kembali mengambil pena.
“Jika kita menikah, aku meminta Ekstra Anggrek Bulan Hitam sebagai syarat. Sebagai gantinya, aku akan menyembuhkan kakimu.”
Kendra langsung terdiam.
Beberapa saat kemudian, ia mengangkat wajahnya. “Bagaimana kau bisa mengetahui tanaman itu?”
Kirana menulis singkat. “Aku tahu banyak hal.”
Kendra mengamati wajahnya. “Tanaman itu sangat langka. Bahkan tidak banyak orang yang mengetahui keberadaannya.”
Tanaman itu hanya satu-satunya milik keluarganya dari jalur ibu dan sudah dijaga secara turun temurun.
Kirana hanya tersenyum tipis.
“Lalu untuk apa kau membutuhkannya?” tanya Kendra.
Kirana terdiam sesaat sebelum menulis jawaban. “Itu tanaman yang kubutuhkan agar aku bisa berbicara.”
Kendra membaca tulisan tersebut dengan saksama. Ia kemudian kembali menatap Kirana, seolah mencoba memastikan apakah gadis itu benar-benar serius.
Kirana menambahkan tulisan lain. “Aku sudah bisu sejak lahir. Kondisiku berbeda dengan kakimu yang lumpuh akibat kecelakaan.”
Kendra mengerutkan kening. “Kau yakin bisa menyembuhkanku?”
Kirana mengangguk. “Kalau kau memang bisa mengobati orang lain, kenapa kau tidak mengobati dirimu sendiri?”
Kirana sudah melakukan riset bersama gurunya Rose untuk membuka obat yang bisa membuat dirinya berbicara normal. Hanya saja, ia tinggal membutuhkan satu bahan lagi.
Alasan kenapa Kirana lamgsung menyetujui pernikahan pengganti ini. Itu karena obat yang dimiliki keluarga Wu.
Kirana mendengus pelan. Ia segera menulis jawaban. “Karena kasus kita berbeda. Kakimu rusak akibat kecelakaan, sedangkan aku tidak pernah bisa berbicara sejak lahir. Aku membutuhkan bahan tertentu untuk membantu kondisiku.”
Kendra masih terlihat curiga. “Bagaimana aku tahu kau tidak sedang berbohong?”
Kirana menatapnya beberapa saat.
Kemudian, tanpa banyak bicara, ia mengambil beberapa jarum perak dari dalam bajunya. Kendra langsung waspada ketika melihat benda tersebut.
“Apa yang akan kau lakukan?”
Kirana tidak menjawab. Ia bergerak cepat dan menempatkan beberapa jarum pada titik tertentu di bagian adik kecil Kendra yang mengalami masalah.
Kendra terkejut ketika tiba-tiba merasakan sensasi aneh menjalar pada intinya. “Kirana, apa yang kau lakukan?”
Kirana menatapnya santai, lalu menulis pada kertasnya. “Membuktikan bahwa aku tidak hanya pandai membuat janji.”
Kendra menatap tulisan tersebut, kemudian tak lama ia merasakan sesuatu pada adik kecilnya yang sudah lama tertidur semenjak kecelakaan itu juga.
Mata Kendra langsung menyipit. Ia tidak menyangka gadis yang baru beberapa menit lalu menerobos mansion-nya ternyata benar-benar memiliki kemampuan medis.
Tapi wajah pria tampan itu langsung memerah, karena Kirana melakukan sesuatu yang benar-benar menurutnya memalukan. Sedangkan ekspresi Kirana terlihat biasa saja tanpa ada rasa canggung.
“Kau ....” Kendra menatap kakinya, lalu kembali kepada Kirana. “Apa sebenarnya yang kau pelajari di desa?”
Kirana hanya tersenyum misterius.
Kendra akhirnya menghela napas panjang. “Baiklah. Aku setuju.”
Kirana mengangkat alis.
“Besok pagi, Marco akan datang ke mansion keluarga Lin membawa perjanjian tersebut,” lanjut Kendra. “Jika semuanya sesuai kesepakatan, Ekstra Anggrek Bulan Hitam akan menjadi milikmu setelah kau memenuhi bagianmu. Pernikahan kita akan dimajukan tujuh hari lahi.”
Kirana tersenyum puas.
Kendra mengangkat alis. “Puas?”
