Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.
Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.
"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.
"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.
Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Terhenti Detak Jantungku
Dengan sisa nafas yang Alunar miliki. Tangannya mencoba melepas jeratan tanaman di kakinya. Bayang-bayang masa lalu saat dirinya tenggelam kembali memenuhi isi pikiran.
“Ayah, bunda. Apakah nyawa Alunar akan berakhir hari ini?” batin Alunar yang nafasnya benar-benar hampir habis. Matanya buram hanya melihat air berwarna coklat menenggelamkan dirinya.
“Apakah laki-laki itu suruhan sosok sama yang dulu pernah mencelakai Alunar?”
“Apakah dia masih mengincar nyawa Alunar karena pekerjaan ayah yang selalu menyinggung orang-orang besar?”
“Tolong Bunda, Ayah.”
Saat jeratan tanaman semakin kuat menarik kakinya. Serta tubuhnya jatuh semakin dalam. Otaknya dipaksa untuk berpikir cepat mencari bantuan.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Alunar melepas bagian luar kerudung. Sangat berharap ada Sagara atau yang lainnya melihat kerudung mengapung diatas sungai.
“Siapapun, tolong aku.”
“Aku tidak ingin pergi seperti ini.”
Trauma pernah tenggelam kini terulang kembali. Membuat Alunar benar-benar kehabisan tenaga untuk. Kekurangan oksigen serta masuknya air di saluran nafas. Membuat tubuhnya lemas dan matanya menggelap. Hanya dari kain kerudungnya Alunar memiliki harapan besar.
Sedangkan di sumber mata air bagian atas, tampak Sagara terdiam sejenak. Entah kenapa perasaannya tidak enak saat indera pendengarannya menangkap suara tidak asing.
“Sersan.”
“Siap, Ndan.”
“Apakah kamu mendengar sesuatu?”
“Siap, tidak Ndan.”
Jawaban keyakinan kuat yang diberikan bawahannya membuat Sagara tidak puas. Dalam berbagai hal, Sagara memang lebih percaya dengan insting yang dirinya miliki. Indera yang dimilikinya memang sangatlah tajam dibandingkan anak buahnya.
“Titip dokter Arjuna. Aku turun di sungai bawah.”
“Siap, Ndan.”
Kepergian Sagara turun ke sungai bawah secara tiba-tiba langsung mengalihkan perhatian Arjuna. Dirinya buru-buru mengambil air sampel untuk menghampiri anak buah Sagara. Karena entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak.
“Sudah selesai, kita bisa langsung turun.”
“Siap, dok.”
Arjuna dengan ditemani dua orang prajurit langsung turun menyusul Sagara. Sedangkan di sungai area bawah tampak dua orang prajurit sedang mencari keberadaan Alunar yang tiba-tiba hilang.
“Dokter Alunar! Anda dimana?”
Sagara melangkah cepat turun menuju sungai bawah. Jantungnya berdetak tidak karuan saat nama Alunar disebut anak buahnya.
“Ada dimana dokter Alunar?” tanya cepat Sagara setibanya di sungai bawah.
“Kita tidak tahu, Ndan. Tadi beliau berada disini,” jawab salah satu anak buah Sagara.
“BAGAIMANA MUNGKIN TIDAK TAHU? KEMANA SAJA KALIAN?” bentak Sagara penuh emosi.
“Lapor, saya sedang mengambil sampel air sesuai permintaan dokter Aluna, Ndan.”
“Kalau kamu?”
“Saya sedang menolong musang yang terjebak sesuai permintaan dokter Alunar, Ndan.”
Sagara langsung menatap sekitar sungai bagian bawah yang tampak dalam. Hingga jantungnya berdetak tidak karuan saat melihat bayang-bayang kerudung yang dikenakan Alunar naik ke permukaan.
“ALUNAR!”
Jantung Sagara seperti terhenti detik itu juga. Tanpa banyak pertimbangan Sagara buru-buru melepas senapan laras panjang dan juga pakaian terluar yang terpasang di tubuhnya. Lalu mengambil sangkur untuk memotong tali sepatu PDL hanya dengan satu kali sayatan.
