Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara Sekolah (2)
**
Rafa cukup bisa bernapas lega untuk sementara karena saat Alexa akan menginterogasi, bertepatan dengan pengumuman jika semua orang harus berkumpul di aula karena acara akan segera dimulai.
Setelah itu, langsung dimulai acara perlombaan yang otomatis membuat Rafa untuk sementara bisa kabur dari Alexa. Dia nanti tetap harus menyiapkan jawaban yang tidak menimbulkan peperangan dari adik-nya, syukur-syukur mereka tidak bertemu pas acara sampai selesai.
"Pa, ayo!" ajak Elvan yang terus menarik tangan Rafa, otomatis menghentikan lamunan lelaki itu.
"Iy-ya, tapi gimana kalau sama Mama aja?" tawar Rafa saat mengingat perlombaan yang akan dia ikuti sekarang sangat memalukan.
"Ini perlombaan sesi ayah dan anak, yang benar aja, kalau mau saya yang maju," cibir Felisa kesal. Dia baru selesai berlomba makan kerupuk sambil menggendong Elvan, tapi lelaki itu, ini baru perlombaan pertama sudah mengeluh. "Ini pinggang saya masih sakit."
Elvan terus menarik ujung kaosnya. "Ayo, yang lain udah ngumpul. Cio juga itu udah sama Papa-nya!"
Rafa melihat ke arah lapangan dan benar, di sana sudah ada sekitar 8 orang anak dan para ayah-nya. Saat melihat Alex dan Cio, Rafa menggeleng tak habis pikir. Mereka berdua di sana, menggunakan kaos berwarna pink yang sudah ada foto keluarga mereka, lengkap dengan Cia. Isi otak Alex dan Alexa jika digabungkan yah, seperti itu hasilnya.
"Perlombaan kali ini, yaitu menggambar. Dimana anak-anak bebas berkreasi dengan semua warna di wajah para ayah. Mereka juga diberikan sebuah spidol no permanen, yang bebas mereka gunakan menggambar di wajah para Ayah. Setiap gambar, bisa menggambarkan setiap karakter mereka dan gambar yang paling mendekati mirip sebuah wujud nyata, itu pemenangnya. Tapi di sini, bukan tentang menang dan kalah yah, Ibu dan Ayah, tapi intinya itu bisa membuat si anak bebas beraktivitas."
Setelah pengumuman MC acara, beberapa panitia berdatangan membawa sebuah alas karpet untuk setiap anak dan Ayah duduk. Setelahnya, alat menggambar sudah lengkap juga tersedia di sana.
Jika kalian pikir perlombaan ini setertib lomba para Ibu, tidak semudah itu karena saat belum dimulaipun banyak protes dari para Ayah. Kenapa tidak diganti perlombaannya dan perlombaan ini untuk para Ibu? Termasuk Rafa juga ikut protes, bisa dibayangkan bagaimana wajahnya nanti?
"Lebih serem disidang Alexa loh Karaf, dibandingkan perlombaan ini," celetuk Alex yang duduk di samping kirinya.
"Udah bosen hidup, yah?" tanya Rafa kesal, kenapa harus diingatkan lagi, sih? Padahal tadi sudah lupa.
Mata Rafa tak sengaja melihat ke sisi para Ibu, dimana ada Alexa yang tengah menatapnya tajam. Rafa buru-buru mengalihkan pandangan, tiba-tiba aura memang berubah menjadi seram. Terdengar suara tertawa Alex, membuat Rafa semakin kesal saja.
"Aura adek lo, kalau marah emang seram. Tapi aura dikasur, dia bisa jadi panas banget," ujar Alex yang langsung dipukul Rafa. "Gila! Sakit ini, woi!"
"Biar lo sadar, gak kerasukan penghuni sekolah sini!"
"Sialan!"
Perlombaan diselesaikan oleh protes keluhan para ayah, sorakan senang para Ibu dan teriakan kegembiraan para anak.
"Muka lo udah kaya badut. Eh, lebih ganteng badut malah." Alex tertawa heboh di samping, lupa diri jika dirinya tak kalah hancur mukanya.
"Ngaca sana! Muka lo itu udah kaya anggota militer lagi tugas!"
"Tahu gue. Ini anak emang sering banget gambar ala TNI di tembok. Jadi, gak aneh muka gue digambar kaya gitu," jawab Alex memang terlihat biasa saja. Mungkin di rumah, tingkah Cio lebih luar biasa dari ini.
"Om Rafa jelek!" celetuk Cio yang sudah mengemut eskrim yang disediakan panitia.
"Om Alex lebih jelek," balas Elvan yang sudah memegang dua eskrim juga, namun belum dibuka. "Pa ... buka!"
"Dasar bocah, segala gak bisa!" cibir Cio seolah sombong, memperlihatkan dirinya yang sudah bisa membuka eskrim.