Kirana mengangguk. Ia kemudian melambaikan tangan kepada Kendra dan berjalan menuju jendela. Sebelum pergi, gadis itu tiba-tiba berhenti dan mengambil spidol kecil dari dalam tasnya.
Kendra mengerutkan kening. “Apa lagi?”
Kirana tidak menjawab. Ia justru menulis sesuatu di dinding dekat jendela, kemudian menunjukkannya kepada Kendra.
“Jangan lupa cabut jarumnya sendiri. Pelan-pelan saja jangan sampai burungnya lepas dan terbang tinggi.”
Kendra membaca tulisan itu dengan wajah datar tapi memerah. “Kau benar-benar menyebalkan.”
Kirana terkekeh tanpa suara. Setelah itu, ia membuka jendela dan melompat turun dengan gerakan ringan. Dalam hitungan detik, sosoknya sudah menghilang dari pandangan.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka dan Marco masuk dengan membawa beberapa dokumen. Ia langsung melihat Kendra yang masih duduk di kursi roda sambil menatap dinding dengan ekspresi aneh.
Marco mengerutkan kening ketika melihat tulisan yang ditinggalkan Kirana. “Tuan, apa yang perlu dicabut?”
Kendra menutup mata sejenak, lalu menghela napas panjang. “Jangan tanya.”
Marco semakin bingung. Ia kembali membaca tulisan di dinding, sementara Kendra hanya bisa menatap jendela tempat Kirana menghilang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
***
Pagi itu, Kirana baru saja turun dari lantai dua setelah selesai bersiap. Langkahnya tenang seperti biasa, tetapi begitu sampai di ruang keluarga, matanya langsung menangkap pemandangan Shania yang sedang duduk bersama Nyonya Meylan dan seorang wanita paruh baya yang mengenakan cheongsam modern berwarna biru tua.
Wanita itu tampak sangat berkelas meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Wajahnya terawat, rambutnya ditata rapi, dan sorot matanya tajam hingga membuat siapa pun yang berhadapan dengannya secara otomatis menjaga sikap.
Shania yang sejak tadi berbicara dengan wanita itu langsung menoleh ketika melihat Kirana. Bukannya menyambut, gadis itu justru memasang senyum manis yang terlihat dibuat-buat.
“Ah, Kak Kirana akhirnya turun juga,” ujar Shania dengan nada lembut, tetapi sengaja dibuat terdengar seperti sindiran. “Maaf ya, Nyonya Wu, kakakku memang seperti itu. Dia sering sekali bangun kesiangan dan malas-malasan, jadi mungkin akan sulit baginya beradaptasi kalau nanti tinggal di keluarga Wu.”
Kirana menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya berpindah kepada Shania, lalu kepada wanita paruh baya yang ternyata adalah Cassia Wu.
Cassia menatap Kirana dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa mengatakan apa pun. Setelah beberapa saat, wanita itu akhirnya bertanya dengan suara tenang, “Kamu Kirana?”
Kirana mengangguk pelan. Ia kemudian mengambil buku kecil yang tergantung di dekat tangannya dan menuliskan sesuatu sebelum memperlihatkannya kepada Cassia.
“Senang bertemu dengan Nyonya Wu.”
Cassia membaca tulisan itu dan mengangguk tipis. Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Shania kembali menyela.
“Maaf ya, Nyonya Wu. Kakak saya ini memang bisu, jadi kalau berkomunikasi agak—”
“Cukup.”
Satu kata dari Cassia langsung membuat Shania membeku. Wanita paruh baya itu menoleh kepadanya dengan tatapan datar yang jauh lebih tajam daripada sebelumnya.
“Apa kau tidak punya sopan santun?” tanya Cassia. “Kalau kau tidak ditanya, jangan terus menyela pembicaraan orang lain.”
Wajah Shania seketika memerah. Ia membuka mulut hendak menjawab, tetapi tatapan Cassia membuatnya mengurungkan niat.
“Seharusnya orang tuamu mengajarkan hal dasar seperti itu sejak kecil,” lanjut Cassia tanpa basa-basi. “Orang yang berpendidikan bukan hanya tahu bagaimana cara berbicara, tetapi juga tahu kapan harus diam.”
Shania menundukkan wajahnya dengan kedua tangan mengepal di pangkuan. Di sisi lain, Marco yang berdiri tidak jauh dari Cassia hanya diam, meskipun sudut bibirnya hampir terangkat melihat Shania yang biasanya banyak bicara kini mendadak kehilangan suara.
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