Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Bi ... apa ada yang bisa aku bantu di sini?" tanyaku tulus, menawarkan diri untuk ikut sibuk di dapur demi mengusir rasa jenuh yang menyiksa batin.
"Jangan dulu beraktivitas, Nona Besar. Nona kan baru saja keluar dari rumah sakit," tolak Bibi Marni cepat dengan raut wajah penuh kepanikan. Ia memegang kedua pundakku dengan lembut, menatapku penuh permohonan. "Kalau Nona Besar memaksakan diri untuk beraktivitas sekarang, takutnya penyakit lambung Anda malah kambuh lagi. Cepat kembali ke kamar untuk beristirahat, Non. Nanti kalau Nona butuh sesuatu, Bibi yang akan mengantarkannya langsung ke kamar Nona Besar."
Aku mengulas senyuman tipis, mencoba menyalurkan rasa hangat demi meredakan kecemasannya.
"Aku tidak apa-apa, Bi. Aku sudah sehat sekarang," jawabku tulus, mencoba meyakinkannya. "Di dalam kamar sangat membosankan, makanya aku turun ke bawah untuk membantu di dapur."
"Jangan, Non. Nanti Nona kelelahan. Bibi tidak mau melihat Nona sakit lagi," ucap Bibi Marni lagi, suaranya terdengar serak menahan sisa trauma saat melihat tubuhku ringkih dan sekarat dua bulan lalu.
"Tidak apa-apa, Bi. Bibi tenang saja, aku benar-benar tidak apa-apa kok," ucapku seraya menggenggam pelan tangan keriputnya. "Lagipula, aku bosan jika terus-menerus rebahan tanpa beraktivitas. Lebih baik aku bantu-bantu kalian di dapur di sini."
Melihat kekerasan kepalaku yang didasari oleh ketulusan, Bibi Marni akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menyerah, tidak bisa lagi membendung keinginan nona besarnya yang sudah teramat lama kehilangan hak untuk bergerak bebas di rumah ini.
"Ya ampun, Nona ... ya sudah. Tapi Nona jangan mengerjakan tugas yang berat-berat, ya?" ucap Bibi Marni penuh wanti-wanti.
Aku tersenyum lebar, merasakan setitik kebahagiaan yang membuncah di dalam dadaku. "Baik, Bi," jawabku patuh.
Aku segera melangkah mendekati meja konter dapur, menyingsingkan sedikit lengan sweterku, dan mulai memilah sayuran segar yang akan diolah. Di dalam ruangan yang dipenuhi aroma bumbu ini, aku merasa hidup kembali. Kesibukan kecil di dapur setidaknya bisa menjadi tameng rapuh yang mengusir bayangan kelam tatapan sinis Kak Charles pagi tadi.
Setelah aku selesai memilah beberapa sayuran dengan gerakan ringan, Bibi Marni tiba-tiba menepuk pundakku pelan. Ia menunjuk ke arah barisan mangkuk kaca kecil di atas meja konter yang berisi puding karamel sutra dan potongan buah beri segar.
"Nona Bella, karena Nona tidak boleh mengerjakan tugas yang berat, bagaimana kalau Nona membantu Bibi menghias piring pencuci mulut ini?" pinta Bibi Marni dengan binar mata penuh harap. "Pencuci mulut ini nanti akan diantarkan langsung ke meja para tamu penting di depan. Sentuhan estetika Nona pasti akan membuat hidangan ini terlihat jauh lebih mewah."
Aku tertegun sejenak, lalu mataku berbinar senang. "Tentu saja, Bi. Serahkan padaku."
Aku segera mengambil sebotol saus cokelat dan daun mint segar yang telah disiapkan. Jiwa memasakku yang selama belasan tahun terasah dalam kesunyian gudang lantai tiga mendadak mengambil alih seluruh fokusku. Dengan gerakan tangan yang teramat hati-hati, aku mulai menggoreskan saus cokelat membentuk pola abstrak yang elegan di atas piring porselen putih, lalu menata puding karamel tepat di tengahnya. Terakhir, aku menyusun potongan buah beri dan selembar daun mint sebagai pemanis di bagian atas.
"Ya ampun, Nona! Ini luar biasa cantik sekali!" puji Bibi Marni takjub saat melihat hasil hiasan piring pertama yang kuselesaikan. "Tamu-tamu di depan pasti akan sangat terkesan melihatnya."
Aku tersenyum lebar, merasakan kepuasan yang teramat sangat membuncah di dalam dadaku. Kesibukan kecil di dapur ini benar-benar berhasil memulihkan jiwaku yang sempat layu.
Namun, kegembiraan kecilku mendadak terusik saat derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah selasar luar.
Cklek.
Pintu dapur mendadak terdorong terbuka. Langkah kakiku seketika membeku kaku di tempat berdiri saat sosok Kak Charles tiba-tiba muncul di ambang pintu. Pria itu memegang sebuah wadah kaca kosong, berniat masuk ke dapur untuk mengambil es batu tambahan bagi para tamu penting di depan.
Detik berikutnya, sepasang mata elang Kak Charles melebar sempurna. Sorot matanya yang semula dipenuhi aura formal bisnis, seketika berubah drastis menjadi sedingin es saat menangkap keberadaanku yang sedang memegang botol saus cokelat di samping Bibi Marni. Atmosfer di dalam dapur yang tadinya hangat, dalam sekejap mata langsung ditarik menegang kaku.
"Bibi, apa yang bisa aku lakukan lagi?" tanyaku pada Bibi Marni setelah menyelesaikan hiasan terakhir di atas piring porselen putih itu.
Bibi Marni tersenyum takjub melihat hasil kerjaku, lalu menepuk pundakku pelan. "Cukup, Non. Sudah cukup. Tolong bantu Bibi mengantarkan hidangan pencuci mulut ini saja ke meja tamu di dalam. Pasti mereka semua sudah mulai lapar setelah menghabiskan menu utama," ucap Bibi Marni ramah sembari menata piring-piring cantik itu di atas nampan kayu yang besar.
"Baik, Bi. Aku antar hidangannya dulu, ya," ucapku patuh.
Aku mengangkat nampan kayu tersebut dengan kedua tangan yang bergerak teramat hati-hati. Jantungku seketika bertalu-talu tidak keruan di dalam rongga dada. Ada debaran cemas yang luar biasa besar yang mendadak menyerang ketenanganku.
Dengan langkah kaki yang perlahan, aku melangkah pergi berlalu meninggalkan area dapur yang hangat. Aku berjalan melewati selasar koridor yang sunyi, menuju ke arah ruang makan utama tempat Kak Aaron, Kak Charles, dan para tamu penting mereka sedang berkumpul.
Setiap langkah yang kuambil menuju ruang tamu terasa begitu berat, memicu denyutan perih di lambungku yang belum sepenuhnya pulih akibat luapan stres. Aku tahu, melangkah masuk ke sana berarti aku harus siap menghadapi tatapan mata elang Kak Charles yang teramat sinis, serta tatapan kaku Kak Aaron di depan rekan bisnis penting mereka. Namun, demi membantu Bibi Marni dan membuktikan bahwa aku bisa berguna, aku menguatkan cengkeramanku pada nampan kayu, menarik napas panjang untuk menetralkan gemuruh di dadaku, dan bersiap memunculkan diriku di hadapan mereka semua.
"Paman Hendra, aku mendengar kabar kalau Paman akan bepergian ke luar kota untuk urusan dinas dalam waktu lima hari lagi?" tanya Kak Aaron, memecah kesibukan makan mereka dengan obrolan yang santai.
"Iya, benar," jawab Paman Hendra sembari meletakkan sendoknya, mengangguk ramah. "Paman harus terbang untuk mengurus kelanjutan proyek besar kita yang ada di Australia nanti."
