Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumur Dibawah Semen
Serpihan kaca dari jendela ruang kerja Profesor Bahri pecah berkeping-keping, dihantam angin dingin yang merebak masuk dengan bau busuk daging membusuk. Tabung hampa udara tua di atas meja meledak satu per satu, menyemburkan percikan api ke tumpukan manuskrip lapuk.
"Lari ke pintu belakang!" jerit Profesor Bahri, meraih tas kain berisi buku catatan lamanya sembari tertatih-tatih menggunakan tongkat kayunya.
Faris langsung menyambar kotak besi timbal di atas meja dan memasukkannya kembali ke ransel Maya. Maya menarik lengan baju Profesor Bahri, membimbing pria tua itu keluar dari ruang kerja menuju dapur yang lengang di bagian belakang rumah.
Brak! Brak! Brak!
Pintu-pintu kayu jati di sepanjang koridor rumah tua itu terhempas sendiri dengan keras. Suara desis statis dari frekuensi ELF bergema dari pipa-pipa air tua di dinding, menciptakan harmoni suara jeritan melengking yang menusuk gendang telinga.
"Ponsel tua itu... dia memakai jejak sinyal pasif dari bekas cengkeraman di lehermu, Faris!" panggil Maya di tengah kebisingan. "Entitas ini tahu kita sedang menuju jantungnya!"
"Kita harus hancurkan piringan tembaga itu sekarang juga!" balas Faris seraya menendang pintu kayu dapur hingga terbuka ke halaman belakang.
Mereka bertiga menerobos halaman belakang yang ditumbuhi semak belakangan yang tinggi. Angin fajar berhembus kencang, membuat pepohonan mahoni meliuk-liuk liar. Mereka berhasil masuk ke minibus tua Maya yang terparkir di gang samping, lalu meluncur cepat meninggalkan kawasan Medan Baru menuju Jalan Sutomo.
Suasana di ruko nomor 42B Jalan Sutomo tampak jauh lebih suram dibanding semalam. Garis polisi kuning belum terpasang, namun asap tipis dari ledakan kabel pemancar di atap masih membumbung lemah ke udara pagi.
Pintu besi ruko yang rusak di bagian bawah dipaksa terbuka oleh Faris. Mereka bertiga menyelinap masuk ke dalam kegelapan lantai satu yang penuh debu dan barang bekas.
"Di mana sumurnya, Prof?" desak Maya, menyalakan senter LED besar yang menyapu sudut-sudut ruangan.
Profesor Bahri melangkah tertatih menuju bagian paling belakang lantai satu—sebuah area penyimpanan tua berlantai semen tebal yang tertutup tumpukan lemari besi berkarat.
"Di bawah sini," kata Profesor Bahri, menunjuk sebuah area semen yang tampak lebih gelap dan agak menonjol dibanding lantai sekitarnya. "Tahun 1998, setelah seluruh kru tewas, Hendra menyemen mulut sumur tua ini dan menanam piringan tembaga berajah itu tiga meter di bawah permukaannya."
Faris tidak membuang waktu. Ia menyambar sebuah linggis tebal dan godam besar yang tergeletak di pojok ruangan.
"Bantu aku, Kak!" seru Faris.
Farih menghantamkan godam itu ke permukaan semen dengan seluruh sisa tenaga di tubuhnya.
BANG! BANG! BANG!
Keretakan pertama muncul di permukaan semen. Debu putih mengepul ke udara. Namun setiap kali godam menghantam semen, suhu ruangan di lantai satu merosot drastis secara cepat.
Tek... tek... tek...
Suara garukan kuku di dinding batako di sekitar mereka terdengar makin rapat dan keras. Dari celah-celah retakan semen yang dibuat Faris, cairan kental berwarna hitam pekat bercampur darah mulai merembes keluar, menguapkan bau amis yang menyengat paru-paru.
"Terus hantam, Faris! Jangan berhenti!" jerit Profesor Bahri dengan suara bergetar ketakutan. Pria tua itu memegang salib kayu tua dan melafalkan doa-doa pelindung.
BANG!
Lantai semen itu akhirnya jebol sepenuhnya, memperlihatkan sebuah lubang melingkar gelap gulita yang menebarkan bau busuk luar biasa. Di dalam kedalaman lubang sumur tua itu, tampak pendar cahaya merah pekat memancar dari sebuah piringan tembaga selebar piring makan, terukir rumit dengan rajah-rajah Batak kuno dan jalur sirkuit elektronik tembaga.
Piringan itu bergetar hebat, memancarkan denyut gelombang elektromagnetik yang membuat udara di sekitarnya tampak terdistorsi.
"Itu jantungnya!" panggil Maya. "Hancurkan piringannya!"
Sebelum Faris sempat mengayunkan godamnya ke dalam lubang sumur, sesosok lengan panjang berwarna kehitaman dengan kuku-kuku memanjang meluncur keluar dari kedalaman sumur, mencengkeram pergelangan kaki Faris secara mendadak.
"ARGHHH!" Faris tersungkur ke lantai semen, godamnya terlepas dan terlempar menjauh.
Hawa dingin es membakar kulit kakinya saat sosok entitas tanpa wajah berleher patah itu perlahan-lahan merayap naik keluar dari mulut sumur, siap menarik Faris masuk ke dalam kegelapan abadi di bawah tanah Kota Medan.