"Cio juga kaya anak kecil. Waktu itu nangis lari ketakutan cuman lihat kecoa!"
"Kamu waktu itu juga nangis, saat lihat ulet waktu kita ngumpetin sepatu Adam di belakang pohon!"
"Cio nangis waktu di kamar mandi, saat kita sembunyi karena lihat cacing. Waktu itu kita lagi dicari Bu guru karena robekin buku Angel!"
"Kamu yang anak kecil!" teriak Cio menatap Elvan sengit.
"Cio yang anak kecil!" Elvan tak kalah untuk ikut berteriak juga.
"Eh ... diam kalian yang sama-sama anak kecil!" Rafa buru-buru menggendong Elvan yang terlihat maju akan mengajak Cio bertarung.
"Udah Kak, sesama teman seperjuangan nakal tidak boleh saling jahat!" Alex hanya menggandeng tangan Cio.
"Kok, aku gak digendong kaya Elvan!" protes Cio yang iri melihat Elvan, sedang bocah itu menjulurkan lidah meledekk ke arah Cio.
"Berat, Kak! Pinggang Papa masih sakit loh, karena Kakak sama Ade main kuda-kudaan. Terus setelah kalian tidur, gantian Mama yang main kuda-kudaan sama Pa--Aw sakit!"
"Kebiasaan yah, ngomong kotor di depan anak!" maki Alexa yang sudah menjewer telinga Alex, yang entah kapan sudah berada di sana.
"Maaf, Sayang. Tolong lepas, dong! Gak kasian, suami gantengmu ini jadi tontonan orang-orang," rengek Alex minta ampun. Alex semakin kesal, saat melihat Cio dan kedua pasangan anak dan ayah di sampingnya malah ikut tertawa.
"Gak usah ketawa senang, Kak! Ingat, masih ada hutang dosa penjelasan sama aku!"
Ancaman Alexa, sukses membuat Rafa seketika bungkam, sedang sekarang gantian Alex yang tertawa. Pasangan keluarga itu, akhirnya pergi meninggalkan Rafa yang masih menggendong Elvan dengan perasaan takut menghadapi Alexa nanti.
"Ini, minum dulu!"
Sebotol minuman sudah ada di depan wajah Rafa, pelakunya tak lain adalah Ibu dari anak yang digendongnya ini, yaitu Felisa.
"Ayo, ke pinggir dulu. Siap-siap buat perlombaan lainnnya."
"Ok."
Rafa berjalan di belakang Felisa, masih menggendong Elvan. Sekilas, memang jika terlihat mereka sudah seperti pasangan keluarga utuh yang sebenarnya.
Menikah?
Beberapa bulan tinggal bersama ini, Rafa juga sering memikirkan masalah pernikahan ini. Bahkan jauh sebelum mereka bertemu, setelah malam itu Rafa memang sudah berniat ingin bertanggungjawab untuk menikahi Felisa.
Tapi, waktu terlalu lama berlalu. Pernikahan untuk sekarang, terasa terdengar sangat terlambat. Toh, hidup seperti ini mereka juga sama-sama merasa nyaman. Walau, nantinya Felisa dan Elvan juga akan pergi. Tapi setidaknya, saat itu dia sudah tahu jika sekarang mempunyai seorang anak.
"Titip Elvan!"
Felisa sudah sedikit berlari ke tengah lapangan untuk mengikuti perlombaan selanjutnya, yaitu tarik tambang. Kebetulan, Alexa juga ikut dan satu tim dengan Felisa.
Jika dipikir-pikir, perlombaan untuk para Ibu seperti perlombaan 17 Agustus dan jarang melibatkan para anak. Sedang, untuk para ayah lebih perlombaan menyelipkan edukasi pendidikan dan selalu melibatkan para anak.
Entahlah, Rafa tidak peduli. Dia sekarang masih kesal karena dilarang hapus make-up sampai acara selesai.
"Mama jatuh!" Elvan sudah tertawa ngakak, menertawakan Felisa. Dasar anak durhaka, malah senang melihat kelompok Felisa jatuh dan kalah.
"Jangan loncat-loncat, nanti jatuh!"
Rafa sudah kembali menarik Elvan, supaya kembali duduk.
"Mas-nya, ada niat nambah istri, gak? Saya janda, loh!" tutur seorang Ibu berdandan nyetrik, yang tiba-tiba duduk di samping Rafa.
Rafa melirik sekilas, tersenyum tipis lalu kembali melihat ke tengah lapangan lagi. "Boro-boro dua, satu aja saya belum punya, Bu!"
"Kalau Mas mau serius, saya malah rela ninggalin suami saya..." celetuk Ibu-ibu lainnya yang sudah ikut duduk di sana.
"Kalau sama saya, Mas gak usah kerja dan diam di rumah aja. Saya gak rela malah, punya suami setampan ini dilihat orang!"
