Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.
SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.
Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.
Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29: Tulisan Ghaib Menghilang
Kami bertiga berdiri di depan lift. Pintu besinya memantulkan bayangan kami tampak asing, seperti orang yang baru saja lolos dari sesuatu, tapi belum benar-benar selamat.
Jefry menekan tombol.
“Ding”
Pintu lift terbuka. Kami segera masuk dengan langkah besar.
Dalam hati aku berdoa, tolong jangan ada apa-apa pagi ini. Sudah cukup.
“Lu kenapa, Gas?” Hendra melirikku. “Jangan melamun,” ujarnya mengingatkan.
Aku mengangguk pelan.
Jefry mendengus. “Udah nggak usah terlalu dipikirin.”
Pintu lift menutup. Jefry kembali menekan tombol, angka delapan sebagai lantai tujuan. Kami merasakan lift mulai bergerak. Cermin di dalam lift memantulkan wajah kami bertiga, aku merasa bayangan bergerak sedikit lebih lambat dari tubuhku sendiri.
Sepanjang lift naik ke atas, aku menundukkan kepala.
Tak berapa lama, kami tiba di lantai delapan.
Pintu terbuka.
Tidak terjadi apa-apa.
Koridor sunyi, terang oleh cahaya pagi masuk dari jendela kaca di ujung lorong. Tidak ada hawa dingin menusuk. Tanpa bisikan yang selama ini aku takutkan.
Hendra menghembuskan nafas lega. “Kayaknya, aman.”
Aku tidak menjawab.
Kami berjalan menuju unit apartemen. Jefry membuka pintu bertuliskan angka 26B.
Begitu terbuka, kami semua masuk lalu terdiam. Membeku karena merasa tidak percaya.
“Lho?” Hendra berbisik.
Apartemen itu rapi.
Lantai bersih mengkilap. Tidak ada satupun pecahan kaca. Bercak darah yang sebelumnya membasahi lantai juga tidak ada.
Semua peralatan makan tersusun rapi di dekat cucian piring, seakan tak pernah ada kejadian apa pun.
Aku melangkah masuk pelan, jantungku berdetak keras.
“Kita nggak salah masuk kamar, kan?” tanya Hendra, suaranya nyaris terdengar tidak jelas karena kaget.
“Iya,” jawabku lirih. “Nggak salah kok.”
Jefry justru tertawa kecil. Tawa yang terdengar lega. Cukup untuk mengembalikan kearoganannya.
“Nah, apa gua bilang!” katanya sambil berjalan menuju cucian piring. “Tadi kita cuma karena efek psikosomatis aja.”
Ia mengambil salah satu piring, lalu menoleh ke arahku. “Gas, lihat nih? Lo kebanyakan mikir. Capek, kurang tidur, ketakutan, kita semua sama. Otak kita jadi nggak beres.”
Aku tak terlalu menghiraukan. Masih berusaha mencerna tentang apa yang sebenarnya telah terjadi di sini.
“Halusinasi? Tidak mungkin!” pikirku dalam hati.
Aku menatap lama. Lantai tempat Shinta berjalan tanpa sadar. Saat pecahan kaca menusuk telapak kakinya. Darah bercucuran di lantai.
“Bingung gua, Bang,” aku mengutarakan isi pikiranku. “Kalo ini cuma psikosomatis yang kayak lo bilang. Masa iya kita semua sama? Secapek-capeknya kita, tetep nggak mungkin deh, nggak masuk akal, Bang.”
Hendra ikut diam. Wajahnya menegang. “Iya, Bang. Kita lihat sendiri, kejadian tadi kayak apa.”
Jefry terdiam sejenak, lalu mengangkat bahu. “Ya udah. Mau apapun alasannya, yang penting sekarang bersih. Aman. Kita beres-beres, angkut barang, cabut.”
Aku duduk di tepi ranjang, tas sudah hampir penuh. Baju terakhir ku lipat asal, lalu kumasukkan ke dalam ransel. Tangan bergerak otomatis, tapi pikiranku tidak ada di situ.
Ada banyak hal yang mengganjal sejak kami masuk kembali ke unit ini.
Tapi kemudian aku teringat untuk memberi penjelasan kepada Delia. Aku pun langsung mengambil handphone, menghubunginya.
Baru juga diangkat, Delia langsung merespon dengan sindiran.
“Jadi gimana bapak Bagas, udah nggak sibuk sekarang?”
Aku hanya bisa tersenyum pahit. Berusaha memakluminya.
Dengan cepat, aku menceritakan tentang apa yang telah terjadi. Tidak semua, tapi sudah cukup untuk membuat ia mengerti.
Ia memaksaku untuk pulang saja, tapi aku merasa masih belum bisa. Ada hal yang ingin aku pastikan.
Mungkin karena paham betul dengan karakterku, ia enggan memaksa lebih lanjut.
“Yang penting, kamu jangan pernah lepas gelangnya. Jaga diri, nggak usah terlalu maksain. Kalo memang udah nggak kuat, mending pulang. Di sini masih banyak kerjaan yang bisa kamu lakuin,” ujarnya di akhir pembicaraan.
Setelah menutup telepon, suasana menjadi hening.
Ada satu hal terlintas dalam pikiranku. Pesan yang ditulis oleh Ratna.
