Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: BISIK-BISIK KAMAR TERSEGEL
Keterasingan Clara di dalam kamar utama terasa kian mencekam seiring bergantinya hari. Tanpa ponsel, tanpa akses keluar, dan tanpa kehadiran siswa-siswi SMA Garuda Bangsa, dunia Clara kini mengerucut menjadi empat dinding megah berlapis keheningan. Satu-satunya saat ia diizinkan melangkah keluar dari kamar utama adalah ketika Arsen mengawalnya secara pribadi untuk menghirup udara sore di balkon lantai dua.
Namun, sore itu Arsen belum kembali dari kantor pusat Baskara Group.
Sekitar pukul empat sore, dua pengawal yang biasanya bersiaga ketat di depan pintu kamar mendadak dipanggil oleh kepala keamanan ke lantai dasar untuk memeriksa sistem kamera pengawas yang bermasalah. Kesempatan langka itu dimanfaatkan oleh Bi Inah dan seorang pelayan senior bernama Bi Mbok untuk membersihkan lorong lantai dua yang jarang dilalui.
Clara, yang berdiri bersandar di balik pintu kamar yang sedikit renggang, tak sengaja mendengar lamat-lamat suara gesekan sapu dan bisikan cemas dua pelayan tua tersebut.
"Bi Inah, kamu yakin Tuan Muda Arsen tidak akan marah kalau kita menyapu sampai ke ujung lorong barat?" bisik Bi Mbok dengan nada ketakutan.
"Jangan sampai mendekat ke pintu besi di ujung sana, Mbok," balas Bi Inah cepat dengan suara nyaris berbisik. "Tuan Baskara sudah kembali ke rumah ini. Kalau beliau melihat ada yang berdiri di depan kamar tersegel itu, bukan cuma dipecat, kita bisa dihilangkan!"
Clara menahan napasnya. Jemarinya meremas pinggiran pintu. Kamar tersegel di ujung lorong barat?
"Sudah belasan tahun kamar itu dikunci mati, kan?" tanya Bi Mbok lagi, suaranya makin lirih. "Sejak kejadian tragis Nyonya Ratna itu... kasihan sekali. Padahal dia istri Tuan Besar, tapi nasibnya berakhir mengerikan."
Dada Clara berdesir hebat. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika.
Nyonya Ratna? Ibu?
Nama ibunya diucapkan oleh pelayan tua itu dengan sebutan 'Nyonya'. Tubuh Clara bergetar halus saat kenyataan pahit yang mengejutkan itu mulai menghantam pikirannya. Selama ini, yang ia tahu ibunya hanyalah seorang wanita dari keluarga biasa yang hidup serba kekurangan hingga meninggal dan meninggalkan utang 50 juta. Ia tidak pernah tahu bahwa ibunya adalah bagian dari keluarga Baskara ini.
"Ssshh! Jangan sebut nama itu keras-keras!" tegur Bi Inah panik, melirik ke sekeliling lorong. "Tuan Besar dulu emosi luar biasa karena tuduhan fitnah kalau Nyonya Ratna selingkuh dengan asisten pribadinya. Tuan Besar bahkan menyegel Nyonya di kamar itu dan memaksa melakukan aborsi untuk melenyapkan kandungan di perutnya!"
"Ya Tuhan... kejam sekali," bisik Bi Mbok menahan napas. "Makanya Nyonya Ratna nekat melarikan diri dalam keadaan hamil tua. Beliau kabur demi menyelamatkan bayi di kandungannya dari ancaman aborsi itu."
"Tapi bukankah wajah Nona Clara... mirip sekali dengan almarhumah Nyonya Ratna?" bisik Bi Mbok ganjil. "Pantas saja Tuan Muda Arsen begitu posesif dan mengurungnya di kamar utama. Tuan Muda pasti tahu siapa Nona Clara sebenarnya..."
DEG!
Kesadaran itu menghantam mental Clara bak petir di siang bolong. Kepala Clara mendadak berdenyut nyeri luar biasa, efek dari anemia dan kejutan psikologis yang teramat dahsyat.
Ibu adalah istri Baskara? Ibu melarikan diri demi menyelamatkan aku dari ancaman aborsi?
Jadi... anak yang dikandung Ibu saat itu adalah aku? Kalau begitu, siapa ayah kandungku sebenarnya? Mengapa Arsen begitu terobsesi menyembunyikanku dari Baskara?
"Siapa yang mengizinkan kalian bergosip di lorong ini?"
Sebuah suara dingin dan berat mendadak bergema dari arah tangga utama.
Bi Inah dan Bi Mbok menjerit tertahan. Sapu di tangan mereka terjatuh ke lantai marmer. Baskara berdiri di sana, berdiri tegap dengan tongkat kepala naganya, menatap kedua pelayan tua itu dengan pandangan membunuh yang amat pekat.
"T-Tuan Besar... kami cuma... kami cuma membersihkan debu..." cicit Bi Inah gemetaran hingga berlutut di lantai.
"Serahkan pesangon mereka dan usir dari mansion ini malam ini juga," pangkas Baskara tanpa ampun kepada pengawal yang baru saja menyusul di belakangnya.
Baskara kemudian memalingkan pandangannya, menatap lurus ke arah pintu kamar utama yang sedikit terbuka. Mata tua yang tajam itu bertumpu tepat pada selapis wajah pucat Clara yang sedang membeku di balik celah pintu.
Baskara tersenyum dingin—sebuah senyuman penuh kejahatan yang menyiratkan bahwa tabir rahasia di kamar tersegel itu kini mulai terkoyak, memancing bahaya yang jauh lebih besar untuk keselamatan jiwa Clara.