Sreeet… sreeet!
“Komandan!”
Sagara melompat ke dasar sungai dengan ketinggian 4 meter. Mencari keberadaan Alunar berdasarkan insting kuatnya dalam kondisi bahaya.
Byur…!
Arjuna yang baru tiba langsung ikutan gugup saat Sagara teriak menyebut nama Alunar. Ia buru-buru bertanya pada satu satu prajurit yang ada di sekitarnya.
“Apa yang terjadi?” tanya cepat seorang prajurit saat mendengar teriakkan Sagara.
“Dokter Aluna tiba-tiba hilang. Dan komandan langsung melompat ke sungai bawah.”
“Menyebar dan cari dokter Aluna!”
“Siap “
Empat orang anak buah Sagara dan juga Arjuna langsung mencari Alunar di aliran sungai bawah. Sedangkan Sagara yang sempat melihat kerudung Alunar mengapung, mengawasi sekitar bagian dalam sungai.
Sebagai anggota Komando Pasukan Khusus. Jelas kemampuan yang dimiliki Sagara tidak main-main karena menguasai 3 matra. Namun, yang jadi permasalahan saat ini ketika warna sungai kecoklatan menghambat penglihatan mencari keberadaan Alunar.
“Alunar, ada dimana kamu?” batin Sagara penuh harap sambil terus mengawasi dasar sungai.
“Tolong bertahanlah! Aku mohon.”
Sagara mengawasi setiap sudut dasar sungai yang tertutup lumpur dan juga tanaman merambat. Apa yang dilakukan jelas tidak mudah.
Sudah 2 menit Sagara menyelam di dasar sungai deras tanpa alat bantu. Matanya terus fokus mencari keberadaan Alunar. Namun, tetap saja belum terlihat meskipun sudah di dasar sungai.
“Alunar, aku mohon ayo keluarlah! Tampakkan keberadaanmu!”
Saat batas waktu bertahan di dasar air hampir habis. Sagara hanya butuh keajaiban saat ini.
“Ya Allah, tolong jangan ambil kembali orang yang hamba cintai. Hamba mohon keajaibanMu.”
Ya, dalam keadaan darurat. Sagara mengakui jika dirinya sudah jatuh cinta pada putri dari musuhnya. Mengenyampingkan semua rasa benci terhadap Faza hanya untuk menyelamatkan Alunar.
Saat Sagara memutuskan untuk pasrah ke Sang Pencipta dan mengharapkan keajaiban. Matanya menangkap objek warna orange di rompi yang dikenakan Alunar.
“Alunar!”
Sagara dengan sekuat tenaga dan nafas yang hampir habis mendekati Alunar. Menarik tubuh Alunar yang sudah lemas tak berdaya.
Hal yang benar-benar tidak mudah. Apalagi kaki Alunar terjerat tumbuhan rambat yang semakin membelit.
“Aku mohon bertahanlah Alunar!”
Sagara melepas sangkur yang terpasang di pinggangnya. Memotong tumbuhan rambat hanya dalam satu tebasan.
Sreeet…
Setelah tidak ada hambatan yang menahan tubuh Alunar. Sagara memeluk erat tubuh lemas Alunar untuk naik ke permukaan.
“Bertahanlah Alunar! Aku mohon.”
Tekad kuat yang dimiliki Sagara untuk menyelamatkan Alunar. Mengembalikan semangat dan tenaganya hampir habis. Kini, cahaya matahari mulai terlihat.
“Sebentar lagi kita naik di permukaan Alunar.”
Byurr….!
Sumbalan air yang naik ke permukaan memancing anak buah Sagara mendekat. Mereka melakukannya evakuasi terhadap tubuh Alunar.
“BANTU KOMANDAN SELAMATKAN DOKTER ALUNAR…!
“SIAP!”
Sagara mengikut tubuh Alunar dengan tali yang dilempar anak buahnya. Karena arus yang cukup deras. Tentu akan mengalami kesulitan menaikkan tubuh Alunar.