"Wah, Paman hebat sekali," puji Kak Charles takjub.
Mendengar sanjungan dari anak-anak mendiang sahabatnya, ketiga pria paruh baya di dalam ruangan tersebut seketika tertawa terbahak-bahak, mencairkan kebekuan atmosfer ruang makan yang megah itu.
"Kita harus minum banyak malam ini untuk merayakan kesuksesan proyek Paman," sahut Kak Aaron penuh semangat, ikut mengulas senyuman lebar.
"Pasti, pasti! Kita harus merayakannya!" balas Paman Hendra bersemangat.
Pak Hadi yang duduk di sebelah Paman Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya kagum. "Pak Aaron ini sungguh hebat kalau soal urusan minum. Toleransi alkoholnya tinggi sekali."
"Iya, benar. Aaron dan Charles ini benar-benar mewarisi sifat dan ketahanan fisik papa kalian dulu," sambung Pak Surya sembari menyeka sudut bibirnya, diselingi tawa hangat mereka yang berwibawa. "Asal kalian tahu saja, ya ... papa kalian itu dulu sangat ahli dalam urusan minum. Beliau bahkan bisa menghabiskan tiga botol sekaligus dalam sekali minum tanpa mabuk sama sekali!"
"Wah, benarkah begitu, Paman?" tanya Kak Charles penasaran, matanya berbinar tertarik mendengar kisah masa muda mendiang ayahnya yang jarang ia ketahui.
"Iya, benar sekali! Dulu kami sering minum-minum bersama papa kalian saat merayakan keberhasilan tender perusahaan," jelas Pak Hadi dengan kilat nostalgia yang teramat pekat di matanya. "Dan di antara kami semua, papamu selalu menjadi orang yang paling banyak minum tanpa goyah sedikit pun. Dan sekarang, bakat luar biasa itu benar-benar diwariskan pada kalian semua, anak-anak laki-lakinya."
Gelak tawa akrab kembali menggema, memenuhi langit-langit ruang makan utama Adipta Group yang mewah. Di dalam atmosfer kenangan masa lalu yang membahagiakan itu, Aaron dan Charles tampak begitu menikmati momen kebersamaan mereka sebagai penerus takhta keluarga, tanpa menyadari bahwa dari balik selasar koridor yang sunyi, sosok Bella sedang melangkah perlahan mendekati ruangan dengan membawa nampan kayu berisi hidangan pencuci mulut.
Di tengah gelak tawa akrab yang menggema di ruang makan, aku memberanikan diri melangkah masuk sembari membawa nampan kayu berisi hidangan pencuci mulut. Namun, tepat saat aku hendak meletakkan piring porselen putih itu di atas meja marmer, sepasang mataku tidak sengaja menangkap sesuatu.
Darahku seketika serasa membeku di sepanjang pembuluh darah. Langkah kakiku terhenti kaku, dan aku tertegun dengan napas yang mendadak tercekat di tenggorokan.
Di kulit telapak tangan Paman Hendra yang sedang terulur bebas di atas meja, barisan angka ghaib berdarah mendadak muncul dan tercetak teramat pekat.
Di tangan Paman Hendra ... ada tulisan tanggal kematiannya. Beliau diramalkan akan meninggal dunia tepat lima hari lagi akibat kecelakaan maut, batinku bergemuruh hebat, dihantam oleh rasa ngeri dan panik yang luar biasa besar.
Jantungku bertalu-talu tidak keruan di dalam rongga dada. Bagaimana cara aku mengatakannya pada Paman Hendra? Aku takut Paman akan tersinggung dan marah besar, apalagi saat ini di hadapannya ada banyak sekali orang penting. Tapi ... tapi kalau aku tidak memberi tahu Paman Hendra sekarang, takdir mengerikan itu benar-benar akan terjadi dan merenggut nyawanya! Aku harus memberi tahunya agar Paman bisa lebih berhati-hati.
