"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Hari untuk Mengambil Keputusan
"Dua hari," bisik Arthur. "Aku memberimu waktu dua hari untuk mempertimbangkannya, Samantha. Setelah itu, jika gaun pengantinmu belum siap, aku akan memastikan lagu duka untuk Grand Duke Harrington bergema di seluruh pelosok kekaisaran."
Samantha mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menembus telapak tangan, meninggalkan bekas kemerahan yang perih. Ia tidak sudi memperlihatkan kelemahannya sedikit pun di depan pria pemeras ini. Dengan dagu terangkat tinggi dan sorot mata keemasan yang menyala tajam penuh kebencian, Samantha berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Derap langkah kakinya bergema keras saat ia meninggalkan Istana Barat.
Namun begitu ia masuk ke dalam sedan hitam Pendragon dan membanting pintunya rapat-rapat, pertahanan Samantha runtuh. Tangan yang mencengkeram roda kemudi gemetar hebat.
Di satu sisi, ada kehormatan dirinya dan janji untuk melindungi Matthew. Di sisi lain, nyawa satu-satunya kakak tersayangnya berada di ujung tanduk—tergantung pada racun biadab racikan Istana Barat yang tak bisa disembuhkan dokter mana pun.
‘Arthur bajingan... Dia merencanakan semua ini sejak awal!’ batin Samantha menjerit murka. Ia menghantam roda kemudi dengan telapak tangannya, sebelum akhirnya menekan pedal gas dalam-dalam. Mobil sedan itu melesat cepat, membelah kabut ibu kota kembali menuju Mansion Pendragon.
Sementara itu, di dalam kamar utama mansion, suasana hangat namun getir menyelimuti Matthew dan Evelyn.
Meskipun demam Matthew mulai sedikit mereda berkat kompres air dingin dari Evelyn, wajah sang Grand Duke masih tampak sangat pucat. Matthew berbaring miring dengan bantuan bantal, sementara tangan kanannya menggenggam jemari Evelyn yang duduk di tepi ranjang.
"Eve," panggil Matthew pelan. Suara baritonnya masih parau.
"Ya, Matthew?" sahut Evelyn lembut, mengusap punggung tangan pria itu.
"Tatapan matamu..." Matthew menatap lurus ke dalam mata Evelyn yang redup. "Kenapa kamu menatapku seolah kamu sedang mengucapkan selamat tinggal?"
Jantung Evelyn serasa berhenti berdetak sesaat. Cewek itu berusaha menyunggingkan senyum setenang mungkin, meski hatinya galau tidak karuan.
"Aku kan sudah bilang, aku di sini," bisik Evelyn bohong. "Aku cuma... masih cemas melihat lukamu."
Matthew menatapnya lagi, mencoba mencari kebohongan di mata gadis yang sangat dicintainya itu. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, pintu kamar terbuka pelan.
Samantha melangkah masuk.
Wajah Samantha tampak sangat datar dan dingin—topeng sempurna yang sengaja ia pasang untuk menyembunyikan badai yang baru saja menghantamnya di Istana Barat. Namun, Evelyn yang sejak tadi berada di bawah tekanan, bisa merasakan ada sesuatu yang sangat salah dari aura Lady Pendragon itu.
"Bagaimana keadaanmu, Kak?" tanya Samantha datar, berdiri di ujung ranjang.
"Lebih baik," jawab Matthew singkat, matanya memicing meneliti raut wajah adiknya. "Ada apa, Sam? Bagaimana dengan penanganan di penjara bawah tanah?"
Samantha menahan napas sejenak, menelan kepahitan di tenggorokannya sebelum bersuara. "Cedric tewas. Dia meminum racun yang tersembunyi di dalam cincinnya sebelum persidangan dimulai."
Evelyn tersentak kaget. "Cedric... mati?"
"Ya," sahut Samantha dingin. Tangannya yang tersembunyi di balik lipatan mantel meremas kain dengan amat kuat. "Seseorang membungkam mulutnya agar pembongkaran skandal ini berhenti di Keluarga Ashworth."
Matthew mengepalkan tangannya di atas kasur. Sebagai seorang komandan dan politisi, ia langsung tahu siapa di balik aksi pembungkaman cepat ini. "Arthur..." bisik Matthew rendah, matanya menyiratkan amarah.
Samantha tidak mengiyakan secara langsung di depan Evelyn. Ia mengalihkan pandangannya pada Evelyn, menatap gadis itu dengan tatapan yang amat rumit—sebuah gabungan antara rasa iba, beban keputusan berat, dan kepasrahan.
"Evelyn," panggil Samantha pelan. "Bisa tinggalkan kami berdua sebentar? Ada hal yang harus kubicarakan dengan Matthew."
Evelyn menatap Samantha, lalu beralih menatap Matthew. Ia mengangguk paham. Evelyn tahu posisinya, dan ia sadar keputusan besarnya sendiri untuk pergi demi keselamatan Matthew harus segera dieksekusi sebelum pria itu pulih sepenuhnya.
"Tentu, Lady Samantha," ucap Evelyn lembut. Ia mengusap jemari Matthew pelan. "Aku keluar sebentar ya, Matthew."
"Eve..." Matthew berusaha menahan pergelangan tangan Evelyn, namun cewek itu melepaskannya secara perlahan seraya memberikan senyuman hangat—senyuman yang terasa seperti ucapan terakhir.
Pintu kamar tertutup rapat, menyisakan kakak beradik Pendragon di dalam ruangan.
"Bicara padaku, Sam," desak Matthew tegas, mengabaikan rasa perih di bahunya. "Apa yang terjadi di Istana Barat? Kamu menemui Arthur, kan?"
Samantha memejamkan matanya rapat-rapat. Ketika ia membalikkan badan dan memandang kakaknya, bening air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya menetes melintasi pipinya yang pucat.
"Arthur yang memberikan racun itu pada Cedric, Kak," bisik Samantha dengan suara gemetar hebat. "Racun Black Widow's Tears yang ada di tubuhmu... tidak ada obatnya di seluruh kekaisaran. Penawarnya hanya ada di tangan Arthur."
Matthew membeku. "Lalu... apa syarat yang dia minta darimu?"
Samantha mengepalkan tangannya di dada, terisak pelan di tengah keheningan kamar. "Dia menuntut pernikahan denganku, Kak. Jika dalam dua hari aku menolak menjadi calon Permaisurinya... dia tidak akan pernah menyerahkan penawar itu padamu."
"Dia memberikan waktu dua hari." bisik Samantha masih sambil menangis. "Tolong jangan halangi aku, Kak. Hanya ini satu-satunya cara."
Matthew terdiam terpaku sambil memandang sedih adik semata wayangnya.
Kenapa loop ini terasa berat?