NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7.Sponsor spa

Kamar utama mansion Diksara di lantai dua terasa hening seketika setelah pintu kayu jati itu tertutup rapat. Naya melangkah santai menuju meja rias mewah berbahan marmer putih, mencopot kacamata hitamnya, lalu meregangkan jemarinya di atas meja. Setelah makan malam yang penuh dengan tekanan udara dingin dari Mamah Ratna dan lirikan tajam Damar, Naya justru merasa menang banyak. Perutnya kenyang dengan steak kualitas premium, dan dompetnya aman berkat Black Card di dalam tas.

Ia melepaskan gaun peach-nya dan menggantinya dengan piyama sutra longgar berwarna krem yang sangat lembut. Setelah mengoleskan krim malam dan melakukan rutinitas skincare lengkap, Naya melompat ke atas tempat tidur berukuran king-size tersebut.

Di tengah-tengah kasur, guling besar berenda masih membentang kokoh sebagai benteng batas wilayah. Naya menepuk guling itu dua kali sambil tersenyum puas. "Guling pembatas, garda terdepan kedamaian hidup Naya. Jangan pernah bergeser sejengkal pun!"

Tak lama kemudian, knop pintu berputar. Damar masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan sisa pekerjaannya di ruang kerja pribadi. Pria itu sudah membasuh wajahnya, rambut hitamnya sedikit basah dan teracak alami, memberikan kesan lebih kasual dibanding penampilan kaku sehari-harinya saat memakai jas kerja.

Naya yang sedang asyik membolak-balik halaman majalah mode ternama hanya melirik sekilas lewat ekor matanya, lalu kembali fokus pada gambaran tas-tas mahal keluaran terbaru.

Damar melangkah mendekati sisi tempat tidurnya. Sebelum menaiki kasur, matanya tertuju pada guling pembatas yang membelah area tidur mereka. Pria itu menghela napas berat, suara napasnya yang dalam memecah keheningan kamar.

"Naya," panggil Damar dengan suara serak yang tenang namun berat.

"Apa lagi, Mas Kulkas?" sahut Naya tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah. "Kalau mau protes soal belanjaan tadi sore, mending ditunda besok pagi deh. Energi saya udah habis buat melayani akting Mbak Pancong sama emosi Tante Ratna."

Damar mendudukkan tubuhnya di tepi kasur. Ia menatap samping wajah Naya yang mulus dan merona alami di bawah sorotan lampu kamar yang hangat. "Saya tidak mau bahas belanjaan."

"Trus? Mau bahas apa? Pembagian uang dua miliar?" Naya akhirnya menurunkan majalahnya, menatap Damar dengan mata bulatnya yang berbinar jenaka. "Atau Mas mau down payment alias uang muka dulu lima ratus juta malam ini biar saya makin semangat nunggu empat bulan lagi?"

Dada Damar mendadak bergemuruh kecil. Setiap kali kata "dua miliar" dan "pergi" keluar dari mulut Naya dengan nada seringan angin sore, ada rasa tidak nyaman yang terus mengusik kedalaman hatinya. Pria yang biasanya memegang kendali penuh atas perusahaan raksasa dan ratusan karyawan ini mendadak merasa kehilangan kendali hanya di depan seorang cewek yang dulunya paling ia abaikan.

"Kenapa kamu sangat tidak sabar untuk pergi?" tanya Damar dengan nada yang tiba-tiba berubah sangat serius. Tidak ada lagi nada dingin atau dingin membeku seperti biasanya, melainkan keputusasaan terselubung yang tertahan rapat.

Naya menaikkan sebelah alisnya, heran dengan perubahan intonasi bicara suaminya. Namun, ia dengan cepat menguasai keadaan dan menyunggingkan senyuman savage khasnya.

"Loh, Mas Damar lupa atau murni amnesia, sih?" tegur Naya sambil memiringkan kepalanya. "Yang bikin kesepakatan pernikahan kontrak ini siapa? Yang bilang dari hari pertama kalau saya cuma beban utang budi dan enggak boleh berharap dicintai itu siapa? Mas sendiri, kan?"

Naya membetulkan posisi duduknya, menatap Damar lurus-lurus tanpa berkedip. "Saya ini cuma menjalankan peran saya sebagai pihak yang tahu diri, Mas. Dulu, Naya Fiksi yang asli mungkin ngarep banget bisa dilirik atau dicintai sama Mas Damar yang terhormat. Tapi Naya yang sekarang sadar... hidup itu butuh realistis, bukan kehaluan romansa ala novel picisan. Dua miliar itu modal yang sangat cukup buat saya buka usaha cafe, jalan-jalan ke luar negeri, dan hidup bahagia tanpa perlu mikirin dahi Mas yang mengkerut tiap hari!"

Damar tertegun. Kata-kata Naya masuk ke dalam kepalanya seperti jarum halus yang menusuk perlahan. Dulu, ia meremehkan Naya karena menganggap cewek itu lemah, tidak punya pendirian, dan terlalu mudah menangis. Namun kini, ketika Naya berdiri tegak, mandiri, dan secara terang-terangan membuang rasa sukanya pada Damar, pria itu justru merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

"Gimana kalau..." Damar menggantungkan kalimatnya. Matanya yang tajam menatap dalam ke dalam manik mata Naya. "...gimana kalau saya tidak mau membatalkan pernikahan ini setelah enam bulan?"

Keheningan melingkupi kamar itu selama beberapa detik. Naya sempat terdiam, matanya berkedip dua kali mencerna kalimat yang baru saja keluar dari bibir pria dingin di depannya.

Lalu, sebuah tawa renyah pecah dari mulut Naya. "Bwahahaha! Aduh, Mas Damar! Jangan bikin saya bengek malam-malam gini deh! Mas bercanda atau lagi ngelindur, sih?"

Naya menepuk-nepuk guling pembatas di antara mereka sambil memegangi perutnya yang geli. "Inget gengsi, Mas! Mas Damar Diksara kan pria es batu yang anti cewek murahan, anti pernikahan tanpa cinta, dan sangat menjunjung tinggi profesionalisme! Masa cuma gara-gara saya borong Black Card ratusan juta dan ngatain Mbak Pancong, Mas mendadak kena syndrome bucin?"

Wajah Damar mendadak memerah. Bukan karena marah, tapi karena rasa malu dan gengsi yang menghantam dadanya secara bersamaan. Pria itu mengepalkan tangannya di atas paha, memalingkan wajahnya ke arah lain demi menutupi kecanggungannya yang luar biasa.

"Saya cuma menanyakan kemungkinan," desis Damar dengan suara yang kembali diberatkan, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang remuk di depan sang istri.

"Enggak ada kemungkinan-kemungkinan, Mas!" potong Naya tegas namun tetap santai. "Kontrak ya kontrak. Hukumnya wajib dipatuhi. Empat bulan lagi, begitu tanggalnya tiba, Mas serahkan kunci kebebasan dan cek dua miliar saya, lalu kita tanda tangan surat cerai baik-baik. Deal?"

Damar tidak menjawab. Ia merebahkan tubuhnya di sisi tempat tidurnya sendiri, menarik selimut hingga sebatas dada, dan membelakangi Naya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Naya hanya memutar bolak-balik matanya menatap punggung tegap Damar yang membisu. "Dasar pria gengsi setinggi langit. Ditanya malah mogok bicara."

Naya mematikan lampu utama kamar melalui sakelar di dekat kepalanya, menyisakan lampu tidur temaram berwarna kuning hangat yang menenangkan. Ia memiringkan tubuhnya, memeluk guling pembatas dengan erat, dan memejamkan mata.

Di sisi lain tempat tidur, Damar Diksara masih membelalakkan matanya di dalam kegelapan temaram. Kata-kata Naya terus berputar di otaknya bagai kaset rusak.

Empat bulan lagi...

Dulu, empat bulan terasa seperti waktu yang sangat lama bagi Damar untuk menoleransi keberadaan seorang wanita di rumahnya. Namun malam ini, angka empat bulan itu terasa bagaikan hitungan detik menuju vonis hukuman yang paling membendung dadanya. Damar menarik napas panjang, meragukan keyakinan dirinya sendiri untuk pertama kali sepanjang hidupnya.

