NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MINUMAN KERAS DAN CELOTEH CLARISSA

Sedan mewah berwarna merah menyala itu membelah kepadatan lalu lintas kota di bawah remang pendar lampu jalanan sore yang berangsur gelap. Clarissa menggenggam kemudi berbalut kulit sintetis dengan kencang, matanya menatap lurus ke depan dengan raut wajah kaku. Di sampingnya, Enzo duduk tenang, menikmati sapuan pendingin udara yang sejuk tanpa menunjukkan kecanggungan berlebihan.

"Lu mau makan di mana?" tanya Clarissa ketus seraya melirik Enzo dari balik kacamata hitam yang sudah ia sangkutkan di atas kepala.

"Di depan ada kedai tenda pinggir jalan yang lumayan enak. Kita berhenti di sana saja," sahut Enzo santai seraya menunjuk ke arah deretan warung tenda di tepi trotoar.

Clarissa menginjak rem agak mendadak, menatap Enzo dengan tatapan tak percaya.

"Lu gila ya?!" cetus Clarissa seraya menunjuk ke arah kedai tenda dengan kuku berpoles kuteks mewahnya.

"Lu mau ngajak gue makan di tempat kusam kayak gitu?" lanjut Clarissa seraya mengerutkan hidungnya.

"Tempat itu bersih, Clarissa," jawab Enzo tenang seraya melepaskan sabuk pengamannya.

"Makanan di sana hangat dan dimasak langsung. Kalau lu emang lapar dan mau mengobrol, tempat itu jauh lebih tenang daripada restoran mewah yang penuh orang berjas," sambung Enzo jujur.

Clarissa cemberut, namun karena perutnya memang mulai meronta dan ia enggan kembali ke rumah mewahnya yang sepi, gadis kaya itu akhirnya memutar kemudi. Ia memarkirkan sedan mewahnya di bahu jalan tak jauh dari kedai tenda tersebut. Pemandangan mobil sports senilai miliaran rupiah yang terparkir di depan warung makan sederhana langsung menjadi perhatian warga sekitar.

Clarissa melangkah keluar dari mobil dengan agak canggung. Sepatu hak mewahnya menapak ragu di atas lantai semen kedai. Enzo menarikkan sebuah kursi plastik biru untuk Clarissa, membiarkan gadis itu duduk sebelum ia sendiri mendaratkan tubuhnya di bangku kayu seberang meja.

Enzo memesan dua porsi nasi goreng telur dan teh hangat, sementara Clarissa melirik deretan botol di rak sudut kedai. Gadis itu memesan dua botol minuman beralkohol dingin yang dijual bebas di tempat tersebut.

"Lu mau minum juga?" tanya Clarissa seraya membuka tutup botol kaca pertamanya dengan denting nyaring.

"Nggak, gue minum teh hangat saja," sahut Enzo datar seraya memindahkan piring nasi goreng hangat ke depan Clarissa.

"Makan dulu nasinya, jangan langsung minum saat perut kosong," sambung Enzo mengingatkan.

Clarissa mendengus pelan, namun ia tidak menyanggah. Gadis itu meneguk isi botol kacanya agak banyak. Sensasi hangat dan pahit merayap di tenggorokannya, perlahan-lahan mengendurkan ketegangan di bahunya yang kaku.

Usai meneguk hampir setengah botol, efek alkohol dan kelelahan emosional yang ia pendam mulai bekerja. Pipi mulus Clarissa memerah hangat, dan matanya yang biasa menatap tajam kini mulai sedikit sayu. Tembok gengsi dan keangkuhan yang biasanya ia pasang kokoh di depan orang lain perlahan-lahan runtuh, digantikan oleh celoteh emosional yang jujur.

"Lu tahu nggak, Nzo?" panggil Clarissa dengan nada suara yang mulai agak sedikit berat.

"Apa?" tanya Enzo tenang seraya menyantap nasi gorengnya perlahan.

"Semua orang di sekitar gue itu palsu," celoteh Clarissa seraya menggerakkan botol di tangannya di udara.

"Teman-teman kampus gue, cowok-cowok yang ngajak gue jalan... semuanya cuma mau nempel karena mobil gue, karena kartu kredit bokap gue!" lanjut Clarissa seraya menyunggingkan senyum tawa pahit.

"Setiap kali gue ulang tahun, rumah gue rame. Tapi pas bokap sama nyokap gue sibuk terbang ke luar negeri dan lupa sama hari lahir gue, teman-teman gue cuma sibuk posting foto di club mewah pakai uang gue," igau Clarissa seraya menundukkan kepalanya, menatap pendar lampu kedai yang memantul di permukaan botolnya.

Enzo mendengarkan setiap celoteh jujur dari mulut Clarissa tanpa memotong sama sekali. Ia tidak tertawa, tidak menghakimi, dan tidak berusaha memamerkan simpati palsu. Pemuda itu paham bahwa di balik gaya hidup glamor dan pakaian mewahnya, Clarissa hanyalah seorang gadis muda yang jiwanya kesepian, haus akan perhatian tulus yang tak pernah ia dapatkan di dalam rumah mewahnya sendiri.

Clarissa meneguk sisa minuman di botolnya, lalu menatap Enzo lurus-lurus dengan mata membelalak tipis, heran melihat reaksi pemuda di hadapannya.

"Kenapa lu diam saja?!" cetus Clarissa seraya menepuk meja kayu pelan.

