Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Pemulihan
Napasnya diatur pelan, menekan gejolak Qi yang sebelumnya terasa seperti jarum di balik meridiannya. Ye Chan perlahan membuka mata. Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah kayu jendela penginapan, menyinari debu-debu yang beterbangan di udara.
Ia menarik napas panjang. Meridiannya sudah pulih. Fondasi tubuh yang sempat hancur oleh pengkhianatan itu kini telah tersambung kembali, meski alirannya belum selebar sungai besar seperti dulu. Puncak Pengumpulan Qi. Itulah tingkat yang kini ia miliki.
'Sudah cukup stabil,' pikirnya.
Ia memeriksa aliran energinya sekali lagi, memastikan tidak ada hambatan kecil yang tertinggal, sebelum bangkit dari posisi duduk bersila.
***
Kota Sungai Abu dipenuhi oleh keramaian kehidupan. Di jalan utamanya, hiruk-pikuk kultivator dari berbagai sekte menengah dan rendah menciptakan kebisingan. Ye Chan berjalan santai di antara kerumunan itu, mengenakan jubah abu-abu sederhana tanpa lambang sekte apa pun.
Ia sengaja menekan auranya, membuatnya tampak seperti kultivator Pengumpulan Qi biasa yang sedang berjuang mencari nafkah.
Tidak ada yang meliriknya. Baginya, itu adalah perlindungan terbaik.
Langkahnya terhenti di depan sebuah papan kayu besar yang dipenuhi dengan lembaran kertas misi. Ia menatapnya sejenak, memilah.
Mengumpulkan tanaman obat di Lembah Kabut, memburu monster bertaring di sisi utara hutan, hingga mengawal pedagang bahan logistik.
Ia mengambil tiga tugas sekaligus.
"Misi ini, dan dua ini," ucapnya singkat kepada Penjaga Misi, seorang pria berjanggut pendek yang bahkan tidak mendongak saat menerima kepingan batu giok identitas miliknya.
"Tanda tangani di sini," jawab pria itu datar.
Ye Chan melakukan apa yang diminta. Ia kemudian berbalik dan menyatu kembali dengan keramaian kota. Kehidupan baru ini terasa monoton, namun setiap langkahnya adalah bagian dari rencana besar untuk mengumpulkan informasi.
***
Hutan di pinggiran kota terasa lembap. Bau tanah basah dan sisa-sisa pembusukan dedaunan menyambut indra penciumannya. Ye Chan sedang berjongkok, memeriksa sisa jejak kaki monster yang ia incar, ketika suara dentuman senjata terdengar tak jauh dari posisinya.
Ia bergerak mendekat, menyelinap di balik semak tebal. Di sana, tiga kultivator muda tampak kewalahan menghadapi seekor Hewan Buas-Bertaring Kelabu.
Gerakan mereka kacau.
Mereka mencoba menyerang kepala monster itu berkali-kali, namun kulit monster itu terlalu keras.
Ye Chan menggeleng kecil. Pengalaman tetuanya memberitahu bahwa ketiganya tidak akan bertahan lima menit lagi jika tidak ada yang mengintervensi.
Saat monster itu menerjang, salah satu kultivator hampir tersungkur. Ye Chan tidak melompat keluar untuk menyelamatkan mereka secara frontal. Ia hanya mengambil sebutir kerikil, mengalirkan sedikit Qi, dan melontarkannya tepat ke titik lemah di sendi kaki monster tersebut.
Monster itu tersandung, keseimbangannya goyah.
"Jangan serang kepalanya," seru Ye Chan dari balik pepohonan.
suaranya disamarkan agar terdengar seperti rekan yang kebetulan lewat.
"Kakinya yang menjadi pusat keseimbangan. Lumpuhkan kakinya!"
Para kultivator itu tersentak, namun mereka cukup tanggap untuk mengikuti instruksi. Mereka mengalihkan serangan ke kaki monster. Dalam beberapa ayunan pedang yang presisi, makhluk itu tumbang.
Setelah memastikan monster itu benar-benar mati, Ye Chan berbalik arah. Ia tidak menunggu ucapan terima kasih.
