Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 6
Matahari mulai terbit. Sinarnya merayap perlahan menembus kaca jendela apartemen. Cahayanya tidak sepenuhnya masuk, sebab terhalang tirai yang belum dibuka.
Rara mengerjapkan matanya, setelah ia tertidur pulas demi menjaga ketenangan. Konfliknya dengan Rudi tadi malam sangat membuatnya lelah, baik itu lelah pikiran maupun mental. Ditambah lagi ada kejadian sebelumnya yang ia terlibat debat dengan kakaknya.
Ia turun dari ranjang yang bertipe queen size. Melangkah ke dekat jendela dan membuka tirainya. Membiarkan cahaya matahari masuk untuk menerangi kamar tidurnya. Ia lalu mematikan lampu kamar. Kemudian berjalan ke dapur.
Sarapan pagi ini ia memilih makanan yang ringan. Ia memanggang sepotong roti gandum. Lalu mengoleskan buah alpukat yang sudah dihaluskan dengan diberi tambahan telur orak-arik atau scrambled eggs. Minuman pendampingnya, ia sudah pesan matcha latte lewat aplikasi online. Sebentar lagi juga sampai.
Pesanannya sampai pas banget pada waktu ia meletakkan sepiring avocado toast yang telah dibuatnya ke meja makan. Ia lalu membuka pintu dan mengambil pesanannya yang diantarkan kurir.
Ia langsung menikmati makanan sarapan pagi. Rasanya ringan, gurih dan menenangkan. Perpaduan rasa creamy dari alpukat di atas roti panggang yang renyah, berpadu dengan kehangatan atau kesegaran matcha yang earthy, langsung memberikan dorongan energi yang bersih tanpa rasa berat di perut.
Rara menghentikan makannya saat mendengar bel kamarnya berbunyi. Ia meletakkan roti yang sudah setengah dimakan ke atas piring. Lalu berjalan menuju pintu.
Pintu dibuka. Alisha berdiri tepat didepannya. "Alisha, tumben pagi-pagi udah kesini," kata Rara.
"ada yang mau aku omongin," jawab Alisha.
"mau ngomongin apa ?" tanya Rara
"aku masuk boleh ?" tanya Alisha yang berharap dipersilakan masuk oleh Rara.
"boleh, ayo masuk," Rara menyingkir membiarkan temannya melewatinya. Ia lalu menutup pintu.
"pasti kamu baru bangun ya ra. Ketahuan dari matamu masih sayu belum semangat," kalimat yang ingin Alisha katakan pertama kali, saat melihat Rara membuka pintu masih menggunakan piyama dan menampilkan wajah sayunya. Ia melangkah ke ruang tamu. Lalu duduk disana.
"memang iya ?" jawab Rara sambil mencoba membersihkan wajahnya dengan usapan tangannya agar kelihatan lebih segar.
"kamu mau ngomongin apa sha ?" tanya Rara. Ia duduk disebelah Alisha.
"jangan kaget ya. Rudi bangkrut ra. Ayahnya korupsi. Semua asetnya mau di sita negara," kata Alisha.
"kok bisa sha," Rara terkejut. "terus gimana ra ? Apa hubungannya sama gue ?," ia mendekat untuk menyimak lebih dalam.
"lo kan ada kontrak temu sama Rudi. Lo udah terima uang imbalannya ? Kalau belum, mending balikin aja," kata Alisha.
"gue udah terima. Tapi kenapa di balikin. Gue kan nggak ikut-ikut," Rara bingung.
"Tapi kan lo dapat uang dari Rudi. Sepengetahuan gue ya. Kalau salah satu keluarganya ada yang ketangkap karena korupsi. Semua asetnya bakal disita. Termasuk juga aliran dananya akan diperiksa. Rudi kan nggak kerja, cuman ngandelin uang dari ayahnya dan uang itu juga mengalir ke lo," terang Alisha untuk memahamkan situasi yang akan dialami Rara.
"kalau lo nggak mau ikut terbawa-bawa, mending uang itu lo transfer balik aja," tambah Alisha.
Pikiran Rara sekarang berputar mencari solusi. Masalahnya bukan hanya uang transferan dari Rudi, namun apartemen yang ia tinggali sekarang juga sewanya dibayarkan oleh pria itu. Ia semakin bingung belum menemukan solusi yang tepat.
Ia sempat terpikirkan untuk tinggal di rumah peninggalan ayah dan ibunya. Tapi ia merasa kalau tinggal disana, ia tidak bisa bebas keluar malam dan tidak tenang seperti ia tinggal diapartemen.
Di apartemen, ia sangat tenang dan bisa santai apalagi bisa bebas. Tidak perlu memikirkan pendapat orang lain. Ia lebih mudah pergi malam maupun pulang larut malam. Sementara saat tinggal dirumah warisan, ia merasa repot harus ngerawat rumah yang berlantai 2 itu. Apalagi, ia tak bisa bebas keluyuran malam. Pendangan buruk pasti datang dari tetangga sekitar. Mau tidak mau ia harus cari jalan keluar yang lain.
"gue bingung nih jadinya. Soalnya apartemen ini kan uang sewanya ditanggung Rudi. Kalau gue kembaliin gue tinggal dimana," kata Rara.
"lo dari Rudi dapat apa aja ?" tanya Alisha.
"dikontrak temu gue sama Rudi. Kita kan sepakat maksimal 20 pertemuan. 10 kali ketemu, imbalannya gue disewain apartemen ini. Terus 6 ketemuan setelahnya, ditransfer kemarin malam dan masih di rekening.." belum selesai Rara menerangkan, Alisha langsung memotongnya. "semisal nih ra. Aparteman sama uang dikembaliin, lo masih punya uang buat jaga-jaga kan ?" ucap Alisha.
"masih, tapi mepeeet banget," Rara terbayang saldo di rekeningnya.
"saran gue mending semuanya lo kembaliin aja. Cari aman. Daripada lo ikut masuk penjara," kata Alisha.
"amit-amit, jangan sampai," jawab Rara, berharap tak ada hal buruk dikemudian hari yang menimpa dirinya.
"lo kan masih punya kakak. Sementara lo pindah kesana dulu, sambil lo ngumpulin uang buat sewa apartemen lagi," saran Alisha.
"coba deh, nanti gue pikir-pikir lagi. Pusing gue," Rara merebahkan kepalanya ke sofa. Masalah ini membuat ia benar-benar kebingungan mencari jalan keluar apa yang harus ia ambil. Rasanya semua saran sama-sama beratnya.