Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Email Dari UNHASY
Di tengah semua drama kehamilan dan penyakit Ning Ummah, siang itu ndalem utama masih menyisakan isak tangis haru.
Ning Ummah sudah tertidur lagi setelah muntah-muntah sejak pagi, wajahnya masih pucat tapi ada senyum kecil di bibirnya setelah tahu rahasia tentang detak jantung 6 minggu itu. Ning Latifah sudah kembali ke dapur, sibuk merebus air jahe, sesekali masih mengusap matanya yang sembab. Gus Azam duduk di bale bambu pendopo, memegang hasil USG kecil itu lama sekali, menatap titik hitam dengan tulisan '6 minggu' itu seakan tidak percaya.
Aku sendiri duduk di karpet ndalem, memegang perutku yang masih rata, masih terasa hangat bekas tangan Ning Ummah tadi. Perasaanku campur aduk. Bahagia karena akhirnya rahasia ini terbongkar dengan cara yang indah, tapi juga takut karena aku belum tahu bagaimana nasib operasi Ning Ummah sore nanti.
Di tengah hening itu, handphone Gus Azam yang tergeletak di meja bergetar. Bukan, handphoneku.
_Tring._
Aku meraih handphoneku yang layarnya retak di ujung. Sebuah notifikasi email masuk. Pengirimnya membuat jantungku berhenti sejenak.
[Undangan Resmi - Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang - Kelulusan Mahasiswa Baru Pascasarjana]
Tanganku gemetar membuka email itu.
_Assalamualaikum Wr. Wb._
_Selamat, Ning Sopiah Darunnajah dan Ning Latifah Darunnajah..._
_Anda dinyatakan LULUS seleksi beasiswa dan diterima sebagai Mahasiswi Pascasarjana Program Studi Pendidikan Islam Universitas Hasyim Asy'ari (UNHASY) Tebuireng Jombang Tahun Akademik 2026/2027..._
_Dimohon kehadirannya untuk daftar ulang dan pertemuan awal bersama Rektor pada hari Senin..._
Aku membaca email itu tiga kali, aku membacanya berulang-ulang sampai mataku berkaca-kaca lagi.
Antara bahagia dan bingung.
Ya Allah, ini mimpi yang sudah aku pendam sejak aku masih mondok alif dulu. Sejak aku masih menjadi santri kecil yang suka duduk di pojok perpustakaan sambil membaca kitab. Aku dan Ning Latifah memang mendaftar diam-diam tiga bulan yang lalu, saat Ning Ummah masih sehat, saat aku belum tahu ada calon santri kecil di perutku. Kami ingin melanjutkan S2 bersama, agar kelak bisa mengajar santriwati dengan lebih baik.
Tapi sekarang... kini aku telah hamil.
Bagaimana mungkin aku kuliah sambil hamil muda dengan mual yang seperti ini? Bagaimana mungkin aku meninggalkan Ning Ummah yang akan operasi dan butuh ditemani? Bagaimana mungkin aku bolak-balik ke Tebuireng dengan perut yang semakin membesar nanti?
Air mataku menetes lagi, jatuh di atas layar handphone.
"Kenapa, Piah?" Gus Azam yang melihatku menangis lagi langsung masuk ke ndalem, duduk di sampingku.
Aku menyodorkan handphone itu tanpa bicara. Gus Azam membaca email itu, matanya membulat.
"Innalillahi... Piah lulus? MasyaAllah..."
Ning Latifah yang mendengar nama kampus langsung berlari dari dapur, "Apa? UNHASY? Aku juga? Mana, Ning? Coba lihat!"
Ning Latifah merebut handphoneku, membaca email itu dengan suara keras, lalu menjerit pelan sambil menutup mulutnya, "Ya Allah! Aku juga lulus, Gus! Aku dan Ning Sopiah lulus Seleksi S2 UNHASY!"
Seharusnya ini momen pelukan dan jeritan bahagia. Seharusnya kami bertiga melompat-lompat seperti saat kami dulu lulus aliyah bersama. Tapi tidak ada lompatan. Yang ada hanya hening dan isak tangis kecil dariku.
Ning Latifah menatapku, "Ning... kenapa nangis? Harusnya kita seneng, Ning... ini kan impian kita dari dulu..."
Aku mengelus perutku pelan, "Iya, Ning... Piah bahagia... Piah bahagia sekali... tapi Piah bingung... Piah kan lagi hamil, Ning... Piah mual terus, Piah takut gak kuat kalau harus kuliah, harus ngurus pesantren, harus jaga Ning Ummah... Piah takut Piah egois kalau Piah ambil beasiswa ini..."