***
Malam harinya, di dalam kediaman sementara, meja kayu di sudut ruangan dipenuhi dengan berbagai bahan obat dan sisa mineral. Ye Chan sedang memurnikan sebuah pil tingkat dasar. Asap tipis mengepul dari tungku kecil yang ia susun sendiri.
Ia mengambil pil yang baru saja terbentuk, memeriksanya di bawah cahaya lilin yang temaram. Bentuknya tidak sempurna, warnanya pun tidak semengilap karya-karyanya dulu saat masih memimpin sekte.
"Kualitasnya menurun," gumamnya pelan.
Keterbatasan bahan dan kondisi tubuhnya membuat hasil kerjanya memang tidak bisa menandingi standar masa lalu. Namun, pil ini cukup efektif bagi kultivator tingkat rendah. Ia memasukkan pil-pil itu ke dalam kantong kecil.
Besok, ia akan menjualnya di pasar kultivator untuk menukar bahan baku yang lebih berkualitas.
Setidaknya, roda ekonomi kultivasinya sudah mulai berputar.
***
Keesokan harinya, setelah ia menjual barangnya di pasar kultivator.
Kedai teh di ujung jalan merupakan tempat berkumpulnya para kultivator untuk melepas lelah. Ye Chan memilih meja di sudut, menyesap tehnya perlahan sementara telinganya menangkap percakapan di meja sebelah.
"Kudengar Shi Zhong baru saja dipromosikan ke tingkat yang lebih tinggi lagi dalam sekte pusat," ujar salah seorang pria dengan suara bersemangat.
Ye Chan tidak bergerak. Ia tetap menatap cangkir tehnya.
'Nama itu.'
Nama yang selama tiga bulan ini sengaja ia kubur dalam-dalam di ingatannya.
"Tentu saja dia hebat," balas teman bicaranya. "Dalam waktu sesingkat itu, pencapaiannya sudah melampaui tetua-tetua muda di sekte lain. Banyak yang bilang dia adalah bakat emas yang jarang terjadi."
Shi Zhong. Murid yang dulu ia percayai, orang yang kini memegang kendali atas apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Ye Chan meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
Bunyi dentingan porselen yang halus itu seolah menjadi penanda bagi pikirannya untuk mulai bekerja.
Ia tidak bereaksi secara terbuka.
Wajahnya tetap datar, seolah berita itu hanyalah gosip pasar yang tidak berarti.
'Jadi... dia berkembang sejauh itu,' batinnya.
Shi Zhong tidak mungkin mencapai posisi itu hanya dengan keberuntungan. Kecepatan kenaikan tingkatnya tidak masuk akal, bahkan bagi seseorang dengan bakat luar biasa sekalipun.
Ye Chan teringat kembali pada masa lalu. Ada sesuatu yang janggal dengan cara Shi Zhong memperoleh kekuatannya selama ini. Ia membutuhkan waktu, dan tempat yang jauh dari pantauan sekte asalnya, untuk menyusun teka-teki ini.
Ia bangkit, meninggalkan beberapa keping koin di meja, dan melangkah keluar kedai. Udara malam terasa dingin, membelai wajahnya.
'Shi Zhong tidak mungkin melakukannya sendirian,' pikirnya sambil menatap langit malam yang bersih. 'Kalau begitu... siapa yang berdiri di belakangmu?'
Ia tidak berniat membalas dendam dengan gegabah. Itu adalah cara orang bodoh yang ingin mati lebih cepat. Sebagai mantan tetua, ia tahu bahwa informasi adalah senjata yang lebih tajam daripada pedang mana pun.
Langkahnya terhenti sejenak di jalanan yang sepi. Pikirannya beralih pada misi yang baru saja ia terima pagi tadi. Sebuah tugas yang awalnya ia anggap sebagai pekerjaan rutin untuk mengumpulkan informasi lapangan.
Tiba-tiba, ia teringat celotehan para kultivator di tempat pendaftaran misi tadi siang.
"Kau belum dengar? Ada perubahan besar dalam struktur sekte-sekte besar."
Ye Chan mengerutkan kening. Apakah perubahan yang dimaksud oleh para kultivator itu ada hubungannya dengan Shi Zhong?