NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 : Jadi Sate Ampet

Tetua Pertama yang dadanya masih dibalut perban darah akibat serangan Iblis Serigala, berdiri terhuyung dibantu oleh Guru Wu. Mata kedua guru itu membelalak tak percaya menatap plakat emas berlambang Naga Surgawi di tangan Jenderal Lei.

"P-Panglima Lei... Anda pasti bercanda," suara Tetua Pertama bergetar, wajahnya sepucat mayat. "Putra Mahkota Kekaisaran Shen? Pangeran dari garis keturunan Shen? Berada di perguruan pinggiran kami yang kumuh ini? Ini mustahil! Kami hanya menerima anak-anak dari desa dan kaum biasa, ya memang ada satu anak raja juga tapi saya mengenal orang tua anak itu!"

"Apakah wajahku terlihat seperti sedang bergurau, Kakek Tua?!" suara bariton Jenderal Lei menggelegar, memantul di dinding aula. "Yang Mulia Raja dan Ratu sendiri yang menitipkan mereka di sini untuk melatih kedisiplinan! Dan sekarang, intelijen kami melaporkan bahwa Iblis Primordial telah mengetahui lokasi ini. Salah satu dari pangeran itu dalam bahaya!"

Guru Wu tersentak mundur, kakinya lemas. "Astaga... Jangan bilang... Shen Yuan dan Shen Rui... Dua bocah kembar yang selalu membuat onar itu..."

"Tutup mulutmu, Guru Wu!" potong Jenderal Lei cepat, matanya menatap tajam menyapu kerumunan murid yang mulai berbisik-bisik kebingungan di belakang. Jenderal Lei merendahkan suaranya agar hanya terdengar oleh para tetua. "Jangan sebut nama mereka di depan umum! Di antara murid-murid ini, bisa jadi ada mata-mata sekte hitam. Jika identitas mereka terbongkar ke seluruh Benua Timur, nyawa pangeran yang tersisa di sini akan terancam setiap detiknya!"

"L-lalu apa yang harus kami lakukan, Panglima?" tanya Tetua Pertama, keringat dingin membasahi jenggotnya. Ia tiba-tiba merasa ngeri membayangkan bahwa selama ini ia menyuruh seorang Pangeran Kekaisaran membersihkan kotoran sapi dan memukul kepalanya pakai sapu lidi.

"Tugas kalian hanya satu, Kunci seluruh gerbang perguruan! Aktifkan Formasi Pelindung Kubah Kura-kura Besi! Jangan biarkan satu pun murid keluar dari asrama. Biar kami, Pasukan Zirah Emas, yang menyapu bersih iblis-iblis di hutan dan mencari pangeran yang diculik!"

---

PRAGH!

PRAGH! SYAAAT!

Sementara aula sekte dikunci rapat, pertempuran tingkat tinggi meletus dengan dahsyat di perbatasan Hutan Terlarang. Ratusan kultivator sekte hitam yang mencoba menyusup masuk ke area perguruan langsung dihadang oleh Ksatria Penunggang Singa Api dari Ibukota.

Ini bukanlah pertarungan pedang biasa. Ini adalah benturan murni dari Kanuragan tingkat surgawi!

Para prajurit zirah emas melayang di udara menggunakan ilmu meringankan tubuh Langkah Awan Mengambang. Pedang-pedang mereka memancarkan aura Qi keemasan yang menyilaukan.

"Mati kau, Anjing Kekaisaran!" teriak seorang pembunuh sekte hitam, melemparkan puluhan jarum beracun yang diselimuti kabut ungu mematikan.

"Barikade Perisai Cahaya Suci!" balas Kapten Pasukan Emas. Puluhan prajurit serentak menghentakkan pedang mereka ke tanah. Sebuah kubah energi berwarna emas transparan terbentuk seketika, memantulkan semua jarum beracun itu kembali ke arah musuhnya.

Di udara, para Singa Api yang ditunggangi ksatria menyemburkan pusaran lahar panas, membakar pepohonan dan menembus formasi musuh. Serangan elemen saling bertabrakan, menciptakan ledakan demi ledakan sonik yang membuat langit malam seolah runtuh. Gelombang kejut dari Qi yang beradu membelah tanah hutan menjadi jurang-jurang kecil. Darah tumpah membasahi dedaunan, menciptakan lukisan neraka di perbatasan sekte.

---

Namun, dari segala ketegangan perang dan kepanikan dunia, adegan paling menyedihkan sekaligus paling konyol justru sedang terjadi di kedalaman Hutan Kematian.

"LEPASKAN SAYA! LEPASKAN SAYAAAA!"

"HEI KAU SERIGALA JELEK LEPASKAN SAYA! SAYA INI MANUSIA BIASA YANG INGIN TIDUR DI KAMAR SAYA!!"

Klotak! Klotak! Klotak!

Shen Rui mengguncang-guncang jeruji sangkar besinya dengan beringas. Wajah sombongnya sudah lenyap tak berbekas, digantikan oleh air mata dan ingus yang mengalir deras.

