Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 2
Aroma gurih sup ayam hangat yang mendidih lembut di atas kompor perlahan mengisi ruang dapur. Suara denting mangkuk porselen yang disiapkan Zemima terdengar bersahut-sahutan dengan langkah kaki Arsyad yang baru saja selesai mandi, rambutnya masih setengah basah.
Zemima menuangkan kuah sup bening ke dalam mangkuk kecil, lalu membalikkan badan saat Arsyad melangkah mendekat.
"Gimana Ibu, Mas? Masih demam banget?" tanya Zemima seraya meletakkan nampan berisi mangkuk sup dan segelas air hangat di atas meja dapur.
"Tadi Mas cek suhunya masih tiga puluh delapan koma lima," Arsyad menghela napas panjang, duduk di kursi makan dengan raut wajah cemas.
"Tadi pas Mas coba bangunkan pelan-pelan, Ibu cuma ngelindur. Kelihatannya lemas banget, Dek."
Zemima mengangguk prihatin. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping panci, menatap layar yang menunjukkan pukul 06.15 WIB. Waktu bergerak begitu cepat. Hanya dalam kurun waktu dua jam, ia harus sudah berada di ruang rapat utama untuk memimpin pertemuan evaluasi investasi bersama para komisaris.
"Mas, supnya sudah siap. Obat penurun panasnya disiapin sekalian ya, nanti disuapin pelan-pelan kalau Ibu sudah agak sadar," ujar Zemima lembut. Ia lalu mengusap bahu suaminya.
"Aku mau siap-siap mandi dan ganti baju dulu."
Arsyad mendongak, alisnya bertaut tajam. "Lho... siap-siap? Kamu mau ke mana jam segini, Dek?"
"Aku mau berangkat ke kantor, Mas," jawab Zemima tenang namun tegas.
Raut wajah Arsyad seketika berubah. Senyum lelah yang tadi sempat terukir kini lenyap, berganti dengan kilat kekecewaan yang sangat jelas di matanya. Ia menegakkan posisi duduknya, menatap Zemima dengan tatapan tak percaya.
"Kamu mau berangkat kantor? Dalam kondisi Ibu yang lagi sakit begini?" suara Arsyad meninggi setengah nada, menahan kejengkolan.
"Ibu baru tiba semalam, Dek. Dia lemas banget, gejalanya tifus. Masa kamu tega ninggalin gitu aja cuma demi pekerjaan kantor?"
"Mas, dengar dulu..." Zemima mencoba memegang tangan suaminya, tetapi Arsyad menarik tangannya pelan.
"Mas pikir pagi ini kamu bakal minta izin cuti atau minimal kerja dari rumah," potong Arsyad, suaranya terdengar dingin dan bergetar karena rasa kecewa.
"Kemarin malam kamu bilang peduli sama Ibu. Tapi sekarang, begitu pagi datang, kamu malah lebih milih prioritasin atasan kamu di kantor daripada nemenin Ibu mertua kamu yang lagi terbaring lemas di kamar tamu?"
Zemima menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga suaranya tetap stabil agar tidak memancing pertengkaran di pagi hari yang sensitif itu. Dalam hatinya, ada gejolak besar, ia ingin sekali berteriak bahwa dia adalah pemilik perusahaan itu, bahwa rapat jam delapan pagi nanti menentukan nasib ratusan karyawan, termasuk arah investasi bernilai miliaran rupiah. Namun, rahasia itu harus tetap ia jaga. Dia belum siap mengatakannya kepada Arsyad. Dia masih menunggu moment yang pas untuk mengatakan semuanya.
"Mas, tolong jangan berpikiran seperti itu," panggil Zemima dengan tatapan lurus menatap mata suaminya.
"Aku bukannya enggak peduli sama Ibu. Sama sekali bukan. Tapi pagi ini ada rapat yang sangat, sangat krusial di kantor yang enggak bisa aku tinggalkan begitu saja."