"Sama saya aja yah, Mas, kalau mau nikah lagi!"
Rafa hanya tersenyum canggung, saat tiba-tiba ia sudah dikerumuni ibu-ibu. Bahkan, Elvan yang duduk di pangkuannya mulai terlihat risih karena ada beberapa ibu-ibu yang mencolek pipinya.
"Sayang!" teriak sebuah suara yang Rafa kenal. Entah kenapa, Rafa berharap Felisa bisa menyelamatkannya dari situasi ini.
Kerumunan itu terpaksa terbelah, saat Felisa menerobos masuk.
Cup
Felisa dengan santainya sudah mencium pipi Elvan dan Rafa secara bergantian, membuat para Ibu di sana berwajah masam.
"Cape banget." Kali ini Felisa sudah menyandarkan kepalanya di bahu Rafa.
Rafa yang tahu ini kesempatan bagus untuk mengusir para Ibu kurang belayan itu, langsung ikut masuk ke dalam drama Felisa.
"Nanti malam aku pijitin," ujar Rafa balik merengkuh Felisa.
Cup
Setelahnya, Rafa mencium kening Felisa. Akhirnya, para Ibu di sana dengan sendirinya membubarkan diri, membuat kedua orang itu tersenyum senang.
"Ehemmmmm!"
Mereka sama-sama terkejut, saat melihat Alexa, Alex dan Cio sudah ikut bergabung duduk bersama mereka bertiga.
"Jadi, hubungan kalian berdua ini apa?"
"Hus ... jangan to the poin gitu dong, sayang!" tegur Alex menegur Alexa. Tapi tunggu, ini bukan menegur lebih seperti meledek tak tersirat. Lihat, wajah menyebalkan Alex.
"Dek, Cia sama siapa?" Rafa berusaha mengalihkan perhatian Alexa.
"Sama mama lah, masa sama kakek!" balas Alexa ketus, membuat Rafa meringis. "Jangan alihkan omongan yah, Kak!"
Rafa menghela napas kasar. "Kan, nanti Kakak udah janji habis selesai acara ini bakal jelasin, Dek."
"Jengah kabur!"
"Enggak Dek, enggak! Sumpah, gak akan kabur!"
"Kita gak ada hubungan apa-apa, kok," celetuk Felisa tiba-tiba tanpa tahu situasi.
Rafa semakin meringis di tempat, sedang Alexa semakin menatap tajam ke arah mereka berdua dan Alex yang cengengesan merasa ini hal lucu. Dua anak itu, mereka sudah berlarian ke arah teman-temannya.
"Gak punya hubungan apa-apa, tapi udah punya anak. Gak ada hubungan apa-apa, tapi barusan saling cium dan pelukan," cibir Alexa. Terkadang, ibu muda dua orang anak ini bisa menjadi tokoh antagonis yang menyeramkan.
Belum sempat Rafa menjawab, tiba-tiba terdengar suara tangis anak perempuan yang sangat keras. Setelahnya, dua bocah itu sudah berlari ke arah mereka dengan wajah yang terlihat senang.
"Cengeng banget si Adel," celetuk Cio yang sudah duduk di pangkuan Alexa.
"Iya, masa cuman kita buang bonekanya ke air comberan udah nangis," balas Elvan yang juga sudah duduk di pangkuan Rafa.
"Tunggu, kalian yang buat anak perempuan tadi nangis?" tanya Alexa yang sudah paham situasi.
Cio dan Elvan saling pandang, setelah akhirnya mereka berdua sama-sama tertawa senang. "Iya, dong! Kita gitu, loh!" jawab mereka bersamaan.
"Dek, anak kamu nakal banget!"
"Anak Kakak juga sama!"
"Tapi, anak kamu yang ngajarin!"
"Anak aku juga keponakan Kakak, loh!"
"Gara-gara si Alex!" ujar Rafa frustrasi.
"Jangan bawa-bawa makhluk tidak bersalah ini, tolong!" protes Alex yang tidak terima karena dia sedari tadi diam, tapi tiba-tiba disalahkan.
"Gara-gara kelakuan kamu di masa lampau!" seru dua bersaudara itu bersama-sama, membuat Alex ciut tidak bisa melawan karena memang merasa seperti itu.
"Keluarga macam apa ini? Kenapa aku tiba-tiba terjebak di sini?" lirih Felisa tidak habis pikir karena menyaksikan keanehan keluarga di depannya ini.
"Ayo pergi!" Alexa berdiri menggandeng tangan kedua anak itu. "Kita minta maaf sama Adel. Gak Boleh jahatin temen kaya gitu."
"Gak mau!" teriak dua bocah itu bersamaan.
Alexa gak peduli, terus menarik pause membawa pergi.
Drama baru sudah dimulai.
##