Aku berdiri mematung di dekat meja dengan batin yang berkecamuk hebat, kebingungan setengah mati memikirkan risiko yang harus kutanggung. Namun, menyadari sepasang mata elang Kak Charles mulai melirikku dengan tatapan yang teramat sinis karena aku terlalu lama diam, aku buru-buru menguasai diri. Aku menurunkan piring pencuci mulut itu dengan tangan yang bergetar hebat.
"Silakan, Paman ... makanannya dinikmati. Kalau begitu, saya permisi dulu," ucapku teramat lirih, berusaha membuat nada suaraku senormal mungkin.
"Ah, terima kasih, ya," balas Paman Hendra ramah tanpa menyadari badai ketakutan yang baru saja ia tularkan padaku.
Aku segera membalikkan badan dan melangkah tergesa-gesa keluar dari ruang makan untuk menghindari kecurigaan jajaran kakak laki-lakiku. Namun, aku tidak benar-benar pergi meninggalkan lantai bawah. Begitu sampai di selasar koridor, aku langsung menghentikan langkah kaki lemasku, berdiri bersembunyi di balik dinding pembatas tembok yang tebal.
Sembari meremas dadaku yang kian terasa sesak, aku mengintip dari balik bayangan tembok. Otakku berputar liar, mati-matian mencari celah dan kesempatan yang tepat untuk bisa berbicara empat mata dengan Paman Hendra tanpa sepengetahuan Kak Charles ataupun Kak Aaron, sebelum batas waktu lima hari itu benar-benar habis menjemput ajalnya.
"Apakah aku harus memberi tahu Paman sekarang? Tapi aku takut kalau Kak Charles atau Kak Aaron akan marah besar dan berakibat fatal pada kelangsungan perusahaan kita. Apalagi Paman Hendra adalah mitra bisnis terbesar yang sangat berjasa buat keluarga kami," bisikku lirih di balik tembok pembatas. Aku mencengkeram dadaku sendiri yang kian terasa sesak dihantam kepanikan.
Lebih baik aku diam saja ..., lintasan pikiran pengecut sempat merayap di kepalaku. Namun, sedetik kemudian aku menggeleng kuat-kuat. Tapi ini menyangkut nyawa seseorang! Nyawa Paman Hendra jauh lebih berharga dari apa pun di dunia ini! Aku benar-benar bingung ... .
Aku menggigit bibir bawahku dengan rapat hingga terasa perih. Bayangan angka ghaib berdarah di telapak tangan Paman Hendra terus menari-nari di pelupuk mataku.
"Aku tidak bisa diam saja. Kasihan Paman ... dan juga kasihan keluarganya. Mereka pasti akan merasakan kehilangan yang teramat sangat, sama seperti kami kehilangan kedua orang tua kami dulu," gumamku parau. Air mata dingin mulai menetes membasahi pipiku yang memucat. Mengingat rasa sakit belasan tahun hidup tanpa kasih sayang orang tua, aku bersumpah tidak akan membiarkan anak-anak Paman Hendra merasakan kutukan takdir yang sama.
"Ya. Aku harus mengatakannya pada Paman. Sekarang juga," ucapku membulatkan tekad mutlak.
Aku menghapus sisa air mata di pipi dengan kasar. Tanpa memedulikan rasa takut akan amukan Kak Charles ataupun tatapan kaku Kak Aaron, aku langsung membalikkan badan. Dengan langkah kaki yang kuhentakkan mantap, aku melangkah lebar menerobos kembali masuk ke dalam ruangan jamuan makan siang tersebut.
Brak!
Langkah kakiku yang mendadak kembali memunculkan diri di ambang pintu seketika membuat gelak tawa akrab di meja makan terhenti total. Lima pasang mata di dalam ruangan tersebut serentak menoleh, menatapku dengan sorot mata penuh keterkejutan yang luar biasa besar.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~