“BANTU TARIK!”
“SIAP!”
Setelah berjibaku mengevakuasi Alunar. Akhirnya tubuh Alunar berhasil diselamatkan.
“Bawa ke posisi datar!” teriak Arjuna.
“Siap, dok.”
Dengan bantuan 4 orang prajurit. Alunar dibawa di samping sungai yang permukaannya datar.
“Minggir semuanya!” perintah tegas Sagara kepada anak buahnya.
Sagara yang tahu Alunar kehabisan nafas maupun kemasukan air. Melepaskan maupun melonggarkan pakaian Alunar. Bersiap melakukan penyelamatan bantuan hidup dasar.
Sagara bukanlah seorang dokter. Tapi, untuk penyelamatan seperti ini jelas dirinya sangat paham. Dan dirinya saat ini melakukannya untuk Alunar.
“Satu dua tiga empat…” batin Sagara menghitung saat melakukan kompresi.
Arjuna yang tidak ingin melihat Sagara berjuang seorang diri. Langsung mendekat untuk melakukan pengecekan tanda-tanda vital Alunar.
Sama halnya dengan Sagara. Arjuna merasakan ketakutan dalam hidupnya saat nadi karotis Alunar terasa sangat lemah hal sama dengan pernafasan.
“Bertahanlah Alunar!”
Tepat setelah kompresi ketiga puluh, Sagara membuka jalan nafas sambil memencet hidung dan menekan dagu Alunar. Lalu menempelkan mulutnya tanpa celah memberikan hembusan nafas buatan. Tidak ada reaksi yang diberikan oleh Alunar.
Tanpa reaksi yang diberikan Alunar. Benar-benar membuat Sagara hampir gila saat ini. Dirinya mendekatkan mulutnya ke telinga Alunar.
“Aku mohon bertahanlah wahai putri kesayangan Jenderal Faza.”
Setelah membisikkan kata-kata ke telinga Alunar. Sagara memulai kembali kompresi siklus kedua.
“Satu, dua, tiga, empat, …”
Keringat bercampur air sungai mulai menetas. Siklus kedua tidak ada bedanya dengan sebelumnya. Alunar lagi-lagi belum memberikan reaksinya. Sagara benar-benar hampir terasa mati saat ini.
“Alunar kamu tidak boleh menyerah seperti ini. Ayolah Alunar!” bisikan Sagara setelah siklus ke-tiga.
Sagara kembali memberikan kompresi siklus keempat. Saat tenaganya hampir habis hembusan nafas terakhir yang Sagara berikan untuk Alunar. Akhirnya membuahkan hasil.
Uhuk… uhuk… uhuk!
Alunar terbatuk-batuk setelah menyemburkan air sungai dari mulutnya. Kini gantian Arjuna yang mengambil kendali dengan memiringkan tubuh Alunar.
“Alunar, miringkan tubuhmu!”
Puk… puk…!
Setelah mendapatkan tepukan punggung beberapa kali. Alunar langsung duduk sambil mengawasi sekitar. Mencari keberadaan laki-laki asing yang tiba-tiba menyerangnya.
Bukannya mendapatkan seseorang yang dirinya cari. Justru pelukan sekaligus selimutan seragam Sagara lah yang didapatkan. Mata Alunar benar-benar terbuka sempurna melihat tingkah laku aneh Sagara.
“Awas kalau sampai kamu mengulangi hal semacam ini lagi!” ancam Sagara.
Sagara tetap menjadi dirinya yang memiliki harga diri tinggi. Bukannya ungkapan rasa khawatir serta syukur yang ditujukan untuk Alunar. Justru ancaman yang keluar dari mulut Sagara.
Namun, entah kenapa reaksi seperti itu membuat Alunar tersenyum. Ada rasa syukur yang dirasakan oleh Alunar karena nyawanya kembali terselamatkan.
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
musuh siapa ini?
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
mpe kpn kamu seperti itu???
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi