Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 perlakuan yang mulai berubah
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Sisil. Gadis itu langsung membelalak tidak percaya.
Selama ini Ranti tidak pernah memukulnya.
“Ma, mama… tampar aku?”
Ranti sendiri tampak terkejut dengan tindakannya, tangannya gemetar namun entah kenapa amarah dalam dadanya semakin sulit ditahan karena setiap kali mendengar kata “pembantu” ia teringat Alkina.
Putri kandungnya sendiri anak yang selama ini ia perlakukan lebih buruk dari orang asing.
Sisil menangis, ia berlari menuju kamarnya, di kamarnya ia melempar bantal ke mana-mana.
“Aneh banget!”
“Kenapa perempuan itu malah marah sama aku… tidak tidak bisa begini, posisi aku bisa terancam kalau terus begini.”
Ponselnya berbunyi, pesan dari teman-temannya masuk.
“Sil nanti jadi ke mall kan?” “Katanya traktir ulang tahun duluan?”
Sisil menggigit bibir. Biasanya ia akan langsung pergi menggunakan uang dari Ranti atau Setiawan.
Namun sekarang ia bahkan tidak diberi uang jajan dengan kesal ia turun mencari Setiawan.
“Daddy!”
Setiawan yang sedang bekerja menoleh lelah.
“Ada apa?”
“Mama tidak ada kasih aku uang.”
“Memangnya kamu butuh berapa?”
Sisil menyebut angka besar tanpa rasa bersalah.
Setiawan langsung mengernyit. “Untuk apa uang sebanyak itu?”
“Mau nongkrong aja.”
Pria itu menghela napas panjang. Biasanya Sisil tidak pernah minta uang kepada dirinya. Ini pertama kalinya Sisil minta uang kepada dirinya.
“Apa uang jajan kamu sebanyak itu selama ini?”
“Iya”
“Uang sebanyak itu unuk berapa lama?”
“satu hari.”
“satu hari?” kaget Setiawan.
Seketika ia teringat tentang Alkina yang selalu memakai baju lama. Tentang Alkina yang tidak pernah meminta apa pun. Tentang Alkina yang bahkan tidak punya uang jajan sebanyak Sisil, padahal ia selalu berjanji kepada Alkina akan memperbaiki hubungan keluarga.
Dan rasa bersalah itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
“Kurangi pengeluaran kamu,” ucap Setiawan akhirnya.
Sisil membelalak.
“Daddy juga?”
“Kamu harus belajar hidup sederhana.” Peringat Setiawan.
“Kenapa semuanya berubah sih?!” kesal Sisil.
“Karena Alkina pergi.” Kalimat itu hampir keluar dari mulut Setiawan namun ia saat ini hanya bisa mengucapkannya dalam hati.
Sisil langsung berlari kembali ke kamar sambil menangis kesal. Ia tidak menyangka semua berubah begitu cepat setelah Alkina pergi. Kalau ia tahu akan jadi seperti ini, ia tidak akan membiarkan Alkina pergi dari rumah ini.
Sementara itu di rumah Mira, Alkina sedang membantu menyapu halaman. Mira memperhatikannya diam-diam. Gadis itu bekerja sangat cekatan. Terlalu cekatan untuk anak seusianya.
“Kamu nggak capek?” tanya Mira.
Alkina tersenyum kecil.
“Aku biasa kerja dari kecil.” Jawaban itu membuat hati Mira kembali terasa nyeri.
Rian berlari kecil menghampiri Alkina sambil membawa buku gambar.
“Kak Alkina! Temenin aku gambar!”
Alkina langsung duduk di samping anak itu. “Ayo.”
Rian tersenyum lebar sementara Alkina setelah pergi dari rumah, Alkina bisa tertawa kecil, tawa pelan, sangat tipis namun cukup membuat Mira diam memandanginya lama.
Karena gadis itu terlihat seperti anak yang terlalu lama lupa caranya bahagia.
******
Malam hari, Ranti masuk ke kamar Alkina yang masih kosong entah kenapa kakinya membawanya ke sana lagi.
Ruangan kecil itu tetap rapi, terlalu sepi.
Ranti perlahan duduk di ranjang sempit milik putrinya lalu matanya tertuju pada sebuah kotak kecil di bawah meja.
Ia membukanya pelan dan napasnya langsung tercekat, di dalam kotak itu ada banyak benda lama, pita rambut rusak, pensil pendek, buku catatan usang dan foto keluarga kecil mereka.
Foto lama saat Arkan masih hidup di belakang foto tertulis dengan tulisan kecil:
“Aku ingin mama sayang aku lagi.”
Tubuh Ranti langsung melemas, tangannya gemetar hebat. Air mata mulai jatuh satu per satu. setelah bertahun-tahun perempuan itu benar-benar menangis karena Alkina.
“Dari mana Alkina mendapatkan foto ini?” ucapnya di sela tangisnya.