Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
Minggu pagi, Gorgio menyuruh putrinya ke salon untuk merawat diri.
"Pergilah ke salon atau spa, sayang."
"Ke spa?" Lotta menatap suaminya. Ia sudah lama tidak memanjakan dirinya.
"Iya sayang, ajak putrimu juga!" jawab Gorgio.
"Aku tak mau!" tolak Char.
"Char! Jangan banyak membantah! Ikut ibumu, jangan buat malu!" sentak Gorgio marah.
Akhirnya, Char pergi bersama ibunya. Ketika naik mobil dan keluar dari halaman rumah. Tak lama Gina datang bersama keluarga. Rupanya mereka tidak betah untuk tidak ikut campur urusan Gorgio.
"Morning Brother!' seru Gina langsung masuk begitu juga semuanya.
Mereka gegas duduk di kursi makan dan mengambil sarapan mereka. Walau hanya roti dan selai strawberry.
"Apa tidak ada makanan lagi?" tanya Robert.
"Tidak ada!" jawab Gorgio menatap iparnya kesal.
Gina menyenggol lengan suaminya dengan sikunya, ia tersenyum pada kakaknya. "Kakak, kami belum menyiapkan apa-apa jadi kami ke sini karena di sini semua sudah ada," ujarnya beralasan.
Lalu Gina mengedarkan pandangannya. Tak ada Lotta dan Char.
"Mana Kak Lotta dan Char?" tanyanya.
"Pergi," jawab Gorgio pendek, ia mengambil koran yang diletakkan di meja kecil di dekat sofa tamu.
Pria beruban di jambangnya saja itu duduk di kursi malas, membaca berita hari ini di koran dan menikmati kopi yang baru saja ia buat.
"Jaman sudah canggih. Kau masih berlangganan koran. Kakak, apa itu tidak pemborosan?" tanya Robert menyindir.
Gorgio tak menjawab, ia menyeruput kopinya. Robert sedikit kikuk diabaikan iparnya itu.
Grace berdiri ia hendak berjalan menuju 'kamar'nya.
Ceklek! Suara pintu terkunci, Grace menatap pintu yang kini ada nomor pin.
"Paman, kenapa pintu kamar ini tidak terbuka. Apa begitu pentingkan yang ada di dalam?" tanyanya.
"Jangan masuk ruang privasi orang Grace. Dulu, Char tak pernah berusaha untuk masuk kamarmu!"
Suasana di ruang tengah rumah Keluarga Torrer seketika menjadi dingin dan tegang. Kalimat tajam Gorgio yang terlontar dari balik lembaran koran pagi itu telak menghantam Grace, membuat gadis itu membeku dengan jemari masih melayang di depan keypad pintu.
Wajah Grace memerah padam akibat malu dan kesal.
"Paman! Dulu kan kamar ini kamar biasa! Kenapa sekarang sampai dipasangi pin segala? Paman memanjakan Char terlalu berlebihan!"
"Jangan terlalu mendramatisir, Kak. Grace dan Tania juga saudara dari Char. Kami tak pernah membedakan kasih sayang. Apa salahnya, jika Grace lelah, ia berbaring di kamar Char," ujar Gina menenangkan Gorgio.
"Memang ... Tapi dulu kan Char tak pernah mengganggu kamar pribadi Grace. Jika dia lelah, ada kamar tamu. Dia bisa berbaring di sana!" sahut Gorgio tanpa minat menatap saudarinya itu.
Grace menghentakkan kakinya, ia kembali duduk di kursi sofa single dengan muka ditekuk.
Selesai sarapan, Gina, Robert, Tania dan Don meninggalkan piring mereka begitu saja di atas meja.
"Tolong bersihkan piring makan kalian. Di sini tak ada maid yang membereskan itu!" suara Gorgio mengejutkan Gina.
"Kan bisa Kak Char ...," celetuk Tania.
"Kau mau Char yang membereskan bekas makanmu?" Gorgio menurunkan koran yang dibacanya. Tania menelan ludah.
"Sudah ... Sudah! Kau bereskan ini semua ya!" ujar Gina menenangkan dan menyuruh putri bungsunya untuk membersihkan meja makan.
"Kok aku ...," rengek Tania.
"Apa harus Mommy yang mencuci bekas makanmu?" Gina menatap putri bungsunya.
Tania malah memandangi Grace dan Don. Tapi kedua kakaknya itu memalingkan muka. Mau tak mau, ia mengangkut piring-piring itu dan mencucinya di wastafel.
Satu jam berlalu, tetapi baik Lotta maupun Char belum juga tampak pulang.