Keesokan paginya, sinar matahari menyusup masuk melalui celah gorden, memantulkan cahaya di atas meja rias Naya. Saat Naya terbangun dan membuka matanya, sisi tempat tidur Damar sudah kosong seperti biasa. Pria itu selalu bangun lebih awal untuk berolahraga sebelum berangkat ke kantor.

Naya menggeliat manja, beranjak dari tempat tidur, dan melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. Hari ini, ia berencana untuk melanjutkan misi menikmati hidup mewahnya. Jika kemarin ia fokus memborong pakaian dan skincare, hari ini Naya berencana memesan paket perawatan spa eksklusif di salon kecantikan ternama untuk memanjakan seluruh tubuhnya.

Setelah mengenakan setelan celana kulot kasual berwarna mint dan atasan blus putih yang memberikan kesan segar dan modern, Naya menyisir rambut panjangnya hingga terurai indah. Ia memoles lipstik berwarna peach yang lembut, lalu menyambar tas tangannya.

Begitu Naya turun menuju lantai satu, suasana rumah terasa sepi. Mamah Ratna tampaknya masih enggan keluar kamar atau mungkin sengaja menghindari bentrokan dengan Naya setelah kejadian kemarin sore.

Di ruang makan, Damar terlihat sedang menikmati cangkir kopi hitamnya sendirian sambil membaca dokumen bisnis di tabletnya. Pria itu tampak sangat rapi dengan setelan jas abu-abu gelap khas seorang CEO papan atas.

Naya melangkah mendekati meja makan dengan gaya santai. "Pagi, Mas Kulkas!"

Damar menurunkan tabletnya. Matanya menatap Naya yang berdiri anggun di samping meja. Ada lirikan tertahan di mata pria itu, mengagumi penampilan istrinya yang selalu terlihat makin memesona setiap harinya.

"Kamu mau ke mana lagi hari ini?" tanya Damar dingin, mencoba menyembunyikan perhatiannya.

"Mau spa, Mas. Mau pijat refleksi biar otot-otot saya yang tegang gara-gara ngadepin drama rumah ini bisa rileks lagi," jawab Naya tanpa ragu sambil mengambil sepotong roti tawar dan mengoleskan selai cokelat di atasnya.

Damar mengembuskan napas pelan. Ia meraih dompetnya dari dalam saku jas, membiarkan Black Card milik Naya tetap berada di tangan wanita itu, lalu menambahkan sebuah kartu nama berlogo emas di atas meja.

"Ini kartu anggota VIP di Diksara Wellness & Spa," ujar Damar datar. "Itu milik jaringan bisnis keluarga. Kamu tidak perlu bayar di sana, tinggal tunjukkan kartu itu dan ambil perawatan terbaik."

Naya membelalakkan matanya berseri-seri. Ia langsung menyambar kartu emas itu dengan cepat. "Wah! Beneran nih, Mas? Gratis tanpa potong limit Black Card?"

"Hm," gumam Damar pendek sambil menyesap kopinya.

"Asik! Ternyata Mas Kulkas kalau lagi mode royal bikin gemes juga ya!" seru Naya kegirangan tanpa sadar.

Tanpa diduga, Naya membungkukkan tubuhnya sedikit dan menepuk bahu Damar dengan akrab sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah-langkah kecil yang lincah.

"Makasih sponsor spanya, Mas Damar ganteng! Saya berangkat dulu ya! Bye-bye!"

Damar mematung di kursinya. Sentuhan halus di bahunya dan kata "ganteng" yang diucapkan Naya dengan nada bercanda itu mendadak membuat jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. Kopi hitam yang pahit di lidahnya mendadak terasa manis secara ajaib.

Damar menyapu bekas sentuhan Naya di bahunya, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Sebuah senyuman tipis yang sangat hangat mengembang di wajah tampannya.

"Cewek aneh," bisik Damar pada dirinya sendiri.

Di dalam benak sang CEO dingin itu, benteng pertahanan yang ia bangun selama ini telah runtuh sepenuhnya. Ia tidak lagi peduli pada gengsi atau aturan pernikahan kontrak enam bulan yang ia buat. Yang Damar tahu pasti saat ini adalah: ia harus mencari cara agar Naya tidak pernah melangkahkan kakinya keluar dari mansion Diksara selamanya.

_Bersambung

1
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
Lenovo A
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!