"Kenapa lu nggak ngemis uang sama gue? Kenapa lu nggak berusaha menyenangkan hati gue kayak cowok-cowok lain?" lanjut Clarissa dengan nada menuntut yang penuh rasa ingin tahu.

"Gue punya banyak uang, Enzo. Gue bisa beliin lu baju mahal, jam tangan mewah, atau apa pun yang lu mau kalau lu mau bersikap manis sama gue!" sambung Clarissa dengan binar mata yang campur aduk antara emosi dan harapan.

Enzo meletakkan sendoknya di atas piring yang telah bersih. Pemuda itu mengambil tisu, menyapu bibirnya perlahan, lalu menatap mata Clarissa dengan pandangan yang amat jernih, jujur, dan hangat.

"Gue nggak butuh uang lu, Clarissa," sahut Enzo lugas dan mantap tanpa ada nada sombong.

Clarissa tertegun seketika, matanya berkedip lambat.

"Kaus kusam yang gue pakai ini dibeli dari hasil keringat gue sendiri," lanjut Enzo tenang seraya menunjuk pakaian sederhananya.

"Upah kerja gue emang nggak seberapa dibanding harga tas lu, tapi uang itu bikin gue tidur nyenyak setiap malam tanpa perlu mengemis sama siapa pun," sambung Enzo mantap.

"Dan soal lu..." kata Enzo seraya memiringkan kepalanya sedikit.

"Gue mau duduk di sini menemani lu makan bukan karena lu anak orang kaya atau lu punya mobil mewah. Gue duduk di sini karena lu cuma gadis biasa yang lagi butuh teman ngobrol," tegas Enzo jujur.

Kalimat sederhana namun amat berbobot itu menghantam dada Clarissa bagaikan petir di siang bolong. Kesadaran itu meruntuhkan sisa-sisa pertahanan diri Clarissa. Sepanjang hidupnya, ini pertama kalinya ada seorang pria yang melihat dirinya secara utuh sebagai seorang manusia—bukan sebagai anak pengusaha kaya, bukan sebagai sumber kemewahan, melainkan murni sebagai seorang gadis biasa bernama Clarissa.

Clarissa mematung di tempat duduknya. Binar mata tajamnya perlahan-lahan melunak sepenuhnya. Keraguan dan prasangka buruk yang selalu ia pelihara terhadap pria mendadak sirna tanpa bekas. Ada rasa hormat dan getaran hangat yang amat pekat merayap di dalam relung hatinya yang paling dalam.

"Lu... lu beneran beda, Enzo," bisik Clarissa lirih, suaranya sangat lembut dan jujur tanpa ada lagi kepalsuan gengsi.

"Gue cuma berusaha jujur sama diri sendiri dan sama lu," jawab Enzo seraya menyunggingkan senyum tipis yang ramah.

Enzo menjangkau botol kedua yang hendak dibuka oleh Clarissa, menggeser benda itu pelan menjauh dari jangkauan tangan gadis itu.

"Sudah minumnya. Lu sudah pusing begini," tegur Enzo lembut tapi tegas.

"Makan nasi goreng lu sedikit, habis itu gue antar lu pulang," sambung Enzo tak dapat dibantah.

Clarissa tidak memprotes sama sekali. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang selalu menuntut dan mengatur orang lain, gadis kaya itu justru merasa sangat nyaman dan terlindungi saat menuruti perintah tegas dari seorang pemuda berkaus kusam.

Clarissa menyusulkan beberapa suap nasi goreng ke dalam mulutnya dengan patuh. Usai mereka menyelesaikan makan malam sederhana itu, Enzo berdiri melangkah ke kasir warung tenda. Ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah dari dompet kusamnya untuk membayar porsi makanannya sendiri dan teh hangatnya, menolak membiarkan Clarissa menanggung semuanya.

Enzo menuntun Clarissa melangkah menuju mobil sedan mewahnya. Karena kondisi Clarissa yang sedikit tidak stabil akibat efek minuman keras, Enzo mengambil alih kunci mobil atas izin Clarissa, mengemudikan sedan mewah merah itu dengan tenang membelah malam menuju kawasan perumahan elit tempat tinggal gadis itu.

Di sepanjang perjalanan, Clarissa menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil, menatap profil samping wajah Enzo yang sedang fokus mengemudi dengan senyum tipis yang tak pernah hilang dari bibirnya.

Tepat saat mobil sedan mewah itu terparkir rapi di depan gerbang megah rumah Clarissa, ponsel tua di saku celana Enzo bergetar halus dua kali secara berurutan.

Enzo merogoh benda itu sejenak, melihat layar retaknya yang membiaskan pendar cahaya keemasan yang anggun.

[Pembaruan Data Target: Clarissa (20 Tahun)]

[Analisis Tindakan: Keteguhan Karakter di Hadapan Kemewahan & Kejujuran Sikap.]

[Evaluasi Psikologis Target: Target sangat terkesan atas sikap Anda yang tidak silau oleh kekayaannya. Tembok keangkuhan Target runtuh sepenuhnya, berganti menjadi rasa hormat, rasa percaya, dan keterikatan emosional yang dalam.]

[Keterikatan Clarissa Meningkat: 18% -> 26%]

[Catatan Sistem: Integritas Anda telah memenangkan hati Target.]

Enzo mematikan layar ponsel tuanya seraya menyunggingkan senyum tipis yang membumi. Ia mematikan mesin mobil, menyerahkan kunci kembali kepada Clarissa dengan sopan, lalu melangkah keluar menyongsong malam dengan hati yang tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!