Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 3
Matahari makin terik di luar sana, tapi udara di ruang kerja Kakek Surya terasa sedingin lemari es. Theodore berdiri diam di dekat pintu berlapis kayu jati, tangannya tertaut santai di depan dada. Di tengah ruangan, Yevone berdiri kaku menghadap meja kebesaran kakeknya.
Kakek Surya, pria tua dengan rambut beruban dan tongkat berkepala naga di tangannya, menatap tajam cucu perempuannya itu. Tiga tahun lalu, Kakek Surya-lah yang membawa Theodore ke rumah ini saat pria itu ditemukan terluka parah. Kakek tua ini dulu bersikap bijaksana, menyetujui pernikahan Yevone dan Theodore. Tapi waktu dan desakan keluarga rupanya telah mengikis kebijaksanaan itu, menyisakan ego dan gila harta.
"Kredit perusahaanmu ditolak lagi hari ini. Bank menolak memberi pinjaman karena agunan yang kamu ajukan tidak sepadan," Kakek Surya membuka percakapan dengan nada berat dan dingin.
"Aku bisa cari investor lain, Kek. Beri aku waktu satu minggu lagi. Ada beberapa proyek yang prospeknya bagus," Yevone mencoba bernegosiasi dengan suara yang terdengar putus asa.
"Satu minggu? Perusahaan itu bisa bangkrut dalam tiga hari kalau tidak ada suntikan dana!" Kevin yang duduk bersandar di sofa kulit menyela sambil tersenyum meremehkan. "Lagian siapa yang mau investasi ke perusahaan yang dipimpin sama perempuan yang suaminya cuma gembel numpang makan?"
"Tutup mulutmu, Kevin!" Yevone menoleh sambil menatap sepupunya dengan kilatan marah.
"Kevin benar, Yevone," Martha yang duduk di sebelah Kevin ikut menimpali sambil mengipas-ngipas wajahnya. "Gara-gara kamu ngotot mempertahankan benalu itu, nama baik Keluarga Mahendra jadi jelek di kalangan bisnis. Orang-orang elit di luar sana menertawakan kita! Mana ada bank yang mau percaya sama keluarga yang memelihara sampah?"
"Ini murni masalah bisnis, Ma! Gak ada hubungannya sama Theodore!" Yevone membalas sengit.
Brak!
Kakek Surya memukul mejanya keras-keras. Semua orang langsung bungkam. Ruangan itu kembali hening, hanya menyisakan detak jam dinding kuno yang berayun.
"Cukup!" bentak pria tua itu. Ia menatap Yevone lekat-lekat, rahangnya mengeras. "Kakek sudah kehabisan kesabaran. Kakek dulu membiarkanmu menikahinya karena kasihan, dan Kakek pikir dia bisa tahu diri dan membantu bisnis keluarga. Tapi ternyata dia cuma parasit yang memalukan!"
Theodore yang berdiri di sudut ruangan tidak menunjukkan reaksi apa pun. Wajahnya sedatar tembok. Matanya menatap Kakek Surya dengan pandangan kosong. Di dalam hatinya, sisa rasa hormatnya pada pria tua ini hancur berantakan.
Kasihan? Theodore tertawa sinis dalam hati. Tiga tahun lalu Kakek Surya lah yang mengemis memohon padanya untuk menikahi Yevone karena Kakek itu tahu ada kekuatan besar di balik sosok Theodore yang sedang sekarat. Kini, setelah Theodore diam saja dan bermain peran orang bodoh, si tua bangka ini malah berbalik menggigitnya karena tekanan keluarga.
"Kakek mau aku melakukan apa? Menjual aset pribadiku?" Yevone bertanya dengan nada lelah, pundaknya merosot ke bawah.
"Kakek mau kamu menceraikan laki-laki tidak berguna itu hari ini juga," titah Kakek Surya tanpa keraguan sedikit pun.
Mata Yevone terbelalak. Tubuhnya gemetar. "Kek... apa maksud Kakek? Aku nggak akan menceraikan suamiku!"
"Kamu harus!" Kakek Surya menunjuk ke arah Theodore dengan ujung tongkatnya. "Lihat dia! Apa yang bisa dia berikan untukmu? Cuma rasa malu! Keluarga Z baru saja menghubungi Kakek pagi ini. Tuan Muda mereka bersedia menyuntikkan dana tanpa batas ke perusahaanmu, asalkan kamu bersedia menikah dengannya."
"Tuan Muda Z? Laki-laki hidung belang yang sering ganti-ganti perempuan itu? Kakek mau menjualku demi uang perusahaan?" Suara Yevone pecah, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya yang memerah.
"Jaga bicaramu, Yevone! Itu namanya pengorbanan demi keluarga!" sahut Martha cepat. "Kamu harusnya bersyukur Tuan Muda Z masih mau sama kamu nanti!"