Gus Azam langsung menggenggam tanganku erat, mengerti dilemanya.
"Piah, dengerin Gus..."
Aku menatap Gus Azam, menunggu keputusannya. Sebagai suami, sebagai Gus yang memimpin pesantren ini, apapun yang Gus Azam katakan pasti akan aku ikuti.
Namun Gus Azam tidak langsung melarang atau menyuruh. Dia mengusap kepalaku pelan.
"Gus bangga sama Piah. Sangat bangga. Di saat Piah lagi berjuang menjaga calon anak kita, di saat Piah lagi berjuang menjaga Ning Ummah, Piah masih bisa lulus pendaftaran di universitas terbaik di Jombang ini. Ini bukan egois, Piah, ini rezeki. Rezeki untuk anak kita juga nanti."
Aku terisak, "Tapi bagaimana dengan kandungannya, Gus? Bagaimana dengan Ning Ummah?"
Gus Azam tersenyum teduh, "Kita coba dulu, ya? Bagaimana kalau besok kita datang dulu ke UNHASY, diantar Gus. Kita temui dosen dan Rektornya. Kita ceritakan kondisi Piah yang sebenarnya, kondisi Ning Ummah yang sedang sakit, dan kondisi pesantren. Kita minta kebijakan, barangkali pertemuan tatap mukanya bisa satu minggu sekali saja, tidak setiap hari. Atau sistemnya bisa hybrid, bisa online. UNHASY kan pesantren juga, mereka pasti mengerti adab seorang istri dan seorang ibu."
Ide itu membuat mataku sedikit berbinar.
"Iya ya Gus... kita coba minta keringanan... Piah tidak ingin melepas beasiswa ini, tapi Piah juga tidak ingin meninggalkan tanggung jawab Piah di rumah..."
Ning Latifah langsung menyahut semangat, "Betul, Gus! Kita coba dulu! Aku juga akan bilang ke Rektor kalau Ning Sopiah lagi hamil muda, jadi kita butuh jadwal yang tidak terlalu berat. Kalau Rektor tidak mengizinkan, ya sudah, kita tunda dulu tahun depan, yang penting kita sudah berusaha."
Aku menarik nafas panjang, mencoba mencerna kabar ini dengan hati yang lebih tenang. Ya, aku akan coba. Aku tidak akan menyerah sebelum mencoba.
"Baiklah, Gus... besok pagi kita ke UNHASY ya? Piah ingin mencoba. Piah ingin anak di perut Piah nanti bangga, kalau ibunya tidak hanya bisa mengaji, tapi juga berilmu."
Gus Azam mencium keningku lama, "InsyaAllah anak kita akan bangga punya dua ibu yang hebat, satu yang sedang berjuang melawan sakitnya demi pesantren, satu lagi yang sedang berjuang menambah ilmunya demi pesantren."
Malam itu, setelah Ning Ummah terbangun dari tidurnya, aku dan Ning Latifah masuk ke kamarnya bersama-sama, membawa handphone dengan email itu.
"Ning Ummah... ada kabar..."
Ning Ummah membaca email itu dengan kacamata bacanya, lalu menangis lagi, tapi kali ini tangisnya berbeda.
"Ya Allah... Piah... Latifah... kalian lulus seleksi S2? Alhamdulillah... Alhamdulillah Ya Allah..."
Ning Ummah memeluk kami berdua sekaligus, "Berangkat, Nak... kalian berangkat besok... jangan pikirkan Ummah... Ummah justru bahagia, kalau nanti Ummah operasi, Ummah tahu adik-adik Ummah sedang menambah ilmu di Tebuireng... itu bikin Ummah kuat..."
Aku memeluk Ning Ummah, perut rataku yang ada calon santri kecil 6 minggu itu menempel di perut Ning Ummah yang sedang sakit. Dua perut, dua perjuangan, dalam satu pelukan.
"Terima kasih, Ning... doakan Piah kuat ya, hamil sambil kuliah..."
Ning Ummah mengelus perutku lagi, "Ummah doakan, cucu Ummah ini jadi anak yang pintar karena ibunya rajin kuliah..."
Dan malam itu, di ndalem utama Darunnajah Jombang, untuk pertama kalinya setelah vonis kanker itu datang, kami semua tertawa lagi, di sela-sela air mata, membayangkan aku dan Ning Latifah memakai toga S2 sambil menggendong bayi kecil penerus pesantren.
---Bersambung---