Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Bersama 26.
Suara pintu kamar Reyhan yang tertutup rapat seolah menjadi lonceng kematian bagi kebebasan finansial Novia.
Gadis itu menatap wafel di tangannya dengan pandangan merana, lalu beralih pada buku Matematika di lantai yang mendadak terlihat seperti monster yang siap menelannya hidup-hidup.
"Diktator gila! Ketua OSIS sarap!" umpat Novia setengah berbisik, tidak berani berteriak terlalu keras karena tahu dinding apartemen ini tidak sekebal itu dari pendengaran tajam seorang Reyhan.
Dengan langkah terpaksa yang dihentak-hentakkan ke lantai, Novia memungut bukunya.
Mau tidak mau, ancaman pemblokiran kartu hitam itu bekerja dengan sangat efektif. Bayangan hidup satu bulan tanpa boba dan camilan manis adalah bentuk siksaan paling kejam yang bisa dia bayangkan saat ini.
Lima belas menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa, sampai akhirnya pintu kamar Reyhan kembali terbuka.
Cowok itu ingin memeriksa keadaan istrinya belajar apa tidak?, namun di tangannya kini ada sebuah penggaris besi panjang dan buku catatan tebal. Aura otoriter langsung menguar, memenuhi ruang tengah apartemen mereka.
"Masuk," perintah Reyhan singkat, kepalanya mengedik ke arah kamarnya yang pintunya terbuka lebar.
Novia mengerutkan kening, memeluk buku paketnya erat-erat seperti perisai dada. "Kenapa harus di kamar lo? Di meja makan kan bisa?"
"Meja makan terlalu dekat dengan kulkas. Fokus lo bakal pecah tiap lima menit buat nyari camilan," jawab Reyhan tanpa ekspresi. Dia berbalik jalan masuk ke kamarnya. "Gue nggak suka mengulang perintah, Novia. Waktu lo terus berjalan."
Novia mencibir di belakang punggung cowok itu, membuat gerakan mengejek dengan tangannya sebelum akhirnya mengekor masuk.
Kamar Reyhan, seperti pemiliknya, sangat rapi. Didominasi warna abu-abu dan hitam, dengan aroma kayu cendana yang menenangkan—aroma yang entah sejak kapan selalu berhasil membuat detak jantung Novia berirama lebih cepat.
Di lantai kamar, Reyhan sudah menggelar meja lipat kecil. Dia duduk bersila di satu sisi, sementara sisi lainnya sengaja dikosongkan untuk Novia.
"Duduk," kata Reyhan.
Novia menghela napas berat, menjatuhkan dirinya di depan meja lipat dengan bibir yang masih mengerucut. Dia membuka halaman integral dengan kasar, sengaja menciptakan suara gesekan kertas yang bising sebagai bentuk protes pasif-agresif.
"Kita mulai dari konsep dasar. Kenapa integral itu disebut sebagai anti turunan," Reyhan memulai, suaranya terdengar sangat profesional layaknya guru les privat berbayar mahal. Tangan cowok itu mulai menuliskan beberapa rumus di buku catatan dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas.
Namun, fokus Novia tidak ada pada angka-angka itu. Pandangannya justru terpaku pada jemari Reyhan yang panjang dan kokoh saat memegang pulpen, lalu naik ke pergelangan tangannya di mana urat-urat halusnya terlihat samar, hingga berakhir pada rahang tegas cowok itu yang bergerak pelan saat berbicara.
'Gila, kenapa dalam jarak sedekat ini dia kelihatan makin gak masuk akal?' batin Novia.
Tak!
Ujung pulpen Reyhan mengetuk pelan dahi Novia, membuyarkan seluruh lamunan gadis itu.
"Jangan misuh-misuh mulu di dalam hati. Fokus," tegur Reyhan, matanya yang tajam langsung mengunci manik mata Novia. "Gue tahu lo lagi nyumpahin gue. Tapi sumpah serapah lo gak akan bisa ngubah angka di bawah KKM jadi nilai delapan puluh."
Novia menggosok dahinya yang tidak sakit, wajahnya memerah karena tertangkap basah. "Siapa juga yang misuh-misuh! Lagian lo neranginnya kecepetan, kayak kereta ekspres. Otak gue kan kapasitasnya lokal!"
"Makanya perhatikan baik-baik," kata Reyhan. Dia menghela napas, mencondongkan tubuhnya ke depan melewati meja lipat yang sempit. Reyhan meraih tangan Novia yang memegang pensil, menuntun jemari gadis itu untuk menunjuk baris rumus yang baru saja dia tulis. "Lihat pangkatnya. Kalau integral, pangkatnya ditambah satu, lalu hasilnya jadi pembagi di depan. Paham?"
Jarak di antara mereka mendadak terkikis habis. Wajah mereka kini terlalu dekat—hanya tersisa belasan sentimeter yang memisahkan ujung hidung mereka. Novia bisa merasakan embusan napas hangat Reyhan yang menerpa pipinya, lengkap dengan aroma maskulin yang menguar kuat dari tubuh cowok itu.