Gina berkali-kali menatap jam dinding. Wajahnya mulai menunjukkan kejengkelan.
“Sudah setengah sebelas!”
Ia mendengus keras.
“Kak Lotta ini sebenarnya pergi ke mana sih? Dari pagi sampai sekarang belum juga pulang. Apa tidak ingat kalau suaminya di rumah?”
Gorgio menurunkan korannya sedikit. Lalu menatap jam di dinding. Gina semakin bersemangat karena merasa mendapat perhatian.
“Serius, Kak. Istri itu harus tahu waktu. Kalau mau ke salon, spa, atau apa pun namanya itu, ya jangan sampai seharian! Sekarang sudah hampir makan siang!"
"Oh ... Aku pesan makanan ...."
"Apa pesan makanan?!" seru Gina menatap kakaknya tak percaya.
"Iya ... kenapa harus pusing ... Aku tinggal pesan makanan untuk diriku sendiri ...."
"Loh ... bagaimana dengan kami?" tanya Don menatap pamannya tak percaya.
"Kalian memang kenapa?" tanya Gorgio merasa aneh.
"Kalian mestinya datang membawa buah tangan. Bukannya ingin menghabiskan apa yang ada di rumah ini!" lanjutnya menyindir.
"Brother. This is not funny at all!” seru Robert menatap kakak iparnya.
"Am I joking?" tanya Gorgio menatap Robert bingung.
"Atau sesekali ... Kalian yang mengajakku makan di rumah kalian?" Gina berdiri.
"Kalau memang kakak tidak mau kami ke sini lagi. Bilang saja, Kak!" air mata wanita itu langsung berderai, biasanya Gorgio tak akan tega melihat adik kandungnya sedih.
"Aku tak bilang begitu ..."
"Tapi kakak seolah-olah mengatakan jika kedatangan kami mengganggu Kakak!" jerit Gina lalu menangis kencang di dada suaminya.
Robert akhirnya membawa keluarganya pulang karena Gorgio benar-benar tak peduli pada mereka.
Tak lama, istrinya dan Char kembali dari Spa. Wajah keduanya tampak segar dan berseri-seri. Char juga baru merasakan betapa nyamannya spa itu.
Tak lama, pukul satu siang, empat orang stylish datang ke rumah untuk mengcover Char.
Mengira mendandani gadis biasa. Tak butuh waktu lama, mereka telah mendandani Char dengan sangat sempurna.
"Madam Rovelet, kami telah selesai!" ujar empat orang wanita keluar dari kamar.
Rovelet mengangkat lengan kirinya, menatap benda bulat bermerek Patek dengan hiasan pecahan berlian di benda berfungsi melihat waktu itu.
"Hanya satu jam? Kalian sudah selesai?" tanyanya bingung.
"Nona Torrer sudah sangat sempurna, Nyonya. Nona tak perlu didandani sedemikian rupa!" ujar salah satu stylish.
Char keluar dari kamarnya, semua menatapnya penuh kekaguman dan keterkejutan.
Madam Rovelet mematung selama beberapa detik. Tatapan matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan rasa takjub yang tak mampu ia sembunyikan. Untuk pertama kalinya, kepala pelayan kepercayaan klan Romanov itu kehilangan kata-kata.
Gaun hitam model sabrina itu seolah diciptakan khusus untuk melekat pada tubuh ramping Charoen. Garis bahunya yang tegas dan tulang selangkanya yang menawan berpadu sempurna dengan pendar hijau dari kalung zamrud langka di lehernya. Kulit putih bersih tanpa celanya kontras secara anggun dengan warna gaun, memancarkan aura dark elegance yang mahakarya—dingin, berkelas, sekaligus memikat secara alami.
Lotta yang berdiri di sudut ruangan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berembes air mata haru yang nyata. Gorgio pun tertegun rapat, menyadari betapa putrinya memiliki keanggunan alami yang selama ini terendam.
"Nona sudah siap, Madam!" ujar salah satu stylish.
Rovelet mengangguk, lalu hanya dengan gerakan kepala, ia meminta Char mengikutinya. Gadis itu menatap ayah dan ibunya.
Lotta dan Gorgio melepaskan putrinya.
"Ayah yakin ... kau bisa mengatasinya ...."
bersambung.
Dih ... Gorgio ... Gorgio! Enak ya jadi bapak kayak kamu.
Char ... Perang sebenarnya akan segera dimulai. Kamu harus siap mental ya!
next?
begitu doang,sebut juga dunk si Grace itu biang dari semua fitnahan tersebut
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung