NovelToon NovelToon
PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / TKP
Popularitas:26.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.

Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interogasi

“Arga siapa? Saya nggak kenal,” jawab Bimo dengan gaya sombongnya.

Nino membalikkan laptop yang dibawanya tadi. Layar laptop menunjukkan foto Arga. Mimik wajah Bimo menunjukkan sedikit perubahan. Meski hanya sedikit, Nino bisa melihatnya.

“Dia yang bernama Arga Kinanta. Anda yakin tidak mengenalnya?”

“Sudah saya bilang kalau tidak mengenalnya!” tegas Bimo dengan nada tinggi. Pablo segera menenangkan kliennya yang sudah terpancing emosi.

Nino tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia membalik laptop menghadapnya lagi, kemudian mencari rekaman CCTV yang didapatkan Gilang.

Pria itu tidak bisa menggunakan rekaman yang diberikan Pradipta karena didapat secara ilegal.

Setelah menemukan video rekaman dari kamera CCTV di minimarket, Nino membalikkan lagi laptop menghadap Bimo.

“Orang dalam rekaman itu adalah Anda. Lalu pria yang sedang bersitegang dengan Anda adalah Arga. Anda yakin tidak mengenalnya?”

“Kami hanya bertemu sekilas, jadi saya tidak terlalu mengingatnya. Memangnya saya harus mengingat setiap orang yang saya temui?” sengit Bimo.

“Kalian tidak bertemu sekilas, tapi ada interaksi di antara kalian. Dari rekaman ini, sepertinya Anda mengintimidasi Arga.”

BRAK!

Bimo menggebrak meja dengan kesal. Wajah pria itu tampak kesal. Emosinya pun sudah mulai terpancing. Untuk kedua kalinya, Pablo berusaha menenangkan kliennya.

“Bagaimana dengan perempuan ini? Apa Anda mengenalnya?” Nino menunjuk gambar Lisa.

“Saya juga tidak kenal!” jawab Bimo dengan kesal.

“Kalau Anda tidak kenal, kenapa Anda mengejar dan menarik tangannya?” desak Nino.

“Apa saya harus menjelaskannya? Itu urusan pribadi saya!”

“Saudara Arga menghilang sejak sebulan yang lalu. Pria itu tertangkap kamera CCTV terakhir satberada di Desa Tenjolaut.

Tetapi, dia tidak pernah terlihat setelah melewati kawasan hutan pinus. Di Desa Tenjolaut, hanya di kawasan itu yang tidak terdapat kamera CCTV.

Bahkan di daerah Darangdan, keberadaannya tidak ditemukan.”

“Lalu, apa hubungannya dengan saya?”

“Karena Anda termasuk orang terakhir yang bertemu dan berinteraksi dengannya, tentu saja saya harus menanyakan kepada Anda. Di mana Anda di tanggal dua September sekitar jam satu sampai dua malam.”

“Tidur,”jawab Bimo santai.

“Tidur di mana? Di rumah atau tempat lain. Lalu apa ada yang bisa mengonfirmasi alibi Anda?”

“Apa setiap yang saya lakukan harus saya laporkan padamu?”

Nino tersenyum tipis. Pria itu kemudian memutar rekaman CCTV yang menunjukkan mobil yang digunakan Bimo melewati Desa Tenjolaut, tidak lama setelah motor Arga melintas.

“Mobil yang Anda kendarai melintas tidak lama setelah motor Arga memasuki Desa Tenjolaut. Kalian juga menuju kawasan hutan pinus hanya selisih beberapa menit.

Kalau Anda tidur di rumah, lalu siapa yang mengendarai mobil ini?”

“Aku tidak ingat,” jawab Bimo. Pria itu mulai terlihat resah.

“Mobil Anda dan Arga sama-sama tidak muncul di Darangdan. Apa yang kalian lakukan kira-kira?”

BRAK!

Kembali Bimo menggebrak meja. Rahangnya mengeras dan wajahnya memerah.

“Dengar! Saya sama sekali nggak tahu soal Arga-Arga itu. Kamu bisa mencarinya di hutan, siapa tahu kamu menemukan mayatnya di sana!”

“Mayat? Saya hanya mengatakan bahwa Arga menghilang, bukannya meninggal. Kenapa Anda menyebut soal mayat? Apa Anda yang sudah membunuhnya?”

Seketika Bimo terdiam. Pria itu sadar sudah salah berbicara. Saking emosinya, dia sampai menyebut mayat Arga.

“Klien saya tidak bersalah sama sekali. Apa Anda punya bukti bahwa klien saya berkaitan dengan menghilangnya Arga?” tanya Pablo. Dia langsung mengambil alih pembicaraan.

“Jawab dengan jujur, ke mana Anda setelah melewati kawasan hutan pinus?” tanya Nino sambil menatap tajam Bimo.

“Klien saya memiliki hak untuk bungkam. Bawakan kami bukti yang kuat bahwa klien kami terlibat. Baru kami akan menjawab pertanyaan Anda.”

Pablo segera bangkit. Dia mengajak Bimo meninggalkan ruangan.

Tanpa sepengetahuan Bimo, Nino dan Asep sudah memanggil teman-teman Bimo yang terekam kamera CCTV. Mereka juga sudah datang dan menjalani interogasi di ruangan berbeda.

Di ruangan lain, Asep sedang berhadapan dengan salah satu teman Bimo bernama Temi. Sama seperti yang dilakukan Nino,

Asep menunjukkan rekaman CCTV di minimarket dan di jalanan Desa Tenjolaut.

“Perempuan yang terekam di kamera CCTV adalah Lisa Mariana. Dia adalah junior kalian di kampus. Kalian baru saja menghadiri acara reuni kampus. Benar?” tanya Asep.

“Ya,” jawab Temi singkat.

“Dilihat dari rekaman, sepertinya Bimo memaksa Lisa untuk mengikutinya. Lalu Arga datang dan berselisih dengan Bimo. Tidak terima Arga membawa Lisa pergi, kalian menyusul dan mengikuti Arga.

Setelah melewati Desa Tenjolaut dan memasuki kawasan hutan pinus, Arga tidak pernah terlihat lagi. begitu juga dengan mobil kalian.

Keesokan harinya, jam tujuh lebih dua puluh lima menit, mobil kalian terlihat melewati Desa Tenjolaut lagi menuju arah Bandung. Lalu di mana kalian menghabiskan waktu selama enam jam?”

Temi menelan ludahnya dengan susah payah. Pria itu terlihat begitu resah. Sesekali dia menggoyangkan kakinya atau menundukkan kepalanya. Ketenangan sudah hilang darinya sejak memasuki ruang interogasi.

“Ke mana kalian pergi setelah memasuki kawasan hutan pinus?” tanya Asep lagi.

“K-Kami hanya berkeliling lalu kembali lagi.”

“Kalian berkeliling selama enam jam di kawasan hutan pinus?”

“I-Iya,” jawab Temi gugup.

“Apa yang kalian lakukan di sana? Apa kalian bertemu dengan Arga? Tujuan kalian sama dan mobil yang Anda tumpangi hanya berbeda beberapa menit saja di belakang motor Arga. Apa yang kalian lakukan padanya?”

“K-Kami tidak melakukan apa-apa,” jawab Temi semakin resah.

“Sejak memasuki kawasan hutan pinus, Arga menghilang tanpa jejak. Pada saat yang hampir bersamaan, kendaraan kalian juga memasuki kawasan yang sama.

Bedanya, mobil kalian tertangkap kamera melewati Desa Tenjolaut keesokan paginya. Sedangkan Arga seperti hilang ditelan bumi. Apa yang kalian lakukan terhadap Arga?”

“Saya nggak tahu. Saya nggak melakukan apa-apa kepada Arga. Kami hanya jalan-jalan lalu menginap di vila milik orang tua Bimo.”

Seketika, Temi terdiam. Karena terus didesak Asep, pria itu keceplosan menyebut vila milik ayah Bimo.

“Di mana vila itu?”

“S-Saya berbohong. Kami tidak ke sana.”

BRAK!

Asep menggebrak meja dengan cukup keras hingga membuat Temi terlonjak.

“Dengar, Arga menghilang selama satu bulan. Hanya ada dua kemungkinan. Pertama, dia diculik. Kedua, dia sudah meninggal.

Jika dia sudah meninggal, lalu apa penyebab kematiannya? Tidak ada catatan kecelakaan di kawasan itu selama satu bulan terakhir.

Jika kami berhasil menemukan Arga dan dia dalam keadaan tidak bernyawa, maka orang pertama yang akan kami jadikan tersangka dan dijebloskan ke penjara adalah Anda.”

“S-Saya tidak bersalah.”

“Katakan di mana vila milik orang tua Bimo?”

“T-Tidak jauh dari kawasan hutan pinus.”

Setelah mendapat informasi dari Temi, Asep segera melapor kepada Miko. Kepala Tim Dua itu langsung meminta surat penggeledahan untuk vila milik Cahyo Handika.

Tanpa membuang waktu, Nino dan Asep segera menuju vila milik Cahyo setelah mendapat surat penggeledahan.

Petugas kepolisian itu juga mengajak tim forensik setelah mendapat kiriman foto dari Gilang.

***

Sementara itu, Pradipta dan Gilang berusaha mengorek informasi dari Yanto. Mereka yakin kalau penjaga vila itu mengetahui sesuatu tentang kematian Arga.

Menjelang malam, Pradipta menghubungi Yanto dan meminta pria itu datang ke vila dengan alasan minta dikirimi makanan.

Padahal, Pradipta dan Gilang sudah merencanakan sesuatu untuk membuat Yanto membuka mulutnya.

Motor yang dikendarai Yanto memasuki pekarangan vila. Kening pria itu berkerut saat melihat vila dalam keadaan gelap. Dia segera menghubungi Pradipta, tetapi panggilannya tidak dijawab.

“Permisi!” seru Yanto, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.

Yanto langsung masuk ke dalam vila. Dia segera menekan saklar untuk menyalakan lampu di ruang tamu. Begitu lampu menyala, dia terkejut melihat seorang pria berwajah pucat yang dipenuhi darah berdiri di hadapannya.

“AAAA!!” teriaknya kencang.

***

Ternyata pendekar juga takut hantu😂

1
vania larasati
lanjut kak
Umma Ridwan
iiiiih kalo bener yang ngikutin Giana teh si Ruben, berarti yang gondal gandulnya segede uprit punya nya si Ruben donk 🤣🤣
semoga neng Giana baik baik aja 🙏
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kena sial dia 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
senasib🤣🤣
Ani
bisa iya bisa nggak sih tapi kok yo beneran diikuti 🤔🤔🤔🤔
Safitri Agus
kenapa lari gi, tendang aja biar kapok kan reflek itu ya pas terkejut 🤭
Safitri Agus
Oalah kasihan 🤭🤣
Safitri Agus
🤭🤣🤣🤣
Safitri Agus
bisa jadi
Safitri Agus
sadiz ya😱
tehNci
Dari motor trail ke sepeda BMX,..jauh bangettt seenggaknya motor bebek atau matic gitu, masih sama¹ motor😂😂😛😛😛
tehNci
Wuiiih keren banget. si Leya ini😍🤩
tehNci
kirain Kania...
tehNci
Kania bukan ya?
tehNci
Giana lagi cosplay jadi detektif😄
tehNci
Mau mengumpankan dirikah? Semoga hanya menyelidiki saja
tehNci
Dasar gila nih orang. Buang mayat manusia kayak buang kresek bekas gorengan aja
tehNci
Kalo sudah mati, arwahnya bisa jadi petunjuk buat Jungkook dan Prisa
Lina Suwanti
semoga yg meninggal bukan Anjani n arwah korban ketemu sm Prisa atau Jun Kok biar bisa jd petunjuk
Ria alia
Murah banget tuh rudal dikeluarin mulu 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!