Novia mendadak lupa cara bernapas. Dia terpaku, menatap lurus ke dalam mata hitam pekat Reyhan yang biasanya dingin, namun malam ini entah mengapa terlihat begitu dalam dan... rapuh di saat yang sama.
Reyhan pun tampaknya menyadari kedekatan mereka. Gerakan tangannya yang menuntun pensil Novia terhenti.
Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak atau bersuara.
Hanya ada suara detak jam dinding yang mengisi keheningan malam di apartemen itu.
Mata Reyhan turun sedikit, menatap bibir Novia yang sedikit terbuka karena terkejut, sebelum kembali mengunci tatapan matanya.
Atmosfer di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi sangat pekat, sarat akan ketegangan yang tidak kasat mata.
Ada debaran yang menuntut untuk diakui, sebuah interaksi nyata yang menelanjangi perasaan mereka yang sebenarnya.
"Rey..." bisik Novia lirih, suaranya nyaris hilang di tenggorokan.
Reyhan berdeham pelan, lalu perlahan menarik kembali tangannya dan menegakkan tubuh. Dia memalingkan wajah sesaat, membetulkan letak duduknya yang mendadak terasa canggung. "Kerjain soal nomor satu sampai lima. Gue mau ke kamar mandi sebentar."
Tanpa menunggu jawaban, Reyhan bangkit berdiri dan melangkah keluar kamar dengan tergesa-gesa. Begitu pintu kamar mandi terdengar tertutup, Novia langsung menjatuhkan wajahnya ke atas meja lipat, menyembunyikan pipinya yang sudah dipastikan matang dengan warna merah yang membara.
Tangan kanannya meraba dadanya yang berdegup kencang seperti habis berlari maraton.
'Lo kenapa sih, Novia? Dia itu cuma Reyhan. Si kutub utara yang nyebelin!' rutuknya pada diri sendiri.
Setengah jam kemudian, Reyhan kembali ke kamar. Kali ini, dia tidak lagi mengambil posisi duduk di depan Novia. Dia memilih duduk di tepi ranjangnya yang terletak tidak jauh dari meja lipat, membuka laptopnya dan berpura-pura sibuk memeriksa laporan OSIS.
Novia yang sudah mulai bisa mengendalikan debaran jantungnya, kembali berkutat dengan soal-soal matematika.
Hawa dingin dari AC kamar lama-kelamaan mulai membuat matanya terasa berat.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Baris-baris angka di hadapannya mulai tampak berbayang, berubah menjadi lingkaran-lingkaran hitam yang berputar.
Kepala Novia mulai terkantuk-kantuk. Sekali, dua kali, dia berhasil menegakkan kepalanya.
Namun pada kantuk yang ketiga, pertahanannya runtuh sepenuhnya. Tubuhnya merosot perlahan, dan kepalanya mendarat dengan nyaman di atas tumpukan buku paket yang terbuka, tertidur pulas dalam hitungan detik dengan napas yang teratur.
Mendengar suara napas yang berubah konstan, Reyhan mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Dia menatap siluet tubuh Novia yang meringkuk di lantai, tampak begitu kecil dan rapuh di bawah sorot lampu meja yang temaram.
Reyhan menutup laptopnya perlahan, lalu turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dia berlutut di samping tubuh Novia yang tertidur. Dengan sangat hati-hati, seolah takut memecahkan sesuatu yang teramat berharga, Reyhan menyingkirkan beberapa helai anak rambut yang menutupi wajah gadis itu, menyelipkannya di belakang telinga Novia.
Wajah Novia saat tidur terlihat sangat damai, sangat berbeda dengan topeng pemberontak yang selalu dia pakai di sekolah untuk menarik perhatian ayahnya yang abai.
Luka yang diceritakan gadis itu di bawah pohon mahoni kemarin malam kembali terngiang di kepala Reyhan, menyayat bagian terdalam dari hatinya yang selama ini dia kira sudah mati rasa.
Reyhan meraih selimut tebal dari atas ranjangnya, lalu menyelimuti tubuh Novia dengan perlahan.
Dia tidak memindahkan gadis itu ke kasur, takut gerakannya akan membangunkan tidur nyenyak yang sangat dibutuhkan Novia.
Cowok itu tetap berlutut di sana untuk beberapa saat, menatap wajah tidur Novia dengan tatapan yang begitu sarat akan emosi yang bergolak—campuran antara rasa bersalah, keinginan untuk melindungi, dan sesuatu yang lebih besar yang belum berani dia beri nama.
Reyhan mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Novia yang terlelap, lalu berbisik dengan suara yang sangat rendah, nyaris seperti embusan angin malam yang bergetar penuh keputusasaan.
"Jangan membuatku terlalu peduli, Novia. Karena kalau aku sudah peduli... aku nggak akan pernah bisa melepaskanmu lagi."
......................
...****************...
Tbc,