"Se krusial apa sih kerjaan kamu sebagai staf biasa, Dek?" Arsyad menggelengkan kepala, tertawa hambar.
"Paling cuma ngetik laporan atau bikin rekapitulasi harian, kan? Apa enggak bisa kamu izin sehari saja? Atau bilang ke atasan kamu kalau mertua kamu lagi sakit keras?"
Kata-kata Arsyad menyenggol rasa harga diri Zemima, tetapi ia menahannya erat-erat. Ia paham Arsyad hanya panik dan kelelahan karena kurang tidur.
"Mas, tolong dengarkan aku dulu sampai selesai," potong Zemima lembut namun penuh penekanan.
"Aku enggak akan ninggalin Ibu sendirian di rumah. Tadi jam lima subuh, aku sudah telepon Mbak Mirna."
Arsyad mengerutkan kening. "Mbak Mirna? Asisten rumah tangga yang biasa datang bersih-bersih itu?"
"Iya," Zemima mengangguk mantap.
"Aku sudah minta Mbak Mirna datang lebih pagi khusus untuk hari ini. Dia sudah janji jam tujuh kurang seperempat bakal sampai di sini. Mbak Mirna bakal standby penuh seharian buat jaga Ibu, nemenin di kamar, buatin bubur halus, sampai merawat Ibu kalau butuh apa-apa. Mas kan tahu sendiri Mbak Mirna orangnya telaten dan resik banget."
Arsyad terdiam sejenak. Sorot matanya yang tajam perlahan melunak, meski raut kekecewaan itu belum sepenuhnya sirna dari wajahnya.
"Tapi kan beda, Dek... Mbak Mirna itu orang lain. Ibu butuh perhatian dari keluarganya."
"Aku paham, Mas. Makanya, aku enggak akan seharian penuh di kantor," Zemima maju satu langkah, merengkuh kedua tangan suaminya yang dingin.
"Rapat pentingku cuma sampai menjelang siang. Nanti pas jam makan siang, sekitar jam dua belas, aku langsung izin pulang ke rumah. Aku bakal langsung ambil alih jaga Ibu, nemenin Ibu, dan siapin makan malamnya."
Arsyad menatap mata istrinya dalam-dalam, mencari kesungguhan di sana. Ia menghela napas panjang, meluapkan seluruh ketegangan yang menumpuk sejak semalam.
"Mas cuma mau Ibu diurus dengan baik, Dek," ucap Arsyad pelan, nada suaranya kini melunak.
"Mas panik banget dari semalam. Dan Mas juga harus berangkat ke kantor pagi ini karena ada jadwal rapat yang enggak bisa dibatalkan."
"Iya, aku tahu Mas stres dan capek banget," Zemima tersenyum tulus, mengelus jemari suaminya.
"Percaya sama aku ya? Mbak Mirna bakal datang sebentar lagi. Sebelum Mbak Mirna sampai, aku masih di sini kok. Aku bakal suapin Ibu beberapa sendok sup ini dulu sebelum aku berangkat."
Arsyad mengusap wajahnya, lalu menatap Zemima dengan raut serba salah. "Maaf ya, Dek... tadi Mas sempat emosi dan ngomongnya agak kasar sama kamu."
"Enggak apa-apa, Mas. Aku paham kok," Zemima mengecup pipi suaminya singkat.
"Ya sudah, Mas ganti baju dulu sana. Biar aku yang masuk ke kamar Ibu sekarang buat nyuapin sup hangatnya."
Arsyad mengangguk pasrah. "Makasih ya, Dek. Nanti jam makan siang kamu beneran langsung pulang, kan?"
"Pasti, Mas. Jam satu siang aku sudah ada di samping Ibu lagi," janji Zemima mantap.
Ia lalu meraih mangkuk sup hangat dari atas nampan, melangkah perlahan menuju kamar tamu tempat Bu Rahmi terbaring, sembari memutar otak menyusun strategi agar rapat direksi di kantornya nanti bisa selesai tepat waktu tanpa kendala.