"Kalau kamu tetap keras kepala dan menolak menceraikan parasit itu..." Kakek Surya berdiri dari kursinya, auranya menekan seisi ruangan. "...Kakek akan mencoret namamu dari daftar ahli waris Keluarga Mahendra. Kakek akan menarik semua fasilitasmu, menyita perusahaanmu, dan mengusir kalian berdua dari rumah ini tanpa sepeser pun uang."
Ruangan itu terasa makin sesak. Kevin dan Martha saling berpandangan sambil tersenyum puas. Inilah momen yang paling mereka tunggu-tunggu. Menyingkirkan Yevone dari kursi pewaris, agar seluruh kekayaan Keluarga Mahendra jatuh ke tangan Kevin sepenuhnya.
Yevone menunduk dalam. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Keluarga yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar malah berniat menjualnya dan menikamnya dari belakang.
Theodore mulai melangkah maju. Ia berniat mengakhiri sandiwara konyol ini sekarang juga. Ia hanya butuh satu panggilan telepon singkat untuk membuat Kakek Surya dan seluruh keluarganya berlutut menjilat sepatu di depannya.
Namun, sebelum Theodore sempat bersuara, Yevone tiba-tiba mengangkat kepalanya. Matanya menatap berani kakeknya. Air mata yang tadi menggenang tak dibiarkannya jatuh ke pipi.
"Ambil saja," ucap Yevone dengan suara bergetar tapi tegas.
Kakek Surya mengerutkan kening kebingungan. "Apa maksudmu?"
"Ambil semua harta itu, Kek. Ambil perusahaannya. Coret namaku dari ahli waris," Yevone menjawab lugas, tiap katanya ditekankan dengan sangat jelas. "Aku tidak akan pernah menceraikan suamiku hanya untuk memuaskan keserakahan kalian. Kalau memang uang dan harga diri lebih berharga dari cucu Kakek sendiri, silakan ambil semuanya."
Semua orang di ruangan itu terkejut. Kevin bahkan nyaris menjatuhkan ponsel di tangannya. Mereka sama sekali tidak menyangka Yevone akan seberani ini melawan otoritas tertinggi di rumah ini.
"Kamu... kamu berani melawan Kakek demi laki-laki gembel ini?!" Kakek Surya menunjuk dada Theodore, napasnya memburu karena emosi memuncak.
"Dia suamiku. Dan dia manusia, bukan gembel!" balas Yevone berani.
Ia berbalik, berjalan cepat menghampiri Theodore, lalu meraih tangan suaminya yang kasar.
"Ayo kita pergi dari sini, Theo," ajak Yevone pelan sambil menarik tangan Theodore keluar dari ruang kerja yang terasa memuakkan itu.
Theodore membiarkan tubuhnya ditarik keluar. Sebelum melewati ambang pintu, matanya sempat melirik ke arah Kakek Surya, Kevin, dan Martha secara bergantian. Tatapan matanya begitu dingin, gelap, dan tajam, seperti malaikat maut yang baru saja menandai target operasinya. Tubuh Kevin tiba-tiba merinding hebat saat tanpa sengaja bertatapan dengan mata Theodore, namun ia segera mengalihkan pandangannya.
Pintu kayu jati itu tertutup rapat di belakang mereka berdua.
Yevone terus berjalan cepat menyusuri lorong lantai dua tanpa menoleh ke belakang. Genggaman tangannya pada lengan Theodore begitu kuat, seolah menyalurkan seluruh sisa tenaga dan keputusasaannya hari ini.
Tepat saat mereka tiba di dalam kamar tidur mereka, pertahanan Yevone akhirnya runtuh total. Wanita tangguh itu luruh ke lantai karpet. Tangisnya pecah seketika, tertahan oleh kedua tangannya yang menutupi wajahnya yang berantakan. Bahunya berguncang naik turun.
Theodore ikut berjongkok di sampingnya. Ia bukan pria yang pandai merangkai kata penenang, jadi ia hanya diam menemani di sisinya, membiarkan istrinya meluapkan rasa sakit yang sudah tak tertahankan.
Melihat air mata istrinya terus menetes membasahi lantai, sesuatu di dalam dada Theodore seakan putus. Kesabaran sang Dewa Perang telah mencapai batas akhirnya.
Keluarga Mahendra telah berani menggali kuburan mereka sendiri. Theodore menatap cincin naga hitam di jarinya, bersumpah dalam keheningan. Mulai besok, ia akan memastikan orang-orang yang membuat istrinya menangis hari ini akan merasakan penderitaan finansial yang sejuta kali lipat lebih mengerikan dari kematian.
Permainan kotor mereka, baru saja dimulai.