Rencana briliannya untuk membekukan kunci dari dalam gagal total. Ternyata sihir pemanas di sangkar itu lebih kuat dari dugaannya. Bukannya gemboknya hancur, jari telunjuk Yui malah sempat menempel di besi dingin lalu kepanasan, membuatnya tak bisa membuka kunci itu sama sekali.

"Huaaa! Keluarkan aku dari sini, Kakek Jelek!" Yui menangis keras-keras layaknya anak balita yang minta dibelikan permen, kakinya menghentak-hentak lantai sangkar besi. "Aku mau pulang! Aku mau Kak Yuan! Aku mau makan bakpao! Kasurku di asrama lebih empuk dari lantai ini!"

Ba Mofeng, Raja Iblis Rawa yang sedang duduk di singgasananya, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Tiga matanya berkedut-kedut menahan stres. Sepanjang hidupnya menyandera manusia, baru kali ini ia bertemu tahanan yang level kebisingannya setara dengan seribu gagak kelaparan.

"Serigala! Bisakah kau membungkam mulut bocah gila itu?!" raung Ba Mofeng frustrasi. "Telingaku rasanya mau bernanah mendengarnya menangis!"

Iblis Serigala Primordial berjalan mendekati sangkar dengan kuali mendidih di tangannya, menggeram. "Diam kau, Daging Segar! Atau kupotong lidahmu!"

"TIDAK MAU! Huaaaa! Kalian culik orang yang salah!" jerit Yui makin menjadi-jadi, tubuhnya bergoyang-goyang mengguncang kandang ke kiri dan ke kanan hingga sangkar itu berderit nyaring. "Aku ini kurus! Dagingku pahit! Mandi saja aku seminggu sekali! Kalau kalian memakanku, kalian pasti kena diare seumur hidup!"

"KAU PIKIR AKU PEDULI KAU MANDI ATAU TIDAK?!" Ba Mofeng kehabisan kesabaran. Ia berdiri dan menggebrak lengan singgasananya hingga hancur. "Serigala! Lupakan kuali rebusan itu! Bocah ini terlalu banyak tingkah! Cepat ambil bambu runcing dari belakang gua!"

Iblis Serigala berkedip. "Bambu runcing, Tuanku? Untuk apa?"

"TUSUK DIA JADI SATE! SEKARANG JUGA!" teriak Ba Mofeng dengan mata melotot merah. "Tusuk dia pakai bambu dari pantatnya terus sampai tembus ke mulutnya! Panggang dia di atas api unggun biar mulut berisiknya itu tertutup rapat selamanya!"

Mendengar instruksi resep masakan yang sangat brutal itu, tangisan Yui mendadak terhenti. Ia melepaskan jeruji besi, matanya membelalak lebar, lalu wajahnya berubah menjadi sangat marah.

"APA?! DITUSUK DARI PANTAT?!" Yui berteriak tak terima, menunjuk Ba Mofeng. "Hei, Iblis Kurap! Kau tidak punya adab kuliner ya?! Pantatku ini adalah aset kerajaan yang sangat berharga! Tidak boleh ada sembarang benda tajam yang masuk ke sana!"

"Aku tidak peduli pada asetmu, Manusia!" balas Ba Mofeng murka. "Serigala, cepat eksekusi dia!"

"Tunggu dulu!" Yui melambaikan tangan dengan gaya sok pakar. "Kalau kalian memang memaksa mau menjadikanku sate, setidaknya pakailah bumbu yang benar! Sate daging manusia murni itu rasanya hambar! Kalian harus melumuriku dengan kecap manis, perasan jeruk nipis, dan irisan bawang merah yang banyak! Dan jangan pakai bambu! Pakai tusuk besi agar matangnya merata dari dalam!"

Iblis Serigala yang sedang memegang sebatang bambu raksasa menoleh pada tuannya dengan wajah bingung. "Tuanku... apakah kita harus mencari kecap manis dulu di desa terdekat?"

"KAU IBLIS ATAU BODOH?! JANGAN DENGARKAN BOCAH ITU! TUSUK DIA SEKARANG!" raung Ba Mofeng yang rasanya ingin pingsan menghadapi kebodohan anak buah dan tahanannya.

Serigala raksasa itu mengangguk mengerti. Ia berjalan perlahan ke arah sangkar besi, membawa sebatang bambu setebal lengan orang dewasa yang ujungnya sudah diruncingkan. Wajah monster itu menyeringai sadis, memamerkan taringnya yang tajam.

Yui menelan ludah. Wajahnya pucat pasi melihat ujung bambu runcing yang semakin mendekat ke arahnya. Ia melangkah mundur hingga punggungnya menempel pada jeruji belakang.

"H-hei... Tuan Serigala yang baik hati..." Yui tertawa gugup, keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya. "K-kita bisa bicarakan ini baik-baik, kan? Bagaimana kalau kita main tebak-tebakan dulu? Yang kalah baru jadi sate... YAAA! KAK YUAAAAN! TOLONG PANTATKUUUU!"

***

Likeeeeewwww

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!