Aku menoleh ke arah tas, tempat aku menyimpan laptop. Tanpa pikir panjang, aku membuka, mengeluarkan, lalu meletakkannya di atas lemari meja.
Jantungku berdetak lebih cepat dari biasa. Mungkin cuma firasat berlebihan, batinku. Tapi tetap saja, aku tidak akan tenang sebelum memastikan.
Laptop dinyalakan. Aku masuk ke file explorer, membuka folder “Unit Kosong” yang ada di sana.
Aku klik dua kali. Mencari file microsoft word yang sebelumnya ada di sana.
Tapi, tidak bisa ku temukan.
Kemana perginya file itu?
Aku mengernyit. Kursor pad di laptop ku geser kesana kemari, memastikan penglihatanku tak salah.
Benar-benar tidak ada.
“Nggak.. nggak mungkin,” gumamku.
Aku klik kanan, refresh.
Masuk ke subfolder, mencari di recent files.
Search nama file satu per satu.
Tidak ada.
Tulisan tentang tiga tuntutan mutlak itu, hilang. Seakan tak pernah ada.
Aku membuka recycle bin, juga kosong. Saking tidak percayanya, aku bahkan mengecek auto-save.
Nihil.
Tak habis pikir, aku memijat pelipis. Nafasku mulai tidak beraturan.
Tiba-tiba saja, Hendra datang mengejutkan, “Gas, ayo! Udah belum?”
“I-iya, Bang.”
Seketika itu juga aku menutup laptop keras-keras, lalu memasukkannya ke dalam tas.
Pikiranku terus berputar, mengingat kembali tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi pada tulisan itu.
Apartemen kembali rapi, tulisan hilang, apa maksudnya?
Kami pergi dari apartemen Spring Town tanpa satupun kejadian aneh. Semuanya, terlalu normal.
Aku duduk di kursi belakang mobil, memandangi gedung apartemen lewat kaca jendela. Sejenak aku teringat soal ucapanku kepada Dayat. Janji yang sepertinya tidak akan pernah kupenuhi.
Baru saja keluar dari mesin tiket parkir, Jefry langsung mengungkapkan rasa lega.
“Bye bye, apartemen brengsek!,” ucapnya sambil bersandar santai di kursi depan. Nada suara ringan, bahkan nyaris mengejek. “Kita kebanyakan halu. Stres, kurang tidur. Digabung sama imajinasi penulis horor.”
Aku tidak menanggapi.
Tapi ia terus mengoceh, membanggakan apa yang diyakini adalah benar.
Hendra mengangguk pelan. “Iya kali ya, bang. Jujur aja, gua sekarang juga mikir gitu. Kalau emang segila itu, harusnya kita diseret balik atau apa kek.”
Sayang kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama.
Bunyi dering telepon terdengar.
“Damar nelpon,” kata Jefry.
Kami mengira kalau ia hanya ingin bertanya tentang kondisi apartemen. Namun sebuah kabar buruk datang.
“Hah? Shinta di IGD? Kok bisa?” Jefry terdengar panik.
“Oke, oke, kita ke sana,” tutupnya.
Ia kemudian memberitahu kalau Shinta dibawa ke IGD karena tiba-tiba pingsan. Hidung dan telinga mengeluarkan darah segar.
“Bro, kita langsung ke rumah sakit HSB,” ucap Jefry. “Ngebut!” lanjutnya minta agar Hendra menancap gas.
“Di mana itu, Bang? Gua nggak tau,” jawab Hendra polos.
Aku langsung berinisiatif untuk membuka handphone, “Bentar, gua buka map.”
Firasatku mengatakan, ini pasti ada hubungan dengan kepergian kami dari apartemen. Tapi aku tidak mau menambah persoalan, sekarang.
***
Setibanya di rumah sakit, Hendra menurunkanku dan Jefry di lobi. Hendra hendak memarkirkan mobil terlebih dahulu.
“Gua duluan ya, Bang,” kataku ke Hendra.
Sedangkan Jefry tidak memperdulikan, langsung turun, bergegas menuju IGD.
Meskipun sudah berusaha cepat, langkahku tetap kalah. Jauh tertinggal dari Jefry, tapi aku masih bisa melihat punggungnya.
Belum sampai di IGD. Aku melambatkan langkah karena seperti ada sesuatu berusaha mengganggu fokusku.
Rasanya seakan ada sosok tak kasat mata selalu memperhatikan. Tapi sejauh mata memandang, aku tidak melihat apapun yang aneh.
Aku memutuskan untuk tak menghiraukannya, melanjutkan langkah mantap menuju ruangan IGD.
Begitu masuk ruangan, aku melihat Jefry sudah berada di sebelah Shinta yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang pemeriksaan. Damar dan Sully juga berada di dekatnya.
Salah satu suster kemudian menegur kami agar tidak terlalu ramai di dalam ruangan. Aku, Damar dan Sully terpaksa keluar dari IGD. Hanya tersisa Jefry menemani Shinta.
Kami berpapasan dengan Hendra yang ingin masuk, tapi kami larang.
Di ruang tunggu, Sully menceritakan apa yang terjadi pada Shinta. “Gua juga nggak paham, tiba-tiba aja dia kejang, terus mimisan. Yang gua aneh, kuping juga berdarah.”
“Matanya melotot, merah banget, nggak wajar,” bebernya.
Aku dan Hendra hanya saling lirik. Menyadari bahwa teror belum berakhir.