NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:249.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Saat Ia Berhenti Memohon

Pandangan Alden tertuju pada Belvina tanpa berpindah, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak ia ucapkan.

“Bukan soal berani atau tidak,” katanya akhirnya.

Ia melangkah mendekat, cukup untuk memangkas jarak yang tadi sempat terbentuk.

“Kau belum tahu apa yang terjadi… kalau kau benar-benar pergi.”

Ia membiarkan satu detik berlalu, lalu melanjutkan,

“Dan kau tetap ingin mencobanya?”

Belvina tertawa pendek. Tidak ada hangat di sana.

“Memangnya apa yang akan terjadi?” ucapnya ringan, nyaris meremehkan. “Egomu terluka karena tidak bisa lagi mengontrolku… atau harga dirimu jatuh karena aku tidak mencintaimu lagi?”

Rahang Alden mengeras. Garisnya terlihat jelas di bawah cahaya.

“Jangan menguji kesabaranku, Belvina.” Suaranya rendah, ditekan.

Belvina memiringkan kepala, seolah benar-benar mempertimbangkan.

“Apa tidak kebalik?” balasnya tenang. “Bukannya selama ini kamu yang menguji kesabaranku?”

Ia melangkah sedikit, memperkecil jarak tanpa terlihat menyerang.

“Menikahiku… tapi tidak pernah memperlakukanku seperti istri. Mengabaikanku. Membela wanita lain.” Sudut bibirnya terangkat tipis. “Kamu memperlakukanku seperti sesuatu yang tidak berharga.”

Napas Alden tertahan sejenak.

“Apa kamu pikir aku tidak punya batas?” lanjutnya dengan suara rendah. “Atau tidak punya harga diri?”

Alden menarik napas dalam, lebih panjang kali ini. Seolah menahan sesuatu yang mulai keluar dari jalurnya.

“Baik.” Suaranya lebih datar sekarang. Terlalu datar. “Aku akan berubah.”

Belvina tidak langsung menjawab. Ia memerhatikan tanpa berkedip, lalu, tersenyum kecil.

“Tidak,” katanya ringan. Satu kata. Tapi final. “Kamu terlambat.”

Kalimat itu jatuh tanpa emosi, justru karena itu terasa lebih tegas.

“Aku tidak mengharapkan apa pun lagi darimu.” Ia menatap lurus. “Aku hanya ingin kita selesai.”

Sunyi menegang di antara mereka.

“Kita tidak akan bercerai.” Jawaban Alden datang cepat. Tidak keras, tapi mutlak.

“Kita harus cerai,” balas Belvina tanpa ragu. “Kita jalani hidup masing-masing.”

Ia mengangkat bahu kecil.

“Kamu dengan wanita pilihanmu. Aku dengan kebebasanku.”

Fokusnya menjadi lebih tajam dari sebelumnya.

“Wanita pilihan?” ulangnya.

“Bukannya itu yang kamu mau?” sahut Belvina santai. “Aku tidak akan menghalangi lagi.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan—

“Lagipula… aku tidak peduli lagi hubungan kalian apa.”

Nada suaranya ringan, tapi tajam.

“Rekan bisnis…” bahunya terangkat. “Atau lebih dari itu.”

Mata Alden menyempit.

“Kau cemburu.”

Belvina tertawa. Kali ini lebih pendek.

“Cemburu?” Ia menggeleng pelan. “Jangan terlalu percaya diri.”

Ia memandangnya dari atas ke bawah. Sekilas. Cukup.

“Aku tidak butuh pria sepertimu.” Langkahnya bergeser sedikit, mencoba melewati.

Namun Alden tidak bergerak. “Belvina—”

Belvina mendecak pelan.

“Kenapa kamu tidak mau melepasku?” tanyanya tiba-tiba. Kali ini bukan menyerang, lebih seperti benar-benar penasaran.

Alden berdiri tanpa kata.

Dan di sanalah Belvina menyipitkan mata sedikit. Lalu—

“Jangan-jangan…” ujarnya pelan.

Matanya turun sekilas. Lalu kembali naik, dengan kilat nakal yang berbahaya.

“Kamu memang tidak tertarik padaku.”

Alden membiarkan kalimat itu menggantung.

Itu cukup.

Sudut bibir Belvina terangkat lebih tinggi.

“Atau…” ia sengaja memberi jeda, “...bukan soal tidak tertarik.”

Nada suaranya turun. Lebih pelan. Lebih menusuk.

“Mungkin kamu memang tidak bisa.”

Sejenak waktu berlalu tanpa suara. Udara di ruangan itu berubah.

Ini pertama kalinya, Alden tidak langsung membalas. Bukan karena tidak punya jawaban. Tapi karena sesuatu di dalam dirinya… tersentuh terlalu tepat.

Garis wajahnya berubah kaku. Tangannya yang semula santai, kini perlahan mengepal.

Dan saat ia akhirnya bergerak, langkahnya maju satu. Lebih dekat.

Mengikis jarak diantara mereka.

“Kau…” suaranya turun, nyaris berbisik, “…benar-benar tidak tahu sedang bermain dengan apa.”

Alden bergerak maju. Satu langkah. Lalu satu lagi. Jarak yang sudah tipis… hilang sepenuhnya.

Belvina refleks mundur. Punggungnya kembali menyentuh meja. Tidak ada ruang lagi.

“Apa kamu pikir aku tidak tertarik?” suara Alden rendah. Bukan marah, lebih seperti sesuatu yang ditahan terlalu lama.

Belvina menelan ludah, tapi tetap mengangkat dagu.

“Kamu sendiri yang menunjukkannya,” balasnya.

Tidak ada respons dari Alden.

Tapi, tangannya terangkat. Kali ini tidak berhenti di udara. Ujung jarinya menyentuh lengan Belvina, ringan, tapi cukup untuk membuat tubuh itu menegang.

“Kalau itu yang kamu mau,” katanya tanpa suara keras, “aku bisa memperbaikinya.”

Belvina langsung menggeleng. Cepat.

“Aku tidak mau ‘hak’ itu.” Satu kalimat. Tegas.

Gerakan Alden berhenti beberapa saat.

“Tidak?” ulangnya, lebih rendah.

Belvina menggeleng lagi. Napasnya mulai tidak teratur, tapi ia tetap bertahan.

“Aku tidak butuh itu darimu.”

Sudut bibir Alden terangkat tipis, tapi sampai ke mata.

“Kalau begitu…” suaranya turun, “…aku yang akan mengambil bagianku.”

Ia melangkah lagi. Lebih dekat. Terlalu dekat.

Belvina spontan mendorong dadanya. Tidak kuat, tapi cukup menunjukkan penolakan.

“Kau tidak tertarik padaku,” katanya cepat, mencoba menahan jarak yang terus dipangkas. “Bahkan aku—” ia berhenti sejenak, lalu asal melontarkan, “aku jarang mandi.”

Alasan konyol. Tidak masuk akal. Namun keluar begitu saja.

Alden berhenti sepersekian detik. Lalu… hampir tak terdengar, ia menghembuskan napas pendek.

“Aku tidak peduli.”

Jawaban itu jatuh datar. Dan langkahnya tidak berhenti.

Belvina benar-benar terdesak. Dadanya naik turun lebih cepat Tangannya kembali mendorong dada Alden, kali ini tidak lagi sekadar menahan, lebih ke arah mencoba lepas.

“Aku serius—”

Kalimatnya terpotong. Karena dalam satu gerakan cepat, Alden menariknya.

Dunia seperti berputar sesaat saat tubuh Belvina terangkat begitu saja.

“Hei—!”

Refleks, tangannya langsung mencengkeram bahu pria itu. Jantungnya melonjak.

“Alden, turunkan aku—!”

Tidak ada jawaban. Langkahnya panjang. Pasti.

Beberapa saat kemudian, punggung Belvina menyentuh kasur. Lembut. Tapi situasinya tidak.

Alden langsung menahan di atasnya. Satu tangan di samping kepala, satu lagi menahan pergerakan tubuhnya. Tidak kasar, tapi cukup untuk membuatnya tidak punya ruang.

"Lepas!" Belvina meronta.

“Sekarang?” suara Alden rendah, lebih dekat dari sebelumnya.

Belvina membeku. Benar-benar membeku. Ini bukan lagi sekadar adu kata. Ini nyata.

"Menjauh dariku!"

Tangannya mendorong lagi. Lebih kuat. Tapi posisi itu membuat tenaganya tidak seimbang.

“Alden—”

Nada suaranya mulai goyah.

Alden tidak bergerak, mengunci Belvina dengan tubuhnya.

“Bukannya ini yang kamu mau dulu?” ucapnya nyaris seperti bisikan. “Berkali-kali kamu datang sendiri.”

Kalimat itu menghantam. Dan kali ini, reaksi Belvina bukan melawan dengan kata. Melainkan… panik.

“Nggak—” kepalanya menggeleng cepat. “Itu bukan aku…”

Bisikan itu hampir tidak terdengar. Tangannya mencengkeram sprei di sampingnya. Udara terasa sulit masuk penuh.

Air mata jatuh. Kali ini tidak tertahan. Bukan dramatis. Bukan dibuat-buat. Refleks. Takut.

Belvina memalingkan wajah, berusaha menahan, tapi suaranya tetap pecah.

“Aku tidak mau…” bisiknya.

Tangannya berpindah mencengkeram ujung bajunya sendiri, seolah itu satu-satunya yang bisa ia pegang.

“Aku tidak mau memberikan diriku… ke seseorang yang tidak mencintaiku.”

Kata-kata itu lirih. Namun menghantam lebih keras dari apa pun sebelumnya.

“Aku tidak mau…” ulangnya lebih pelan, hampir seperti memohon, tapi bukan untuk Alden, lebih ke dirinya sendiri. “Aku tidak akan…”

Kalimatnya menggantung. Namun cukup jelas.

Dan di titik itu, Alden benar-benar berhenti. Bukan karena ia tidak bisa melanjutkan. Tapi karena… sesuatu terasa tidak pada tempatnya.

Wanita ini, yang dulu tanpa ragu mendekat, bahkan memaksakan, mustahil bereaksi seperti ini. Tidak mungkin gemetar seperti ini. Apalagi… menangis karena disentuh.

Tangannya yang semula menahan di sisi tubuh Belvina, perlahan mengendur. Ada sesuatu yang bergeser di ekspresinya. Bukan melembut, lebih seperti… menilai ulang. Mencari.

“Apa yang sebenarnya…”

Kalimat itu terhenti di bibirnya sendiri.

Karena untuk pertama kalinya, Alden tidak yakin… wanita di hadapannya masih orang yang sama.

 

...✨"Ia pikir kehilangan itu akan terjadi saat cinta habis....

...Ternyata tidak....

...Yang benar-benar mengganggu… adalah saat ia berhenti peduli."...

..."Bukan penolakan yang membuatnya goyah....

...Tapi kenyataan bahwa… ia tidak lagi diinginkan."✨...

.

To be continued

1
Kyky ANi
bagus Belvina,, kamu jgan mau terpengaruh, sama siSerap,, ini,,
Kyky ANi
beri pelajaran pada Seraphina Alden,,biar dia tahu rasa,,,
Kyky ANi
apa sekarang,, kamu masih meragukan kesetiaan dan cintanya Alden Belvina,,
Kyky ANi
apa ya, yang akan dilakukan Alden, untuk siSeraphina,,,
Kyky ANi
kumat lagi deh ngameknya Belvina,, ayo Alden tenangkan istrimu yang sedang bunting ini
Kyky ANi
semoga rencana Seraphina, ngak berhasil ya,,,
anonim
Alden bersama sopir meluncur ke kota di mana Belvina berada.

Belvina ketangkap kau. Kembali dalam pelukan Alden.

Wow...pagi hari bangun tidur Belvina sudah main bogeman dengan sasaran suaminya wkwkwk
anonim
Belvina Dina sudah tidak gadis lagi. Tetap ingin bercerai dari Alden.

Belvina melarikan diri tanpa membawa ponsel. Jadi ketahuan Alden - nama kontak "Es Balok" untuk Alden 😄.

CCTV memperlihatkan bagaimana Belvina memulai aksi kaburnya.

Saatnya mencari Belvina. Alden memerintahkan seseorang mencari Belvina.

Secepat itu orang suruhan Alden menemukan Belvina. Sudah berada di luar kota. Sudah diketemukan alamat hotel dimana Belvina menginap.
abimasta
terimakasih thor,sukses di karya2 selanjutnya
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama, Kak🤗🙏🙏
total 1 replies
Sulati Cus
menarik
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Kyky ANi
aduh tuan Raymond ini manas manasin aza deh,,,
Kyky ANi
bahaya nih,,Serap,, udah mulai rencana jahat,,
Kyky ANi
Alden sudah tidak percaya lagi sama kamu Seraphina,,
Kyky ANi
Alden menganggu aza sih kamu,
Kyky ANi
Seraphina punya rencana jahat nih ke Belvina,, semoga Belvina selamat dari rencana jahat siSerap,,,
Liana Simon
Ceritanya menarik Thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
Bela Viona
ada beberapa kisah hidup yg tidak pantas mendapatkan kesempatan ke2.dan ada juga yg pantas di berikan kesempatan ke 2. itu semua tergantung dgn usaha dan pembuktian. tidak mudah mendapat kn maaf dan pengampunan, selama org itu tetap sabar dan berusaha keras serta berusaha memperbaiki serta tdk mengulangi hal yg sama. maka kesempatan itu pasti ada.
Bela Viona: semangat thor,di tunggu karya baru yg lain ny..🥰
total 2 replies
Bela Viona
posisi HB yg baik untuk ibu hamil itu miring & wanita di atas 😁.
klo perempuan di bawah yg ad sesak, dan terlalu terguncang buat kandungan 😁
Bela Viona
jgn salah kn hormon ibu hamil 😁, aku hamil anak ke 2 juga gtu, asli kandungan ku usia 1-4 bln. aku benci bgt lht suami.
di sentuh tangan aj gak suka. smpe suami frustasi di kira udh gak cinta.
usia kehamilan 5 bln malah aku nempel trs sama suami. tiap mlm mau ny HB trs. smpe suami kewalahan 🤣. horman ibu hamil itu unik² dan bukan di sengaja ya.
Kadek Sri
akhirnya tamat juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!